
"Silahkan dinikmati hidangannya, Tuan, Nona!" ucap Koki resto itu.
Bryan dan Ivanna terkejut melihat Tono yang berdiri di hadapan mereka. Ivanna terlihat kikuk dan cemas seperti ketahuan selingkuh oleh pacarnya. Sementara Bryan mengeraskan rahangnya karena lagi-lagi Tono hadir diantara ia dan Ivanna.
"Apa kau bekerja di sini?" tanya Bryan sinis.
"Iya, Tuan. Semoga hidangannya sesuai dengan selera, anda. Saya akan membuatkan lagi yang baru untuk, Nona Ivanna. Karena mmakanan yang ini tidak cocok untuk perutnya!" ucap Tono.
"Apa maksud, kau?" tanya Bryan terkejut dan melotot kearah Tono.
"Anda tenang saja, makanan di sini sudah mendapatkan label dari BPOM dan aman untuk di konsumsi. Namun tidak bagi Nona Ivanna! Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" ucap Tono pamit sambil menatap Ivanna.
Telinganya terlihat memerah karena menahan sesuatu. Ia berjalan keluar sambil membawa troli makanan. Menuju dapur, memasak sesuatu yang bisa dilmakan oleh Ivanna.
Apa restoran mewah ini milik Tono? bukankah ini sudah memiliki 35 cabang se Indonesia?. Batin Ivanna terkejut.
"Apa kamu masih berhubungan dengannya, Na?" tanya Bryan sambil mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja.
Ivanna menatap Bryan dengan pandangan yang tidak suka.
Kenapa dia? Sangat berbeda dengan Bryan yang aku kenal di masa sekolah dulu!. Bathin Ivanna mengerr.
"Bukan urusanmu!" ketus Ivanna sambil mengalihkan pandangannya.
Sial! kenapa dia selalu ada ketika aku bertemu dengan Ivanna. Apa mereka memiliki hubungan? Aku gak akan mau kalah dengan laki-laki itu!. Batin Bryan.
Ia mencoba untuk meredam emosinya agar tidak menghancurkan suasana. Berkali-kali Bryan menghela nafas hingga keadaannya sudah stabil.
"Na, apa aku boleh bertanya?" ucap Bryan menatap Ivanna dengan lembut.
"Apa?," tanya Ivanna menatap Bryan.
"Apa aku masih punya kesempatan untuk memilikimu?" tanya Bryan lembut namun pasti.
Ivanna termagu, ia sudah menyangka jika Bryan akan mempertanyakan hal ini. Ivanna hanya bisa menghela nafasnya yang perlahan terasa sesak.
"Bryan, setiap orang memiliki kesempatan. Tapi hanya ada satu orang yang beruntung untuk memiliki aku. Saat ini, hatiku sudah dimiliki! Aku harap kamu paham, karena aku tidak suka di paksa!" ucap Ivanna lirih namun suaranya terdengar jelas.
"Apa itu bukan, aku?" tanya Bryan lirih.
Raut wajah kecewanya tergambar jelas dan Ivanna dapat melihat itu. Begitu juga dengan seseorang yang berdiri di balik pintu, sambil membawa nampan.
"Maaf aku tidak bisa memberitahukan siapa orangnya!" ucap Ivanna lirih.
"Apa koki itu?" tanya Bryan.
"Aku tidak bisa memberitahu kamu, Bry. Tolong hargai keputusanku!" ucap Ivanna tegas.
Mereka kembali terdiam dengan perasaan masing-masing. Bryan tidak bisa lagi menyembunyikan raut wajahnya yang begitu kecewa. Sia-sia sudah perjuangannya selama ini. Bekerja keras hanya untuk terlihat pantas bersanding di samping Ivanna.
"Aku gak akan berhenti berjuang untuk mendapatkanmu, Na!" ucap Bryan tegas.
Ivanna hanya terdiam menatap Bryan yang begitu terobsesi kepadanya. Ia bingung harus berbuat apa saat ini, namun ia juga tidak mungkin memberikan harapan kepada Bryan.
__ADS_1
"Aku gak tau harus berkata apa lagi, Bry. Cinta itu anugerah, dan akan datang dengan sendirinya. Aku tidak bisa melarang kamu untuk mencintaiku, tapi kamu juga harus siap, ketika rasa kecewa itu datang!" ucap Ivanna lirih.
"Aku akan berusaha, Na. Aku akan melakukan apapun,..."
"Jangan! Aku tidak ingin berhutang budi kepadamu! Bry, Aku membenci pria yang egois dan pemarah!" ucap Ivanna tegas memotok perkataan Bryan.
"Bukankah Ayah dan abangmu,..."
"Mereka tidak pernah memarahiku, membentak dan berkata kasar! Dia hanya melakukan hal itu kepada orang lain!" Potong Ivanna kembali dengan matanya yang tajam.
Glek,....
Bryan sedikit takut ketika melihat raut wajah Ivanna terutama matanya. Ia hanya mengedarkan pandangannya agar tidak menatap mata Ivanna yang terlihat jelas sangat mirip dengan mata Irfan yang begitu ia takuti.
"Maaf!" ucap Bryan lirih.
"Aku harap kamu paham, Bry!" ucap Ivanna masih tegas.
"Iya, aku paham. Apa kita masih bisa berteman seperti dulu, Na?" tanya Bryan menatap Ivanna lekat dan penuh harap.
"Bisa, asal kamu mampu untuk menjaga sikap!" ucap Ivanna.
"Baiklah!" ucap Bryan tersenyum manis.
Bryan terlihat begitu tampan dengan wajah blasterannya, yang mampu membuat wanita begitu terpesona dengan hanya melihat cinptaan tuhan yang paling indah itu.
