IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Melahirkan


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, ngidam Ivanna tidak terlalu merepotkan banyak orang seperti waktu hamil pertama, hanya saja Carenza harus berada 24 jam di sisinya.


Kini Ivanna berusaha untuk menahan tangis, ketika dokter mengatakan ia harus menjalani operasi Caesar untuk mengeluarkan baby kembar yang masih bersemayam di dalam perutnya.


"Sayang?" Panggil Carenza khawatir melihat Ivanna yang hanya terdiam di ruang perawatan.


"Aku di sini! Jangan takut!" sambung Carenza dengan lembut berusaha untuk menguatkan Ivanna, walaupun kondisinya sendiri entah bagaimana.


Ivanna masih saja terdiam sambil mengusap perutnya yang lebih besar karena mengandung anak kembar.


Fajira mendekat dan memeluk Ivanna dari samping. "Sayang, apa dede takut?" Ucap Fajira bertanya.


Air mata Ivanna menetes, Ia terisak! Membalas pelukan Fajira dengan begitu erat. "Hiks, aku takut, Bunda!" Ucap Ivanna terisak.


"Sayang, gak papa! Coba lihat kakak juga Caesar waktu melahirkan si kembar. Jadi jangan takut, karena itu akan membuat dede lemah!" Ucap Fajira mengusap kepala Ivanna dengan lembut.


"Dokternya bilang mendadak harus operasi sekarang! Dede gak siap, Bunda!" Ucap Ivanna menangis tersedu.


"Sayang, aku akan selalu di sampingmu! Jangan takut, ya!" Ucap Carenza lembut sambil membelai perut Ivanna dengan lembut.


"Jangan kemana-mana!" Ucap Ivanna masih terisak.


Tak lama dua orang suster dan seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Ivanna agar bisa memastikan jam berapa operasi akan dilakukan.


Dokter melihat waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. "Nanti kita operasi jam 2 ya Nona! Jangan di jadikan beban, rileks dan persiapkan diri!" Ucap Dokter perempuan itu tersenyum.


"Bagaimana gak beban! Anda baru mengatakannya satu jam yang lalu dan saya harus operasi pukul dua nanti!" Ucap Ivanna sedikit meninggi.


Dokter itu terkejut dan kesulitan untuk menelan ludah karena mendengar perkataan Ivanna.


Sementara Fajira dan Carenza hanya bisa menepuk jidatnya. Mereka merasa tidak enak kepada dokter itu, namun juga tidak menyalahkan Ivanna.


"Terima kasih, Dokter!" Ucap Carenza tersenyum sambil memeluk Ivanna.


"Sa-sama-sama, Tuan! Saya permisi terlebih dahulu!" Ucap dokter itu berlalu dari ruangan perawatan Ivanna.


"Sayang?" panggil Carenza lembut.


"Hiks, dia bisa ngomong tenang karena tidak mengalaminya!" Ucap Ivanna masih menangis sambil kesal.


"Sabar sayang. Jangan marah-marah! Benar juga kata dokter itu, kamu harus tenang, tarik nafas dan hembuskan!" Ucap Carenza lembut


Ivanna mengikuti instruksi Carenza dengan baik, hingga ia merasa sedikit lebih tenang. Ia mengusap perutnya dengan lembut.


"Aku ingin menelfon Noah, Be!" Ucap Ivanna lirih.


"Baiklah, tunggu sebentar ya!" Ucap Carenza tersenyum ndan menghubungi Noah yang berada di rumah.


"Ayah, bagaimana keadaan Bunda?" panggil Noah dari balik telepon.


"Sayang?" Panggil Ivanna lirih sambil menahan tangisnya.

__ADS_1


"Bunda? Bagaimana keadaan bunda? Mommy bilang kalau dede akan lahir hari ini?" Tanya Noah menatap Ivanna lekat.


"Iya, sayang. Aa' harus jadi anak baik ya sayang! Jangan nakal atau berantem sama Nizam!" Ucap Ivanna.


"Iya, Bunda. Aku akan jadi anak baik selama Bunda di rumah sakit! Apa aku tidak boleh pergi kesana?" Tanya Noah berkaca-kaca.


"Belum boleh sayang. Nanti kalau Bunda sudah melahirkan, Aa' boleh datang lihat Bunda dan adik-adik!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Baiklah. Bunda jangan takut ya! Semuanya akan baik-baik saja! Gak boleh nangis juga!" Ucap Noah lembut.


"Iya, sayang. Do'akan Bunda ya, Nak!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Iya, Bunda. Aa' selalu berdo'a untuk keluarga kita!" Ucap Noah berkaca-kaca.


"Terima kasih, sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.


Mereka mengonbrol sebentar dan berhasil membuat Ivanna merasa lebih tenang melihat wajah tampan putranya.


Ia terlelap setelah panggilan video itu berakhir. Ivanna merasa begitu lelah karena pengaruh hamil kembarnya.


Carenza hanya bisa menghela nafas, ketika bayangan kesakitan Safira beberapa tahun lalu masih terlintas di dalam pikiran. Apa lagi mengingat Ivanna melahirkan Noah tanpa dirinya.


Sebuah usapan di pundak Carenza menyadarkannya dari lamunan. Fajira tersenyum dengan tatapan lembut yang selalu memancarkan kedamaian.


"Setiap suami pasti merasakan kekhawatiran kepada istrinya. Situasi saat ini itu cukup berat untuk kamu, Za. Dipaksa kuat di tengah kerapuhan. Tetapi itulah takdirnya!" Ucap Fajira tersenyum lembut.


"Berat Bunda! Apa lagi mengingat semua hal yang terjadi setiap kali ada yang melahirkan. Kakak dan istriku, huft!" Ucap Carenza lirih.


"Aamiin! Kita menantikan hari itu, Bunda!" Ucap Carenza tersenyum tipis.


Hanya ada mereka bertiga di dalam ruangan itu, sementara Fajri berada di kantor, Irfan dan yang lainnya ada di rumah. Sehingga, Fajira memutuskan untuk mereka tetapi di tempat masing-masing.


Tak lama Ivanna meengerjab, ia melihat Fajira dan Carenza tengah mengobrol tentang proses kehamilan. Ivanna tersenyum karena melihat mereka akur tanpa ada yang berselisih satu sama lain.


Hingga dia orang suster datang untuk memeriksa keadaan Ivanna dan di pindahkan ke ruang operasi untuk melakukan persalinan secara Caesar.


Jantung Ivanna berdetak dengan kencang sering semakin dekatnya langkah mereka menuju ruang operasi.


"Be, kamu masuk ya!" Ucap Ivanna memohon.


Carenza menatap dokter yang akan membantu Ivanna untuk bersalin dan mendapatkan anggukan sebagai jawaban.


"Iya, sayang. Yang penting kamu sekarang harus siap! Jangan nangis lagi, aku aada di sini!" Ucap Carenza tersenyum.


"Jangan kemana-mana!" Ucap Ivanna lirih.


"Ia sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


Mereke memasuki ruang operasi, Carenza lebih dulu mengunakan pakaian khusus agar bisa menemani Ivanna di dalam ruangan itu.


Blurb!

__ADS_1


Beberapa lampu di matikan. Dokter itu sudah berdiri dengan beberapa senjata untuk memedah perut Ivanna nanti.


"Kita mulai, ya!" Ucap Dokter mulai membius Ivanna.


Carenza mengajak Ivanna bercerita agar tidak terlalu khawatir. Sambil mengusap peluhnya yang menetes, ia mencium Ivanna dengan lembut.


Sret!


Syash!


Dokter mulai bekerja, membedah perut Ivanna agar bisa mengeluarkan bayi kembar yang sudah siap untuk bertemu dengan orang tuanya.


Oaak, oaakk, oaakk!


Suara tangisan pertama menggema di ruangan itu dan membuat Ivanna menangis lirih begitu juga dengan Carenza. Akhirnya ia bisa melihat bagaimana sang istri melahirkan.


"Hiks, anak kita sudah lahir sayang! Dengarlah suaranya yang begitu merdu!" Ucap Carenza menangis.


"Iya, Be!" Ucap Ivanna lirih dan sudah menangis.


Dokter memberikan bayi itu kepada Ivanna untuk di susui. Bayi cantik dengan bulu mata melentik, bibir kecil yang merah merona dan terlihat begitu mengemaskan.


"Anak ayah!" Panggil Carenza lirih sambil mengelus pipi putrinya.


"Bukankah ia terlihat mirip denganmu?" Tanya Ivanna lirih sambil tersenyum bahagia.


"Iya, sayang, Sepertinya putri kita akan mengalahkan kecantikanmu!" ucap Carenza tersenyum.


"Gak papa, yang penting baby kita tidak melakukan hal yang salah dengan kecantikannya!" Ucap Ivanna tersenyum.


Ivanna membantu sang putri agar bisa mencari sumber asinya untuk yang pertama kali. Ia meringis tertahan karena merasakan hisapan yang begitu kuat dari anak gadisnya.


"Sabar, Sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.


Hingga gadis kecil itu merasa kenyang, perawat segera membersihkannya agar bisa di balut dengan gedung agar tidak kedinginan.


Sementara itu, dokter tengah berjuang untuk mengeluarkan anak ke tiga mereka dengan begitu hati-hati.


"Be, aku belum mau steril! Kita masih muda, aku ingin punya 1 anak lagi!" Ucap Ivanna lirih.


"Iya sayang!" Ucap Carenza terkekeh dengan air mata yang meenetes.


Hingga suara tangisan bayi kedua memenuhi ruangan itu. Dua putri raja sudah lahir dengan selamat. Ivanna menangis ketik bayi kembarnya sudah keluar dari perut.


Seketika mereka terdiam, mengingat apa yang tengah terjadi. "Jangan sampai mereka di culik, Be!" Ucap Ivanna tersenyum..


Setelah selesai meyusui sang putri. Ivanna masih waswas kalau sesuatu yang terjadi antara anak dan suaaminya,


"Terima kasih sayang! Terima kasih!" Ucap Carenza tersenyum sebelum ia diminta untuk keluar.


Ia di samhut dengan keluarga yang tengah berdiri di dekat ruang operasi Ivanna.

__ADS_1


Ia di borong dengan berbagai pertanyaan. Carenza hanya tersenyum manis menatap ke arah mereka dan menjawab semua pertanyaan satu persatu.


__ADS_2