IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Honey moon


__ADS_3

Kapal mewah yang berjenis Superyacht, mendarat sempurna di pelabuhan pulau pribadi milik Dirgantara Grub. Carenza sengaja memilih destinasi itu sesuai dengan usulan dari Fajri sebelum mereka menikah.


Ditemani oleh beberapa pelayan, Ia menggendong Ivanna untuk turun dari kapan dengan hati-hati, karena wanita cantik itu masih mengeluh tentang daerah terlarangnya yang terasa perih dan ngilu.


Sementara Ivanna belum pernah datang berkunjung, karena pulau ini baru saja di beli dan di bangun. Sehingga, ini bisa menjadi tempat yang cukup menarik untuk di singgahi.


"Selamat datang, Tuan dan Nona! Silahkan ikuti saya, kamar anda sudah saya persiapkan!" Ucap Atim yang lebih dulu sampai di sana.


"Terima kasih, Mbak! Tolong siapkan makan malam, ya!" Ucap Carenza.


"Baik, Nona!" Ucap Atim sedikit menundukkan badannya.


"Hmm, tidak usah. Biar saya saja yang memasak!" Ucap Carenza.


"Kita baru sampai, Mas. Apa kamu tidak lelah?" Tanya Ivanna mengernyit dan mengecup pipi Carenza.


"Aku gak lelah, sayang! kamu mau makan apa malam ini, istriku?" Tanya Carenza tersenyum.


"Unch, manis banget sih! Hmm, makan apa ya? Ayam mentega enak mungkin, By!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Baiklah, istriku! Mbak, tolong siapkan bahannya, ya!" Ucap Carenza sambil memasuki kamar pengantin mereka.


"Baik, tuan. Selamat beristirahat!" Ucap Atim menunduk hormat dan pergi dari sana setelah pintu tertutup rapat.


Carenza membaringkan Ivanna di atas ranjang mereka dan menatapnya lekat sambil tersenyum manis. Mata indah mereka saling bertatapan.


Ditemanin suara deburan ombak yang terdengar begitu syahdu dan hembusan angin malam yang bertiup sepoy-sepoy, Carenza mulai untuk mencumbu Ivanna kembali.


Ia begitu bersemangat dan bergaairah untuk mengecap manisnya madu dan indahnya peraduan senja menjelang malam ini.


Ivanna tidak menolak sedikitpun, ia juga begitu mendamba sentuhan Carenza yang selalu ia inginkan setiap saat.


Hingga pria tampan itu mengerang panjang ketika mengeluarkan benih-benih premium yang akan menjadi penerusnya setelah ini.


Ivanna langsung terlelap tanpa membersihkan badannya terlebih dahulu. Ia menjadi mudah lelah karena di gempur haabi-habisan oleh Carenza. Sementara pria tampan itu tersenyum puas dan mengecup wajah istri cantiknya.


Sambil menetralkan detak jantung, Carenza memilih untuk membersihkan diri lalu membuat Ayam mentega untuk sang istri.


Dengan lihai ia menggunakan dapur mewah itu tanpa ada yang membantu sama sekali, namun beberapa art yang ada di sana mencuri-curi pandang ke arahnya, karena penasaran.


Hingga semua hidangan selesai. Ia ingin mengadakan diner romantis di tepi pantai bersama Ivanna. Dengan bantuan Beberapa bodyguard, ia mempersiapkan semuanya dengan baik.


"Mbak, mungkin akan sedikit lama! Jadi kalau saya sudah keluar dari kamar bersama dengan Nona, tolong panaskan dengan segera dan bawa ke tepi pantai!" Ucap Carenza.


"Baik, Tuan!" Ucap Atim.


"Terima kasih!" Ucap Carenza.


Ia berjalan menuju kamar, terlihat Ivanna sudah bangun dan bersandar pada sandaran tempat tidur, sambil memainkan ponselnya.


"Udah bangun, sayang?" Ucap Carenza tersenyum.

__ADS_1


Ia duduk di tepi ranjang dan mengecup bibir Ivanna dan sedikit melumaatnya.


"Dari mana, By?" Tanya Ivanna manja dan memeluk Carenza.


"Aku habis, masak! Mau aku mandiin, sayang?" Tanya Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut.


"Hmm, Aku mandi sendiri saja, apaa boleh?" Tanya Ivanna lirih.


"Boleh! Sebentar aku siapkan dulu airnya!" Ucap Carenza beranjak dari tempat tidur setelah melepaskan pelukan Ivanna.


Betapa beruntungnya aku mendapatkan kamu menjadi suamiku, Baby! Bukankah, aku yang harusnya menyediakan semua keperluanmu? Bahkan baru sehari kita menikah, kamu begitu memanjakanku. Semoga kamu selaku diberikan kesehatan dan kesabaran seluas samudera untuk menghadapiku!. Batin Ivanna senang.


"Sayang, airnya sudah siap!" Ucap Carenza.


Ia mengambilkan bathrobe untuk Ivanna dan membalut tubuh indah itu dengan lembut. Ia menggendongnya menuju kamar mandi dan mendudukan Ivanna di atas closet sambil tersenyum.


"Mau aku temani mandi, sayang?" Tanya Carenza.


Ivanna tersenyum, lagi dan lagi, ia begitu terbuai dengan semua perlakuan lembut dan manis dari Carenza. Ia mengelus rahang tegas pria tampan itu dan mengecup pelan bibir indah merona suaminya.


"Kamu istirahatlah sebentar, By! aku ingin berendam dulu. Kalau sudah selesai, aku akan memanggilmu!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Baiklah! Jangan lama-lama!" Ucap Carenza tersenyum dan keluar dari kamar mandi.


Iaa berbanding di atas kasur sambil menunggu Ivanna dan tanpa sadar, ia terlelap dengan guratan wajah lelah yang tergambar pada paras tampannya.


Sementara di dalam kamar mandi, Ivanna mencoba berdiri dan berjalan pelan menuju bathtube dan berendam di dalamnya barang sebentar saja.


Ia ingin menenangkan diri, sebelum Carenza menggempurnya kembali. Ivanna tersenyum ketika mengingat bagaimana ia begitu liar ketika tengah beradu kasih bersama Carenza.


"Ah, persetan dengan rasa malu, yang jelas aku dan Mas Eza sama-sama saling memuaskan. Dia begitu perkasa dan membuatku selalu menyerah! Pasti kamu begitu kelelahan karena menggendong aku seharian, By!" Ucap Ivanna.


Cukup lama ia beremdam, hingga tenaganya berangsur pulih, walaupun bagian bawahnya masih terasa perih.


Ia berjalan dengan pelan, keluar dari kamar mandi. Ia melihat Carenza tengah terlelap di atas ranjang. Ivanna membuka koper dengan perlahan dan mengenakan bajunya yang lebih tertutup.


Ia berjalan mendekat ke arah Carenza dan tersenyum sambil menarik selimut untuk menutup tubuh suami tampannya.


"Engh, sayang sudah selesai?" Tangan Carenza dengan suara seraknya.


"Sudah, By! Maaf ya kamu terganggu!" Ucap Ivanna menyesal.


"Gak papa, sayang. Yuk, kita makan!" Ucap Carenza menggandeng tangan Ivanna.


"Pelan-pelan, By!" Ucap Ivanna yang kembali merasakan sakit.


"Eh, maafkan aku, sayang!" Ucap Carenza terkejut.


Ia segera menggendong Ivanna di belakang dan membawanya keluar dari kamar menuju tepi pantai yang sudah ia hias seperti ala-ala diner romantis.


"Baby, kita kemana?" Tanya Ivanna mengernyit.

__ADS_1


"Kita makan malam di luar, sayang. Langitnya cukup bagus, malam ini!" Ucap Carenza tersenyum.


"Ah, kamu selalu membuat aku meleleh, By! Gimana kalau aku makin cinta?" Tanya Ivanna terkekeh.


"Bagus dong! Akan aku buat kita cinta mati satu sama lain!" Ucap Carenza terkekeh.


"Haha, kamu bisa aja!" Ucap Ivanna tersenyum.


Namun matanya membola dan berbinar ketika melihat sebuah meja dan sepasang kursi sudah berada di tepi pantai dengan hiasan lampu kelap-kelip di sekitarnya.


"Baby, i-ini?" Tanya Ivanna.


"Diner romantis ala-ala, sayang!" Ucap Carenza mendudukkan Ivanna di atas kursi.


Ia segera duduk juga berhadapan dengan sang istri yang masih terlihat berbinar.


"Gak ada lilin, sayang. Soalnya mati terus, angin di sini begitu kencang!" Ucap Carenza tersenyum.


"Gak papa, By! Ah, aku terharu!" Ucap Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang, mahkota yang kamu berikan itu tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan sampai saat ini! Aku berjanji, kita akan bahagia sampai tua, sampai maut memisahkan kita!" Ucap Carenza menggenggam tangan Ivanna.


"Kamu semakin membuatku menangis!" Ucap Ivanna meneteskan air mata harunya.


"Hei, jangan menangis, sayang!" Ucao Carenza berjongkok di hadapan Ivanna.


"Aku merasa begitu bahagia dan beruntung bisa mendapatkan kamu, By! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" Ucap Ivanna memeluk Carenza dengan erat.


Pria tampan itu membalas pelukan Ivanna dan tersenyum.


"Aku bahkan lebih mencintaimu, sayang! Tetaplah bersamaku dalam keadaan apapun!" Ucao Carenza tercekat.


"Iya, By! terima kasih karena telah mencintaiku sedalam ini!" Ucap Ivanna mengelus kepala Carenza dengan lembut.


"Jangan berterima kasih, sayang. Karena dari awal aku memilihmu, dan sejak hari itu, hati aku hanya milikmu sampai kapanpun!" Ucap Carenza menatap manik mata Ivanna.


Ketika hendak mencium sang istri, Ivanna menahannya dan membuat Carenza mengernyit.


"Jangan di sini, By! Nanti saja di dalam kamar!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Baiklah!" Carenza mencoba untuk paham walaupun ia tidak mengerti sama sekali.


Hingga makanan datang dan terhidang di atas meja. Kali ini Ivanna mengambil alih untuk menyuapi pria tampannya. Karena semenjak tadi, Carenza yang selalu menyuapinya.


Bulan dan bintang terlihat semakin terang, mereka seolah menjadi saksi berapa mereka saling mencintai satu sama lain. Entah rasa siapa yang lebih besar, namun tidak ada satupun manusia yang bisa menakar bagaimana dalamnya perasan seseorang.


Setelah puas, Carenza membawa Ivanna duduk di sebuah kursi santai untuk sekedar menikmati pemandangan malam hari di sana.


Hingga tanpa sadar Ivanna terlelap di dalam pelukan Carenza dengan nyaman. Pria tampan itu tersenyum sambil menggendong Ivanna menuju kamar dan beristirahat.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


Bagi semangat dong gais, aku mau crazy up ini 🀭🀭


__ADS_2