Ia memiliki toko perhiasan, dengan segala jenis berlian, batu saafir, rubi, emas dan lainnya. Bryan sudah memiliki 10 cabang toko perhiasan yang tersebar di beberapa negara yaitu Indonesia, Thailand, Singapura dan China.
Aku akan berusaha, Na. Aku akan berusaha!. Batin Bryan menatap Ivanna lekat
Sementara di luar, Tono pun juga ikut kecewa, karena ia juga merasa datang terlambat. Ia harus mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan Ivanna setelah ini.
Mengambil nafas dalam-dalam, Tono menghembuskannya dengan perlahan sebelum masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi!" ucap Tono sambil membawa nampan.
Ia memasak ayam geprek yang tidak terlalu pedas, tanpa micin dan terlihat sangat menggoda di lidah siapa saja yang melihatnya.
"Ini ayam geprek, khusus untuk, Nona Ivanna. Silahkan di coba!" ucap Tono tersenyum manis menatap Ivanna.
"Terima kasih, Tono. Apa ini pedas?" tanya Ivanna.
"Tidak, ini hanya sedikit pedas. Aku juga membawakan segelas susu jika kamu kepedasan nanti!" ucap Tono lembut.
Bryan jengah melihat perlakuan Tono dan ekspresi Ivanna. Ia cemburu! tangannya hanya mengapal di bawah meja. Ia harus bisa menahan amarah dan ego agar ivanna tidak membencinya.
"Terima kasih, Tono. Apa aku boleh membungkus ayam panggang yang kemarin kamu bawakan untukku?" ucap Ivanna.
"Baiklah, kebetulan aku sudah menyiapkannya!" ucap Tono tersenyum. "kalau begitu, aku permisi terlebih dahulu, mari!." ucap Tono pamit sambil tersenyum menatap Ivanna.
"Apa kamu menyukainya, Na? Aku melihat jelas di matamu!" tanya Bryan lirih.
"Bry, kita sudah membahasnya tadi!" ucap Ivanna tegas. "Lebih baik kita habiskan hidangan ini dengan cepat! Aku tidak bisa lama, ada meeting penting setelah ini!" sambungnya.
__ADS_1
"Baiklah!" ucap Bryan pasrah.
Mereka menghabiskan hidangan itu dengan tenang. Ivanna tersenyum tipis, ketika mencoba masakan Tono. Ia masih penasaran bagaimana masakan Tono bisa hampir sama persis dengan masakan ibundanya.
Betah menatap Ivanna sambil mengunyah makanannya. Gadis itu terlihat sangat cantik memesona, anggun dengan aura yang selalu terpancar. Bagaimana juga ia tau, jika berlian kualitas terbaik akan sangat susah untuk di dapatkan.
"Apa masakannya sangat enak? kamu makan sampai belepotan!" ucap Bryan mengulurkan tangannya menyentuh sudut bibir Ivanna.
Gadis itu terpana dengan wajah yang mulai merona dan jantung yang terasa tidak biasa.
"Ah, maaf!" ucap Bryan tersenyum tipis melihat Ivanna.
Tuhan, Ivanna sungguh sangat cantik dengan wajahnya yang merona. Masih sama seperti dulu, ia begitu imut dan mengemaskan!. batin Bryan menjerit.
"Hmm," Ivanna hanya berdeham dan mengambil tisue dan mengusap bibirnya perlahan.
Mereka kembali melanjutkan acara makan siang itu dengan keheningan. Sementara, Tono yang melihat adegan itu melalui kamera cctv menjadi sangat emosi dan cemburu. Namun ia tetap mengawasi Ivanna, mewanti-wanti jika Bryan melakukan hal yang tidak senonoh.
Laki-laki itu, terlihat sangat menginginkan Ivanna. King diamond, tapi aku yakin bisa mendapatkan hati Ivanna tanpa harus yang berlimpah!. batin Tono.
Ia masih mengawasi Ivanna hingga urusan mereka selesai. Ia segera keluar dan menyusul Ivanna setelah melihat mereka keluar dari ruangan itu. Menunggu Ivanna di sudut ruangan hingga Bryan benar-benar pergi dari restonya.
"Apa aku antar saja, Na?" ucap Bryan.
"Terima kasih, Bry. Tapi aku bisa sendiri!" ucap Ivanna.
"Hmm, kalau begitu aku iringi saja dari belakang ya!" ucap Bryan.
"Bry, aku bukan anak kecil lagi! Aku harus pulang terlebih dahulu untuk mengantarkan ayam panggang itu untuk si kembar!" ucap Ivanna jengah.
"Baiklah! Kalau begitu aku keluar duluan!" ucap Bryan pasrah dan setengah tidak rela.
"Hmm, hati-hati!" ucap Ivanna tersenyum tipis.
"Iya, kamu juga!" ucap Bryan berjalan meninggalkan Ivanna.
Ivanna menatap kepergian Bryan dengan ekspresi datarnya. Hingga suara bariton memanggilnya dan terdengar sangat horor.
"Nana?" panggil Tono dengan raut wajah yang sulit di tebak.
Mata Ivanna membola, ketika bulu kuduknya meremang, bahkan saat ini ia tidak mampu untuk berbalik badan dan menatap Tono. Namun laki-laki itu sudah lebih dulu berdiri di hadapannya dengan tangan yang menyilang di dada. Ivanna terkejut dan langsung menunduk.
"Apa sudah selesai?" tanya Tono.
"sudah!" ucap Ivanna lirih.
"Bisa-bisanya kalian bertemu di restoku! Apa kamu ingin membuatku cemburu?" tanya Tono menatap Ivanna lekat dengan wajah yang kesal.
Deg!
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1