
Isu lamaran Ivanna sudah menyebar melalui media sosial. Berawal dari postingan Fajri yang mendapatkan respon begitu heboh dari para penggemarnya.
"Waktu terasa begitu cepat berlalu, ya sayang! Sebentar lagi dede akan memiliki seorang laki-laki yang akan membimbingmu bersama menjalani biduk rumah tangga. Datanglah kepada Abang dan menangislah, jika dia menyakitimu! Abang pastikan, semua rasa sakitmu akan terbayar lunas! I Love You My little Lion π₯°!" Tulis Fajri didalam akun media sosialnya.
Semua akun gosip segera mencaritau siapa laki-laki yang beruntung itu. Bahkan vidio beberapa detik di cafe tempo haripun menyebar. Hampir semua orang ikut mencari tau karena begitu penasaran, mengingat sifat Ivanna yang tegas dan dingin.
Bahkan mereka juga menandai beberapa orang yang di anggap mirip dengan Carenza.
@Fuuuu_ "Betul weh, cowoknya tampan banget gila! Kek artis Korea. Gua sempat melihatnya kemarin di kedai es krim!".
@_amiuuy_ "Beneran, mana sweat banget lagi! Hua, pantas Saja Nona muda mau sama cowok itu! Tanpa keburikan njir".
@Almi_ra "Betapa beruntungnya aku pernah menyapa mereka berdua!".
Begitulah cuitan-cuitan di postingan Fajri dan masih banyak lagi.
BRAK!
Ivanna menghempaskan ponselnya di atas meja karena kesal. Awalnya ia terharu dengan kata-kata Fajri, namun menjadi kesal ketika semua orang semakin membicarakannya.
"Ihh, punya abang satu tingkahnya banyak! Astaga, padahal aku sudah begitu terharu dengan caption nya, tetapi, aarrgghh! FAJRI!" Teriak Ivanna frustasi di dalam ruang kerjanya.
"Pak, tolong keruangan saya sebentar!" Ucap Ivanna.
"Baik, nona!" Ucap Pandu di balik telefon.
Ia masih membaca beberapa komentar dan berita tentang dirinya di sana.
"Permisi, nona!" Uca Pandu masuk ke dalam ruangan Ivanna.
"Pak, saya minta tolong, jangan sampai mereka menemukan identitas Kak Eza! Halangi sistem mereka! Jika ada pemberitaan yang macam-macam, segera take down!" Ucap Ivanna menghela nafasnya.
"Baik, Nona! Apa ada yang lain?" Tanya Pandu.
"Tidak! Silahkan!" Ucap Ivanna.
"Baik, Nona. Permisi!" Ucap Pandu undur diri.
Ddrrtt, ddrrtt, ddrrtt.
Ponsel Ivanna berdering, terlihat Safira tengah menelfonnya melalui panggilan vidio. Ia segera mengangkatnya dan melihat wajah cantik Nayla tengah menangis di sana.
"Kenapa, sayang?" Tanya Ivanna mengernyitkan.
"Hiks, Naren jahat, Na! Kulit Lala jadi merah-merah!" Ucap Nayla mengadu.
"Terus Naren dimana, sayang?" Tanya Ivanna.
"Hiks, sama Oma! Apa Nana baik-baik saja? Lala lihat Nana di dalam televisi!" Ucap Nayla sesegukan.
"Iya, Nana baik-baik saja, sayang! sudah pake salep, nak?" Tanya Ivanna.
"Sudah, Na! Tapi masih gatal-gatal!" Ucap Nayla menahan tangisnya.
"Uluh-uluh, sayangnya Nana ini! Nanti kita beli es krim ya!"
__ADS_1
"Hiks, iya, Na!" Ucap Lala
"Daddy mana, Sayang? " Tanya Ivanna.
"Ada itu lagi ketawa menonton televisi!" Ucap Nayla melihat ke arah Fajri.
"Hiks, Lala tau, kalau Nana masuk televisi karena Daddy?" Uca Ivanna pura-pura sedih.
Nayla menatap Fajri dengan tatapan tidak bersahabat. Ia memekik memanggil Naren agar bisa mendapatkan teman untuk memarahi Daddynya.
Naren segera datang meminta maaf kepada Nayla dan memeluk gadis kecil itu lalu mengusap kulit Nayla yang terlihat memerah.
Ivanna melihat pemandangan haru, yang mengingatkannya pada masan kecil dulu. Fajri yang usil mengerjainya hingga menangis, lalu membujuk kembali dengan cara yang begitu manis.
Matanya berkaca-kaca, ia untuk merasakan hal yang sama seperti caption yang di tulis oleh Fajri.
Hingga ia terdengar suara bijak Nayla dan Naren yang tengah melakukan pembelaan terhadapnya kepada Fajri.
"Daddy gak boleh jahat sama, Nana! Daddy tau, tadi Nana nangis cerita sama, Lala!" ucap Nayla sambil menggaruk tangannya yang gatal.
"Daddy salah apa, sayang? Kok Lala jadi marah sih?" Ucap Fajri sedih.
"yang pertama! Daddy sudah membuat Nana menangis. Yang ke dua, daddy sudah jahat sama Nana. Dan yang ke tiga, Oma bilang, 'kalau saudara perempuan itu harus di lindungi! gak boleh dibikin nangis terus!' Jadi, Daddy harus minta maaf sama, Nana!" Ucap Naren sambil mengangkat jarinya berbentuk angka tiga.
