
Chelsea sudah masuk kedalam ruangan itu. Sementara Ivanna segera menyusul Carenza agar bisa ikut masuk dan menjadi kamera pengawas bagi suaminya.
Carenza sedikit cemas ketika Ivanna ikut bersamanya nanti. Namun apa boleh buat, dari pada harus membangunkan singa betina dari tidurnya, lebih baik ia mencari aman saja.
"Sayang, kamu yakin mau masuk?" Tanya Carenza di depan pintu ruangan.
"Kenapa? Apa kamu takut kalau aku memergoki kalian sedang berbuat aneh-aneh di dalam?" Tanya Ivanna kesal.
"Bukan begitu, Sayang! Aku...," Ucap Carenza terhenti melihat tatapan tajam Ivanna.
"Be...,"
Ceklek!
"Eh, maaf. Saya fikir siapa!" Ucap Chelsea terkejut.
Ia terkejut dan berbinar ketika melihat Ivanna berdiri di hadapannya.
Glek!
"No-nona. Maaf saya lancang, Silahkan masuk!" Ucapnya Mempersilahkan Ivanna dan Carenza untuk masuk kedalam ruangan.
Chelsea segera menutup pintu dan duduk berseberangan dengan pasangan bucin itu.
Ivanna menatap Chelsea dengan tajam. Cantik, terlihat sedikit lebih tinggi dari padanya. Wajah baby face dan membuat siapa saja tertarik. Rambut panjang yang bergelombang, dengan make up tipis dan badan yang langsing, membuat Ivanna sedikit merasa tersaingi, mengingat tubuhnya yang sudah terlihat sangat berisi karena faktor kehamilan.
Sementara Chelsea hanya terdiam dan menunduk dengan wajah yang mmerona karena berkesempatan untuk bertemu dengan Ivanna secara langsung.
"Apa kabar anda, Nona? Lama saya tidak melihat kabar anda di media sosial!" Ucap Chelsea lembut dan tersenyum manis.
"Baik! Silahkan bekerja!" Ucap Ivanna dingin.
Carenza segera membahas kontrak kerja sama mereka. Dengan tegas dan berwibawa, Ia menjelaskan satu persatu MOU, yang telah ia buat. Sementara Chelsea sesekali melirik kearah Ivanna dengan wajah yang merona.
Lihat itu wajahnya yang merona, dan sesekali menatap kearahku, ada apa ini sebenarnya?. Batin Ivanna mengernyit.
"Baik, Pak! Saya setuju dengan MOUnya. Semoga kerja sama kita kali bisa berjalan dengan sangat baik!" Ucap Chelsea tersenyum.
"Iya, Saya harap kita bisa profesional di sini!" Ucap Carenza memberi peringatan.
"Baik, Pak!" Ucap Chelsea.
Ia kembali melirik kearah Ivanna dan tersenyum manis lalu merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna biru.
"Hmm, Nona. Ini ada sedikit hadiah dari saya untuk nona!" Ucap Chelsea berbinar dengan wajah yang merona.
"Terima kasih, tapi saya...," Ucap Ivanna hendak menolak, namun Carenza lebih dulu memotongnya
"Terima kasih, Chelsea. Kamu tidak perlu repot untuk memberikan istriku hadiah!" Ucap Carenza datar.
Terlihat semburat kecewa dj wajahnya. "Ah, baiklah, Pak! Hmm, apa saya boleh main ke rumah anda, Nona?" Tanya Chelsea penuh harap.
"Untuk apa?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Hmm, saya ingin kenal dengan anda lebih dekat!" Ucap Chelsea menatap Ivanna lembut.
Sementara Carenza membolakan matanya mendengar perkataan gadis cantik itu.
"Istri saya tidak suka di dekati! Tolong jangan melebihi batas!" Ucap Carenza tegas.
"Tapi, Pak!" Serga Chelsea dengan wajah yang memelas.
"Be, udah!" Cegat Ivanna ketika Carenza kembali menjawab. "Maaf ya Mbak, Saya tidak nyaman jika ada yang mengunjungi!" Ucap Ivanna.
"Hiks, tapi saya mencintai anda, Nona!" Ucap Chelsea menangis.
