
Sepasang mata cantik nanti tajam mulai mengerjab. Ia merasa begitu pusing dan sakit pada bagian perutnya. Tubuh yang terasa kaku dan sedikit sulit untuk di gerakan karena terlalu lama tertidur.
Ia memperhatikan keadaan sekitar, mengernyit ketika melihat ruangan yang begitu asing di dalam ingatanya.
Jadi benar aku di culik?. Batin Ivanna mengernyit.
Ivanna tidak ingin bergerak terlebih dahulu agar bisa memastikan keadaan sekitar, apakah ia diawasi atau tidak.
Ceklek!
Ia kembali menutup mata, ketika pintu di bukan oleh seseorang. Ia mendengar ada dua orang tengah berbicara menggunakan bahasa yang tidak asing lagi di telinganya.
"Berapa banyak bius yang kalian berikan, bahkan sudah tiga hari Nona belum juga bangun!" Pekik seorang wanita.
Tiga hari aku tidak sadarkan diri? Yang benar saja!. Batin Ivanna terkejut.
"Maaf, Nona! Kami menyuntiknya dengan dosis yang pas. Saya rasa sebentar lagi Nona Ivanna akan bangun!" Ucap Dokter yang merawat Ivanna.
"Kenapa harus kalian bius? Dia baru saja melahirkan dan langsung di bius, apa tidak ada cara lain?" pekik Wanita itu.
Ivanna berusaha untuk mengingat suara yang begitu familiar di telinganya. Ia belum berani untuk membuka mata, karena ingin mengetahui dimana ia berada saat ini.
"Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan perintah!" Ucap Dokter itu menunduk takut.
"Sekarang persiapkan keperluannya! Panggil beberapa pelayan untuk membantu membersihkan Tubuh Nona!" Ucapnya duduk di tepi ranjang.
"Baik, Nona!" Ucap Dokter itu berlalu dan keluar dari kamar sementara Ivanna.
Cih, siapa mereka seenaknya saja bisa menyentuhku! Aku bersumpah akan mematahkan tangan kalian jika berani menyentuhku!. Batin Ivanna Kesal.
Badannya masih terasa kaku, namun ia merasakan sebuah usapan lembut di keningnya. Tangan itu terasa seperti membelai dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Maafkan saya, Nona!" Ucapnya penuh sesal.
Chelsea! Sialan! Gadis ini begitu pandai mencari kesempatan! Lihat saja nanti, kau memilih orang yang salah!. Batin Ivanna kesal.
"Maaf, Nona! Saya harus melakukan ini, karena terpaksa, Maafkan saya!" Ucap Chelsea menatap wajah Ivanna.
Ponsel Chelsea berdering, ia sedikit menjauh dan mengangkat panggilan itu dengan gelagat aneh. Ivanna melihat jika Chelsea berjalan ke arah kamar mandi sambil memijat pelipisnya.
"Anda bisa datang sekarang. Nona Ivanna masih belum sadarkan diri!" Ucap Chelsea.
"..."
"Saya sudah mengatakan, cukup diikat saja. Dia tidak bisa bela diri!" Ucap Chelsea.
"..."
"Dia tidak berguna! Lebih baik anda kirim dokter baru ke sini untuk mengobati Nona!" Ucapnya lagi.
"..."
"Hmm!" Chelsea yang kesal langsung mematikan panggilan itu.
Tak lama dua orang pelayan masuk kedalam kamar dengan membawa beberapa pakaian dan keperluan Ivanna selama berada di sini.
"Siapkan air hangat, dan keluarlah!" Ucap Chelsea.
__ADS_1
"Baik, Nona!" Ucap Mereka patuh.
Chelsea memilih baju untuk Ivanna dan juga menyiapkan semua keperluan untuk ibu muda itu. Ia mengunci pintu setelah semua pelayan keluar.
Ketika ia mulai untuk membuka satu persatu kancing baju Ivanna, mata tajam itu terbuka dan langsung menggenggam tangan Chelsea dengan begitu erat.
"Shh, Nona? A-anda sudah bangun?" Tanya Chelsea terkejut.
"Jadi ini alasan kenapa kau mendekatiku?" Tanya Ivanna dengan nada datar.
"Ma-maafkan saya, Nona!" Ucap Chelsea berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Ivanna yang cukup keras.
"Tinggalkan saya sendiri!" Ucap Ivanna ketus sambil melepaskan genggaman tangannya.
Chelsea terdiam, ia menatap Ivanna dengan lekat. "Anda jangan macam-macan dengan saya, Nona!" Ucap Chelsea dingin.
"Kenapa?" Tanya Ivanna tak kalah dingin.
"Anda sedang lemah dan tidak bisa berbuat apapun! Jangan sampai tingkah Anda memaksa saya untuk berbuat kasar!" Ucap Chelsea tegas.
Ivanna terdiam. Cih, dia bisa bersikap seperti ini karena dia tau aku tidak menguasai ilmu bela diri dan lainnya! Cih, lihat saja kau nanti Jeruk!. Batin Ivanna geram.
"Tinggalkan saya sendiri! Sudah cukup kau menyentuh tubuhku!" Ucap Ivanna terasa begitu horor.
Aura CEO keluar menyeruak dari tubuh lemah dan lusuh itu. Chelsea meremang, ia juga takut melihat Ivanna, namun ia juga tidak bisa membiarkannya untuk melakukan apapun sendiri.
"Jangan keras kepada dan memaksakan kehendak Anda, Nona!" Bentak Chelsea.
"Kau jangan meninggikan suara dihadapanku!" Bentak Ivanna tak kalah mengerikan.
Chelsea mengambil kerah baju Ivanna dan menggenggamnya dengan begitu erat. Ia menatap wajah Ivanna dengan jarak yang sangat dekat. Sementara yang ditatap begitu terkejut dengan tindakan Chelsea yang sudah bertindak sangat jauh.
"Heh!" Ivanna tersenyum mengejek.
Ia berusaha untuk mengumpulkan tenaga dan mengamati ruangan itu dengan seksama, memastikan tidak ada kamera khusus atau alat sadap yang terpasang di sana.
Chelsea tersentak menatap wajah Ivanna yang seolah telah meremehkannya. Ia semakin menarik kemeja Ivanna dan menatap lekat mata tajam itu.
"Saya sudah berbaik hati untuk mengurus Anda! DAN TOLONG HARGAI ITU!" Ucap Chelsea tegas.
"Saya tidak butuh!, Silahkan kau keluar!" Ucap Ivanna tetap ngotot untuk mengusir Chelsea.
Gadis itu menghempaskan Ivanna hingga terbaring, dan membuat Ibu muda itu meringgis karena bekas jahitan di area terlaranngnya masih terasa basah dan sakit.
"Jangan pernah memanggilku jika kah membutuhkan sesuatu!" Ucap Chelsea dingin.
Ivanna hanya terdiam sambil memegang perutnya yang terasa ngilu tanpa menghiraukan kepergian Chelsea.
Brak!
Gadis itu membanting pintu dengan cukup keras karena mendapatkan penolakan dari Ivanna. Sementara Ibu muda itu hanya bisa menghela nafasnya untuk meredakan sesak. Ia teringat dengan sang putra yang entah bagaimana nasibnya dan suami yang belum tau bagaimana keadaannya saat ini.
Aku harus keluar dari sini dengan segera! Persetan dengan semua hal, yang jelas aku harus kabur dan membajak salah satu kendaraan yang ada di sini!. Batin Ivanna.
Perlahan ia mendapatkan sedikit tenaga untuk bangun dan bangkit. Berjalan dengan perlahan menuju kamar mandi, ia membawa perlengkapan yang sudah di sediakan oleh Chelsea.
Ivanna mandi dan melihat asinya sudah sedikit kering, tanpa terasa air matanya menetes begitu saja.
__ADS_1
Malang sekali kamu sayang, hanya sekali kamu bisa meminum asi Bunda!. Batin Ivanna sambil memijat gunungnya berharap bisa memancing asi untuk keluar.
"Bunda janji kita akan bertemu secepatnya!" Ucap Ivanna dengan mata sembabnya yang menyalang.
Ia segera menyelesaikan ritual mandinya dan mengenakan pakaian di dalam kamar mandi langsung. Takutnya mereka memasang CCTV di dalam kamar itu dan bisa melihat tubuh mulus yang sudah menjadi hak milik Carenza.
"Kalungku?" Sentak Ivanna terkejut. Ia semakin terbelalak ketika tidak mendapati cincin miliknya satupun.
Wajahnya berubah menjadi merah karena emosi. Perbuatan mereka sudah berbuat melebihi batas.
Awas saja kalian badjingan! Kalian harus membayar ini semua!. Batin Ivanna dengan wajah datar dan dinginnya.
Aku harus menghemat energiku untuk menghadapi mereka! Aku harus berfikir jernih agar bisa menemukan cara untuk keluar dari rumah ini.
Dengan perlahan Ivanna melangkah keluar sambil menahan rasa sakit pada perutnya. Ia merasa begitu lapar dan butuh asupan lebih agar asinya bisa kembali mengalir.
Kroak!.
Perutnya semakin berbunyi ketika melihat makanan sudah tersedia di atas meja nakas. Ivanna menghampiri dan melihat makanan enak terhidang di dalam sebuah piring dengan porsi jumbApa aku harus memakan ini? Bagaimana kalau alergiku kambuh? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?. Batin Ivanna.
Ia melihat sebuah catatan kecil terselip di bawah gelas, Ivanna segera mengambilnya.
"Makan saja, Nona! Ini sudah sesuai dengan standar makanan dirumah Anda!" Tulis Chelsea.
Huft!.
Aku di culik, tapi mendapatkan fasilitas mewah! Aku sungguh lelah menghadapi ini semua!. Batin Ivanna menatap nanar semua hidangan yang ada di atas meja.
Ia memilih untuk duduk di atas ranjang sambil memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan kedepannya.
Apa aku sudah di lacak oleh abang dan yang lain?. Batin Ivanna.
Ia menelisik keadaan sekitar, ruangan mewah dengan fasilitas VVIP tanpa ada satupun elektronik di dalamnya. hanya ada dua saklar lampu dan satu buah colokan.
Mereka sudah mempersiapkan semua dari jauh-jauh hari!. Batin Ivanna.
Tidak ada satupun jendela yang bisa di buka, kecuali fentilasi udara yang terbuat dari besi. Namun tertutup karena ruangan itu ber-AC.
Lebih baik aku mencoba untuk melihat apakah ada Kamera tersembunyi di sini atau tidak!. Batin Ivanna.
Blam!
Ia mematikan lampu, melihat dengan begitu teliti , menggunakan mata jelinya ke setiap sudut ruangan. Ada sebuah titik merah kecil yang terlihat di tengah-tengah ruangan. Dipastikan itu adalah kamera tersembunyi.
Tunggu! Satu, dua, tiga, ada lima kamera pengawas! Aku yakin ada alat sadap di dalam sini!. Batin Ivanna.
Ia memilih untuk tidur di atas ranjang agar tidak di curigai oleh orang yang tengah mengawasinya.
Aku harus berhati-hati, bertingkah sebagai orang lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Nanti aku akan melihat kamar mandi, apakah mereka juga memasangnya di sana.
Ivanna memilih untuk benar-benar terlelap agar bisa mengumpulkan tenaga. Karena ia yakin, tidak akan ada satu orangpun yang akan berani mencelakainya di sini.
Sementara seseorang di balik layar tengah tersenyum tipis, setelah menebak jika Ivanna mengetahui letak kamera tersembunyi yang ia pasang.
Ternyata dia hanya ingin tidur! Ah ternyata apa yang di katakan gadis itu memang benar!. Batin seseorang.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE