
Ivanna tersenyum, ia harus bisa berakting untuk meyakinkan kepada pemilik gedung jika ia tengah merasa frustrasi saat ini.
Kita lihat, apa yang ia inginkan sebenarnya!. Batin Ivanna geram.
"Astaga, aku semakin viral!" ucap Ivanna terkekeh.
Tok..., tok..., tok....
"Permisi, Nona!" ucap Felicia.
"Masuk!" ucap Ivanna.
Felicia masuk bersama dengan Azmi dan ayahnya, Fadil, tak lupa juga dua orang pengacara. Ivanna menyeringai di dalam hati karena ia bisa dengan mudah mengetahui hal ini.
Aku sudah sangat tidak sabar menunggu semua bukti kejahatan mereka lengkap! Setelah ini aku akan lepas tangan dan meminta kompensasi atas kerugian yang aku tanggung!. Batin Ivanna.
"Silahkan duduk, Tuan!" ucap Ivanna.
Azmi dan Fadil duduk di sofa panjang, sementara Ivanna dan Felicia duduk di sofa single yang saling berseberangan.
Semoga saja mereka tidak berbuat macam-macam dengan Nona nanti!. Batin Felicia sedikit takut.
"Bagaiman ini, Nona? Itu proyek yang sangat besar! Baru kali ini saya kecewa dengan perusahaan Anda!" ucap Fadil marah namun bibirnya tersenyum tipis.
"Saya meminta maaf, Tuan. Secepatnya saya akan menangani masalah ini, mohon beri saya waktu!" ucap Ivanna melunak.
Cih, dasar setan!. Batin Ivanna mengumpat.
"Apa yang akan anda lakukan? saya rugi miliaran rupiah untuk membangun gedung itu, dan sekarang hancur begitu saja! Apa tindakan anda sebagai pemimpin perusahaan ini, Nona! saya menuntut waktu dua hari untuk mengembalikan semua kerugian yang saya alami, semua biaya yang saya keluarkan untuk pembangunan gedung ini!" ucap Fadil degas.
Cih, dasar munafik! tidak sebanyak itu juga kau mengeluarkan uang!.
"Mohon beri saya waktu, Tuan! Saya akan menyelesaikan masalah ini dengan segera dan mencari solusinya!" ucap Ivanna menahan emosinya.
"Saya tidak tau, kenapa Tuan Irfan bisa memilih anda untuk menggantikannya! Tidak profesional dan hanya bisa membuat kesalahan!" ucap Fadil sarkas.
Syialan! kurang ajar kau, badjingan! Lihat saja aku akan menghancurkan kalian hingga ke akar-akarnya!. Batin Ivanna emosi.
"Saya rasa ucapan anda sudah terlewati batas, tuan! justru sekarang saya yang berfikir, kenapa ada pemimpin perusahaan seperti anda! Kasar dan kurang ajar, tetapi bisa maju dengan sangat baik!" ucap Ivanna datar.
"Anda jangan lancang, Nona! belum ada satu bulan anda menggantikan Tuan Irfan, anda sudah berani mengatasi saya!" bentak Fadil.
Felicia mengambil ancang-ancang untuk melakukan sesuatu jika Ivanna berada di dalam bahaya. Karena hanya ada mereka berdua perempuan di dalam ruangan itu.
"Justru anda yang lancang, Tuan! Dari tadi saya mengatakan akan bertanggung jawab dan menyelesaikan semua masalah ini! tetapi anda malah merendahkan saya, dan itu artinya anda juga merendahkan keluarga saya!" ucap Ivanna tegas.
"Saya baru tau jika Tuan Irfan memiliki putri yang tidak mempunyai sopan santun seperti ini. Saya yakin Tuan Irfan akan kembali mendapatkan serangan jantung mendengar berita ini!" sarkas Fadil.
"Jangan ucapan, anda!" bentak Ivanna yang tidak bisa menahan emosi jika sudah membawa orang tuanya.
"Sudah, Pah!" ucap Azmi menahan Fadil. "Begini saja, Nona. Ini masih bisa kita bicarakan dengan baik-baik. Saya ingin menawarkan kesepakatan! bagaimana?" sambungnya.
"Kesepakatan apa?" tanya Ivanna yang masih emosi.
Kena kau!. Batin Ivanna menunggu alasan dan tujuan utama mereka datang kemari.
"Begini, Nona. Dengan kerugian ini, mungkin dana perusahaan anda akan terkuras habis, belum lagi dana investor yang juga ikut dalam pembangunan ini. Hmm, Bagini saja, Kami akan melepaskan Nona dari ganti rugi asalkan nona menikah dengan saya!" ucap Azmi tersenyum.
Sudah ku duga! Dia akan meminta hal ini. Selamat datang di gerbang kehancuran! hahaha!. batin Ivanna tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Menikah dengan anda? Jika hanya menikah, mungkin bisa di pertimbangkan. Apa anda bisa membayarkan ganti rugi juga kepada semua investor dan pemegang saham? hmm, menanggulangi dananya terlebih dahulu" tanya Ivanna serius
Azmi dan Fadil terkejut mendengar ucapan Ivanna. Ini semua terjadi di luar ekspetasi mereka.
"Itu bisa saja di atur, setelah kita menikah nanti!" ucap Azmi.
"Apa buktinya jika anda mau membayar semua kerugian yang saya tanggung?" ucap Ivanna.
"Saya membawa dua orang pengacara, untuk menuliskan kesepakatan kita!" ucap Azmi.
Pengacara? Apa benar mereka itu pengacara? Cih, tidak semudah itu ferguso!. Batin Ivanna.
"Mungkin ini bisa saya bicarakan dengan orang tua saya terlebih dahulu! Tetapi anda yakin bisa membayar semua kerugiannya?" tanya Ivanna memastikan.
"Bisa, saya akan menanggung semuanya!" ucap Azmi pasti.
"Baiklah! Saya akan mengabari anda dalam dua atau tiga hari lagi!" ucap Ivanna.
"Itu terlalu lama, Nona! bagaimana kalau besok?" ucap Azmi menawar.
"Dua hari! Saya minta waktu dua hari!" ucap Ivanna datar.
Dua hari untuk melihat kehancuran kalian!. Batin Ivanna tertawa jahat
"Baiklah! Jika dalam dua hari, saya belum mendapatkan jawaban, anda akan saya tuntun atas kerugian ini!" ucap Azmi.
Cih, kau salah mencari teman bermain! Sok hebat, bahkan tidak melihat siapa yang tengah kau hadapi!. Batin Ivanna menyeringai.
"Baiklah!" ucap Ivanna.
"Kami permisi terlebih dahulu!" ucap Azmi tersenyum.
Mereka keluar dari ruangan itu, Felicia mengantarkan Azmi dan yang lain menuju lift tanpa berekspresi.
Sementara di dalam ruangan, Ivanna tidak lagi bisa menahan emosinya, apalagi mendengar ucapan Fadil yang sangat kurang ajar karena mendo'akan sang Ayah mendapatkan serangan jantung kembali.
"Aku akan menghancurkan kalian! dan aku akan bersumpah untuk itu!" ucap Ivanna dengan mata yang memerah dan menyalang.
Felicia sedikit takut melihat ekspresi Ivanna. Namun semakin kesini ia semakin paham bagaimana sifat dan sikap Ivanna dalam menghadapi sesuatu.
Tak lama, Fitry masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang bercucuran keringat.
"Nona! Maaf, para investor meminta dana mereka di kembalikan hari ini juga! Semua yang hadir, juga sepakat untuk menggantikan posisi anda dengan yang lebih berkompeten! Ini catatannya, Nona!" ucap Fitry.
Ivanna membaca semua tuntutan dari mereka, yang pastinya tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kaputusan final.
"Istirahatlah, saya akan membicarakan ini kepada Ayah terlebih dahulu!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" ucap Fitry keluar dari ruangan itu.
Ivanna termenung, semua orang begitu meremehkan kemampuannya. Ia tersenyum kecut, ketika semua orang yang dulu memujinya, kini berbalik menghujat hanya karena masalah ini.
Hari ini akan menjadi awal, dimana seorang Ivanna akan terlahir kembali!. Batin Ivanna membulatkan tekad.
