
Mobil mewah Tono berhenti di halaman rumah yang cukup besar dan terlihat asri. Sudah lebih dari dua minggu ia tidak pulang ke rumah ini.
Tono melihat bibirnya yang semakin membiru walaupun sudah di beri salep. Beruntung ia pernah melihat tips dan trik di sosial media bagaimana cara menutupi luka lebam seperti itu.
Bermodalkan foundation milik Ivanna yang tertinggal, ia mengoleskannya hingga merata dan menyamarkan warna kulitnya.
"Sudah! semoga Ibu tidak curiga!" ucap Tono.
Ia keluar dari mobil dan berjalan masuk menuju rumah itu.
"Abang pulang!" ucap Tono tersenyum.
"Masih ingat jalan pulang?" ucap Almira ketus.
"Ayolah, jangan mulai lagi, Ra!" ucap Tono tersenyum.
"Huh, dasar pembohong!" ucap Almira semakin ketus.
"Abang bohong gimana?" tanya Tono mengernyit.
"Cih, padahal Ibu sudah mengatakan kepada tetangga kalau Abang bakalan bawa kakak iparku, tapi sampai sekarang belum juga!" ucap gadis cantik itu mendelik.
"Ah, itu. Sabar lah sebentar, kakak iparmu masih berada di luar kota, dan dia masih sibuk bekerja!" ucap Tono tersenyum.
"Cih, alasan! Aku dengar ibu dan ayah ngobrol. Kalau misalnya dalam waktu dekat abang belum membawa kakak ipar ke rumah. Ayah akan menjodohkan kakak dengan anak, pak Muhidin!" ucap Almira.
"Pak Muhidin di gang sebelah? Yang benar saja! Dia itu udah tua, dek! Kamu nanti akan kaget, kalau tau siapa kakak iparmu!" ucap Tono mendelik.
"Aku gak akan kaget! Kecuali Abang membawa Nona Ivanna ke sini. Bukan sebagai pemilik perusahaan, tetapi sebagai calon istri!" ucap Almira menantang. "Tapi aku gak mau lah kalau Abang nikah sama Nona Ivanna! Jangankan untuk ngobrol, bernafas di samping dia pasti udah di plototin!" sambungnya bergidik.
"Ihh, kamu belum tau aja bagaimana baiknya, Nona Ivanna!" ucap Tono menggeleng.
"Ya, walaupun Nona muda itu baik, aku lebih memilih kak Nafisya yang lebih manusiawi!" ucap Almira.
"Cih!" desis Tono menatap Almira tidak suka.
"Apa?" tanya Almira ketus.
"Gimana, kalau Abang jadian dengan, Nona Ivanna?" tanya Tono.
"Aku gak yakin!" ucap Almira meremehkan Tono. "Tapi kalau Abang bisa membawa Nona Ivanna dengan status kakak ipar. Aku akan, aku akan berusaha untuk mendapatkan nilai sempurna mulai dari semester ini sampai lulus kuliah!" sambungnya.
"Deal!" ucap Tono tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"De-deal!" ucap Almira menjabat tangan abangnya.
"Kalau gak dapat nilai minimal 3,70. Uang jajan Abang potong setengahnya!" ucap Tono tersenyum smirk.
"Ih, jangan gitu lah! Tapi aku juga gak yakin Abang bisa mendapatkan, Nona Ivanna!" ucap Almira remeh.
"Kita lihat saja, nanti! Sudah Abang mau ke kandang dulu!" ucap Tono tertawa.
Ia mengganti baju khusus untuk ke kandang terlebih dahulu. Ia ingin melihat masalah apa yang tengah terjadi di kandangnya saat ini.
Semoga tidak ada ternak yang mengalami sakit atau sejenisnya. batin Tono.
Ia berjalan menuju kandang dan mengamati keadaan sekitar. Tampak biasa saja tanpa ada hal yang serius. Namun ia mendengar keributan yang berada dari gerbang luar khusus untuk pengunjung.
Ibu dan ayahnya tengah berdebat dengan beberapa orang yang tengah bersitegang.
"Ada apa ini?" tanya Tono mengernyit.
"Akhirnya kamu datang! Ini kamu tangani mereka, nak! Ibu udah capek!" keluh Ibu kesal.
"Tolong tenang sebentar! Berbicara satu-satu agar saya bisa memahami permasalahan ini! Apa yang terjadi?" tanya Tono.
__ADS_1
"Begini, nak Eza. Dua hari yang lalu, kami membeli sapi di sini untuk acara nikahan! Tetapi waktu tiba di rumah sapi itu tiba-tiba saat sakit dan langsung mati! Tentu kami menuntut ganti rugi!" ucap pelanggan Tono.
"Sakit? Aloeng? Aloeng?" teriak Tono memanggil karyawannya.
"Saya, bang!" ucap Aloeng menghampiri Tono.
"Tolong ambil catatan pembelian sapi bapak ini!" ucap Tono.
"Baik, bang!" Aloeng pergi ke kantor untuk mengambil catatan pembelian yang di maksud oleh Tono.
"Sekarang sapinya dimana, pak?" tanya Tono.
"Sudah kami buang! busuk lah kalau bangkai di biarkan terlalu lama!" ucap pelanggannya ketus.
"Bapak ingin ganti rugi?" tanya Tono.
"Tentu! uang saya terbuang 17 juta untuk membeli hewan mati!" ucap pelanggan itu.
"Bawa sapinya kemari, dan saya akan meminta dokter untuk memeriksanya terlebih dahulu! Jika memang twrnak kami dalam keadaan sakit, saya akan ganti dua ekor!" ucap Tono.
"Mana bisa, sapinya sudah kami buang kemarin! Dan saya juga sudah menuntut saat itu juga!" bentak pria paruh baya itu tidak terima.
"Kalau anda tidak bisa membawa bangkainya kemari, maaf kami tidak bisa mengganti! anda sudah menandatangani berkas-berkas pembelian ini, dan pasti anda juga sudah membacanya!" ucap Tono tegas.
"Saya tidak mau tau, pokoknya kalian harus ganti rugi, atau ini akan saya kasuskan!" ancamnya.
"Silahkan! dan saya juga akan melaporkan anda dengan tindakan pemerasan, pencemaran nama baik dan perbuatan yang tidak menyenangkan!" Ancam Tono tak kalah sadis.
laki-laki yang berjumlah empat orang itu memilih untuk pergi dengan perasaan yang dongkol karena tidak berhasil membawa seekor sapi lagi untuk pulang.
Tono meraih ponselnya dan menelfon salah satu atasan cabang perusahaan Dirgantara yang mengurus tentang cctv dan elektronik lainnya.
"..."
"Saya ingin hari ini saja di Pasang!" ucap Tono.
"..."
"..."
"Tidak masalah, nanti akan saya bayar!" sambungnya.
"..."
"Terima kasih!"
Ia menatap sang karyawan kepercayaan dengan lekat.
"Kenapa ini?" tanya Tono mengernyit.
"Saya tidak tau, bang. Padahal sapi yang mereka beli itu baru saja di beri vitamin dan di periksa oleh dokter satu hari sebelumnya! Beberapa hewan ternak yang sakit sudah saya pisahkan dari yang lainnya, bang!" jelas Aloeng sambil menunduk.
"Perketat pengawasan! Saya tidak ingin ini terjadi lagi!" ucap Tono.
"Baik, bang!" ucap Aloeng dan kembali bekerja.
Tono berjalan mendekat ke arah Ibu dan ayahnya.
"Hmm," deham Tono.
"Siapa kau?" ucap Ayah Tono ketus.
"Maaf, saya putra mahkota keluarga Hartono!" ucap Tono tergelak.
"Cih, pergi sana!" Ucap Ibu mengusir Tono.
__ADS_1
"Ibunda ratu yang cantik, Ayolah. Aku sudah pulang, lagian abang baru dua minggu di sana!" ucap Tono memelas.
"Ah sudahlah, kalau tidak di suruh pulang, kamu gak akan mau pulang!" ucap Ibu ketus.
"Kerjaan Eza banyak di sana Bu. Apalagi mau persiapan untuk membuka 65 cabang serentak se Indonesia!" ucap Tono lirih.
"Mana calon menantu yang kamu janjikan?" tanya ibu masih ketus.
"Sabar, Bu. Calon menantu Ibu masih mencari uang untuk modal nikah!" ucap Tono tergelak.
Plak!!
Sebuah pukulan mendarat di bahu pria tampan itu. Ibu dan ayah menatap Tono dengan tajam.
"Kamu, ini! Kerjaan bagus, kenapa masih membebankan dia untuk bekerja! Suruh dia berhenti, ibu akan menanggung semua biaya pernikahan kalian!" ucap Ibu marah.
"Gak bisa, Bu. Dia menjalankan usaha keluarga! Jadi, calon menantu Ibu gak bisa berhenti bekerja, kecuali anak kami sudah lahir dan besar, Bu!" ucap Tono memegang kedua pipinya yang terasa panas.
Plak!!
Bugh!!
"Dasar! belum lagi menikah, sudah ngomongin anak saja kamu! Kalau sampai minggu ini kamu belum membawa calon menantu Ibu, kamu akan ibu nikahkan dengan anak bapak Muhidin si Julehah!" ucap Ibu sambil memukul lengan Tono karena kesal.
"Jangan, Bu!" teriak Tono dengan wajah memelas. "Dia masih di luar kota, dan akan pergi keluar negeri, Bu. Beri Eza waktu satu bulan, ya. Plis!" ucap Tono memohon.
"Tanggal 31 bulan depan, jika kamu belum bisa membawanya ke sini, ancaman ibu gak main-main, bang!" ucap Ibu tegas.
"Iya!" Jawab Tono cemberut. "Kangen!" sambungnya sambil memeluk sang Ibu.
"Cih, sini! Tau kangen tapi lama-lama juga di sana!" ucap Ibu membalas pelukan Tono.
"Hehe, namanya juga berjuang, Bu!" ucap Tono terkekeh.
"Ah, Ibu harus memeriksa darah tinggi Ibu ke dokter! punya anak laki-laki satu, tingkahnya seribu!" ucap Ibu Tono mendelik.
"Haha, anggap aja itu punya anak seribu!" ucap Tono mengecup kening ibunya.
"Cih, itu istriku! ngapain kamu cium-cium!" delik Ayah.
Namun tidak bisa di bohongi, jika bibirnya tersenyum.
"Baru juga istri! Aku yang anaknya biasa aja tuh!" ucap Tono tergelak.
"Ihh, sana urus ayam kamu. Banyak telur yang gagal menetas!" ucap Ayah.
"Yang benar, yah?" tanya Tono terkejut.
"Iya, Hampir sebagian sepertinya!" ucap Ayah lirih.
"Se-sebagian?" ucap Tono langsung berlari menuju kandang ayamnya.
Jika hampir sebagian dari jumlah telur yang sedang di hangatkan, itu berarti Tono akan rugi sekitar 20 ribu ekor ayam dengan kerugian mencapai 1 Miliar rupiah.
Benar saja, para karyawan Tono tengah mengumpulkan telur yang sudah tidak bisa menetas lagi.
"Bagaimana?" tanya Tono khawatir.
"Maaf, bang. Telur sisa ini sudah hampir satu minggu kami panaskan! Sementara yang lain sudah menetas, bang. Jadi, bapak meminta untuk mengumpulkan telur yang gagal!" ucap mereka.
"Astaga!" ucap Tono frustrasi. Lanjutkan kerja kalian!".
Ya tuhan, aku rugi dalam jumlah yang tidak main-main!. Tapi tidak apa, yang penting aku sudah memiliki saham yang bisa aku gunakan untuk menambah modal untuk ternak ini!. Batin Tono pasrah.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE