IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Kabar Bahagia


__ADS_3

Ivanna menghela nafasnya kerena merasa sedikit kecewa. Siang ini ia tidak bisa makan bersama dengan siapapun, tidak dengan keluarga, tidak dengan Tono juga. Padahal, ia membawa bekal yang cukup banyak agar bisa makan bersama-sama.


"Nona, Apa anda baik-baik saja?" tanya Felicia yang melihat wajah lesu Ivanna.


"Hmm? Saya baik. Tolong panggil, mbak Fitry. Kita makan bersama!" ucap Ivanna.


"Baik, Nona!" ucap Felicia.


Mereka makan dengan keheningan. Sedikit bingung melihat ekspresi Ivanna yang terlihat sedih.


Ddrrtt..., ddrrtt..., drrtt....


Ponsel Ivanna berbunyi, terlihat sang Abang tengah menelfonnya melalui panggilan video. Wajah cantik Ivanna langsung berbinar dan langsung mengangkatnya.


"Hai, Nana!" teriak Naren dan Nayla bersamaan.


"Hai, sayang? Nana rindu! kapan bocil pulang?" ucap Ivanna cemberut.


"Kita pulang sore ini, Nana. Mommy lagi sakit!" ucap Naren terlihat sedih.


"Iyakah? Mommy sakit apa sayang?" ucap Ivanna terkejut.


"Kata Daddy Mommy tadi..., hmm Mommy kenapa, Yen?" ucap Nayla bertanya kepada kembarannya.


"Hmm? Naren gak ingat, La! Nanti aja kita tanya sama Daddy lagi!" ucap Naren.


"Terus Mommy sama Daddy mana?" tanya Ivanna.


"Daddy lagi bantuin Mommy mandi, Na! Tadi Mommy hoek-hoek!" ucap Nayla menirukan gaya orang yang sedang muntah.


"hoek-hoek kenapa, sayang?" tanya Ivanna mengernyit.


"Tadi, apa kata Daddy, La?" tanya Naren kepada Nayla.


"Ih, tadi kan Lala juga nanya sama Naren, gimana sih!" ucap Nayla kesal.


"Kan, aku lupa!" ucap Naren yang ikut kesal.


Mereka malah bertengkar dan membuat Ivanna tertawa sambil menghentikan perdebatan mereka.


"Ha, Aku ingat!" ucap Nayla tiba-tiba. Namun matanya langsung berkaca-kaca karena pemikirannya yang terlalu ekstrem. "Nana, Kata Daddy, di dalam perut Mommy ada bayi. Apa Mommy kanibal yang suka makan orang?" tanya Nayla.


Bocah kembar itu terlihat takut sambil menatap Ivanna dengan penuh tanda tanya.


Gadis cantik itu mengernyit, mencerna perkataan keponakannya. Kanibal? Di dalam perut ada bayi?. Batin Ivanna.


Deg!


Jangan-jangan?. Batin Ivanna dengan wajah yang melotot.


"Astaga, sayang. Itu bukan kanibal, tetapi bocil Dirgantara akan bertambah! Lala dan Naren akan memiliki adik!" ucap Ivanna berbinar.


"Benarkah?" teriak Naren dan Nayla bersamaan.

__ADS_1


"Yeei, kita akan punya adik bayi Naren! Semoga adik kita laki-laki, Jadi Lala tetap yang paling cantik!" ucap Nayla kegirangan.


"No, adik kita harus perempuan! Biar ada yang bisa Naren peluk dengan tenang. Gak kayak Lala!" ucap Naren mendelik.


Mereka kembali berdebat hingga Fajri datang dan menengahi anak-anaknya. Ivanna tersenyum melihat wajah tampan yang sudah beberapa hari ini tidak ia lihat.


Kalau jadi bapak-bapak emang gitu ya? Pusing sendiri melihat kelakuan anak-anak. Mungkin lebih memilih menangani proyek besar dari pada mengurus kenakalan mereka. Bagaimana dengan aku dan..... Batin Ivanna menjerit dengan wajah yang merona.


Hanya suara Fajri yang terdengar tegas dari ponsel Ivanna. Sementara dua bocil itu susah saling memintanya maaf dan berpelukan.


Ivanna terkejut, ketika melihat wajah Fajri muncul di layar ponselnya dan menatap Ivanna dengan garang.


"Kerja sana! kamu hutang penjelasan sama, Abang!" ucap Fajri mendelik.


"Iya! Gimana keadaan kakakku?" tanya Ivanna.


"Kakak kamu, baik!" ucap Fajri menekankan kata kakak kamu.


"Hehehe, cepat pulang. Dede udah rindu sama kakak!" ucap Ivanna tersenyum smirk.


"Ya sudah, bhay!" ucap Fajri menutup panggilannya.


Ivanna hanya bisa tersenyum melihat Fajri yang sering cemburu ketika ia dan Safira tengah bersama.


Sementara Felicia dan Fitry hanya terperangah melihat sifat Ivanna yang berubah-ubah. Bahkan mereka tidak jadi menyuap makanan karena memperhatikan ekspresi Gadis cantik itu.


Namun seketika mereka terkejut dan salah tingkah ketika Ivanna menoleh dengan wajah datarnya.


"Kenapa tidak di makan?" tanya Ivanna mengernyit.


"Hmm, Habiskanlah!" ucap Ivanna dengan wajah yang merona.


Ia baru menyadari jika tingkah kekanak-kanakannya dilihat oleh orang lain. Namun sudah kepalang basah, apalagi dengan Felicia yang sudah melihat bagaimana ia merengek di depan sang ibunda.


Ah, masa bodoh! Tapi apa benar kakak hamil lagi? Semoga sore ini mereka beneran pulang!. batin Ivanna senang.


Ia segera menghabiskan makan siangnya sambil berbincang mengenai perusahaan dan jadwal Ivanna setelah ini.


🌺🌺


Sementara di negara sana, Fajri tengah membawa Safira menuju ke rumah sakit untuk melihat apa yang terjadi dengan istri cantiknya itu.


Semenjak pagi tadi, Safira terus saja mengeluarkan cairan dari mulutnya. Badan lemas dan terlihat pucat, membuat Fajri khawatir namun ada rasa bahagia ketika menerka jika Safira kembali hamil.


"Anak-anak, gak boleh nakal ya! Daddy mau gendong Mommy, gak boleh jauh-jauh, ya sayang!" ucap Fajri.


"Siap, Daddy!" Ucap mereka bersamaan.


Nayla dan Naren duduk di kursi tunggu dengan tertib. Sementara Safira sudah bersandar di bahu Fajri karena merasa begitu lemas.


"Mommy, apa Mommy baik-baik saja?" tanya Nayla memeluk Safira dari samping.


"Mommy, baik, sayang. Mommy hanya butuh istirahat! Lala duduk yang bagus ya! Gak boleh pisah dari, Naren!" ucap Safira lirih.

__ADS_1


"Iya, Mommy. Hmm, Tadi Lala telefonan sama Nana, Mommy. Katanya tadi, Lala akan punya Dede lagi, apa itu benar?" tanya Nayla menatap Safira penuh harap.


"Mommy, belum tau, sayang. berdo'a aja ya!" ucap Safira mengaminkan ucapan Nayla.


Tak lama Nama Safira terpanggil untuk masuk ke dalam ruangan obgyn. Naren menggandeng tangan nayla dengan erat agar adik kembarnya tidak kemana-mana.


Setibanya di dalam, dokter menanyakan beberapa keluhan yang di alami oleh Safira dan langsung memintanya untuk berbaring di atas brankar. Sementara bocil kembar itu dengan wajah yang khawatir saling berpegangan tangan menatap kearah orang tuanya.


"Coba perhatikan monitor ya, Tuan dan Nyonya!" ucap dokter itu sambil menjalankan alat khusus di atas perut rata Safira.


"Sepertinya, akan ada penerus baru ya, Nyonya!" ucap dokter itu tersenyum.


"Beneran, dokter?" tanya Safira lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, usianya masih sangat muda, 6 minggu!" ucap dokter itu.


Setelah di rasa cukup, dokter segera menjelaskankan apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh Ibu hamil.


"Sekali lagi, saya ucapkan selamat atas kehamilannya, Nyonya! Sehat selalu, ya!" ucap dokter itu tersenyum senang.


"Terima kasih, dokter!" ucap Safira dan Fajri bersamaan.


Mereka segera pulang menuju apartemen dan bersiap untuk kembali ke Indonesia agar bisa menyampaikan berita baik ini.


"Mommy, apa betul Lala akan punya adik?" tanya Nayla berbinar.


"Iya, sayang. Sebentar lagi, Lala akan menjadi kakak dan Naren akan menjadi Abang!" ucap Safira lirih sambil mengelus kepala anak-anaknya.


"Yeei, berarti benar kata Nana tadi ya, La!" ucap Naren senang.


"Nana?" tanya Safira mengernyit.


"Tadi kita telefon Nana, Mommy. Nana bilang kalau kita bakalan punya adik!" ucap Nayla.


"Wah, Nana hebat ya!" ucap Naren. "Tapi, Mommy. Kenapa Dede bisa ada di dalam perut Mommy?" sambungnya.


Deg....


Safira gelagapan dengan pertanyaan Naren. Dua pasang mata itu menatapnya dengan penuh harap agar bisa mendapatkan jawaban yang bisa mereka cerna.


"Dede itu bisa ada di dalam perut, karena Mommy dan Daddy sering meminta kepada tuhan, sayang. Kalau sudah menikah nanti, Abang dan kakak akan paham!" Jelas Fajri.


"Hmm? Lala gak paham, Daddy!" ucap Nayla cemberut.


"Hmm, nanti kita tanya sama Oma, ya!" ucap Fajri tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya.


"Baiklah!" ucap mereka pasrah.


Ya tuhan, tidak mungkin aku menjelaskan bagaimana cara bayi itu masuk ke dalam perut, seperti apa yang aku pahami dulu!. Batin Fajri serasa ingin menangis.


Tak lama mobil berhenti di loby apartemen mewah yang di tempati oleh keluarga Fajri. Mereka segera turun dan beristirahat sebentar, sebelum kembali ke Indonesia.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2