
Pola dan porsi makan Ivanna bertambah semenjak hamil, bahkan ia tidak lagi menghiraukan berat badannya yang selalu bertambah setiap hari.
Apa saja ingin ia makan, mengingat gizi dan asupan untuk anaknya yang harus terpenuhi, sehingga membuat Ivanna menyebutkan apa saja yang ia inginkan.
Menu makan siang ala chef Carenza, sudah terhidang di atas meja. Ikan gurame dan ikan bawal bakar terlihat begitu menggoda. Ivanna begitu tidak sabar untuk mencicipi hidangan itu dengan air liur yang sudah mengalir deras.
"Mana yang lain, Bunda? Dede sudah begitu lapar!" ucap Ivanna antusias.
"Sabar, sayang!" Ucapan Fajira terkekeh.
Naren dan Nayla sudah duduk di kursinya masing-masing dan ikut tertawa melihat Ivanna yang sudah sangat tidak sabar.
"By, Baby? Ayo, ih! Aku udah lapar!" Ucap Ivanna memanggil Carenza yang masih berada di dapur.
"Sebentar, sayang! Aku lagi buat yang segar-segar!" Ucap Carenza membawa sop buah yang baru Saja ia buat.
"Waah!" Ucap mereka berbinar.
"Bunda, abang makan di atas aja sama kakak!" Ucap Fajri yang baru saja datang dari atas.
"Iya, nanti Bunda minta mbak untuk mengantarnya keatas!" Ucap Fajira tersenyum.
Mereka segera menyantap hidangan dengan begitu lahap. Ivanna menerima suapan demi suapan dari Carenza yaang terasa lebih nikmat.
"Makannya pelan-pelan, Bunda!" Ucap Naren tersenyum menatap Ivanna.
"Ah, iya sayang. Bunda lapar banget! Dedenya gak sabaran!" Ucap Ivanna tersenyum malu.
"Bunda tau dari mana, kalau dedenya gak sabar?" Tanya Nayla mengernyit.
"Dede bisikin ke Bunda, Sayang. Lambung Bunda di getok, gitu. Katanya 'Bunda dede lapar!'," Ucap Ivanna terkekeh.
Hap!
Ia kembali menerima suapan dari Carenza.
"Hihi, Mommy juga bilang seperti itu! Sekarang dedenya sudah keluar, jadi lambung mommy gak di getok lagi!" Ucap Nayla terkekeh.
"Bunda, apa lambungnya gak sakit kalau di getok terus?" Tanya Naren mengernyit.
"Gak sakit, sayang. Cuma kita langsung merasa lapar!" Ucap Ivanna.
Mereka magut-magut mendengar penjelasan Ivanna, sementara Fajira hanya terkekeh melihat anak cucunya membicarakan hal yang cukup aneh untuk di bahas.
"Naren, Bukankah Nizam terlihat begitu tampan?" Tanya Nayla antusias.
Neren mendelik, ia sedikit cemburu mendengarkan pujian orang-orang ketika melihat Nizam yang lebih tampan dibandingkan dirinya.
"Iya, Smeoga saja nanti dede yang ada di dalam perut bunda itu perempuan, jadi Lala juga punya saingan!" Ucap Naren santai.
"Ih," Nayla mendelik sebal. Ia menatap Carenza dan Ivanna bergantian, mencoba untuk menggabungkan wajahnya keduanya.
Kata ibu guru, wajah anak itu gabungan dari wajah ayah dan ibu. Bunda 50 persen, ayah 50 persen. Hmm, cukup cantik nanti anaknya Bunda! Aduh, aku akan memiliki saingan! Aku gak mau!. batin Nayla frustasi.
__ADS_1
"Lala kenapa diam?" tanya Naren mengernyit.
"Ah, gak papa! Lala hanya membayangkan wajah Adik yang ada di dalam perut, Bunda!" Ucap Nayla sambil menerima suapan dari Fajira.
"Jangan dibayangkan, La! Nanti Lala kesal sendiri, karena Bunda itu cantik banget dan ayah itu tampan banget! Gak mungkin anaknya mirip pak Sakti!" Ucap Naren santai.
Ivanna dan Carenza tergelak mendengarkan celotehan mereka berdua yang cukup tidak lazim dibicarakan oleh anak berusia 6 tahun.
"Ih, Naren menyebalkan! Kalau Adik sudah besar nanti, Naren siap-siap kami serang!" ucap Nayla begitu bersemangat.
"Iya, Naren siap, nanti Lala juga harus siap kalau seandainya dede yang ada di dalam perut bunda itu perempuan! Siap-siap mendengarkan pujian Naren setiap hari untuk adik kecil!" Ucap Naren santai.
Nayla semakin kesal, ia melipat tangannya di dada sambil mengunyah makanan dengan kasar.
"Sudah, gak boleh berantem!" Ucap Fajira melerai. "Ayo minta maaf!" Ucap Fajira tegas.
Mereka menunduk, dan mengulurkan tangan tanpa menoleh sedikitpun.
"Kakak lihat mata abang! Abang juga lihat mata kakak!" Ucap Fajira tegas.
"Maafin Abang ya,Kak!" Ucap Naren mengulurkan tangan sambil menatap Nayla.
"Kakak juga minta maaf, bang!" Ucap Nayla merentangkan tangannya.
"Jangan seperti itu lagi!" Ucap Naren menahan tawanya sambil mengusap punggung Nayla.
Karena hanya di saat seperti ini ia bisa meracuni pikiran polos Nayla.
"Iya, Abang juga. Jangan seperti itu lagi!" Ucap Nayla yang juga mengelus punggung Naren.
"Iya!" Ucap Nayla.
Mereka merenggangkan pekukan. Naren mengecup kening Nayla dengan lembut, bagitu juga dengan sebaliknya. Nayla mengecup kening Naren bertubi-tubi.
"Sudah!" Ucap Naren jengah.
"Ih, Lala sayang sama Naren tau!" Ucap Nayla mendelik.
"Iya, Naren juga sayang sama, Lala!" Ucap Naren tersenyum manis. "Lala udah janji tadi ya, habis ini suapi abang es krim!" Sambungnya tersenyum menyebalkan.
"Ih, Naren mengambil kesempatan dalam kesulitan!" Ucap Nayla kesal.
"Hahaha!" Naren hanya tertawa dan melanjutkan makannya.
Carenza tersenyum gemas melihat dia bocil itu. Ia menatap Ivanna dengan tatapan perasaan.
"Iya, aku seperti itu juga dengan abang waktu kecil!" Ucap Ivanna mendelik ketika memahami tatapan Carenza.
"Hehehe, pasti kamu begitu mengemaskan waktu kecil!" Ucap Carenza menerawang membayangkan tingkah Ivanna.
"Nanti aku perlihatkan vidio waktu aku kecil biar kamu gak penasaran!" Ucap Ivanna menggeleng melihat wajah penasaran Carenza.
"Hehe, istrimu memang begitu mengemaskan dari kecil, Za! Bahkan lebih mengemaskan dari pada Nayla. Wajah dinginnya yang sering merona, membuat Fajri selalu jahil!" Ucap Fajira terkekeh.
__ADS_1
"Wah, gak aneh juga sih, sifat jahil mereka berasa dari king of jahil!" Ucap Carenza terkekeh sambil menyuapi Ivanna.
"Kita selesaikan dulu makannya, nanti kita sambung lagi!" Ucap Fajira tersenyum.
Carenza menatap Ivanna dengan begitu tidak sabar. Ia ingin segera melihat semua vidio sang istri ketika kecil. Wajahnya merona ketika membayangkan Ivanna berlari kesana kemari setelah mandi tanpa mengenakan busana.
"Jangan mikirin yang aneh-aneh, Baby! Aku gak akan berlari setelah mandi seperti yang dilakukan oleh anak kecil pada umumnya!" Ucap Ivanna mendelik.
"Hehehe, kok kamu tau sih apa yang aku fikirkan?" Tanya Carenza terkekeh.
"Memang setiap laki-laki juga mikir seperti itu! Ayah, abang, Hadeh!" Ucap Ivanna menggelengkan kepalanya.
"Hahaha!" Carenza tergelak.
"Kalau aku yang berlari itu mah lucu, mengemaskan. Apa lagi kamu yang berlari seperti itu. Dengan kondisi buwung yang masih kecil dan bergelantungan manja, akan terlihat begitu meengemaskan" Ucap Ivanna terkekeh.
Wajah Carenza semakin merona, ia tertawa sambil mengingat kepingan memori yang masih tersisa. Begitu juga dengan Fajira, ia hanya menggeleng mendegarkan pembicaraan mereka yang begitu tidak penting.
"Buwung itu apa, Bunda?" Tanya Nayla bingung.
Deg!
Mereka terkejut dengan pertanyaan Nayla dan membuat Ivanna semakin tertawa. Sementara dua bocil itu mengernyit bingung mencari jawaban sendiri dengan otak cerdasnya masing-masing.
"Nanti kalau udah besar, Lala tau sendiri, sayang! Gak boleh cari tau ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Ah, sudah. Kalian ini! Cepat habiskan makanannya dan istirahat!" Ucap Fajira yang masih tertawa.
Mereka segera menghabiskan makan siang hanya berlima saja, hingga semua hidangan itu tandas.
Carenza kembali menggendong Ivanna menuju kamar dan mendudukan di atas ranjang sambil bersandar. Ia menatap sang istri dengan begitu penasaran dengan semua vidio yang di katakan oleh Ivanna tadi.
"Aduh, Baby. Kenapa kamu begitu penasaran? Gak ada yang aneh dalam vidioku. Semuanya hanya datar tanpa ekspresi kecuali nangis!" Ucap Ivanna merona.
"Ayolah, sayang! Aku ingin melihat wajah kecil istriku yang dingin ini!" Ucap Carenza terkekeh menatap Ivanna dengan begitu gemas.
"Huft, Ada flashdisk di dalam saku boneka teddy. Nanti sambungkan saja ke usb yang ada di dekat televisi!" Ucap Ivanna pasrah.
Ia sudah bisa membayangkan bagaimana Carenza tertawa dengan begitu puas melihat waktu ia kecil.
Ah, asal kamu tidak ingat untuk ngidam, gak masalah, Baby!. Batin Ivanna yang melihat Carenza begitu antusias.
Carenza dengan mudah mendapatkan flashdisk itu dan segera memkutar vidio yang ada di sana. Ia berbinar ketika melihat wajah Ivanna ketika masih kecil, terlihat lebih cantik dan sangat mengemaskan.
Tatapannya begitu berbinar dengan mulut yang menganga membuat ide jahil Ivanna mencul. Ia mengambil foto Carenza dengan wajah berbinarnya yang msih terlihat tampan.
Klik!
Upload!
"Masih terlihat tampan dengan wajah merona senang dan berbinar! We love you, Ayah!" Tulis Ivanna di halaman media sosialnya.
Hanya hal sederhana, namun mampu membuatnya tersenyum dan tertawa tanpa henti. Bahkan hanya dengan melihat Carenza tersenyum, Ivanna sudah merasakan begitu bahagia menikahi pira tampan yang memiliki sifat yang begitu aneh dan juga mengemaskan ini.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE