IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Couple


__ADS_3

"Hahaha! Kamu ini ada-ada aja, By! Gimana kalau mereka gak jadi? Atau Felicia ngambek sama aku!" ucap Ivanna tertawa lepas.


"Hahaha, biarkan saja, sayang! Aku yakin, Malik bukan pria badjingan! Dia itu gak akan mau untuk menyakiti perempuan, selalu saja dia yang tersakiti. Jadi, biarkan mereka mengenal satu sama lain, Sayang!" Ucap Carenza terkekeh.


"Astaga, Astaga! Perutku sakit, By! Hahaha," Ucap Ivanna di sela tawanya.


Carenza terpana, jarang-jarang ia bisa melihat ivanna bisa tertawa lepas seperti ini.


"Cantik!" Ucap Carenza tersenyum.


Ivanna tersentak menyadari jika tertawanya begitu lepas. Dengan wajah yang merona, Ivanna tersenyum manis menatap Carenza.


"Sayang, jangan tersenyum seperti itu! Aku bisa diabetes nanti!" Pekik Carenza frustasi.


"Haha, jangan sampai ihh! bercandanya menantang maut!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Haha, Ah iya sayang. Apa kamu lelah?" Tanya Carenza sambil mengusap kepala Ivanna.


"Gak, by! Ak gak lelah, kok! Kenapa?" Tanya Ivanna tersenyum.


"Ibu, meminta aku mengajak kamu pergi mencari barang untuk hantaran besok!" Ucap Carenza.


"Boleh! Memangnya kita mau beli apa, by?" Tanya Ivanna?


"Hmm, ibu sudah memberikan daftarnya sayang. Kalau kurang nanti bisa kita beli yang lain juga!" Ucap Carenza.


"Boleh, kapan kita perginya?" Tanya Ivanna.


"Gimana kalau sekarang?" Tanya Carenza.


"Hmm, boleh sih! Tapi, apa itu tidak terlalu beresiko, By? Soalnya tadi kita pasti terekam sedang lari-lari dan pasti sudah ada vidionya di sosmed!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Ah, iya ya! Terus gimana? besok kamu udah masuk kerja, sayang! Waktunya gak cukup!" Ucap Carenza cemberut.


"Hmm, gimana kalau kita ganti baju dulu, pake atribut yang lengkap biar aman!" ucap Ivanna.


"Apartemen dan rumah kan cukup jauh, sayang!" Ucap Carenza.


Ivanna menoleh kebelakang, ia mengernyit ketika melihat hoodie berwarna peach. Ia mengambilnya dan kembali mengernyit ketika melihat ada dua hoodie di dalam mobil Carenza.


"Ini punya siapa, By?" Tanya Ivanna menatap Carenza penuh tanda tanya.


"I-itu. Sebenarnya, aku mau ngasih kamu satu, sayang! Hanya saja aku takut, kamu gak mau menerimanya!" Ucap Carenza lirih.


"Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu, By?" Tanya Ivanna lembut sambil mengusap pipi Carenza.


"Aku hanya tidak percaya diri untuk memberikan itu kepadamu!" Ucap Carenza.


"Apa ini karena harga atau bukan barang bermerek?" Tanya Ivanna.


Carenza diam, ia belum terlalu mengetahui barang apa saja yang di pakai oleh Ivanna. Tetapi ia selalu melihat, mulai dari atas hingga bawah adalah barang bermerek.


"Astaga, Baby! Kamu tau berapa harga case ponselku?" Tanya Ivanna.


"Pasti mahal, Sayang!" Ucap Carenza lirih.


"Iya, mahal banget, sampai dua puluh lima ribu!" Ucap Ivanna.


Carenza tercengang, ia merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Ivanna.


"Kamu tau baju yang aku pake berapa?" Tanya Ivanna.


"Lima belas juta!" Ucap Carenza.

__ADS_1


"Astaga, sayang! Ini cma dua ratus lima puluh ribu!" Ucap Ivanna membuat mulut Carenza melongo.


"Jangan bercanda, Sayang! topi kamu itu bermerek CUGGI lo! Tas kamu kremes, Celana kamu VL!" Pekik Carenza tidak percaya.


"Hehehe, gak semua barang bermerek itu aku pakai sayang!" Ucap Ivanna terkekeh. "Jangan malu atau minder ketika memberikan aku sesuatu. Aku gak akan meminta apapun dari kamu, tetapi jika kamu memberikannya walaupun hal kecil aku akan terima. Bahkan aku merasa itu adalah barang yang begitu berharga!" Jelasnya.


"Baiklah, sayang!" Ucap Carenza tersenyum. "Hmm, sekarang tutup dulu mata kamu!" sambungnya setelah mengambil hoodie itu.


Ivanna mengernyit, namun dengan patuh ia tetapi menutup matanya.


"Hmm, sayang?" Panggil Carenza.


"Yes, Baby!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Aku punya sesuatu untuk kamu!" Ucap Carenza.


"Benarkah? Waah apa itu?" Ucap Ivanna terkekeh.


"Coba buka matamu dengan perlahan!" Ucap Carenza mendekatkan wajah mereka.


Sesuai instruksi, Ivanna membuka matanya perlahan. Ia tersentak ketika mata indah Carenza berpapasan dengan mata tajam miliknya.


"I LOVE YOU, SAYANG!" Ucap Carenza tersenyum.


Ivanna merasakan nafas yang cukup sagar keluar dari mulut Carenza.


"I LOVE YOU TO, BABY!" ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, aku takut khilaf, sayang!" Ucap Carenza frustasi sambil menjambak rambutnya.


"Hehe, Sabar ya! Sekarang mana hadiahnya?" Tanya Ivanna berbinar.


"Ah, ini aku membuat hoodie couple untuk kita!" ucap Carenza.


"Jangan seperti itu! Kamu terlihat tengah mengejek aku!" Ucap Carenza mengusap wajah cantik Ivanna.


"Ihh! Tapi beneran bagus lo!" ucap Ivanna tidak berbohong.


Mereka segera memakai hoodie itu dan berfoto. Memang terlihat sebagai pasangan yang begitu cocok.


Carenza segera menjalankan mobil menuju salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa barang hantaran nanti.


Sembari bercerita mengenai konsep lamaran mereka, mobil terus melaju membelah jalan dan saling beriringan dengan kendaraan yang lain. Tak beberapa lama, mereka sampai di Pusat perbelanjaan.


Dengan Atribut lengkap, mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung besar dengan empat lantai itu sambil bergandengan mesra.


"Mau beli Apa dulu, by?" Tanya Ivanna.


"Cincin dulu, sayang! Itu yang paling penting!" Ucap Carenza.


"Hmm, apa mau aku pesankan saja model terbarunya?" Tanya Ivanna.


"Kita pilih sendiri saja ya!" Ucap Carenza.


"Okey!"


Sambil bergandengan tangan, mereka memenuhi list barang-barang itu satu persatu. Mulai dari baju, celana, gaun, sepatu, sendal, tas, alat make up, dan masih banyak lagi. Tanpa disadari, orang yang ada di cafe tadi tetap mengikuti mereka hingga saat ini.


Tanpa ada yang tau, karena Ivanna lepas dari pengawalan dan pengawasan para bodyguard sesuai dengan perintahnya.


Tanpa ia sadari, kecerobohannya, akan menjadi boomerang untuk Carenza, karena di pastikan jika berita ini akan naik dan begitu booming.


Namun Ivanna, tetap Ivanna. Ia tetap peka dengan keadaan sekitar, apalagi berada di keramaian. Ia merogoh ponselnya untuk memberitahukan kepada para bodyguard, jika ia tengah di ikuti.

__ADS_1


🌺🌺


Sementara di restoran, ruang VIP. Felicia masih terdiam tanpa berani menoleh ke arah Malik. Namun pria tampan itu masih menatapnya penuh ke kaguman.


"Hmm, Maaf, Apa kamu tidak nyaman?" Tanya Malik yang memahami situasi.


"Maaf, Tuan. Saya hanya syok, karena ini terjadi begitu saja!" Ucap Felicia lirih.


"Ah, maafkan saya! Sungguh, saya juga tidak tau kalau Eza dan nona muda merencanakan hal ini! Tetapi, saya memang tertarik kepadamu!" Ucap Malik serius.


"Maaf, Tuan!" ucap Felicia.


"Bisakah kamu berhenti untuk memanggilku dengan sebutan itu? Saya tidak nyaman!" Ucap Malik menyanggah


"Baik lah, kak!" Ucap Felicia lirih.


"Nah, bagus! Tunggu sebentar, ya!" Ucap Malik keluar dari ruangan itu dan memesan beberapa makanan.


Ya Tuhan, Nona! apa yang anda lakukan? Saya memang ngenes, tapi kenapa harus di comblangkan dengan pemilik restoran mewah ini? Ya Tuhan, saya mulai mengikuti Nona. Jangan sampai Sifat suamiku harus mirip dengan tuan Carenza!. Batin Felicia menjerit.


Tak lama Malik kembali masuk dengan membawa beberapa makanan dan menatanya di atas meja.


Glek!


Alamat aku gak pulang ini!. Batin Felicia semakin menjerit.


"Silahkan di makan, Fel. Nona Ivanna bilang, kamu lagi kelelahan karena pekerjaan yang begitu banyak! Jadi, ini spesial untukmu!" Ucap Malik tersenyum.


"Jangan repot-repot, Kak!" Ucap Felicia merasa tidak enak.


Bukan! lebih tepatnya, ia tidak memunyai cukup uang untuk membayar semua makanan ini.


"Tenanglah, aku yang membayarnya!" Ucap Malik tersenyum.


Mereka mulai menyantap hidangan itu satu persatu. Malik begitu terpesona melihat kecantikan yang di pancarkan oleh Felicia.


"Hmm, berapa umurmu sekarang, Fel?" Tanya Malik.


"Aku sudah 23, kak!" Ucap Felicia.


Pas banget!. Batin Malik.


"Orang tua ada di sini?" Tanya Malik kembali.


"Ada, kak!" Jawab Felicia singkat.


Wah, kesempatan bagus!.


Malik tersenyum bahagia dengan wajah yang merona. Cih, curut itu sangat pandai mencari pasangan!. Batinnya.


Astaga, aku lapar ini! Masa harus makan ala-ala Nona juga? Aduh, mana dia natap aku seperti itu lagi! Nona, kasihanilah aku!. Batin Felicia menjerit.


"Apa kita boleh bertukar nomor?" Tanya Malik sambil menyodorkan ponselnya.


"Bo-boleh, kak. Tetapi di jam kerja, aku jarang menggunakannya!" Ucap Felicia gugup dan mengambil ponsel itu.


Ia memasukkan nomor pribadinya di sana. Malik tersenyum, tidak susah baginya untuk menaklukan perempuan, tetapi ia lebih susah untuk move on dari mereka, karena ia memang begitu menghargai dan menyayangi perempuan.


Mereka mulaii bisa mengobrol dengan santai, tanpa canggung dan tanpa gugup, karena Malik bisa menguasai suasana sore hari itu.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2