
Pemberitaan semakin naik, Ivanna memenuhi beranda utama media sosial, baik nasional maupun internasional. Tak hanya pemberitaan tentang asmara, namun juga kemampuan Ivanna di bidang perusahaan banyak dilirik oleh para investor luar negeri.
Penawaran demi penawaran datang silih berganti, sehingga membuat Fitry, Pandu dan Felicia cukup kewalahan mengatur itu semua. Belum lagi beristirahat, mereka harus kembali menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk mulai dari hari ini.
Sementara Ivanna juga sudah pusing menghadapi semua investor yang ingin menanam modalnya kembali. Walaupun secara tegas Ivanna menolak, namun mereka tetap mendesak ingin kembali bekerja sama dengan Ivanna, bahkan memberi iming-iming yang lain. Namun Ivanna, tetap Ivanna. Gadis keras kepala yang tetap berpegang teguh dengan keputusannya.
Di tambah dengan polisi juga mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan apa-apa saja kasus yang akan di hadapi oleh Azmi dan Fadil. Mereka terekspos begitu saja, di depan seluruh media.
Sungguh Media hanya menceritakan perkara itu dan pastinya memuji kehebatan Ivanna sebagai pemimpin yang bisa menyelesaikannya masalah dalam waktu yang sangat singkat.
"Nona, ini jadwal anda satu minggu kedepan!" ucap Felicia menyerahkan jadwal Ivanna.
"Apa aku harus mengikuti semua ini, Fel?" keluh Ivanna.
"Harus, Nona! minggu depan kita akan berangkat ke Inggris untuk bertemu dengan investor yang cukup besar! Mereka ingin mendanai pembangunan apartemen yang roboh kemarin 50 persennya, Nona!" terang Felicia.
"Astaga, berapa lama kita di sana?" tanya Ivanna terkejut.
"Sekitar 5 hari termasuk waktu untuk pulang dan pergi, nona! Minggu setelahnya, kita akan pergi ke Canada 4 hari, dan ke Australia sekitar 10 hari, Nona!" ucap Felicia lirih.
Ia pasti juga akan ikut kemana Ivanna pergi. Dua gadis itu menghela nafas mereka yang terasa berat, belum lagi pergi rasa lelah sudah menghampiri mereka lebih dulu.
"Minta, uncle Joe untuk mengurus kepergian kita! Hari ini jangan ada pertemuan dulu. kepala saya sangat sakit!" ucap Ivanna memijit kepalanya.
"Baik, Nona. Ada lagi?" tanya Felicia.
"Tidak, Fel. Kalau pacarku datang suruh tunggu di sini aja!" ucap Ivanna berjalan menuju kamarnya.
"Baik, Nona!" ucap Felicia.
Ia mengetahui jika Ivanna tidak tidur semalaman karena mengurus masalah itu. Hari ini ia hanya bisa mengatur jadwal dan keberangkatan mereka untuk berkeliling dunia. Ia juga belum berani untuk memimpin rapat sendiri, walaupun ia sudah cukup paham dan pandai dalam mengaturnya.
Ivanna berbaring di atas kasur dan langsung terlelap karena begitu mengantuk. Namun tidak berapa lama Tono datang dan melihat gadis cantik itu sudah tertidur dengan wajah yang terlihat lelah.
"Sayangku, kelelahan!" ucap Tono membetulkan posisi tidur Ivanna dan menyelimutinya.
Ia keluar dari kamar itu dan memilih untuk duduk di atas sofa sambil membaca beberapa buku tentang bisnis yang cukup menambah wawasannya.
"Tuan, jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa mengatakannya kepada saya!" ucap Felicia.
"Iya, terima kasih, Fel!" ucap Tono tersenyum.
Gadis itu sibuk mondar mandir mengambil berkas yang ada di dalam ruangan Ivanna sesuai dengan permintaan Pandu.
Sepertinya dia gadis yang cocok untuk Malik!. Batin Tono tersenyum.
Dua jam ia menunggu Ivanna untuk bangun dari tidurnya. Hingga pria tampan itu terkejut ketika merasakan telapak tangan yang menyentuh pundaknya.
Deg....
__ADS_1
Mata Tono melotot, sendirian di ruangan itu membuat bulu kuduknya meremang.
Jangan bilang ini hantu, setan atau sejenisnya!. Batin Tono takut.
Fiuhh....
Hembusan angin terasa di telinga Tono dan membuat pria tampan itu semakin meremang. Ia menoleh secara perlahan dan terkejut ketika mendapati wajah cantik seorang gadis berjarak begitu dekat dengannya.
"Huaa!" teriak Ivanna mengejutkan Tono.
"Astaga, sayang! Kamu ngagetin!" ucap Tono mengusap dadanya.
"Hahaha, lagian ngapain kamu bengong? Pasti ngira aku hantu, kan?" tanya Ivanna terkekeh.
"Iya, habisnya gak ada orang di sini, sayang!" keluh Tono.
"Hehehe, maafin aku, By! Hmm, kamu bawa cemilan gak?" tanya Ivanna tersenyum manis.
"Bawa, sayang!" ucap Tono menunjuk paper bag yang ia bawa.
"Yee, terima kasih, Baby!" ucap Ivanna senang.
"Bentar lagi jam pulang. Apa kamu mau pulang, atau lembur?" tanya Tono merapikan rambut Ivanna yang sedikit berantakan.
"Hmm, belum tau, By. Sekarang banyak investor dan perusahaan besar yang ingin bekerja sama! Aku akan semakin sibuk, By!" ucap Ivanna lirih.
"Aku akan sering keluar negeri untuk mengurusnya!" ucap Ivanna lirih.
"Hey, jangan sedih! Bukankah ini yang kamu inginkan? Semuanya akan stabil kembali, sayang! Kita masih punya ponsel untuk berhubungan, saling mengirim pesan dan lainnya!" ucap Tono memegang kedua pipi Ivanna dan menatap mata tajam itu.
"Aku akan semakin sibuk, dan waktu kita untuk bertemu akan berkurang. Bagaimana kalau aku merindukanmu!" ucap Ivanna cemberut.
"Kalau rindu, kan kita bisa bertemu, sayang!" ucap Tono tersenyum dan memeluk Ivanna dengan gemas.
"Hmm, nanti waktu kita berjauhan, gimana kalau kamu di goda sama wanita lain? Aku gak mau!" rengek Ivanna membalas pelukan Tono.
"Hei, gak akan ada yang mampu untuk mengambil hatiku, karena di dalamnya ada kamu, sayang!" ucap Tono terkekeh.
"Tapi aku serius, By. Bulan ini aku akan keliling dunia!" ucap Ivanna cemberut.
"Iya, yang penting Nana harus hati-hati di negeri orang. Jangan sampai berbuat sesuatu yang akan mencelakakan diri kamu sendiri!" ucap Tono.
"Hmm, Aku takut kalau tergoda bule tampan, By!" ucap Ivanna serius.
Wajah tampan Tono langsung berubah masam dan cemberut. Ivanna terkekeh melihat ekspresi Tono yang sangat mengemaskan.
"Aku bercanda, By! Tapi kamu mengemaskan kalau lagi cemberut gitu!" ucap Ivanna tergelak sambil mencubit pipi Tono.
"Jangan seperti itu, sayang! Bagaimana kalau beneran ada?" keluh Tono.
__ADS_1
"Pasti ada, By. Tapi tenang aja, aku sudah jadi bucinnya kamu kok!" ucap Ivanna bersandar di bahu Tono dan menggenggam tangannya.
"Sayang?" panggil Tono.
"Iya, Baby!" ucap Ivanna.
"Apa kamu lelah?" tanya Tono.
"Hmm? gak lelah, hanya saja kepalaku masih terasa berat karena kurang tidur. Ada apa, By?" ucap Ivanna.
"Gak papa, sayang. Aku ingin mengobrol. Aku merasa begitu bahagia, karena kamu mengakui keberadaanku di depan dunia!" ucap Tono tersenyum.
"Ah, memang sudah seharusnya seperti itu, By. Hanya saja aku takut untuk menyebarkan foto kamu!" ucap Ivanna mengusap lengan kekar Tono.
"Justru, aku belum siap untuk di kenalkan, sayang. Sabar sedikit lagi, ya. Jika aku siap kita akan tampil di depan media!" ucap Tono.
"Ia, ingin rasanya aku mengungkapkan pada dunia, kalau pria tampan ini adalah milikku!" ucap Ivanna tersenyum sambil mengelus cincin yang ada di jari manis Tono.
"Aku juga sayang! Aku tidak ingin kamu di rebut oleh orang lain!" Tono merangkul Ivanna dan memeluknya.
"Eh!" ucap Tono tersentak dan melepaskan pelukannya.
"Kenapa?" tanya Ivanna mengernyit.
"Aku kelepasan, sayang! Aku meluk kamu sembarangan" tanya Tono lirih.
"Gak papa, Abang bilang kalau pelukan aja boleh!" ucap Ivanna tersenyum.
"Huft, apa aku gak bisa bernegosiasi lagi sama Ayah, sayang?" tanya Tono.
"Bernegosiasi? Untuk apa, by?" tanya Ivanna mengernyit.
"Aku ingin menikahimu segera!" ucap Tono menatap wajah cantik Ivanna.
"Sabar, ya! Mau kamu bernego sampai lelah pun, Ayah gak akan setuju, by!" ucap Ivanna tersenyum.
"Uuhh, aku ingin memelukmu dengan bebas, tanpa di awasi!" ucap Tono merebahkan kepalanya di bahu Ivanna.
"Yang sabar, By!" ucap Ivanna mengelus kepala Tono dengan lembut.
Mereka berbincang banyak hal bahkan ikut membahas kejadian beberapa hari ini dengan saling menggenggam satu sama lain.
Perasaan bahagia muncul ketika semua orang tau, jika mereka saling memiliki satu sama lain, walaupun belum ada ikatan yang sah di antara mereka.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Aku usahakan 1 bab lagi gais π π
__ADS_1