
Setibanya di kantor, Ivanna langsung turun di loby, dan melempar kunci motornya kepada satpam untuk diparkirkan.
Ia berlari menuju lantai tujuh, dimana ruangannya berada. Pandu dan Felicia sudah menunggu dengan raut wajah cemas di dalam ruangan itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Ivanna menatap Pandu.
"Ada yang melakukan kecurangan, pada proyek Apartemen mewah di alun-alun kota, Nona!" ucap Pandu.
"Apa permasalahannya? Bukankah kemarin masih baik-baik saja?" tanya Ivanna
Ia masuk ke dalam kamar ganti dan segera mengganti baju. kurang dari lima menit ia keluar dari sana dengan pakaian khusu untuk ke kantor.
"Apa yang terjadi?" tanya Ivanna.
"Proyek itu tiba-tiba saja mengalami kerusakan, Nona. ada beberapa puing bangunan yang tiba-tiba saja meretak dan roboh. Saat ini, kita hanya menunggu kapan bangunan itu akan rata dengan tanah, Nona!" terang Pandu.
Ivanna menggertakkan giginya, sambil meraih ponsel untuk menelfon pak Sakti agar bisa mengantarkan laptopnya yang ada di ruang kerja.
"Nona, beritanya sudah masuk ke televisi dan merangkak menuju tranding, Nona!" ucap Felicia takut.
"Saya akan menyuruh ahli komputer kita untuk membatasi berita ini, Nona!" ucap Pandu yang hendak keluar.
"Biarkan saja!" ucap Ivanna terdiam sambil berfikir.
Pandu termagu, ia tidak bisa menebak bagaimana isi fikiran Nona mudanya ini. Namun ia ingin melihat terlebih dahulu kemampuan Ivanna sembari menunggu kabar dari Irfan.
"Saya yakin, ini hanya jebakan! Kita tidak bisa gegabah!" ucap Ivanna tegas.
Ivanna menyalakan televisi untuk melihat berita yang tengah mengadakan live streaming di lokasi yang bedada tak jauh dari proyek itu.
"Di sini bisa kita saksikan, bangunan yang di gadang-gadangkan akan menjadi Apartemen termewah di kota ini, tinggal menghitung waktu untuk rata dengan tanah. Pertama kalinya, perusahaan Dirgantara mengalami kegagalan, dan peristiwa ini terjadi di masa kepemimpinan Nona muda Ivanna!" ucap reporter televisi.
Pandu sudah semakin geram melihat hampir semua saluran memberitakan tentang hal ini.
"Nona, kita harus meredamnya!" ucap Pandu memohon.
"Tidak! naikkan berita menjadi tranding 1, Pak. Saya ingin melihat siapa yang tengah bermain dengan kita!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
"Nona!" cegat Pandu.
"Kerjakan, Pak! Kita akan melihat hasilnya dalam beberapa hari!" ucap Ivanna.
"Apa Nona yakin? ini sangat berbahaya dan beresiko!" Ucap Pandu menasihati.
"Pak, Saya bukan, Ayah! Saya yakin, ini akan berhasil untuk mengungkap siapa dalangnya dan kita bisa terbebas dari masalah ini! Tolong percaya kepada saya!" ucap Ivanna meyakinkan Pandu.
"Baiklah, Nona!" ucap Pandu pasrah, dan memberikan perintah untuk menaikkan berita menjadi tranding 1.
"Permisi, Nona!" ucap Fitry panik sambil masuk ke dalam ruangan Ivanna.
"Ada apa, mbak?" tanya Ivanna mengernyit.
"Para pemegang saham meminta untuk mengadakan rapat saat ini juga, Nona!" ucap Fitry.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Ivanna.
"Saya kurang tau, Nona!" ucap Fitry menunduk.
__ADS_1
"Katakan, kita akan mengadakan rapat dua hari lagi, jika tidak ada yang setuju, bilang saya akan membeli saham mereka!" ucap Ivanna.
"baik, Nona!" ucap Fitry kembali keluar.
"Felicia! Kamu perhatikan bagaimana saya bekerja! Kamu harus sangat mahir dalam hal ini!" ucap Ivanna tegas.
"Baik, Nona!" ucap Felicia dengan jantung yang berdetak kencang dan badan yang mulai gemetaran.
Tak lama Pak Sakti datang sambil membawa laptop dan beberapa bungkus cemilan dari rumah.
"Nona, ini laptopnya. Di rumah dan di bawah ada begitu banyak wartawan, Nona! Saya harap anda bisa berhati-hati!" ucap Pak Sakti serius.
"Bagaimana keadaan, Ayah, Pak?" tanya Ivanna.
"Tuan Irfan baik-baik saja, Nona. hanya tuan Fajri yang sedang panik dan mengamuk. Namun Tuan Irfan mencegahnya. Ia ingin melihat bagaimana anda menyelesaikan masalah ini!" ucap pak Sakti menjelaskan.
"Baiklah! bapak standby di luar, mana tau saya membutuhkan sesuatu nanti!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona! permisi!" ucap Pak Sakti pamit.
Ivanna langsung membuka laptop dan mengotak atik komputer lipat itu dengan lihai. Ia melihat apa yang terjadi semalam melalui cctv yang ada di sekitaran tempat kejadian.
"Tolong buatkan saya susu hangat, Fel!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!"
Ketemu! Dapat kalian, badjingan!. Batin Ivanna geram.
Ia berhasil menemukan sebuah mobil yang berhenti di kawasan proyek. Ia memutar cctv itu dan memperhatikannya dengan seksama. Terlihat di sana ada sekita 10 orang yang masuk ke dalam proyek itu dengan santai.