__ADS_1
Duar!
Ivanna melotot mendengarkan pengakuan itu. Ia menata Carenza dengan rasa tidak percaya. Sementara yang di tatap hanya menggaruk tengkuk sambil meringis.
"Ka-kamu? Ti-tidak, saya tidak mau!" Ucap Ivanna gelagapan.
"Nona, beri saya kesempatan. Saya akan membahagiakan Nona lebih dari pada dia!" Ucap Chelsea serius.
"Kau gila!" Pekik Ivanna ketakutan.
Ia segera bangkit dari kursi dan berjalan ke luar dari ruangan itu.
"Nona, tunggu!" Ucap Chelsea mencegah kepergian Ivanna.
"Jangan anda sentuh istri saya!" Ucap Carenza dengan mata tajamnya.
Ia menggenggam tangan Chelsea dengan erat. Gadis itu memberontak, namun tidak berhasil mengalahkan tenaga kuat dari Carenza.
"Tuan, Lepaskan tangan saya!" bentak Chelsea.
"Tidak! kau wanita yang tidak waras! Bisa-bisanya kau mencintai istriku!" Ucap Carenza dengan suara yang meninggi.
"Cih, tuan! Asal anda tau, saya bekerja sama dengan anda hanya untuk mendekati, Nona!" Ucap Chelsea menatap Carenza lekat.
"Cih, sadarlah Nona!" bentak Carenza.
"Saya sadar! Saya sehat, saya hidup menggunakan otak saya!" Ucap Chelsea kembali berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Carenza.
"Tidak! Hmm, begini saja. Apa anda mau saya kenalkan dengan gadis yang tidak kalah cantik dari pada ISTRIKU?" tanya Carenza.
"Tidak ada yg lebih cantik dari pada Nona, asalkan anda tau!" ucap Chelsea tegas.
"Ada! Pergi saja ke hotel XX, kamar nomor 301 jam 5 sore nanti!" Ucap Carenza.
"Tidak! Kau akan menipuku! Sekarang lepaskan, saya ingin mengejar Nona!" Ucap Chelsea membentak.
"Saya akan merebut Nona dari anda!" Ucap Chelsea segera keluar dan mencari keberadaan Ivanna.
Sementara Carenza tergelak mengingat ekspresi ketakutan dari sang istri. Namun ia sedikit khawatir, mengingat Ivanna keluar dengan tergesa-gesa dari ruangan itu.
Ia segera menyusul Ivanna menuju ruangannya dan memastikan jika gadis itu tidak mengikutinya.
Ceklek!
Carenza membuka pintunya dan melihat Ivanna terlonjak kaget. Namun ia menghela nafas ketika melihat siapa yang tengah masuk ke dalam ruangan itu.
"Be, Kamu ini apa-apaan sih? Kenapa bisa bertemu dengan wanita seperti itu?" Pekik Ivanna kesal.
"Hahaha, sayang. Bunda Jangan marah-marqh, Nanti bunda lekas tua!" Ucap Carenza bernyanyi sambil memeluk Ivanna dari belakang.
"Kamu bikin aku takut, tau gak! Bisa-bisanya ada orangnya yang seperti itu! Kamu gila ya, Be! lihat-lihat juga orang yang kamu ajak berbisnis!" Omel Ivanna.
"Maafin Ayah, bunda! Soalnya, profit restoran mereka itu cukup bagus, makanya Ayah mau. Lagian dari tadi aku juga sudah memastikan, kamu yakin mau masuk apa tidak. Nah, kamunya kekeh untuk masuk, ya apa boleh buat!" ucap Carenza santai.
"Jadi kamu sudah tau kalau dia?" Tanya Ivanna dengan mata yang membola.
"Ia, makanya aku ambil sayang! Dari sana nanti aku bisa membuat cabang restoku hingga ke luar negeri!" Ucap Carenza terkekeh.
"Astaga, Be. Itu bahaya untuk aku!" Rengek Ivanna. "Aku beneran takut, kalau dia sampai nekat berbuat yang tidak-tidak!" Ucap Ivanna dengn air mata yang siap untuk menetes.
"Jangan takut, sayang! Sudah, yang penting kamu percaya sama aku!" Ucap Carenza tersenyum sambil merangkup pipi Ivanna dengan lembut.
Tok, tok, tok!
Terdengar pintu ruangan di ketuk oleh seseorang dengan begitu kasar.
__ADS_1
"Pak, keluar anda! Dimana anda sembunyikan Nona Ivanna!" Ucap Chelsea berteriak.
Deg!
"Be, aku gak mau bertemu degan dia! Hiks, gimana ini!" Ucap Ivanna panik dan menangis karena takut.
"Kamu tenang saja! Dia gak akan berani untuk menyentuhmu!" Ucap Carenza terkekeh.
Baru kali ini Ivanna terlihat takut dengan sesuatu yang tidak penting. ia hanya takut, gadis itu berniat mencelakai anak yang ada di dalam kandungannya
"Kalau bukan karena sedang hamil, aku mau tampar dia, Be!" ucap Ivanna kesal namun ia tetap saja menangis.
"Cium aku dulu sampai berbekas, sayang! Kamu mau dia pergi, Kan?" Tanya Carenza mesum.
"Apa hubungannya, Be? yang ada dia makin mencari aku!" Ucap Ivanna kesal.
"Ayo, cium dulu!" Ucap Carenza menunjuk lehernya.
Ivanna dengan ragu langsung mengecup dan memberi bekas di beberapa titik yang ditunjuk oleh Carenza.
"Sudah, Be! Kamu yakin dia bakalan pergi?" Tanya Ivanna takut.
"Iya, sayang!" Ucap Carenza terkekeh.
Ivanna segera mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dari gadis gila itu. Carenza semakin tertawa melihat sang istri yang begitu panik.
Padahal kalau di hadapi saja dan di beri perintah, pasti gadis itu bisa menurut kepada mu, Sayang!. Batin Carenza terkekeh.
Ivanna memilih untuk bersembunyi di dalam kamar mandi dan menguncinya dengan rapat.
"Nona, Anda dimana? Jangan mau sama dia, Nona! Anda tidak akan aman!" Ucap Chelsea masih berteriak.
Carenza sedikit memberantakkan penampilannya dan keluar dari ruangan itu,
"Cih, anda mengganggu saja! Saya kami sedang memberi pupuk untuk calon anak kami!" Ucap Carenza mendengus kesal.
"A-anda? be-beraninya anda menyentuh Nona ku yang berharga!" Ucap Chelsea meradang.
"Sudah sana pergi, atau saya akan memanggil sekuriti untuk mengusir anda dari sini!" Ucap Carenza mengancam.
"Saya tidak akan berhenti sampai Nona berhasil saya dapatkan!" Ucap Chelsea yang menyerah dan pergi dari sana.
Carenza tergelak dan kembali masuk kedalam ruangan. Ia memanggil Ivanna untuk keluar dari kamar mandi.
"Apa dia sudah pergi?" Tanya Ivanna.
"Sudah, sayang! Sini keluar!" Ucap Carenza membimbing Ivanna untuk keluar dari kamar mandi.
"Aku gak mau ketemu sama dia lagi, Be! jangan coba-ciba untuk ngasih alamat rumah kepada dia!" Ucap Ivanna mengancam Carenza.
Namun pria tampan itu, hanya tersenyum sambil menatap Ivanna dengan lekat.
"Kenapa?" Tanya Ivanna curiga.
"Sofanya baru aku ganti, kita coba yuk!" Ucap Carenza dan membuat Ivanna merona. "Sebentar saja, Sayang!" Sambungnya dan mulai menyentuh titik sensitif sang istri.
"Be, nanti aku sakit pinggang!" Ucap Ivanna lirih karena sudah mulai merasakan reaksi dari sentuhan Carenza.
"Semuanya sudah aku fikirkan sayang!" Ucap Carenza tersenyum dan membaringkan Ivanna dengan lembut.
Ruangan itu seketika terasa panas dan penuh dengan suara merdu Ivanna yang membuat Carenza selalu bersemangat untuk bergemul dengan sang istri dimanapun dan kapanpun.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1
π€£π