IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Usaha Bryan?


__ADS_3

Ivanna sudah berada di dalam kamarnya setelah meminta untuk di gendong oleh Fajri. Ia tersenyum sambil menatap langit kamar yang dihiasi beberapa bintang dan bulan. Perbincangan dengan Fajri tadi membuatnya bisa berfikir lebih jernih.


"Apa aku harus menerima Tono sebagai pacarku atau sebagai suamiku?" tanya Ivanna kepada dirinya sendiri.


"Na, Aku mencintaimu! Tidakkah kamu menyadarinya?" tanya Tono.


Ungkapan Tono tadi sore selalu berputar di kepalanya. Wajah cantik Ivanna merona ketika kembali mengingat kata-kata itu.


"Na, Apa kamu mau jadi pacarku atau apa kamu mau menjadi istriku?" ucap Tono mengeluarkan kotak cincin dan membukanya dihadapan Ivanna.


"Apa dia serius ingin manjalin hubungan denganku? Ah, tuhan. Aku juga mencintaimu, Tono!" pekik Ivanna tertahan.


"Eh?"


Ivanna terkejut, sifat dingin dan tenangnya melebur saat ini. Ia duduk di atas ranjang, sambil memegang pipinya yang terasa panas.


"Ya tuhan, apa cinta bisa membuat orang kehilangan akal sehat? dari tadi aku tersenyum sendiri hanya karena mengingat, laki-laki itu!" ucap Ivanna frustrasi.


Tring,...


πŸ“© From Mr. Tono.


"Malam cantik, sudah tidurkah? Kenapa kamu selalu berputar di dalam otakku? Aku tidak bisa tidur karena wajahmu yang cantik itu selalu terbayang memenuhi isi kepalaku. Aku sudah tidak sabar mendengar jawabanmu. Na! Ya tuhan, semoga Nona cantik ini membalas perasaanku, walaupun itu terasa mustahil!"


Wajah Ivanna semakin merona membaca pesan dari Tono.


"Aku bisa gila sebentar lagi. Benar kata abang, kalau cinta bisa membutakan segalanya!" ucap Ivanna semakin tidak bisa menahan senyumnya.


Ivanna memilih untuk mengabaikan pesan itu dan segera tertidur dengan perasaan yang bahagia.


🌺🌺


Pagi menjelang, hari minggu yang selalu di nanti oleh banyak orang, menjadi pilihan Ivanna agar bisa kembali tidur dan mengistirahatkan badannya, dari pada harus pergi keluar dan membuatnya semakin lelah.


Tanpa ia sadari, seorang gadis kecil masuk ke dalam kamar yang masih gelap itu dan melihat keadaan Ivanna dengan tatapan rindu.


"Apa, Nana sakit?" tanya Nayla yang sudah naik ke atas tempat tidur.


"Nana? Nana bangun!" panggil Nayla sambil menggoncang badan Ivanna pelan.


"Hmm? Sayang, sini tidur sama Nana!. Nana ngantuk banget!" ucap Ivanna membaringkan Nayla dan memeluknya.


"Baiklah!" ucap Nayla


Ia begitu merindukan pelukan Ivanna. Mereka terlelap dan saling mendekap satu sama lain dengan penuh kehangatan.


Sementara di bawah, Semua orang terlihat tengah panik mencari keberadaan Nayla yang tiba-tiba saja menghilang. Naren sudah menangis, ia merasa bersalah karena sempat mengacuhkan Nayla yang ingin mengajaknya bermain.


"Hiks, Lala dimana? Maafin Naren!" ucap Naren terisak di dalam gendongan Safira.


"Sstt, gak papa sayang. Sekarang, Abang bantu cari Lala, ya nak!. Kalau Abang nangis gak akan menyelesaikan masalah, sayang!" ucap Safira lembut sambil menenangkan Naren.


"I-iya, Mommy!" ucap Naren berusaha untuk berhenti menangis dan mencari keberadaan Nayla.


Ia terdiam, berfikir sambil menghapus air matanya. Menatap Safira dengan mata yang masih berkaca-kaca karena begitu khawatir dengan keadaan adik kembarnya yang cantik itu.


"Apa Mommy sudah mencari Lala di kamarnya, Nana?" tanya Naren.

__ADS_1


"Di kamar, Nana? sepertinya belum. Yuk kita ke sana, sayang!" Ajak Safira.


Mereka melangkah menuju lantai dua, dimana kamar Ivanna berada. Naren yang sudah sangat tidak sabar, berjalan cepat menuju lift dan menekan tombolnya segera, setelah Safira masuk ke dalam bilik kotak yang menggunakan kaca transparan itu.


"Kemana, sayang?" tanya Fajri dari lantai bawah.


"Mau ke kamar Nana, Dady. Mungkin, Lala ada di sana!" ucap Safira tersenyum melihat wajah panik Fajri.


"Cepat beri tahu aku, jika Lala ada di sana!" ucap Fajri sebelum Safira memasuki kamar Ivanna.


"Iya, Daddy!" ucap Safira tersenyum.


ceklek,...


"Lala? Nana?" panggil Naren sambil menaiki ranjang queen size itu.


Ia menyibak selimut tebal Ivanna dan mendapati adik kembarnya tengah terlelap sambil berpelukan.


"Mommy, Lala ada di sini. Lagi bobo!" ucap Naren sambil berbisik.


"Ah, syukurlah! Yuk kita turun, sayang!" ajak Safira agar tidak mengganggu tidur Ivanna.


"Apa boleh, Abang bobo di sini juga, Mommy?" tanya Naren penuh harap.


"Boleh, tapi Abang gak boleh ribut ya! kasihan Nana kelelahan!" ucap Safira tersenyum.


"Iya, Mommy!" Naren tersenyum dan ikut berbaring di samping Nayla lalu memeluk saudara kembarnya.


"Mommy tinggal ya, bang!" ucap Safira keluar dari kamar Ivanna yang masih gelap.


Ia segera keluar dan memberitahukan kepada yang lain, agar mereka berhenti mencari keberadaan Nayla.


"Bagaimana, sayang?" tanya Fajri ketika melihat Safira turun dari lantai dua.


"Nayla ada di kamarnya, Dede, Mas!" ucap Safira tersenyum.


"Ha? di kamar, Dede?" ucap Fajri tidak percaya.


Hampir saja ia mengerahkan semua orang untuk mencari keberadaan gadis kecil itu. Sementara Fajira hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya.


"Astaga, kenapa anak gadisku begitu nakal!" ucap Fajri frustrasi.


"Anak siapa itu?" ucap Fajira terkekeh.


Fajri menoleh ke arah sang Ibunda sambil cemberut.


"Kamu juga seperti ini waktu kecil, kak?" tanya Fajira kepada Safira.


"Gak, Bunda. Kakak dari kecil udah jadi anak yang baik!" ucap Safira terkekeh.


"Tuh dengar, bang. Berarti sifat Lala itu turun dari kamu!" ucap Fajira tersenyum.


"Tapi, 'kan Abang gak senakal itu, Bunda!" kilah Fajri.


"Iya, Abang gak nakal. Tapi, kerjaan kamu bikin Bunda panik terus!" ucap Fajira mendelik.


"Ihh," Fajri pun ikut mendelik dengan perasaan lega yang perlahan menghampirinya.

__ADS_1


"Permisi, Tuan, Nyonya. Di luar, ada temannya Nona Ivanna. Namanya Tuan Bryan," ucap salah satu penjaga rumah Dirgantara.


"Bryan?" tanya Fajri mengernyit. "Suruh masuk saja, Pak! Ada yang ingin saya bicarakan kepadanya!" sambung Fajri.


"Baik, Tuan! permisi." ucap penjaga itu dan kembali keluar.


Fajira dan Safira memilih untuk pergi ke dapur, memasak makan siang. Sementara Fajri menunggu Bryan di depan pintu utama.


"Selamat datang. Apa gerangan anda datang ke rumah saya, Tuan Bryan?" tanya Fajri menyambut Bryan dengan ramah, namun tatapannya seperti mengintimidasi siapa saja yang melihat.


"Ah, saya ingin bertemu dengan, Ivanna, Tuan! Apa ia ada di rumah?" tanya Bryan sambil menggaruk tengkuknya.


"Ada, Ivanna sedang tidur. Apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Fajri.


"Bisa, Tuan!" ucap Bryan.


Tiba-tiba saja, keringatnya bercucuran keluar, menyeruak melalui pori-porinya, menebak apa yang akan di lakukan oleh Fajri nanti.


Mereka segera menuju kolam berenang, dan duduk di kursi santai yang berada di balik dinding kaca.


"Silahkan! Jangan tegang, saya hanya ingin mengobrol!" ucap Fajri santai.


"I-iya, Tuan," Bryan begitu gugup jika sudah berhadapan dengan orang yang cukup berpengaruh di dunia ini.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Fajri to the poin.


"Hmm, kami masih berteman, Tuan! Saya sedang berjuang untuk mendapatkan kembali hati Ivanna. Mohon restu dari, Tuan!" ucap Bryan tersenyum.


"Restu? Itu semua tergantung perlakuanmu kepada adikku. Saya tidak ingin Ivanna mendapatkan laki-laki yang kasar. Jangankan untuk bermain tangan, berani kamu membentak adik saya, siap-siap untuk kehilangan kepalamu!" ucap Fajri menyeduh teh hangat yang baru saja datang.


Glek,...


Bryan kesusahan untuk menelan ludahnya. Ia tau jika Fajri tidak pernah main-main dengan perkataannya.


"Ka-kalau untuk masalah itu, Saya tidak akan berlaku kasar kepada perempuan. Ya, walaupun saya sedikit pemaksa!" ucap Bryan dengan tangan yang gemetaran.


"Nah, itu yang harus kamu pahami. Memaksa! Ivanna bukan seperti gadis yang lain. Dia tidak ingin dipaksa, apapun yang ia lakukan itu adalah kehendaknya sendiri! Jika kamu ingin mendekatinya, jangan berbuat kasar dan melarangnya ini dan itu!" ucap Fajri.


Apa maksud, Tuan Fajri? apa dia memberikan aku saran dan cara untuk mendekati Ivanna?. Batin Bryan menangkap sesuatu di balik ucapan Fajri.


"Saya tidak akan melarang Ivanna untuk dekat dengan laki-laki. Tetapi siapapun mereka, aku akan mengawasi bahkan hingga ke kamar mandi sekali pun!" ucap Fajri membuat Bryan melotot tidak percaya.


"Jadi, jika kamu ingin mendapatkan restu dariku, bersikaplah dengan baik!" sambung Fajri menatap Bryan dengan sinis.


"Ba-baik, tuan!" ucap Bryan takut.


Apa dia mengetahui kelakuan burukku selama ini? Ah sial, aku melupakan hal ini!. Batin Bryan mengutuk dirinya.


Kau pikir aku tidak tau perangai kau selama ini? bermain dengan wanita malam, dan tidur sana-sini! Saya tidak akan mengizinkan kau untuk mendekati Ivanna! semoga bukan kau laki-laki yang di cintai olehnya!. Batin Fajri menatap Bryan dengan dingin.


Suasana canggung seketika. Fajri sibuk melihat ponselnya sedari tadi, karena mendapatkan beberapa laporan kecurangan yang terjadi di perusahaan. Ia hanya menatap datar layar ponselnya, termasuk laporan mengenai kebiasaan Bryan selama ini.


Kita lihat saja, sampai dimana usaha kau untuk mendekati Ivanna. Batin Fajri


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2