IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Sadar!


__ADS_3

Semua orang hanya terdiam melihat sepasang suami istri yang tengah berbaring di atas brankar. Ini sudah dua hari sejak kejadian kemarin. Semua anggota keluarga yang ada di Indonesia sudah bertanya-tanya bagaimana kondisi mereka. Bahkan Fajira juga bersikeras untuk menyusul mereka.


"Uncle Joe, siapkan pesawat, kita akan kembali hari ini juga!" Ucap Fajri.


"Apa itu tidak terlalu berbahaya, Ji?" Tanya Ray.


"Tidak ada cara lain, Om. Kita harus pulang dengan segera, Aji takut kalau ada hal lain lagi yang terjadi, sementara kita ada di sini!" Ucap Fajri.


Semua orang kembali terdiam dan berfikir agar bisa menemukan jalan keluar.


"Bang Fajri memang benar, kita harus pulang secepatnya! Mengingat, Chelsea adalah anak Mafia, pasti mereka tidak akan tinggal diam!" Ucap Bryan.


"Baiklah, saya akan urus secepatnya, Tuan!" Ucap Joe bergegas.


Fajri tak hentinya memanggil nama Ivanna dan Carenza agar mereka segera bangun. Sungguh ia rela di omelin setiap hari oleh Ivanna atau bertengkar dengan Carenza, dari pada harus melihat mereka tergeletak lemah seperti ini.


"Bangunlah sayang, Apa kamu tidak ingin melihat baby boy? Kasihan dia. Bangun, yuk!" Ucap Fajri mengelus kepala Ivanna dan berbisik di telinga sang adik.


Sementara Bryan mencuri-curi pandang kearah Atim yang masih setia memasang wajah datarnya. Semenjak di tugaskan bersama, ia melihat sesuatu yang beda dari wanita itu.


Greb!


Deg!


Atim menoleh, pandangan mereka bertemu dan terkunci. Namun beberapa detik kemudian ia mengacungkan jari tengahnya kearah Bryan dan membuat pria tampan itu terkekeh.


Bisa-bisanya dia menatapku seperti itu. Batin Atim dengan wajah yang merona.


"Apa anda ingin saya tonjok, Tuan?" Tanya Atim ketus.


"Eh, jangan galak-galak dong! Nanti cantiknya luntur," Ucap Bryan.


"Ck, kalian bisa diam? Kalau mau pacaran silahkan keluar!" Ucap Fajri dingin dan ketus.


"Maaf, Tuan!" Ucap Atim.


Begitu juga dengan Bryan, mereka terdiam hingga Joe datang untuk memberi informasi jika Ivanna dan Carenza sudah bisa pulang ke Indonesia.


Mereka segera bergegas untuk mengambil barang dan hal yang lainnya. berangkat menuju bandara agar bisa kembali ke Indonesia.


"Kalian berangkatlah, Saya harus menyelesaikan masalah yang ada di sini!" Ucap Fajri.


"Hati-hati kamu di sini, Ji!" Ucap Ray.


"Iya, Om! Tolong jemput anak dan istriku juga!" Ucap Fajri.


"Iya, Cepat selesaikan semuanya, dan kembali pulang!" Ucap Ray.

__ADS_1


Fajri tersenyum mengantar kepergian mereka. Beberapa tim mendis juga sudah di tugaskan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.


Tak lama, pesawat lepas landas, meninggalkan Fajri bersama dengan Joe dan beberapa pengawal lainnya.


"Segera eksekusi semuanya, Joe!" Ucap Fajri tegas dengan wajah datar dan dinginnya.


"Baik, tuan!" Ucap Joe yang tak kalah dingin.


Mereka segera pergi menuju kantor polisi untuk mengurus semua hal ini hingga tuntas. Ia ingin Chelsea dan Jordan mendapatkan hukuman mati karena sudah berani bermain dengannya.


🌺🌺


Sementara di Indonesia, Fajira dan yang lain sudah menunggu kedatangan pesawat pribadi Dirgantara di dalam ruang tunggu. Ambulans dan tenaga medis lainnya sudah berada di dalam ruangan itu untuk memberiksa keadan Ivanna dan Carenza nanti.


"Apa mereka masih belum sadarkan diri, sayang?" Tanya Irfan lirih.


Ia kembali duduk diatas kursi roda karena serangan jantung mendadak beberapa waktu lalu membuatnya semakin lemah.


"Masih, Mas! Semoga setelah ini mereka bisa bangun dan kembali bersama kita!" Ucap Fajira dengan sendu.


"Semoga mereka baik-baik saja!" Ucap Irfan lirih.


Para wartawan yang mendengarkan berita ini juga sudah berkumpul di depan pintu ruang tunggu itu.


Tak lama, pesawat Dirgantara mendarat dengan selamat di Bandara, semua wartawan segera mengambil gambar dengan masih mengikuti protokol yang sudah di tetapkan.


Begitu juga dengan Fajira dan yang lain. Mereka mengikuti kemana Ivanna akan di bawa.


"Dimana Fajri?" Tanya Fajira.


"Tuan Fajri masih tinggal di sana untuk membereskan masalah ini, Nyonya!" Jawab Atim.


"Jangan beritahukan kondisi saya yang tertembak kepada siapapun! Karena itu akan membuat saya kesulitan dan menambah kekhawatiran mereka!" Ucap Fajri berpesan sebelum keberangkatan.


Setibanya di rumah sakit, Ivanna dan Carenza diperiksa dan juga mencocokan hasil pemeriksaan dari tim medis dari Rusia.


"Bagaimana dokter?" Tanya Fajira khawatir.


"Kita hanya menunggu waktu untuk Tuan dan Nona sadar, Nyonya! Tidak ada masalah serius yang terjadi!" Ucap Dokter.


"Ah, syukurlah. Apa mereka bisa kami rawat di rumah?" Tanya Fajira.


"Bisa, Nyonya. Namun harus ada dokter yang berjaga, jika nanti terjadi sesuatu!" Ucap Dokter.


"Baiklah! Tolong atur semuanya!" Ucap Fajira tegas sambil menyembunyikan kekhawatirannya.


"Baik, Nyonya. Kami akan mempersiapkan segala sesuatunya!" Ucap Dokter.

__ADS_1


"Terima kasih!" Ucap Fajira.


Dokter itu segera pamit untuk mengurus semuanya. Sementara Fajira, Irfan dan Hartono menatap anak masing-masing dengan perasaan yang begitu sedih.


"Sayang, bangunlah! Bunda di sini, Nak! Bangun, yuk! Baby boy sedang di jemput, apa kamu tidak mau bertemu dengannya?" Tanya Fajira dengan air mata yang menetes.


Ivanna hanya terdiam dengan wajah pucat pasi dan terlihat seperti mayat. Tidak ada pergerakan selain dadanya yang naik turun karena masih bernafas.


"Dek? Princes ayah, bangun yuk sayang! Ayah di sini!" Ucap Irfan menggenggam tangan Ivanna.


Hanya isak tangis Fajira yang menemani ruangan itu. Sementara Hartono tidak lagi bisa berkata-kata melihat anak laki-lakinya terbaring lemah di atas brankar.


"Bang, bangun nak! kasihan anak dan ibumu!" Ucap Hartono tercekat.


Ia mengelus kepala Carenza dengan lembut, ia melihat ada bekas memar yang ada di kening dan beberapa luka lainnya.


Begitu besar cintamu kepada Ivanna. Nak, bangunlah! Jangan tidur terus, ayah mohon!. Batin Hartono dengan air mata yang menetes dan tidak bisa lagi di tahan.


Setetes air mata itu jatuh mengenai wajah Carenza. Hartono langsung menghapusnya dengan tangan, namun terkejut ketika melihat mata sang putra mulai terbuka.


"Za, Kamu sudah bangun, nak?" Ucap Hartono kembali menangis. "Syukurlah! Dokter? dokter?" Pekiknya.


Fajira dan Irfan ikut merasa lega karena Carenza sudah sadar dari komanya.


"Syukurlah!" Ucap Irfan. "Dek, kamu gak mau bangun juga? Eza sudah bangun, sayang! Apa kamu gak mau bangun?" Ucapnya menangis sambil mencium tangan Ivanna.


Dokter memeriksa keadaan Carenza dengan teliti. Ia tersenyum ketika tidak melihat sesuatu yang janggal dari pria tampan itu.


"Syukurlah, kondisi Tuan Carenza sudah stabil. Hanya saja, belum boleh banyak bergerak, mengingat tuan Carenza sudah dua kali melakukan operasi dalam waktu yang singkat. Jadi mohon di jaga dengan sangat!" Ucap Dokter itu tersenyum.


"Syukurlah, terima kasih, dokter!" Ucap Hartono.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" Ucap Dokter.


Hartono dan Fajira menatap Carenza dengan bahagia. Namun yang di tatap hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dimana Ivanna, Bunda?" Tanya Carenza lirih.


"Ada, nak. Ivanna ada di sampingmu, dia belum sadar!" Ucap Fajira berkaca-kaca. Ia mengusap wajah Carenza dengan begitu lembut.


"Hiks, Eza gagal melindungi Ivanna, Bunda!" Ucap Carenza menangis.


"Sudah, gak papa Nak. Yang penting kalian selamat!" Ucap Fajira menghapus air mata Carenza dengan lembut.


Carenza masih terisak dan kembali tertidur karena merasakan usapan dari tangan Fajira. Mereka bisa sedikit bernafas lega dan tinggal menunggu keadaan Ivanna yang masih setia dalam tidur panjangnya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2