Ia segera menelfon Ayah dan Fajri melalui sambungan video untuk berdiskusi apa yang akan ia lakukan setelah ini. Tak lupa juga sang ibunda yang selalu bisa membuatnya tegas dalam mengambil keputusan.
πΊπΊ
Sementara di sebuah ruangan, Tono tengah risau memikirkan keadaan Ivanna saat ini. Ingin rasanya ia pergi ke perusahaan walaupun hanya untuk menemani gadis cantik itu. Namun, lagi-lagi ia takut jika kehadirannya akan mengganggu pekerjaan Ivanna.
__ADS_1
"Argh..., Apa yang harus aku lakukan?" teriak tono frustrasi.
"Apa aku kirimkan saja makanan kesana sambil melihat kondisi yang tengah terjadi?" ucap Tono.
Ia segera bergegas untuk membuat beberapa cemilan agar Ivanna tidak kekurangan asupan dalam keadaan seperti ini.
"Ah, aku hanya bisa menyuplay makanan untuknya! Haha, nanti pasti Nana akan protes, 'aku sudah gendut, Baby!' Hahah!" ucap Tono tergelak.
Hanya memakan waktu tiga puluh menit, ia menyelesaikan semua makanan yang akan di berikan kepada Ivanna.
"Yuri, titip resto! Saya ada perlu Sebentar!" ucap Tono kepada resepsionisnya.
"Siap, Pak!"
Tono mengantarkan sendiri makanan itu menuju kantor Ivanna yang berada tak jauh dari sana. Matanya membola, ketika melihat begitu banyak wartawan yang berdesakan untuk masuk kedalam gedung kantor itu.
Apa aku bisa masuk?. tanya Tono.
Ia berjalan mendekat sambil mengenakan masker dan membawa tote bag yang bertuliskan Culun's resto. Semua wartawan tidak terlalu menanggapi keberadaannya hingga ia bisa masuk ke dalam gedung itu dengan aman.
"Permisi, apa Nona Ivannanya ada?" tanya Tono.
"Dengan siapa, Tuan? apa sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu.
"Saya belum membuat janji, tapi bisa tolong hubungi sekretarisnya dan mengatakan jika Tono ada di bawah, mengantarkan makanan untuk, Nona!" ucap Tono.
"Tunggu sebentar, Tuan!" ucap resepsionis itu ramah dan menelfon Fitry.
Ia terlihat mengangguk mendengarkan instruksi dari Fitry dan tersenyum setelahnya.
"Maaf, Tuan. Nona sedang mengadakan rapat. Sebentar lagi sekretaris Fitry akan turun untuk mengambil pesanan, Nona!" ucap resepsionis itu.
"Ah, iya. Terima kasih!" ucap Tono tersenyum.
"Permisi! Apa saya bisa naik keatas?" tanya seseorang terburu-buru.
"Maaf, Tuan! tidak ada yang bisa menemui Nona satu orang pun!" ucap resepsionis itu dengan tegas.
"Tetapi saya harus naik keatas, Mbak!" ucap Bryan mendesak.
"Maaf, Tuan! mohon jangan menambah keributan di sini!" ucapnya tegas.
Bryan hanya pasrah, ia baru saja mendarat di Indonesia menggunakan pesawat pribadi, ketika mendengarkan kabar yang menimpa perusahaan Ivanna.
Tono tersenyum tipis mendengarkan penolakan dari resepsionis itu terhadap Bryan. Ia memilih untuk tidak menyapa Bryan, karena hanyabakan menambah keributan saja
Tak lama, Fitry datang dan mengambil makanan yang di bawa oleh Tono.
"Nona Muda, tidak apa-apa, Tuan! Pacar anda tengah berdiskusi bersama Tuan Fajri dan Tuan Irfan! Dia gadis yang cerdas!" ucap Fitry tersenyum melihat kepanikan dari wajah Tono.
"Huft, syukurlah Mbak! terima kasih! Tolong sampaikan salam saya kepadanya!" ucap Tono tersenyum.
"Iya, Tuan!" ucap Fitry tersenyum.
Tono keluar dari gedung itu dan kembali menuju restorannya sambil menunggu kabar dari Ivanna.
πΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1