IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Jahilnya Carenza


__ADS_3

Mobil keluarga Dirgantara melewati jalan raya dengan pengawalan yang begitu ketat. Carenza memberikan Ivanna sebuah mobil sport yang sudah dihiasi dengan pita khusus untuk hadiah pernikahan mereka.


Pengantin baru itu tersenyum bahagia sambil bergenggaman tangan. Carenza membawa mobil dua pintu itu menuju hotel sambil membayangkan malam pertamanya nanti.


"Suamiku?" Panggil Ivanna tersenyum dengan wajah yang merona.


"Ah, iya istriku! Apa kamu lelah?" Tanya Carenza tersenyum antusias.


"Iya, betisku terasa keram, By!" keluh Ivanna.


Ia cukup kesulitan dengan gaun yang begitu tebal dan berlapi-lapis. Seisi mobil hanya di penuhi oleh gaunnya saja.


"Nanti aku bantu pijat, sayang!" Ucap Carenza mengerling nakal.


A-apa maksud dari tatapan kamu, by?. Batin Ivanna mengernyit.


Deg!


A-apa kami akan melakukan itu? Astaga, aku belum siap!. Batin Ivanna menjerit.


Bahkan ia tidak mendengarkan Carenza memanggilnya.


"Sayang, kamu ngapain bengong?" Tanya Carenza mengernyit.


"Hmm? Gak ada, aku hanya kepikiran sesuatu, by!" Ucap Ivanna berkilah dengan wajah yang merona.


"Memikirkan sesuatu? Apa kamu sedang memikirkan malam pertama kita?" Ucap Carenza menggoda Ivanna.


Blush!


Wajah Ivanna semakin merona mendengarkan ucapan Carenza. Sementara pria tampan itu malah tergelak dengan wajah yang juga ikut merona.


"Sayang, kata orang malam pertama itu menyenangkan!" Ucap Carenza.


"Siapa bilang?" tanya Ivanna garang.


"Eh, kok tiba-tiba marah, sayang?" Tanya Carenza mengernyit.


"I-itu, ka-kata kakak rasanya seperti digigit harimau!" Cicit Ivanna.


Carenza mengernyit, ia menatap Ivanna dengan rasa tidak percaya.


"Digigit harimau? Hehehe, berarti abangmu ganas, sayang!" Ucap Carenza tergelak.


"Ganas maksudnya, by?" Tanya Ivanna mengernyit.


Carenza tersenyum, "Kamu akan tau nanti, sayang!".


Perlahan mobil berhenti di lobby hotel. Carenza segera keluar dari mobil dan membantu Ivanna untuk turun.


Satu persatu keluarga Dirgantara dan Hartono keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam hotel dan mencari kamar masing-masing yang telah di sediakan.


Sementara untuk pasangan pengantin, Ivanna sudah menenteng tas kecil yang berisikan make up remover untuk membersihkan riasan wajahnya.


Ia mengernyit ketika tidan melihat kopernya dan Carenza keluar dari mobil.

__ADS_1


Apa sudahh di antar terlebih dahulu?. Batin Ivanna.


"Kenapa, sayang?" tanya Carenza menaiki lift dan menekankan angka 25 di mana kamar pengantin mereka berada.


"Apa koper kita gak di turunkan juga, by? Nanti gimana ganti baju?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Hmm, mungkin nanti akan di antar, sayang. Nanti pakai bathrobe aja dulu!" Ucap Carenza tersenyum nakal.


Ia mengapit pinggang rampung Ivanna dan menatapnya penuh damba. Sementara Ivanna berusaha untuk menghindari tatapan Carenza yang terlihat seperti ingin menerkamnya.


Ting!


Lift terbuka, mereka segera melangkah menuju kamar president suite yang telah dihilangkan sedemikian rupa.


Bugh!


Kaki Ivanna tersandung dengan sesuatu dan membuatnya hampir saja terjatuh, beruntung Carenza segera menyadari bahaya yang akan di hadapai oleh sang istri, segera menangkapnya.


"Sayang, kenapa?" Tanya Carenza.


"Aku tersandung, by! Aku gak kuat jalan lagi!" Keluh Ivanna.


Tanpa menunggu lama, Carenza segera menggendong Ivanna dan masuk ke dalam kamar mereka.


"Wah, sayang. Lihatlah, mereka menyiapkan kamar yang begitu mewah dan menggairahkan! Hehehe," Ucap Carenza tertawa.


"Ih, kamu!" Ivanna mendelik sambil menutup mulut sangat suami.


Dengan lembut, Carenza membaringkan Ivanna di atas kasur yang berukuran king size itu.


"Akhirnya aku bisa menikahimu, sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


"Iya, by! Aku mencintaimu!" Ucap Ivanna tercekat.


"Jangan menangis!" Ucap Carenza mengelus lembut pipi Ivanna.


Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, hingga dua bibir kenyal itu saling berpagut mesra. Masih terasa kaku, tetapi mereka berusaha untuk saling mengimbangi satu satu sama lain.


"Hmpphh!" pekik Ivanna tertahaan sambil menepuk baju Carenza karena nafasnya terasa sesak.


"Apa kamu belum siap, sayang?" Tanya Carenza lirih.


Ada semburat kecewa dari wajah Carenza yang di lihat oleh Ivanna.


"Aku sesak, By! Apa boleh aku bersih-bersih dulu?" Tanya Ivanna lirih.


"Baiklah!" Ucap Carenza tersenyum.


Ia bangkit dan mulai membuka bajunya satu persatu. Mulai dari dasi, jas, dan ikat pinggang. Wajah Ivanna merona dengan mata yang tidak bisa lepas dari sang suami.


Carenza yang usil tak sengaja menangkap mata Ivanna tengah memperhatikan gerak geriknya.


"Sayang, bisa bantu aku?" ucap Carenza berpura-pura tidak bisa melepaskan rewang bajunya.


"Ba-bantu apa, By?" Ucap Ivanna gugup.

__ADS_1


"Mungkin karena bajunya baru, jadi aku sedikit kesulitan, sayang. Bantu ya!" Ucap Carenza.


Ia membantu Ivanna untuk duduk, kemudian mengarahkan tangan sang istri untuk membuka satu persatu gewang kemeja putih yg ia kenakan.


Glek!


Ivanna menelan ludahnya kasar, ia merasa begitu gugup, bahkan sangat gugup. Apa lagi tubuh atletis Carenza mulai terlihat.


Sial, badannya lebih bagus dari pada abang!. Batin Ivanna menjerit.


"Su-sudah, By!" Ucap Ivanna menunduk setelah selesai.


"Terima kasih, sayang! Hmm, Apa kamu mau aku bantu juga?" Tanya Carenza tersenyum penuh arti.


"Hmm, nanti saja, By! aku mau membersihkan wajah dulu!" Ucap Ivanna gelagapan.


Ah lihatlah! Nanaku sangat mengemaskan. Dia terlihat salah tingkah. Ah Safira kenapa malah bercerita tentang malam pertamanya! Pasti Istriku takut saat ini!. Batin Carenza gemas.


Ia melihat Ivanna dengan perasan yang begitu bahagia. Gadis cantik itu tengah membersihkan wajahnya dengan pelan, mengulur waktu agar ia tidak diterkam dengan begitu cepat.


"Hmm, aku mandi dulu ya, sayang!" Ucap Carenza mendapatkan ide untuk semakin mengerjai Ivanna.


"Iya, By!" Ucap Ivanna melihat suaminya melalui pantulan kaca.


Carenza berjalan santai sambil melepas celana panjangnya dan hanya menyisakan daleman saja.


"Uhuk!" Ivanna tersedak air liur nya sendiri ketika melihat Carenza.


"Kenapa, sayang?" Tanya Carenza polos dan berjalan menghampiri Ivanna.


"A-Aku gak papa! Ka-kamu mandi saja!" Pekik Ivanna salah tingkah dengan wajah yang merona.


Carenza semakin usil, ia meniup bahu Ivanna yang terbuka dan menjilat daun telinga sang istri.


"Sshhh," Desis Ivanna meremang.


"Ayo mandi bareng, sayang!" Ucap Carenza berjongkok di hadapan Ivanna.


"Ka-kamu saja dulu, a-aku belum selesai!" Ucap Ivanna semakin gelagapan.


Carenza berusaha untuk menahan tawanya, ia sangat tau jika Ivanna sedang takut saat ini. Namun terasa begitu seru mengerjai gadis dingin yang terlihat mati kutu di hadapannya.


"Ah, baiklah!" Ucap Carenza berdiri dan langsung berjalan dengan santai menuju kamar mandi.


Huh dasar Carenza gila! Bisa-bisanya dia mengerjai ku seperti itu! kalau saja kamu bukan suamiku, sudah ku tebas kepalamu, By!. Batin Ivanna kesal.


Ia kembali membersihkan sisa make up yang masih tertinggal di wajah cantiknya.


Sementara di dalam kamar mandi, Carenza tertawa karena berhasil mengerjai Ivanna, walaupun sebenarnya ia juga malu. Namun ia merasa puas, kapan lagi bisa mengerjai nona dingin itu.


"Hahaha, apa aku keterlaluan mengerjainya? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba aku sudah berada di dalam tong dan di hanyutkan ke laut?, astaga, aku tidak bisa membayangkannya!" Ucap Carenza sambil memegang pipinya yang terasa panas.


Ia segera mandi dan membersihkan badan. Memakai sabun yang begitu wangi agar bisa menarik Ivanna semakin jatuh ke dalam pelukannya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2