Namun ia terkejut ketika melihat Nayla sudah naik ke atas sofa. Ia memeluk kepala Fajri dan mengusapnya lembut.
"La, kan kita lagi membela, Nana! Kenapa Lala seperti itu?" Ucap Naren mengernyit.
"Ihh, Naren gak lihat kalau Daddy lagi sedih?" Ucap Nayla garang.
"Ihh," Dengus Naren sambil melipat tangannya di dada.
"Hehe, sabar, Kak! Belajar dari Bunda aja, gimana caranya mengadapi mereka!" Uca Ivanna terkekeh.
"Aduh, pusing dek! Pusing!" Ucap Safira memijit keningnya ketika mendengarkan Nayla dan Naren yang malah berdebat.
"Kamu gak kerja, sayang?" Tanya Safira kembali.
"Udah selesai, kak! Bentar lagi mau jam istirahat! Gimana kabar baby kecilku?" Tanya Ivanna berbinar.
"Ah, dia anteng nih dari tadi! Mungkin karena abang ada di rumah!" Ucap Safira tersenyum.
"Gak hamil yang pertama, gak yang ke dua. Anak-anak gak bisa jauh dari ayahnya!" Ucap Ivanna terkekeh.
Mereka mengobrol sebentar, hingga jam makan siang datang. Tepat ketika Ivanna mematikan panggilannya, seseorang masuk ke dalam ruangan itu dan membuat Ivanna cukup terkejut.
"Na?" Sapa Bryan sambil tersenyum.
"Bryan? Apa kabar?" Tanya Ivanna memintanya untuk duduk di sofa.
"Aku baik, bagaimana keadaanmu?" Tanya Bryan.
"Aku baik! Lama kita tidak bertemu!" Ucap Ivanna canggung.
"Hmm, ya! Perusahanku sedikit bermasalah dan harus aku selesaikan terlebih dahulu!" Jelas Bryan.
__ADS_1
"Apa sekarang sudah stabil lagi?" Tanya Ivanna.
"Sudah! Hmm, Aku dengar kamu akan menikah, apa itu benar?" Tanya Bryan ragu.
"Iya, Itu benar! Maaf Bryan, aku-" ucap Ivanna lirih.
"Apa aku kalah, Na?" Tanya Bryan lirih.
"Bryan!" Seru Ivanna.
"Apa laki-laki itu yang akan menikahimu?" Tanya Bryan.
"Iya!" Uca Ivanna lirih.
"Harusnya kamu tidak memberikan aku harapan, Na! Jika semua ini hanya akan membuat aku semakin terluka!" Ucap Bryan lirih.
"Maafkan aku!" Ucap Ivanna tercekat.
"Aku sadar, dari awal aku sudah kalah! Tapi egoku menuntut untuk memilikimu! Maaf, karna aku sering berbuat kasar kepadamu!" ucap Bryan tercekat.
Ivanna terdiam, ia merasa bersalah kepada Bryan karena memberikannya harapan, di saat hatinya sudah tertambat kepada orang lain.
"Aku akan menetap di sini, Na! Jangan sungkan untuk meminta bantuanku!" Ucap Bryan memaksa kan senyumnya.
"Aku sudah mempersiapkan diri, Na! Kamu benar, aku hanya terobsesi untuk mendapatkan mu! Tapi cintaku tulus, Na!" sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bryan!" Panggil Ivanna tercekat.
"I'm okey!, Semoga kamu bahagia bersama dia! Namun jika dia menyakitimu, aku akan datang kembali dan merebutmu dari dia!" Ucap Bryan berdiri dari duduknya.
Ia berjalan menuju pintu, sementara Ivanna masih termagu di sana. Bryan menoleh, berharap Ivanna bisa melihat ke arahnya sebentar saja.
"Bryan!" panggil Ivanna bangkit dan berjalan ke arah Bryan. "Semoga kamu bisa menemukan perempuan yang memang mencintaimu dengan tulus!" Ucap Ivanna tersenyum.
Bryan menunduk. "Jangan tersenyum, Na! Atau kamu akan membuat hatiku kembali runtuh!" Ucap Bryan lirih.
"Baiklah!" Ucap Ivanna lirih.
Ia mengulurkan tangannya dan menatap wajah Bryan. Pria blasteran itu juga menatap wajah Ivanna dengan lekat dan membalas jabatan tangan gadis cantik itu.
"Aku pergi!" ucap Bryan tersenyum.
"Hati-hati! Sahabat!" Ucap Ivanna.
"Iya, kamu juga, sahabat!" Ucap Bryan melepaskan tangan Ivanna.
Ia pergi dari ruangan itu dengan hati yang begitu hancur, walaupun ia sudah menyiapkan hati untuk hari ini, namun rasanya tetap begitu sakit.
Ivanna pun merasakan hal yang sama, ia merasa bersalah bahkan sangat bersalah karena sudah melukai hati pria tampan yang sudah menyukainya semenjak mereka kecil.
Ia berjalan menuju dinding kaca dan menata hamparan langit yang terlihat mendung mengantar kepergian Bryan yang menyatakan jika ia menyerah.
Semoga kamu bahagia, Bry!. Batin Ivanna dengan mata yaang berkaca-kaca.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE
Kembang nya dong gais, kopi juga boleh π€π€