"Sial!" umpat Ivanna ketika cctv itu tidak bisa melihat lebih jauh lagi, apa yang tengah mereka perbuat.
Ivanna kembali melihat sisi lain dari bangunan. Ia tersenyum smirk ketika bisa menemukan apa yang tengah di perbuat oleh orarg-orang itu.
"Jackpot! Aku mengenali dia! Habis kau setelah ini!, haha," ucap Ivanna terkekeh.
"Ini susunya, Nona!" ucap Felicia sedikit takut melihat ekspresi Ivanna.
"Iya, terima kasih! Kamu lihat kesini, Fel!" ucap Ivanna.
Felicia menurut, ia berdiri di belakang Ivanna sudah terkejut ketika melihat beberapa orang tengah menghancurkan tiang-tiang penyangga menggunakan alat yang bisa menghancurkan bangunan dengan cepat.
"Nona, apa itu tidak menimbulkan bunyi?" tanya Felicia.
"Tentu saja! Aku merasa, semua orang sudah disogok oleh pelaku!" ucap Ivanna tersenyum smirk.
"Pasti mereka suruhan seseorang, Nona. Apa anda sudah menemukannya?" tanya Felicia.
"Sudah! ini sangat mudah bagiku dan kamu juga harus mempelajarinya!" ucap Ivanna.
"Tentu, Nona! Saya akan memperlajarinya dengan segera!" ucap Felicia mengangguk pasti.
"Kamu lihat ini!" ucap Ivanna menunjuk seseorang yang ia kenali.
"Bukankah dia?" ucap Felicia terkejut.
"Iya. Panggil Pak Pandu, kita akan membuat laporan tanpa kerugian!" ucap Ivanna tertawa jahat.
__ADS_1
"Baik, Nona!" ucap Felicia segera menghubungi Pandu.
Ivanna meraih ponselnya, ia segera menelfon sang Abang untuk memberitahukan berita ini.
"Bagaimana, sayang?" tanya Fajri terkekeh.
"Hehehe, ternyata seru juga bang!" ucap Ivanna tertawa.
"Aih, seru? Iya sih masalah seperti ini memang benar-benar seru!" ucap Fajri ikut terkekeh.
"Aku tidak menyangka jika dia sebodoh ini, bang! Bukankah progresnya selalu terlihat setiap tahun?" tanya Ivanna.
"Iya, begitulah jika seseorang bersikap tamak, berniat untuk menjatuhkan lawan, malah dia yang akan jatuh sendiri!" ucap Fajri terkekeh.
"Hehe, iya bang. Hmm harga saham kita mulai menurun, bang. Apa itu tidak menjadi masalah?" Tanya Ivanna sedikit takut.
"Tidak, sayang. Harga saham anjlok jangan di permasalahkan! biar Abang yang mengurusnya. Kamu fokus untuk menangani masalah ini terlebih dahulu. Nanti akan Abang ajarkan cara mempertahankan saham!" ucap Fajri.
"Baikan, bang! Ah terima kasih, untung Dede selalu melihat Abang ketika bermain komputer dari kecil!" ucap Ivanna tersenyum lega.
"Hahaha, iya. Pergunakan untuk hal yang baik sayang, jangan sampai dede mencelakai orang dengan kepandaian ini!" ucap Fajri.
"Siap, pak bos!" ucap Ivanna tersenyum dan mematikan panggilannya.
Pandu, Felicia dan Fitry sudah berada di dalam ruangan itu dengan raut wajah cemas. Ivanna mengernyit, apa lagi yang terjadi.
"Nona, para pemegang saham sudah berkumpul di ruang rapat! mereka tidak mengindahkan ucapan Nona dengan alasan kerugian yang di tanggung sangat besar dan akan berdampak pada penurunan saham jika tidak di atasi dengan cepat!" jelas Fitry khawatir.
"Berapa saham yang mereka miliki? apa cukup untuk membuat keputusan?" tanya Ivanna.
"Saya rasa tidak, Nona!" ucap Fitry.
Ivanna terdiam, ia harus mengumpulkan bukti-bukti kejahatan itu saat ini juga. "Biarkan saja mereka berdiskusi! Mbak, tolong catat hasilnya. Jika ada yang ingin menjual sahamnya, langsung beli!" ucap Ivanna.
"Tapi, Nona!" sergah Pandu.
"Pak, saya bukan Ayah! Tolong hargai keputusan saya! Sekarang, bantu saya untuk mengumpulkan semua bukti-bukti untuk membuat laporan!" ucap Ivanna dan membuat Pandu terkejut.
"Apa Nona sudah menemukan pelakunya?" tanya Pandu tidak percaya.
"Sudah! Apa bapak tetap akan memaksa saya untuk bertemu dengan mereka?" tanya Ivanna.
"Saya menunggu perintah selanjutnya!" ucap Pandu tersenyum lega.
"Nona, Pemilik gedung ingin bertemu dengan anda! mereka sudah berada di ruang tunggu!" ucap Felicia yang baru saja menerima panggilan telefon.
"Pemilik gedung? Wah, ternyata dia mengantarkan nyawanya langsung!" ucap Ivanna tergelak.
"Bersikap panik seolah kita belum menemukan apapun!" ucap Ivanna.
Ia menyerahkan lapotopnya kepada Pandu untuk mengambil beberapa bukti yang bisa diambil sebelum ada yang menyadari keberadaan cctv itu.
"Suruh mereka naik!" Ucap Ivanna tersenyum smirk.
"Baik, Nona!" ucap Felicia keluar dari ruangan itu untuk menjemput sang pemilik gedung.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE