IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Pasrah


__ADS_3

Suara gelak tawa Nizam dan Noah terdengar di taman belakang, mereka melepaskan semua anak ayam, mengejarnya bersama dengan Ivanna dan Safira.


"Ayo Bunda tangkap mereka!" Teriak Noah menyemangati Ivanna.


"Mommy jangan mau kalah sama Bunda! Ayo semangat!" Pekik Nizam.


"Aduh, Bunda gak kuat lagi!" Ucap Ivanna dengan nafas yang tersenggal.


"Mommy juga gak kuat! Capek banget!" Keluh Safira mengusap peluhnya.


Dua bocil itu saling bertatapan satu sama lain. Mereka merasa iba kepada bidadari masing-masing, namun juga ingin mengumpulkan ayam itu kembali.


Mereka berdiri dan mengambil air minum untuk dua bidadari yang masih kelelahan itu.


"Bunda haus ya?" Tanya Noah sambil memeberikan sebotol air mineral.


"Iya sayang, terima kasih!" ucap Ivanna tersenyum dan memeluk Noah sambil melayangkan kecupan di wajah nan tampan itu.


"Mommy, minum dulu!" Ucap Nizam tersenyum dan juga menyerahkan air kepada Safira.


"Terima kasih sayang. Sini cium dulu!" Ucap Safira mengecup wajah tampan Nizam tanpa henti.


"Yah, ayamnya baru dapat satu!" Ucap Noah cemberut menatap keranjang.


"Ya sudah, nanti kita panggil bala bantuan untuk menangkap mereka!" Ucap Ivanna.


Ia melambaikan tangan kepada beberapa orang pekerja dan meminta untuk menangkap semua ayam itu.


Hingga Carenza datang sambil berjalan menggunakan tongkatnya. Seulas senyum terbit dari wajah tampan nan dingin milik Noah. Ia menghampiri sang Ayah dan langsung menariknya menuju kandang ayam Silkie.


"Kenapa Sayang?" Tanya Carenza tersenyum.


"Ayah, bukankah ayah peternak ayam?" Tanya Noah datar.


"Iya, sayang. Ada apa, Boy?" Tanya Carenza mengelus kepala Noah dengan lembut.


"Ajari aku untuk beternak, agar ayam itu bisa banyak, Ayah!" Ucap Noah sambil mengedipkan matanya.


Nizam juga bergabung bersama mereka dan ikut memohon, karena ayam Silkie itu sangat lucu dan mahal.


"Tapi itu susah, sayang. Gak bisa sembarangan!" Ucap Carenza gemas.


"Tapi ayah bisa mempunyai banyak ayam, kenapa ini tidak bisa?" Tanya Noah datar dan kesal.


"Bukan tidak bisa, tetapi susah Boy. ini bukan ayam biasa!" Ucap Carenza tersenyum.


"Ayo kita coba, Ayah!" Ucap Noah tegas.


Carenza hanya bisa menepuk jidatnya mendengarkan nada tegas dari Noah. Begitu juga dengan Ivanna yang hanya bisa mngehela nafas melihat sifat mereka.


"Baiklah! Nanti ayah baca buku dulu, bagaimana cara beternak ayam ini!" Ucap Carenza tersenyum.


"Aku sudah baca!" Ucap Noah datar.


Ia menerangkan dan sangat kesulitan karena kosa katanya yang belum terlalu banyak, ia mengingat dengan jelas apa yang ada di dalam buku itu.


Dibantu Ivanna untuk menata bahasa, akhirnya Carenza bisa paham dengan penjelasan pria kecil itu.


"Baiklah, besok kita coba ya!" Ucap Carenza tersenyum.


"Ijam gak ikutan! Bagus baca buku tentang obat-obatan!" Ucap Nizam mengedikkan bahunya.


"Wah, itu bagus. Nanti Nizam bisa membuat obat untuk membantu ayamnya bertelur!" Ucap Carenza.

__ADS_1


Pria kecil itu terdiam sambil berfikir. "Mommy, apa Daddy akan memberi izin untuk membuat laboratorium di rumah?" Tanya Nizam terlihat serius.


Safira mendelik ke arah Carenza yang berusaha untuk menahan tawanya. Aku bunuh kau Eza!. Batinnya mengutuki pria tampan itu.


"Untuk apa sayang?" Safira lembut kepada Nizam.


"Itu untuk membuat ayam bisa menghasilkan telur. Ijam udah baca kemarin!" Ucap Nizam menjelaskan apa yang ia baca.


"Wah, ini akan menjadi kolaborasi yang bagus!" Ucap Carenza dengan wajah yang berbinar senang.


Ivanna dan Safira langsung menatap tajam kearahnya dan membuat Carenza menggaruk tengkuk karena bergidik melihat tatapan dua bidadari itu.


"Hehe, jangan marah! Nanti cantiknya luntur," Ucap Carenza tersenyum.


Dua pria kecil itu sibuk bercerita dengan dunia mereka sendiri. Membuat inovasi yang hanya di mengerti oleh anak kecil, dengan wajah yang begitu yakin dan juga berbinar.


"Lihatlah mereka, Be. Jangan sampai kamu mengecewakannya!" Ucap Ivanna mendelik.


"Aku beneran, sayang. Itu ayam yang bagus dan sepertinya, kamu harus merelakan Noah untuk mengelola usahaku!" Ucap Carenza tersenyum.


Ivanna hanya bisa menghela nafas, ia bahkan tidak tega untuk membuat Noah mengemban semua tanggung jawab itu sendiri.


"Jangan memaksanya, Be! Biarkan Noah memilih!" Ucap Ivanna lirih.


Mereka kembali berbincang mengenai kepandaian dan keinginan anak-anak yang sangat jauh dari perusahaan.


Menatap dua pria kecil itu dengan gemas ketika Noah dan Nizam mengajari ayam kecil itu untuk mengikuti mereka sambil berlari. Apa lagi Noah yang mengajari Owel untuk selalu mengikutinya kemanapun.


"Ijam, mau yang mana?" Tanya Noah.


"Ah, Ijam gak mau. Nanti kalau udah besar gak bagus lagi!" Ucap Nizam cemberut.


"Gak papa, nanti bisa kita bawa ke salon, seperti Bunda!" Ucap Noah mengernyit.


Mereka membayangkan semua bulu ayam itu diblow dan kembali di warnai.


"Hihihi, bukankah mereka terlihat lebih lucu dengan bulu yang bergelombang?" Tanya Nizam cekikikan.


"Benarkan, mereka akan terlihat lebih bagus!" Ucap Noah yang sedikit paham tentang ucapan Nizam.


Ia berjalan kearah Ivanna di ikuti oleh sepuluh ekor anak ayam. Ivanna tertawa melihat wajah dingin sang anak yang sangat tidak cocok dengan mainannya saat ini.


"Bunda, kalau ayamnya sudah besar, apa bisa dibawa ke salon?" Tanya Noah mengernyit.


Gubrakk!


Ivanna lemas mendengarkan pertanyaan Noah. "Mana bisa sayang, itu bulu nak, bukan rambut!" Ucapnya serasa ingin menangis.


"Kenapa memangnya, Boy?" Tanya Carenza tertawa.


"Itu, Ijam gak mau sama ayamnya, Ayah. Nanti kalau udah besar pasti jelek!" Ucap Noah polos.


"Ya, gak jelek-jelek juga sayang. Gimana kalau besok kita ke tempat Nenek? lihat ayam-ayam yang sudah besar?" Ucap Carenza.


"Mau, Ayah!" Ucap Noah berbinar.


"Ade mau ikut?" Tanya Carenza.


"Gak mau, Ayah!" Ucap Nizam tidak tertarik.


"Okey!"


Mereka berbincang tak jauh dari perihal ayam dan kepasrahan Ivanna ketika melihat Noah lebih tertarik dengan ayam dari pada perusahaan.

__ADS_1


🌺🌺


Keesokan harinya, mereka segera berangkat menuju rumah keluarga Hartono untuk membawa Noah memenuhi hasraat tentang ayam yang begitu ia inginkan.


Bahkan dari semalam, ceritanya tak lepas dari ayam dan ayam. Hingga kini mereka berada di kandang besar milik Carenza.


"Waah!" Ucap Noah berbinar ketika melihat ribuan ekor ayam ada di depan matanya.


Ivanna tersenyum melihat Noah yang begitu antusias. Hiks, ayam lebih menarik di matanya dibandingkan wajah cantikku!. Batin Ivanna cemburu.


"Ayah, apa boleh Aku menangkapnya?" Tanya Noah menarik celana Carenza.


"Boleh, Sayang!" Ucap Carenza tertawa.


Noah segera berjalan dengan perlahan agar bisa menangkap seekor ayam untuk ia gendong.


Pptook, pptook, pptook!


Pekik ayam ketika Noah mulai berlari mengejar mereka. Bahkan pria kecil itu tidak menyerah ketika ia berulang kali terjatuh dan bangkit untuk mengejar mereka.


"Kemana kalian? Berhenti!" Pekiknya dengan tegas seolah memberi perintah.


"Berhenti saya bilang!" Ucap Noah yang begitu kesal.


Ia kembali menangkap ayam tanpa menghiraukan bulu yang menempel di tubuhnya.


Hap!


Seekor ayam berhasil ia tangkap sambil tertawa. " Tenang ayam! Aku gak jahat kok!" Ucapnya mengelus ayam yang terus memberontak di dalam kukungannya.


Ivanna hanya meringis melihat Noah yang susah bercapur dengan hewan berkaki dua itu.


"Anakku akan bau ayam seperti ayahnya!" Ucap Ivanna membuat Carenza mengernyit.


"Bau ayam juga kamu cintakan sama aku?" ucap Carenza mendelik.


"Iya!" Ucap Ivanna pasrah.


Ia melihat Noah berjalan sambil memeluk ayam itu dengan erat agar tidak lepas. Sambil tersenyum senang dengan wajah yang penuh dengan bulu dan membuat Ivanna serasa ingin menangis beneran.


"Kamu harus mengalah sayang, Noah lebih memilih ayam dari pada perusahaan!" Ucap Carenza membuat Ivanna kalah telak.


"Terserah kamu, Be. Yang penting aku mau punya anak banyak!" Ucap Ivanna lirih.


"Bunda, ini ayamnya!" Ucap Noah begitu bangga.


"Pria kecil bunda hebat banget, sih! Habis ini kita mandi ya. Aa' udah mirip dengan ayam!" Ucap Ivanna meringis.


"Hehe, iya Bunda. Boleh di bawa pulang?" Tanya Noah penuh harap.


"Boleh, sayang!" Ucap Ivanna kalah.


"Terima kasih Bundaku yang paling cantik!" Ucap Noah begitu bahagia.


Ia membawa ayam itu keluar dan kembali ke dalam rumah. Alifa lemas seketika melihat cucu tampannya sudah penuh dengan bulu.


"Nenek, ini ayamnya Aku bawa pulang ya!" Ucap Noah tersenyum sambil mengelus kepala ayam itu dengan penuh kasih sayang.


"Iya Nak, bawalah!" Ucap Alifa Pasrah.


Semua orang begitu gemas melihat tingkah Noah yang begitu tergila-gila dengan ayam. Bahkan ia membawa Owel yang sudah di masukkan kedalam kandang, kemana pun ia pergi.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Gemas aku tuu😭😭


__ADS_2