
"Anda memang begitu hebat, Nona! Keturunan mendiang tuan Horison memang bibit unggul! Semoga kerja sama kita kali ini bisa berjalan dengan baik!" ucap Baihaqi memuji kehebatan Ivanna.
"Tentu, kami memiliki tanggung jawab yang begitu besar terhadap seluruh karyawan Dirgantara Grub. Saya senang bisa berkenalan dengan, anda! Saya seperti melihat kembali sosok Opa ketika bertemu dengan, Anda!" ucap Ivanna tersenyum tipis.
Gadis cantik itu tengah menjalankan rapat terakhirnya di sebuah cafe besar yang ada di kota itu sebelum kembali pulang.
"Nona bisa memanggil saya dengan sebutan kakek! Itu pun jika Nona berkenan!" ucap Baihaqi tersenyum.
"Tentu saja, kakek!" panggil Ivanna tercekat.
"Baiklah, cucuku. Kamu bisa mengatakan kepada kakek, jika membutuhkan bantuan!" ucap Baihaqi tersenyum.
"Terima kasih banyak, kek!" ucap Ivanna tersenyum manis menatap laki-laki paruh baya itu.
"Sayang sekali, waktu kita tidak banyak!" ucap Baihaqi sambil berdiri.
"Iya, kek! Sehat terus ya, agar kita bisa bertemu kembali!" ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, nak! Sampaikan salam kakek untuk keluargamu!" ucap Baihaqi.
"Nanti akan Nana sampaikan, kek!" ucap Ivanna. "Hmm, apa Nana boleh memeluk, kakek?" tanya Ivanna ragu.
"Tentu, kemarilah!" ucap Baihaqi merentangkan tangannya.
"Nana merindukan, Opa!" ucap Ivanna dengan berkaca-kaca.
"Setelah pulang dari sini, kamu bisa mengunjungi makam mereka, Nak!" ucap Baihaqi mengelus kepala Ivanna dengan lembut.
"Iya, kek. Nana pamit dulu!" ucap Ivanna tersenyum manis.
"Iya, kakek juga harus pergi, nak!"
Mereka menutup rapat siang hari ini dengan begitu manis. Ivanna segera menaiki mobilnya dan kembali pulang.
"Apa jadwal kita setelah ini, Fel?" tanya Ivanna.
"Kita akan langsung berangkat untuk pulang, Nona. Besok ada dua rapat lagi yang harus Nona hadiri. Masih ada dua hari untuk beristirahat sebelum kita berangkat ke Inggris, Nona!" Terang Felicia.
"Huft, apa kamu lelah?" tanya Ivanna.
"Selagi tidur saya cukup dan bangun dengan keadaan segar, semua aktivitas bisa saya lakukan, Nona!" ucap Felicia tersenyum.
"Baiklah. Atur jadwal untuk kontrol ke rumah sakit! Pekerjaan kita masih banyak, Fel!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" ucap Felicia yang langsung membuat janji dengan dokter pribadi keluarga Dirgantara.
πΊπΊ
Pesawat yang berlogo Dirgantara sudah mendarat di bandara kota kelahiran mereka. Ivanna segera turun dan berjalan menuju mobil yang sudah menjemput mereka.
Ia harus mengantarkan Felicia terlebih dahulu. Barulah ia bisa pulang ke rumah dan beristirahat.
"Jangan begadang! Jika ada pekerjaan selesaikan dahulu, baru beristirahat!" ucap Ivanna.
Mobil baru saja sampai di halaman rumah dinas Felicia.
"Baik, Nona. Selamat beristirahat!" ucap Felicia sedikit membungkuk setelah keluar dari mobil.
"Hmm, salam untuk keluargamu!" ucap Ivanna.
"Nanti akan saya sampaikan, Nona! Hati-hati!" ucap Felicia menutup pintu mobil.
Mobil kembali bergerak menuju pulang. Ivanna sudah terlihat kelelahan, karena jadwal yang begitu padat. Ia hanya bisa menghela nafas yang terasa sangat berat.
ketika memasuki gerbang, ia melihat mobil yang cukup ia kenali terparkir di sana. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 malam.
__ADS_1
Ngapain dia di sini?. batin Ivanna menjerit kesal.
"Tolong bawa semua barang dengan hati-hati, pak. Terutama tas itu, saya sangat lelah!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona. Selamat beristirahat!" ucap Pak Sakti.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah itu dan melihat sang Ayah tengah mengobrol bersama Bryan di ruang tamu.
"Ayah, Dede pulang!" ucap Ivanna lirih.
"Hai, sayang. Cepat pulangnya?" tanya Irfan yang langsung menghampiri Ivanna dan memeluk gadis kecilnya.
"Dede mengejar semua pekerjaan agar cepat selesai, Yah! Dede capek!" ucap Ivanna memeluk Irfan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang itu.
"Bang! Abang!" panggil Irfan.
"Apa, Yah? Eh udah pulang, sayang?" tanya Fajri.
"Sudah, Bang!" ucap Ivanna lirih.
"Gendong adek ke kamarnya, bang!" ucap Irfan terlihat khawatir.
Fajri langsung menggendong Ivanna menuju kamarnya dengan sigap. Sementara Bryan hanya bisa memandang Ivanna dari ruang tamu karena ia tidak mendapatkan celah sedikitpun untuk mendekati gadis itu.
Sepertinya, aku memang sudah kalah telak di bandingkan pria itu!. Batin Bryan pasrah.
"Maaf ya, Bryan. Ivanna begitu kelelahan, ia baru saja pulang dari luar kota beberapa hari ini!" ucap Irfan.
"Tidak masalah, Ayah! Yang penting, saya bisa melihat Nana baik-baik saja!" ucap Bryan. "Kalau begitu, saya pamit dulu!".
"Ah, iya silahkan!" ucap Irfan.
Setelah kepergian Bryan, Irfan langsung menemui Fajira yang ada di dalam kamar untuk memeriksa keadaan Ivanna. Safira dan anak-anak juga ikut ke atas karena mengira jika gadis itu tengah sakit saat ini.
Sementara di dalam kamar, Ivanna tengah memeluk Naren dan Nayla dengan erat. Wajahnya terlihat segar kembali dan ceria, sehingga membuat Fajri dan Safira mengernyit.
"Hmm? iya, Dede memang lelah bang. Tapi kalau untuk bermain dengan anak-anak, lelahku terasa hilang!" ucap Ivanna mencium dua keponakannya.
"Ih, dasar ya!" ucap Fajri geram dan menggelitik Ivanna dan anak-anaknya juga.
Safira hanya menggeleng dan memilih untuk duduk di meja belajar Ivanna sambil melihat mereka yang tengah bergelut.
Brak!!
"Dek, kamu gak papa?" tanya Fajira panik sambil membuka pintu dengan kasar.
"Eh, sehat kok!. Ayah!" seru Fajira melotot.
"Eh, kok kamu gak jadi sakit, dek?" tanya Irfan bingung.
"Kok Ayah ngomongnya gitu sih!" ucap Ivanna kesal.
"Tadi kamu?" tanya Irfan menebak.
"Dede hanya menghindari Bryan, Ayah. Maaf, karena membuat semuanya panik!" ucap Ivanna lirih.
"Astaga!" ucap mereka menepuk jidat masing-masing.
"Terus gimana keadaan Dede sekarang?" tanya Fajira memeriksa suhu tubuh Ivanna.
"Dede sehat, Bunda. Hanya lelah saja!" ucap Ivanna lirih.
"Ya sudah, kalau begitu. Istirahatlah dulu! Sudah makan sayang?" tanya Fajira.
"Sudah, bunda!" ucap Ivanna memeluk ibundanya.
__ADS_1
"Dek, apa kamu tau kalau Bryan dan Tono berkelahi?" tanya Irfan serius.
"Tau, Ayah! Bryan yang cari gara-gara! Dia bonyok karena gak pandai bela diri, sementara Tono kan sudah mendapatkan sabuk hitam!" ucap Ivanna.
"Risiko orang cantik emang gitu ya, di rebutin sana sini!" ucap Safira terkekeh.
"Iya, kak. Sampai aku bosan, direbutin terus!" ucap Ivanna.
Mereka mengobrol sebentar sampai jam makan malam memaksa untuk membubarkan kehangatan itu sejenak. Ivanna memilih untuk beristirahat agar tenaganya bisa pulih kembali.
"Akhirnya, aku bisa beristirahat!" ucap Ivanna menggerakkan tangan dan kakinya di atas kasur.
Drrtt..., Drrtt..., Drrtt....
Ponsel Ivanna berdering dan terdengar nada dering khusus. Ia segera mengangkatnya dan tersenyum.
"Hai, Baby!" ucap Ivanna tersenyum manis.
"Hai, sayang! Kapan pulang? Aku udah kangen banget!" ucap Tono cemberut.
"Maaf ya aku gak ngasih tau kamu. Aku sudah pulang, By!" ucap Ivanna.
"Ah, syukurlah. Apa kamu besok sibuk, sayang?" tanya Tono berbinar.
"Gak juga, By. Besok ada dua rapat dari pagi sampai siang. Aku harus memeriksa beberapa berkas dan cek up ke dokter. Aku ada waktu dua hari di rumah sebelum berangkat ke Inggris!" ucap Ivanna menerangkan.
"Jangan sampai sakit, ya!" ucap Tono.
"Iya, By. kamu juga, ya!" ucap Ivanna.
Mereka saling memandang satu sama lain, celengan rindu mereka belum bisa terpecahkan hingga pertemuan terjadi.
"Ah, iya sayang. Aku lagi di rumah!" ucap Tono tersenyum.
"Iya kah? Kapan kamu pulang, By?" tanya Ivanna.
"Tadi siang. Hmm, sayang tadi Ibu bilang, jika aku tidak bisa membawa kamu hingga akhir bulan ini. Aku akan di jadohkan dengan anak tetanggaku!" ucap Tono terlihat sedih.
Deg....
Ivanna langsung duduk dan menatap Tono dengan tajam.
"Apa kamu bilang? Dijodohkan?" tanya Ivanna melotot.
"I-iya, sayang. Ibu bilang aku gak normal karena tidak pernah membawa perempuan ke rumah! Umurku juga sudah 26, sayang!" ucap Tono lirih.
"Kamu ngomong seperti ini, bukan untuk mengerjaiku, 'kan?" tanya Ivanna menelisik.
"Aku serius, sayang. Apa kamu ingat, waktu itu aku bilang kalau Ibu ingin bertemu?" tanya Tono.
"Baiklah, lusa kita ke rumahmu! Tapi kamu harus minta izin dulu kepada keluargaku!" ucap Ivanna tersenyum.
"Baiklah, sayang. Lusa aku akan menjemput, pagi sekali!" ucap Tono.
"Iya, Baby. Aku mau istirahat dulu!" ucap Ivanna menguap.
"Iya, istirahatlah. Good nigth, sayang!" ucap Tono tersenyum.
"Good nigth to, Baby!" ucap Ivanna tersenyum dan mematikan ponselnya.
"Jangan harap siapapun bisa merebut milikku!" ucap Ivanna kesal.
Ia segera tertidur, berharap lusa akan datang dan ia bisa bertemu dengan perempuan yang akan di jadikan dengan miliknya.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE