IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Bagaimana Kondisinya?


__ADS_3

Di rumah sakit, Irfan baru saja datang setelah kepergian Fajri. Ia melihat Fajira tengah terduduk di depan pintu ruang persalinan rumah sakit sambil menangis.


"Sayang?" Panggil Irfan terkejut dan langsung memeluk Fajira.


"Mas? Hiks, anak kita di culik, Mas! Ivanna di culik!" Ucap Fajira menangis di pelukan Irfan.


Duar!


Irfan terkejut, Ia membeku di tempat dengan detak jantung yang tidak beraturan. Nafasnya tiba-tiba saja sesak dan membuat Fajira tersentak kaget.


"Mas?" Pekiknya memegang dada Irfan.


"Ba-bagaimana bisa?" Tanya Irfan berusaha untuk mengatur detak jantungnya.


"Hiks, Fajri sudah mengejar mereka, Mas. Semoga saja Ivanna bisa di selamatkan!" Ucap Fajira.


Mereka menangis sambil berpelukan. Irfan berusaha untuk menguasai kondisi tubuhnya. Dengan sisa tenaga, ia mengangkat tubuh lemas Fajira untuk duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaan cucu kita Sayang? Eza bagaimana?" Tanya Irfan lirih.


"Hiks, cucu kita laki-laki, Mas. Sementara Eza, aku belum mendapat berita dari dokter. Apa kita harus kesana?" Tanya Fajira masih sesegukan.


"Boleh, Sayang!" Ucap Irfan langsung berbinar mendengar jika ia kembali mendapatkan cucu laki-laki.


"Atim belum bangun, Mas!" Ucap Fajira menunjuk Atim.


"Apa dia tertidur?" Tanya Irfan mengernyit.


"Dia di bius, karena itu Ivanna bisa dibawa pergi oleh mereka, Mas!" Ucap Fajira kembali menangis.


Irfan memeluk Fajira dengan erat, berharap ia bisa mendapatkan kabar baik dari Fajri. Mereka terdiam dan saling menguatkan satu sama lain.


Hingga Atim terbangun dengan kepala yang begitu sakit dan wajah yang pucat.


"Nyonya, Tuan?" Panggil Atim lirih.


"Kamu sudah sadar?" Tanya Fajira lirih.


"Sudah, Nyonya. Anda kenapa menangis?" Tanya Atim bingung.


"Ivanna, Ivanna di culik!" Ucap Fajira lirih.


Deg!


Atim terdiam, rasa tidak berguna menghampirinya seketika. Di-diculik?. Maafkan saya, Nona, saya tidak bisa menjaga anda!. Batinnya serasa ingin menangis.


"Fajri sudah mengejar mereka, semoga Ivanna bisa kembali berkumpul bersama kita!" Ucap Fajira lirih.


Atim berdiri dan langsung bersujud di kaki Fajira. "Maafkan saya, Nyonya, maafkan saya Tuan! Saya tidak becus menjaga, Nona! Maafkan saya!" Ucap Atim dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bangunlah. Ini bukan salah kamu! Jadikan pelajaran untuk kedepannya, Ya!" Ucap Fajira mengusap kepala Atim.


"Maafkan saya!" Ucap Atim menangis.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Fajira menenang.

__ADS_1


"Saya hanya merasa sedikit pusing, Nyonya!" Ucap Atim menghapus bair matanya.


"Bangunlah, lebih baik kamu berjaga di depan ruang anak saja. Saya ingin melihat menantu saya dulu!" Ucap Fajira lirih.


"Baik, Nyonya!" Ucap Atim.


Mereka segera berbagi tugas. Atim dengan sigap berjalan menuju ruang khusus bayi untuk melihat tuan kecilnya dan mengawasi keadaan sekitar bersama dengan lima orang pengawal lainnya.


Sementara Fajira dan Irfan menuju ruangan operasi dimana Carenza dan pak Sakti tengah diperiksa. Sudah lebih dari dua jam mereka berada di dalam, namun belum ada satupun dokter maupun perawat yang keluar.


Hingga mereka dikejutkan dengan berita di televisi yang memperlihatkan aksi kejar-kejaran antara Fajri dan para penculik di jalan raya.


Fajira dan Irfan terlihat begitu cemas karena Fajri mengendarai motor dengan begitu kencang sambil melepaskan beberapa tembakan. Sementara mobil yang membawa Ivanna juga melaju dengan sangat kencang dan ugal-ugalan.


"Mas, Anak kita!" Ucap Fajira kembali menangis.


Ya Tuhan, kenapa ini semua bisa terjadi? Apa ini karma dari prilaku buruk saya dulu? Kenapa harus mereka yang menerima akibatnya? Tuhan selamatkanlah anak-anak dan menantuku!. Batin Irfan meneteskan air mata.


"Sabar sayang. Semoga Ivanna bisa di bawa pulang oleh Fajri!" Ucap Irfan tercekat.


Ia tidak sekuat dulu, yang akan bisa melakukan apapun dengan begitu gagah. Tetapi sekarang, penyakit jantung yang ia derita membawa dampak cukup besar terhadap fisiknya.


Ceklek!


Seorang perawat keluar dari ruang operasi itu. Irfan dan Fajira langsung berdiri dan menanyakan kabar Carenza dan Pak Sakti.


"Saya harus menyampaikan ini, Nyonya, Tuan! Saya harap anda bisa bersabar untuk menerima apa yang tengah terjadi. Kami sudah melakukan segala upaya dengan begitu maksimal, tetapi maaf nyawa Supir anda tidak bisa kami selamatkan!" ucap perawat itu.


Deg!


"Iya, Nyonya!" Ucap perawat itu.


"Mas, Kita belum memberitahu keluarga pak Sakti!" Ucap Fajira kembali menangis.


Tubuh sintal itu hampir saja ambruk ke lantai jika Irfan tidak menahannya.


"Aku sudah meminta orang untuk menjemput mereka, Sayang!" Ucap Irfan memeluk Fajira.


"Bagaimana dengan anak saya?" Sentak Fajira menghapus air matanya.


"Tuan muda masih selamat, Nyonya. Tetapi saat ini beliau masih belum sadarkan diri. Mungkin dokter yang akan menjelaskan bagaimana keadaan tuan muda, Nyonya!" Ucap Perawat itu.


"Hiks, aku gak bisa membayangkan jik Eza tidak selamat Mas! Betapa hancur hati Ivanna dan bayi kecil itu!" Ucap Fajira kembali menangis di pelukan Irfan


"Sabar sayang! Kita harus kuat untuk menghadapi semua ini!" Ucap Irfan yang berusaha untuk menahan sakit pada jantungnya.


"Hiks, kenapa ini bisa terjadi?" Ucap Fajira meraung.


"Sayang, jangan seperti ini, aku mohon!" Ucap Irfan memeluk Fajira dengan erat.


Beberapa pengawal datang untuk mengurus jenazah Pak Sakti. Keluarganya belum datang dari kampung, sehingga ia akan di semayamkan di rumah Dirgantara.


"Bunda!" Panggil Fajri lirih.


"Bang? Mana adekmu?" Tanya Fajira dan langsung menghampiri Fajri.

__ADS_1


Pria tampan itu bungkam, tubuhnya luruh ke lantai dan menangis terisak.


"Mana dede, Bang?" Pekik Fajira mengguncang bahu Fajri.


"Maafin Abang, Bunda. Abang terlambat! Abang gagal, abang gak becus menjaga Ivanna!" Tangis Fajri pecah di dalam pelukan sang Bunda.


Bugh!


Irfan tiba-tiba saja tumbang, mendengarkan perkataan Fajri.


"Ayah!" Pekik pria tampan nan tengah rapuh itu.


"Mas?" panggil Fajira dan ikut pingsan.


"Bunda?" Pekik Fajri.


Para pengawal dan perawat segera membawa mereka kendalam ruangan ICU khusus, agar bisa di tangani dengan segera. Mereka tidak menyangka hari seperti ini akan dialami oleh keluarga Dirgantara.


Fajri terduduk lemas dan menangis dikursi tunggu rumah sakit didepan pintu perawatan Irfan. Ia melepaskan semua sesak yang tengah dirasakan.


Aku akan membunuh kalian semua, Badjingan! Jika sampai keluarga ku kenapaa-napa, ke lobang semut pun akan aku cari!. Batin Fajri dengan mata yaang menyalang.


"Fajri?" Pekik Ibu Alifa dan Ayah Hartono.


"Ibu, Ayah?" Ucap Fajri berdiri dan memeluk mereka.


"Kenapa ini bisa terjadi, Nak?" Tanya Ibu menangis sambil memeluk Fajri.


"Aji gak tau, Bu! Bunda dan ayah masuk ruang ICU, Eza kritis, Ivanna di culik, Bu! Aji Gak tau harus berbuat apa!" Ucap Fajri kembali menangis di pelukan Ibu.


"Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini?" Ucap Ibu menangis.


Ayah Hartono hanya terdiam mendengar apa yang tengah terjadi. "Bagaimana dengan bayi Ivanna, Ji?" Sentaknya.


"Bayinya selamat, Yah! Dia laki-laki!" Ucap Fajri berusaha untuk menghentikan tangisnya.


"Ah, syukurlah! Kita harus kuat ya nak! Kamu boleh menangis, tetapi setelah ini jangan memberi ampun kepada mereka yang telah berani membuat kekacauan dikeluarga kita!" Ucap Ayah tegas sambil menepuk bahu Fajri.


Pria tampan itu menatap Ayah Tono dengan lekat sambil menghapus air matanya.


"Tolong jaga orang tua Aji, Yah! Aji akan menjemput Ivanna dengan segera!" Ucap Fajri tegas.


"Iya, Nak! Pergilah, hanya kamu yang bisa kami andalkan sekarang!" Ucap Ayah Tono.


Fajri hanya mengangguk, Ia menelfon beberapa pengawal lainnya untuk memperketat keamanan rumah sakit. Setelah dirasa cukup aman, ia pergi menuju markas khusus untuk tim keamanan kelas atas yang mengelola semua tatanan di dalam Dirgantara Group.


Mata teduhnya menyalang dan terlihat begitu menakutkan. Bahkan ia tidak segan untuk mendorong para wartawan yang menghambat jalannya. Ia menggunakan motor polisi tadi untuk pergi menuju markas, persetan dengan tuduhan pencurian, yang jelas ia harus menemukan sang adik saat ini juga.


Maafkan Daddy anak-anak. Jangan membenci Daddy, jika nanti akan ada nyawa yang melayang dengan tangan ini!. Batin Fajri dengan sorot mata yang sangat menakutkan.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Kalau ada yang gak suka dengan alurnya, Aku gak maksa baca 😁

__ADS_1


__ADS_2