IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
I Love You to, Baby!


__ADS_3

Pagi menjelang, Ivanna mulai mengerjabkan matanya. Wajah cantik itu tersenyum ketika ia berada di dalam pelukan Fajira. Ia mengeratkan pelukannya dan membuat bidadari cantik itu terbangun.


"Bangun yuk, sayang. Udah pagi!" ucap Fajira mengelus kepala Ivanna dengan lembut.


"Hmm, peluk dulu, Buna. Dede mau cerita!" ucap Ivanna manja.


"Mau cerita apa, sayang?" tanya Fajira lembut.


"Semalam Dede jadian sama, Tono, Buna," ucap Ivanna lirih.


"Benarkah?" tanya Fajira cukup terkejut.


"Iya, Buna. Hmm, bolehkan?" tanya Ivanna menatap Fajira penuh harap.


"Boleh! Asal dede bisa menjaga batas dan menjaga diri!" ucap Fajira tersenyum.


"Terima kasih, Buna. Ah, bekerja sungguh melelahkan! Dede ingin istirahat, tetapi minggu ini akan ada banyak rapat penting!" keluh Ivanna di dalam pelukan Fajira.


"Gak boleh mengeluh, sayang. Kalau misalnya capek, Dede kan bisa libur, minta pak Pandu menggantikan rapat-rapat yang sekiranya bisa di gantikan!" ucap Fajira tersenyum.


"Huh. Mungkin karena Dede belum terbiasa!" ucap Ivanna tersenyum.


"Harus kuat, dong! Katanya mau mengejar abang!" ucap Fajira.


"Harus, Buna. Dede pengen merasakan satu kali saja naik podium karena memenangkan penghargaan pengusaha muda!" ucap Ivanna tersenyum.


"Nah, gak boleh mengeluh, oke!" ucap Fajira mencolek hidung mancung Ivanna.


"Hmm,..." deham Irfan mengeratkan pelukannya kepada Fajira.


"Ngomongin apa sih? berisik banget!" ucap Irfan mengecup tengkuk Fajira.


"Ini, anak Ayah baru jadian!" ucap Fajira.


"Apa? Jadian? sama siapa?" pekik Irfan langsung duduk dan menatap Ivanna.


"I-itu, Ayah. Sa-sama, Tono!" ucap Ivanna lirih dan takut.


"Tono? Ooh. Ayah kira sama siapa!" ucap Irfan kembali berbaring di belakang Fajira.


"A-ayah gak marah?" tanya Ivanna takut.


"Gak, sayang. Karena ini sudah masa kamu untuk mencari mana pasangan yang baik, ya dengan resiko terluka juga. Benar kata Bunda, yang penting Dede bisa menjaga diri dan kehormatan!" ucap Irfan mengelus perut Fajira.


"Apa Ayah mendengarkan ucapan Dede tadi?" ucap Ivanna melotot.


"Iya, bahkan Ayah udah bangun duluan!" ucap Irfan tersenyum. "Cari uang itu memang susah sayang, berbeda dengan kamu mendapatkan endorsment dengan kepintaran dan kecantikan!" ucap Irfan.


"Ayah,..." Panggil Ivanna tercekat.


"Iya, sayang. Jangan merasa bersalah! Sekarang, Dede sudah tau kan bagaimana susahnya mencari uang!" tanya Irfan.


"Iya, Ayah!" ucap Ivanna lirih.


"Nah, Mulailah menabung, sayang. Karena kita gak tau kedepannya bakalan seperti apa!" ucap Irfan.


"Iya, Ayah!" ucap Ivanna memeluk Fajira dengan erat.


"Sudah, sekarang gantian! Ayah mau peluk Bunda lagi, semalaman kalian berpelukan, Ayah di anggurin sendiri!" ucap Irfan mengusir Ivanna.


"Ih, Ayah udah tua!" ucap Ivanna mendelik.


"Umur Ayah memang tua, sayang. Tapi Ayah masih kuat ngasih kamu adik lagi!" ucap Irfan enteng dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Fajira.

__ADS_1


"Ah, Dede ke kamar dulu, Ayah, Buna. Hehe Dede gak ikutan ya, Yah!" ucap Ivanna segera keluar dari kamar itu ketika melihat tatapan sangar ibunda sudah mengerikan


Astaga, nak. Kamu ninggalin Ayah sendiri!. Batin Irfan takut.


Fajira segera mengeksekusi Irfan yang berani berbicara sembarangan.


Sementara Ivanna dengan perasaan lega, berjalan menuju kamarnya. Terlihat Felicia sudah menunggu di depan pintu dengan wajah yang masih mengantuk.


"Fel, kamu sudah bangun?" tanya Ivanna.


"Sudah, Nona. Hmm, saya sudah mengetuk pintu kamar anda, tetapi tidak ada suara yang terdengar. Apa, ada yang harus saya lakukan pagi ini, Nona?" ucap Felicia menunduk.


"Ah, siapkan saja berkas-berkas yang akan kita bawa nanti. Saya akan bersiap dulu, tolong hubungi, Mbak Fitry dan minta jadwal kita hari ini!" ucap Ivanna.


"Baik, Nona!" ucap Felicia menatap kepergian Ivanna.


Ia begitu kagum dengan kecantikan Ivanna bahkan baru bangun tidur sekali pun.


Ia segera menyiapkan keperluan untuk meeting nanti, penjelasan yang diberikan oleh Irfan semalam, cukup membuatnya paham apa yang harus ia kerjakan.


Tepat, pukul 6.30 pagi, mereka relah berkumpul di ruangan makan untuk sarapan bersama. Ivanna dengan wajah bahagianya mengambilkan makanan untuk Irfan, dan menyuapi sang Ayah seperti biasanya.


"Ayah sudah kenyang, sayang!" Tolak Irfan, ketika Ivanna kembali menyuapinya nasi goreng itu ke mulutnya.


"Ayah, belum pulih. Jadi, harus makan banyak-banyak, biar cepat sembuh! Dede gak mau lihat Ayah sakit lagi. No membantah!" ucap Ivanna tegas.


"Baiklah!" ucap Irfan pasrah.


Felicia akhirnya menemukan alasan, kenapa Ivanna mau membayar gajinya terlebih dahulu, ketika ia berbicara tentang Ayah.


Betapa beruntungnya aku, bertemu dengan keluarga ini!. Batin Felicia terharu.


Selepas makan, Ivanna segera pergi ke kantor untuk memulai hari-harinya yang sangat melelahkan. Beberapa saat termenung, ia di kagetkan dengan bunyi ponsel genggamnya. Terlihat Tono menelfon di sana.


"Halo, Tono?" ucap Ivanna canggung.


"Terus, aku harus manggil apa?" tanya Ivanna lembut.


"Hmm, sayang, atau honey saja!" ucap Tono.


Blush,...


"Panggil Tono saja!" ucap Ivanna dengan wajah yang merona.


"Ah gak seru, sayang!" ucap Tono merajuk.


Ivanna hanya terdiam sambil menahan malunya dihadapkan Felicia.


"Kan, diam lagi! Jawab dong, sayang!" rengek Tono


"Baiklah, Baby!" ucap Ivanna dengan wajah yang sangat merona.


"Nah, gitu dong! I Love You calon istriku!" ucap Tono senang.


Ivanna kembali terdiam, ia merasa sangat malu di hadapan Felicia untuk membalas ungkapan rasa Tono.


"Ah, sepertinya aku punya ragamu, tapi tidak hatimu!" ucap Tono mendrama karena tidak mendapatkan jawaban dari Ivanna.


Ah, kenapa dia begitu manja. Aku juga mencintaimu, Tono! Bersabarlah, aku begitu malu saat ini!. Batin Ivanna menjerit.


"Apa nanti siang kita bisa bertemu?" tanya Ivanna.


"Bisa dong, mau bertemu di mana, sayang?" tanya Tono bersemangat.

__ADS_1


"Di resto kamu saja!" ucap Ivanna.


"Baiklah, pacarku yang cantik!" ucap Tono terdengar sangat manis.


"Aku sudah sampai, nanti kita sambung lagi, ya!" ucap Ivanna.


"Ah, padahal aku masih begitu rindu!" ucap Tono terdengar sedih.


"Jangan seperti itu, nanti siang kita ketemu, ya!" ucap Ivanna.


"Baiklah, Love You, Sayang!" ucap Tono.


"Hmm, Felicia, kamu bisa keluar terlebih dahulu!" ucap Ivanna yang terdengar di telinga Tono.


"Baik, Nona!" ucap Felicia paham.


"Baby?, Maaf ya, Aku belum terbiasa mengungkapkan rasaku di depan orang lain!" ucap Ivanna penuh sesal.


"Baiklah, aku paham, sayang. Semangat kerjanya, jangan mengeluh lagi, okey!" ucap Tono tersenyum.


"Iya, Love You to, Baby. Aku matikan dulu ya!" ucap Ivanna langaung mematikan panggilannya.


Semburat merah muda bertebaran di wajah Ivanna. Ia mengibas-ngibaskan tangan ke arah wajahnya yang terasa sangat panas.


Apa jatuh cinta selalu membuat orang seperti ini? Ah tuhan, pipiku merah banget, bahaya kalau keluar dengan wajah yang seperti ini!. Batin Ivanna menjerit.


"Hekm," Pak Sakti berdeham, membuat Ivanna terkejut dan semakin malu. "Cie, yang lagi kasmaran!" celetuk pak Sakti usil.


"Ihh, bapak ngapain?" ucap Ivanna kesal.


"Hehe, bapak kan bawa mobil, Nona!" ucap Pak Sakti menahan tawanya.


"Ihh, Dede kesal sama, bapak!" ucap Ivanna memasang maskernya dan keluar dari mobil.


Pak Sakti terkekeh melihat Ivanna yang salah tingkah. Jarang-jarang ia bisa melihat gadis dingin itu sangat merona karena malu. Ia hanya menggeleng menatap kepergian Ivanna, yang sudah memasuki gedung mewah itu.


🌺🌺


Tono mengerjabkan matanya beberapa kali, ia masih tidak percaya jika Ivanna membalas ungkapan cintanya.


"Benarkah?" Tanya Tono tidak percaya. "Benarkah dia membalas ucapanku?" uangnya.


Wajah Tono memerah karena panggilan baru Ivanna dan ungkapan rasa dari gadis itu. Sambil mengiris bawang, matanya memerah, ia serasa ingin menangis saat ini. Air matanya menggenang, karena begitu merasa bahagia.


I Love You to, baby!.


I Love You to, baby!.


I Love You to, baby!.


Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Tono. Ingin rasanya ia menjerit, dan mengatakan pada dunia, jika ialah yang berhasil memenangkan hati Ivanna.


"Bapak, sudah pakai kaca mata masih saja merasakan perih?" ucap koki yang lain membuyarkan hayalan Tono.


"Eh, iya. Bawangnya terlalu kuat! bahkan menembus dinding kaca yang menjadi penghalang antara mata dan bawang ini!" ucap Tono berkilah


"Haha, bapak ada-ada saja!" Icapi koki itu kembali bekerja.


Apa aku kirimkan cemilan ke kantornya saja? Ah, aku sangat tidak sabar menunggu waktu siang datang!. Batin Tono senang dan bersemangat.


Ia masih mendengar para karyawannya membicarakan tentang berita jika Ivanna telah dimiliki. Gadis cantik itu memutuskan untuk membiarkan berita naik, namun masih mengawasinya agar tidak menimbulkan berita buruk untuk kedepannya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


Aku gemas, gak tega rasanya kalau ngasih konflik πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2