
Di kediaman Dirgantara, Atim baru saja menerima panggilan dari adalah satu Body guard Carenza dan membawa berita yang cukup membuatnya terkejut dan tidak menyangka jika ini akan terjadi.
Badannya gemeteran dengan wajah pucat pasi, membayangkan bagaimana keadaan Ivanna setelah mendengarkan kabar ini.
Apa yang harus aku katakan kepada Nona?. Ya Tuhan!. Batin Atim frustasi.
"Mbak?" Panggil Ivanna yang baru saja datang dari ruang makan.
Deg!
Atim tersentak dan langsung membeku di tempat mendengarkan suara tegas yang tengah memanggil dirinya.
"Mbak? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ivanna berdiri di hadapan Wanita itu.
"Ba-baik, Sa-saya baik, Nona!" ucap Atim gelagapan.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ivanna mengernyit.
Atim menunduk, ia masih memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Ivanna nanti. Tetapi saya harus mengatakan apa yang sebenarnya yang tengah terjadi!. Batinnya.
"Sa-saya mendapat kabar dari salah satu pengawal Tuan Carenza, Nona! Dia mengatakannya, jika mobil yang membawa mereka menabrak truk tronton yang oleng!" Ucap Atim lirih.
Duaaar!
Petir besar seolah memenuhi isi kepala Ivanna. Jantungnya serasa berhenti mendengarkan berita itu. tiba-tiba saja perut Ivana merasakan sakit yang teramat. Ia meringis karena sang anak terasa mendesak untuk di keluarkan.
"Arrghhh! Bunda sakit!" Ucap Ivanna meringis sambil memegang perutnya.
"Atim, Cepat siapkan mobil!" Pekik Fajira memapah tubuh Ivanna.
"Sakit, Bunda!" Ringis Ivanna semakin tidak tertahankan.
"Yang kuat, sayang! Kita ke Rumah sakit sekarang!" Ucap Fajira memapah Ivanna untuk berjalan keluar.
Dua orang penjaga membuka pintu utama dan memasukkan mobil ke dalam rumah. Mereka segera menggotong Ivanna agar bisa menaikinya.
Di ikuti oleh Fajira mobil segera bergerak meninggalkan rumah dengan cukup cepat.
Atim bergegas pergi ke kamar Ivanna dan mengambil semua keperluan untuk melahirkan yang sudah di sediakan jauh-jauh hari oleh ibu hamil itu. Menguatkan diri, menguatkan langkah, karena semua kejadian ini tidak pernah ia alami sebelumnya. Dan saat ini hanya ia yang sangat di andalkan untuk keperluan Ivanna dan bayinya nanti.
Setelah selesai, Ia bergegas menaiki motor untuk menyusul Ivanna ke rumah sakit. Sambil berdo'a untuk keselamatan Ivanna dan calon bayinya tak lupa juga untuk Carenza dan Pak sakti.
Sementara di dalam mobil, Ivanna terus meringis merasakan sakit yang teramat. Ia merasakan ada sesuatu yang merembes dari bawah. Panik! Apakah anaknya akan lahir di dalam mobil saat ini juga?.
"Hiks, Bunda aarrghhhh. Ada yang merembes!" Ucap Ivanna semakin merasa kesakitan.
Fajira terkejut, ia melihat jika air ketuban Ivanna sudah pecah.
"Percepat, Pak!" Ucap Fajira.
"Baik, Bu!" Ucap Supir.
Atim sudah lebih dulu sampai di sana, ia bersama Fajri menunggu kedatangan mobil yang membawa Ivanna.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Atim? Kenapa kau membertahunya?" Bentak Fajri yang frustrasi mendengarkan berita dari Atim.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya begitu terkejut. Maafkan saya!" Ucapnya menunduk takut dan mata yang berkaca-kaca bercampur rasa khawatir yang teramat.
"Mana mobil mereka ini? kenapa belum sampai juga?" Pekik Fajri yang sudah tidak sabar.
Semua orang tengah panik karena kabar kecelakaan dari Carenza dan sekarang mereka juga harus mempersiapkan ruang persalinan untuk Ivanna. Tak lupa juga dengan ruangan ICU khusus jantung jika terjadi sesuatu dengan Irfan.
Ciit!!
Mobil berhenti di depan IGD rumah sakit, Ivanna segera dibantu untuk keluar dan segera di bawa menuju ruang persalinan.
"Hiks, Sakit Bang! Mas Eza mana?" Tanya Ivanna masih meringis.
Ia sudah terlihat lemas karena rasa sakit itu tidak berhenti barang sebentar saja.
Fajri tercekat, ia sendiri belum tau bagaimana kondisi Carenza saat ini karena masih di tangani oleh dokter.
"Abang temani ya, Sayang! Mas Eza masih di periksa sama dokter!" Ucap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Arrggghhh, Aku gak kuat, Bang! Dede gak kuat!" Ucap Ivanna lirih, ia semakin kehilangan kesadarannya.
"Maaf, Tuan! Anda tidak diperkenankan untuk masuk, kecuali suami Nona Ivanna. Maafkan Kami!" Ucap Dokter yang menangani Ivanna setelah brangkar itu masuk kedalam ruang bersalin.
Dokter juga mewanti-wanti, jika Fajri malah tumbang di dalam ruangan itu seperti sebelum-sebelumnya.
"Tolong selamatkan mereka, saya mohon!" Ucap Fajri dengan air mata yang menetes.
"Baik, tuan! Serahkan semuanya kepada kami, bantu juga dengan do'a!" Ucap Dokter itu dan segera menutup pintu.
"Bunda!" Ucap Fajri memeluk Fajira sambil terisak.
"Bagaimana keadaan Eza, Bang? Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Fajira khawatir sambil mengusap punggung Fajri.
"Semoga ini bukan kerjaan mereka!" Ucap Fajira berusaha untuk menahan tangisnya.
Fajri terdiam, Abang yakin kalau ini pasti di sengaja! Maaf, Bunda. Abang belum bisa melindungi keluarga kita, hingga terjadi seperti ini!. Batin Fajri merasa begitu tidak becus.
Atim berdiri di sana dengan perasaan cemas, ia sudah mengirimkan pesan kepada Safira menggunakan ponsel dan nomor baru. Karena mereka tengah di asingkan di suatu tempat agar tidak membahayakan nyawa mereka.
Untuk menghindari penyadapan, semua akun media sosial di tutup untuk sementara, mengganti ponsel dan mengganti nomor yang tidak di sebar kepada siapapun kecuali beberapa nomor keluarga.
"Nyonya, Bagaimana dengan Orang tua Tuan Carenza?" Tanya Atim.
"Apa kamu sudah memberitahu mereka?" Tanya Fajira.
"Belum Nyonya!" Ucap Atim.
"Kabarkan, jika Ivanna tiba-tiba saja melahirkan!" Ucap Fajira.
"Baik, Nyonya! Tuan Irfan juga sudah saya kabari!" Ucap Atim.
Fajira mengangguk, ia harus berusaha untuk kuat dan tetap tenang walaupun jantungnya bergemuruh saat ini.
"Bunda, Sebentar lagi ayah datang, Abang mau lihat Eza dan pak Sakti dulu, bagaimana keadaan mereka!" Ucap Fajri.
"Iya, kabari Bunda, nanti!" Ucap Fajira mengangguk.
__ADS_1
"Iya, bunda!" Ucap Fajri mengecup kening sang Ibunda. "Atim, jaga Nyonya! Segera beritahu saya jika terjadi sesuatu!" sambungnya kepada Atim.
"Baik, Tuan!" Ucap Atim.
Fajira menunggu dengan cemas di depan ruang persalinan itu. cukup lama. Hanya ada mereka bedua di sana, Irfan belum sampai di rumah sakit, bahkan Fajri pun masih berada di ruangan Carenza.
Sementara di dalam ruangan, Ivanna sudah sangat lemas, namun pada perawat terus memanggil agar ia masih tetap terjaga.
aaq"Apa masih lama dokter?" Tanya Ivanna lirih sambil menggigit bibir bawahnya dan memegang besi penyangga brankar.
"Ini masih pembukaan 9, Nona. Sabar sebentar lagi, Ya! Tarik nafas, hembuskan perlahan!" Ucap Dokter memberi instruksi.
Ivanna mengikuti arahan itu dengan patuh. Air matanya menetes karena tidak da Carenza atau siapapun yang diperbolehkan untuk masuk menemaninya.
Baby, kamu harus kuat, anak kita membutuhkanmu! Hiks, jangan tinggalkan aku Be!. batin Ivanna menangis.
Rasa sakit itu semakin terasa kuat, semua tulangnya serasa dipatahkan secara serentak untuk mengeluarkan sang anak yang ada sudah mendesak ingin melihat dunia.
Sayang, anak Bunda! Kita berjuang berdua ya nak! Jangan marah sama ayah, karena dia tidak ada di sini! Yang kuat sayang, bantu Bunda Ya!. Batin Ivanna berusaha untuk kuat dengan sisa tenaganya.
"Pembukaan sudah sempurna! Nona, ikuti instruksi dari saya! Ikuti alurnya, jika terasa ingin mengejan, anda bisa mengejan!" Ucap dokter itu siap untuk menyambut baby Sultan milik Ivanna.
"Tarik nafas dulu, Nona! Emang!" Ucap Dokter memberikan aba-aba.
"Eeengghhhhh!" Ivanna berusaha untuk mengejan sekuat tenaga
"Ambil nafas lagi, Nona! Dorong!" Ucap Dokter.
Ayo sayang, bantu Bunda nak! Keluar ya, Bunda sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dede!. Batin Ivanna.
"Huh, huh, huh, aaaaarrrgghhhh!!" Pekin Ivanna mengeluarkan sisa tenaga yang ia miliki.
"Sedikit lagi, Nona! Kepala babynya sudah terlihat!" Ucap Dokter itu berbinar karena manjadi orang pertama yang melihat wajah anak dari Ivanna.
Ooaaak, ooaak, ooaak!
Tangis baby laki-laki mulai memenuhi ruangan, Dokter menyambutnya dengan begitu lembut dan penuh haru. Ivanna menangis sejadi-jadinya ketika mendengarkan suara yang sudah ia tunggu selama sembilan bulan ini.
Dokter dengan lembut meletakkan bayi merah itu di atas dada Ivanna. Ia langsung merasa tenang ketika meresakan detak jantung sang Ibunda dan berusaha untuk mencari sumber kehidupannya setelah ini.
"Hai, sayang. Akhirnya kita bertemu! Sayangnya ayah gak ada di sini!" Ucap Ivanna semakin menangis
Tangan kecil itu bergerak seolah memberi isyarat agar Ivanna tidak menangis lagi. Hingga beberapa saat, bayi kecil itu terlelap setelah merasa cukup kenyang dengan asi yang sudah memenuhi lambungnya.
"Anak, Bunda!" Panggil Ivanna tersenyum dengan air mata yang masih menetes.
"Babynya kita bersihkan dulu ya, Nona! Putra anda akan menjalani observasi untuk memastikan tidak ada penyakit bawaan atau kelainan pada tuan kecil!" Ucap Dokter itu tersenyum.
"Terima kasih!" ucap Ivanna tersenyum.
Dua orang perawat membantu Ivanna untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, barulah ia bisa beristirahat di dalam ruangan khusus untuk ibu setelah melahirkan.
Hanya ada satu orang Suster yang menemani Ivanna di dalam sana, mengukur tekanan darah dan hal lainnya, memastikan kondisi Ivanna stabil setelah melahirkan.
Ia terlelap dengan wajah lelah, namun bibirnya melengkung karena merasa begittu bahagia.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE