IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Mamas Eza


__ADS_3

Sementara di restoran hotel, semua orang sudah berkumpul di salah satu ruang privat yang ada di sana untuk sarapan. Mereka menunggu Safira dan Fajira yang tengah mengantar koper ke kamar pengantin baru itu.


"Opa? Nana sama uncle mana, kok gak ikut sarapan sama kita?" Tanya Naren.


"Mereka masih istirahat, sayang. Kemarin kan Nana sama uncle menikah, berdirinya juga lama, jadi hari ini mereka masih beristirahat!" Ucap Irfan tersenyum.


"Opa, oma, nenek sama kakek juga ikut berdiri lama di atas panggung, kok gak istirahat?" Tanya Nayla mengernyit.


"Iya, tapi Nana dan uncle paling lama berdirinya sayang! Sudah sekarang opa suapi, ya!" Ucap Irfan mengambil makanan yang khusus di buat oleh koki yang panggil dari rumah untuk mereka.


Bocil kembar itu patuh dan memakan sarapannya. Sementara yang lain hanya diam karena tidak biasa menjawab pertanyaan dari kembar genius itu.


Fajri? pria tampan itu sudah uring-uringan dari semalam karena mengingat Ivanna akan merasakan sakit pada saat malam pertamanya. Begitu juga dengan Irfan, ia juga cemas jika Ivanna kesakitan dan menangis memanggil namanya nanti.


Namun ia hanya diam dan berusaha untuk mengalihkan pikirannya dengan mengobrol bersama Naren dan Nayla.


Ceklek!


Pintu terbuka, Fajira dan Safira masuk sambil tertawa karena membicarakan pengantin baru itu. Fajri segera memberondong mereka dengan berbagai pertanyaan yang membuat dua wanita cantik itu mendelik.


"Bunda, abang serius! Gimana keadaan dede? Apa dia menangis, atau kesakitan?" Tanya Fajri terlihat begitu khawatir.


"Kamu seperti gak pernah merawani anak orang saja, bang!" Delik Fajira.


"Nah itu makanya, Bunda! Istriku saja kesakitan, bagaimana dengan dede!" Ucap Fajri lemas.


Sementara yang lain hanya hanya menggeleng melihat kelakuan Fajri yang terlalu cemas.


"Ivanna gak papa, dia baik-baik saja! Mungkin mereka gak turun untuk sarapan dan makan siang!" Ucap Fajira tertawa.


"Jebol, Bun?" Tanya Ibu Alifa antusias.


"Jebol, Bu! sebentar lagi kita akan punya cucu dari mereka!" Ucap Fajira tersenyum sambil mengangkat jempolnya.


"Ah, semoga saja. Saya tidak sabar untuk menggendong cucu!" Ucap Ibu Alifa dengan wajah yang berbinar.


"Iya, Pasti rumah semakin ramai, apa lagi Safira sebentar lagi akan melahirkan. Kalau ayahnya Ivanna gak melarang, mungkin saya masih kuat satu atau dua anak lagi!" Ucap Fajira tertawa.


"Hekm!" Irfan berdeham sambil berdelik menatap Fajira.


Fajira terkekeh dan mengedipkan matanya ke arah Irfan, ia kembali mengobrol bersama dengan besannya.


"Mas, makan dulu! Bolak-balik seperti itu gak akan bikin kamu kenyang!" Ucap Safira menarik tangan Fajri untuk duduk di sampingnya.


Pria tampan itu patuh dan duduk di samping Safira. Kini ia lebih manja kepada istrinya semenjak usia kandungan Safira memasuki minggu ke 22. Sehingga Ibu hamil itu sedikit kewalahan karena keinginan Fajri melebih anak kembarnya.


Ia menyuapi Fajri hingga makanan yang ada di dalam piringnya tanpa tersisa. Sedikit mereka teralihkan dengan hidangan pagi ini.


Membahas kehidupan pernikahan yang sering kali di terpa angin badai yang tidak menentu. Safira dan Fajri menyimak bebrapa solusi dari setiap masalah rumah tangga yang rawan terjadi.

__ADS_1


"Semoga saja, kami bisa selalu bersama terus hingga maut memisahkan, dan bertemu kembali di syurga!" Ucap Fajri menatap Safira dengan penuh cinta.


"Aamiin, Intinya harus saling memahami satu sama lain dan jangan egois!" Ucap Ibu.


Hingga siang menjelang, mereka memilih untuk kembali ke rumah masing-masing dan meninggalkan pengantin baru yang masih terlelap dengan saling memeluk satu sama lain.


Di dalam kamar, Ivanna mengerjab menyesuaikan matanya dengan sinar matahari yang sudah menerangi kamar mereka.


Ia membuka mata dan menatap wajah tampan Carenza yang tengah terlelap dengan damai. Ia tersenyum bahagia sambil mengusap rahang tegas pria tampan itu dan mengecup bibirnya pelan.


"I love you, Baby!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Love you, too!" Ucap Carenza dengan suara seraknya.


"Sudah bangun, By?" Ucap Ivanna tersenyum. "Apa aku menggangu tidurmu?".


"Ah, tidak! Aku ingin dipeluk!" Ucap Carenza sedikit menurunkan tubuhnya dan masuk ke dalam pelukan Ivanna.


Wanita cantik itu tersenyum dan membentangkan tangannya memeluk Carenza dengan erat. Sambil membelai rambut suaminy, Ivanna sesekali mengecup rambut itu dengan lembut.


"Hmm, nanti sore kita langsung pergi bulan madu ya, sayang!" Ucap Carenza dengan mata yang masih terpejam.


"Iya, By! Aku sudah tidak sabar! sebentar lagi akan berlibur melepaskan penat setelah bekerja begitu lama!" Ucap Ivanna antusias.


Carenza tersenyum, Apa kamu belum tau kalau kita kesana akan pergi membuat adonan selama satu minggu? Atau kamu memang benar-benar polos, sayang?. Batin Carenza mengernyit.


"Aku hanya butuh istirahat, By!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Hmm, Akhirnya kita bisa ngapa-ngapain tanpa pengawasan ketat. Sayang, jadi dimana kita akan tinggal nanti?" Tanya Carenza.


"Hmm, Apa kamu keberatan kalau kita tinggal di rumah, bunda?" Tanya Ivanna lirih.


"Aku mau, sayang. Tetapi, aku ingin mencoba hidup mandiri berdua sama kamu!" Ucap Carenza tersenyum.


"Baiklah, kemanapun kamu pergi, aku akan ikut. Asalkan itu memang sesuatu yang baik!" Ucap Ivanna tersenyum dan mengecup kening Carenza.


"Ah, aku pikir kamu memang gadis dingin yang begitu arogan. Ternyata itu hanya cover saja!" Ucap Carenza terkekeh.


"Ih, kalau sama keluarga kenapa aku harus dingin, Mas. Lagian, hanya keluarga yang aku percaya saat ini, termasuk kamu!" Ucap Ivanna tersenyum.


Carenza mengerjab, "Ka-kamu manggil apa tadi sayang?" Tanya Carenza mengernyit.


"Hmm, kak Eza!" Tanya Ivanna tersenyum.


"Bukan, apa kamu panggil aku dengan sebutan, Mas? atau aku salah dengar?" Tanya Carenza tidak percya.


"Apa kamu mau aku panggil seperti itu?" Tanya Ivanna.


Carenza hanya mengangguk dengan penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah, Mas! Mulai hari ini, aku akan memanggil kamu dengan panggilan Mamas Eza!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, aku menyukainya!" Ucap Carenza tersenyum dengan wajah yang merona.


"Ih, wajahnya merona!" Ucap Ivanna tergelak. "Kamu terlihat begitu lucu dan mengemaskan kalau merona begini, By!" Sambungnya masih terkekeh.


"Apa kamu tidak pernah berkaca di depan cermin ketika kamu merona, sayang? Ah, selama ini aku selalu kesulitan jika sudah melihatmu merona! Sekarang aku gak perlu menahan diri lagi!" Ucap Carenza.


"Ih, ternyata semua laki-laki itu mesum, ya!" Ucap Ivanna mendelik dengan wajah yang merona.


"Aku gak kok, sayang! Buktinya aku gak pernah melirik perempuan selain kamu!" Ucap Carenza terkekeh.


"Ah, sama saja! Kamu mesum sama aku, abang dan ayah juga!" Ucap Ivanna mendelik.


"Itu hal yang wajar, sayang! Kan udah nikah, udah sah! memang kamu mau kalau aku melirik perempuan lain?" Tanya Carenza tersenyum.


Ivanna memasang mode dinginnya. Iaa menatap Carenza tajam dengan wajah yangasih merona.


"Hahaha. Sayang, aku hanya bercanda! Aku gak akan berani genit sama perempuan lain!" Ucap Carenza gelagapan.


Ia memeluk Ivanna dan menyembunyikan wajahnya di sela bukit kembar sang istri.


Aih, salah ngomong aku! Semoga saja setelah ini gak ada perempuan modelan Nafisya. Bisa mampus aku kalau masih ada, atau dia yang mampus karena amukan istri cantikku ini!. Batin Carenza meringis.


"Jangan coba memancing atau hanya ingin meminta pembuktian, By. Kalau kamu gak mau kejadian Nafisya kemarin terulang atau bahkan lebih parah!" Ucap Ivanna lirih.


"Iya, sayang. Aku hanya bercanda, mana mungkin aku melakukannya!" Ucap Carenza menjangkau bibir tak dan mengecupnya pelan.


"Hmm, jadi kita akan tinggal dimana setelah pulang bulan madu besok, Mas?" Tanya Ivanna.


"Di apartemen aku gimana, sayang? Rumah yang aku bangun untuk kita belum selesai di renovasi! Jadi, gak papa 'kan, kalau kita tinggal di sana sementara waktu?" Tanya Carenza hati-hati.


"Baiklah, Mas! Aku ikut saja!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Coba panggil Mas lagi, sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


"Mas, Mas Eza!" Panggil Ivanna dengan suara merdunya.


"Lagi, sayang!” Ucap Carenza manja.


" Mas Eza ku sayang! Mas Eza!" panggil Ivanna dengan wajah yang merona senang.


Sejenak ia melupakan rasa sakit dan perih yang ia rasakan di area sensitifnya. Mereka menikmati siang itu dengan penuh canda tawa dan saling menggoda satu sama lain.


Hingga sore menjelang, mereka segera berangkat menuju salah satu pulau pribadi keluarga Dirgantara, agar mereka bisa memadu kasih dan menanam benih tanpa ada yang mengganggu.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2