
Pagi menjelang, Ivanna masih terlelap di dalam pelukan Irfan yang masih setia mengelus lembut kepalanya. Sementara Fajira sudah pergi menuju dapur untuk memasak sarapan seperti biasa.
Irfan terdiam, ia masih merasa ragu untuk melepas Ivanna. Bukan karena meragukan tanggung jawab Carenza, namun ia takut pernikahan akan membuat putri kecilnya harus menanggung beban yang lebih berat. Belum lagi untuk mengembangkan tanggung jawab dalam perusahaan.
"Ayah!" lenguh Ivanna semakin mengeratkan pelukannya.
"Bangun, yuk, sayang! temani ayah olah raga pagi ini!" Ucap Irfan tersenyum.
"Hmm, iya! Dede, masih ngantuk!" Ucap Ivanna kembali terpejam.
"Hehe, ayo sayang, anak gadis gak boleh bangun terlambat!" Ucap Irfan bangun dan mendudukkan Ivanna yang masih menutup mata.
Gadis cantik itu berusaha untuk mengembalikan kesadarannya. Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamarnya.
"Hati-hati, sayang! Nanti kejedot!" Ucap Irfan tersenyum.
Duk!
Benar saja, kening mulus Ivanna menabrak dinding karena ia berjalan sambil menutup mata.
"Huaa, sakit, Ayah!" Rengek Ivanna sambil meringis.
Irfan segera menyusul Ivanna sambil menahan tawa. Ia mengusap kening Ivanna dan juga meniupnya.
"Fiuh, fiuh, fiuh, udah gak papa!" Ucap Irfan kesulitan menahan tawanya.
"Sakit! Ayah jahat! Orang baru bagun di suruh jalan, Huaa!" rengek Ivanna. "Dede mau ke dokter aja, hari ini libur kerja!" Sambungnya.
"Ada pula seperti itu?" ucap Irfan terkekeh.
"Ada, ihh!" ucap Ivanna kembali berjalan menuju kamarnya dengan wajah yang cemberut.
"Langsung mandi, sayang!" Teriak Irfan.
"Gak mau! Dede masih cantik!" Ucap Ivanna mengibaskan rambutnya.
"Punya anak gadis satu, ada aja tingkahnya!" Ucap Irfan menggeleng dan memilih untuk turun ke bawah agar bisa mengganggu sang istri seperti biasa.
Karena semenjak pensiun, ia tidak di perbolehkan untuk mengerjakan apapun, walau sebenarnya ia masih kuat untuk kembali bekerja. Namun karena itu permintaan istri dan anak-anaknya, ia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan mereka.
Sementara di dalam kamar, Ivanna duduk di atas ranjang sambil mengoleskan salep agar keningnya tidak bengkak. Sebantar, fokus gadis cantik itu teralihkan ketika melihat ponsel pintarnya bergetar.
Carenza tengah menghubungi melalui panggilan video. Senyum gadis cantik itu terbit dan langsung mengangkatnya.
"Morning, sayang!" Sapa Carenza dengan suara seraknya dari balik telepon.
"Morning, baby! Baru bangun, ya?" tanya Ivanna yang melihat mata Carenza masih terpejam.
"Hmm, Kamu mau kemana hari ini, sayang?" Tanya Carenza.
"Hari ini, aku libur ke kantor. Tapi, nanti siang aku mau ke pengadilan, by! Kamu mau ikut?" Tanya Ivanna.
"Ngapain?" Tanya Carenza mengernyit.
"Hari ini sidang keputusan final tentang masalah pembangunan kemarin!" Ucap Ivanna.
__ADS_1
"Okey, apa aku boleh ikut?" Tanya Carenza cemberut.
"Boleh, Tapi harus hati-hati, karena nanti pasti akan banyak wartawan. Atau kamu mau aku publis sekarang?" Tanya Ivanna.
"Aku belum mau di publis, sayang. Tunggu barang satu bulan lagi!" Ucap Carenza tersenyum.
"Baiklah, sekarang kamu bangun, bersih-bersih, jangan lupa olah raga! Aku mau menemani ayah dulu!" uca Ivanna.
"Iya, calon istriku! Ingat, minggu depan kita akan bertunangan!" Ucap Carenza tersenyum.
"Ah, baiklah calon suamiku!" Ucap Ivanna merona.
Ia mematikan panggilan itu dan membersihkan badannya.
πΊπΊ
Di ruang gym, Ivanna sedang menemani Irfan. Ia tengah melatih otot-ototnya yang masih terlihat bagus walaupun sudah memasuki usia kepala lima.
"Kamu gak olah raga, sayang?" Tanya Irfan.
"lagi malas, ayah!" ucapan Ivanna bermain ponsel.
"Ih, anak gadis gak boleh malas untuk olah raga! Gimana kalau lemak di perutnya menumpuk? Nanti jadi buncit dan gak bagus!" Ucap Irfan mengernyit.
"Ih, ayah jangan begitu! Dede lagi capek, pengen istirahat, terus manja-manja sama bunda!" Keluh Ivanna.
"Ya sudah, Nanti kalau semuanya sudah stabil lagi, dede boleh ambil cuti beberapa hari!" Ucap Irfan tersenyum.
"Hmm, Ayah badannya masih bagus! Eza juga bagus badannya seperti abang!" ucap Ivanna polos.
Irfan mengernyit dan menatap Ivanna, "Kapan dede melihat badan Eza, sayang?" Tanya Ayah.
Padahal ia memang belum pernah melihat tubuh Carenza secara langsung.
"Aih, kamu jangan sampai terlena, sayang! Perempuan kalau rusak, pasti berbekas. Beda sama laki-laki!" Ucap Irfan serius.
"Iya, ayah! Dede selalu ingat pesan ayah!" ucap Ivanna tersenyum. "Apa ayah sudah selesai?".
"Sudah! Yuk kita keluar!" Ucap Irfan merangkul Ivanna.
Mereka berjalan dan menaiki lift untuk turun dan menuju kamar masing-masing agar bisa membersihkan diri terlebih dahulu sebelum sarapan.
πΊπΊπΊ
Di ruang persidangan, semua orang menunggu pembacaan hasil keputusan mengenai kasus azmi tempo lalu. Ivanna yang di temani oleh Fajri dan Carenza hanya mendatap datar apapun itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
Ia menggenggam erat tangan Fajri dan Carenza, karena ada sedikit rasa bersalah karena ia memberantas Azmi hingga ke akar-akarnya.
"Dengan ini, hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada saudara Azmi Danuarta selama 15 tahun penjara dengan denda sebanyak 1,8 miliar rupiah atau masa kurungan 1 tahun. Dan untuk saudara Fadhil Danuarta, mendapatkan hukuman selama 12 tahun penjara. Bla, bla, bla!" Ucap Hakim menjatuhkan hukuman yang begitu berat kepada Azmi dan Fadhil.
"Sebagaimana tuntutan dari pelapor untuk mengakuisisi perusahaan Angkasa pura sebagai ganti rugi dan kompensasi kepada pelapor, kami nyatakan di Terima dengan syarat yang tertera!" Ucap Hakim.
Tok, tok, tok.
Palu berbunyi sebanyak tiga kali pertanda semua keputusan itu tidak bisa di ganggu gugat lagi.
__ADS_1
"Kami akan mengajukan banding, hakim! Saya tidak Terima jika anak dan suami saya di hukum seberat itu!" Ucap istri Fadil emosi.
"Silahkan ibu mengajukan banding! Saya pastikan hukuman mereka akan lebih berat lagi!" Ucap Fajri tegas.
"Dasar keluarga biadab! Apa betul salah anak dan suami saya, hingga kalian berbuat seperti ini!" teriak Istri Fadhil dengan air mata yang meleleh.
"Bukankah, ibu selalu menghadiri sidang selama dua bulan ini? Semua bukti kejahatan mereka sudah di beberkan! Jadi anda masih bertanya apa salah suami anda? Pikir bu, Pikir!" Ucap Fajri begis sambil menunjuk kepalanya sendiri.
"Sudah, bang! Itu hak dia untuk mengajukan banding! Biarkan saja!" Ucap Ivanna menahan Fajri.
Mereka segera keluar dari tangan itu tanpa menoleh kepada siapapun dan juga tidak mendengarkan teriakan Azmi yang ingin bertemu dengan Ivanna.
"Bang, dede pulang bareng Eza, ya!" Ucap Ivanna sedikit takut karena Fajri masih terlihat marah.
"Pergilah! Jangan sampai telat pulangnya!" Ucap Fajri memaksakan senyumnya agar tidak memarahi Ivanna.
"Abang hati-hati, pulangnya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, sayang!" Ucap Fajri mengelus kepala Ivanna.
Beruntung tidak ada wartawan yang menyadari keberadaan mereka, sehingga Ivanna bisa langsung berlari menuju mobil Carenza yang sudah terparkir tak jauh dari tempat ia berdiri.
Ceklek!
Ivanna membuka pintu dan kembali menutupnya dengan cepat. "Huh, ternyata capek ngurus seperti ini, by!" Keluhnya.
"Sabar, Sayang! Bukankan kamu mendapatkan ganti rugi yang setimpal?" Tanya Carenza mengecup tangan Ivanna.
"Hmm, iya. Tetapi aku merasa terlalu kejam! Perusahaan sebesar itu bisa aku dapatkan sebagai ganti rugi yang tidak seberapa!" Ucap Ivanna lirih.
"Apa kamu menyesal?" Tanya Carenza menatap Ivanna lembut.
"Hmm? Tidak, aku hanya kasihan kepada keluarga mereka yang di tinggalkan. Apalagi istrinya!" Ucap Ivanna lirih.
"Sudah, itu semua memang kesalahan mereka yang bermain curang agar bisa menjadi perusahaan terbesar di negara ini!" Ucap Carenza. "Ice cream?".
"Boleh, By!" Ucap Ivanna langsung tersenyum.
Carenza segera menjalankan mobilnya menuju salah satu kedai ice cream yang berada tak jauh dari sana.
"Jangan cemberut sayang! Nanti cantik kamu hilang, yang ada aku gemas! Gimana kalau aku khilaf cium kamu? keterusan nanti!" Ucap Carenza genit.
"Jangan gitu ih! Nanti aku dimutilasi kalau beneran itu terjadi!" Ucap Ivanna semakin cemberut.
"Hahaha, makanya jangan cemberut lagi, sayang! Aku makin gemas!" Ucap Carenza tertawa.
"Ih, aku dilihat dari manapun juga tetap cantik, imut dan mengemaskan!" Uca Ivanna percaya diri.
"Nah, itu tau. Jangan sampai nanti aku gigit pipimu, hidung, dagu dan itu si merah kenyal yang menggoda!" Ucap Carenza semakin genit.
"Udah ih!" Ucap Ivanna dengan wajah yang merona.
Ia memilih untuk menatap ke arah luar dari pada harus menatap wajah Carenza yang selalu membuatnya merona. Sementara pria tampan itu tak hentinya tertawa melihat wajah Ivanna yang selalu membuatnya kesulitan untuk menahan diri.
Hingga mobil berhenti di kedai ice cream yang cukup besar di kota ini. Mereka segera turun dengan berbagai macam atribut agar bisa mengamankan diri dari para fans yang begitu ingin tau wujud asli pasangan sejoli itu.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE