
Pagi menjelang, waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. Carenza sudah terbangun dan membersihkan diri. Ia menyisir rambut dengan rapi dan menggunakan baju pemberian dari Ivanna.
"Sayang, Aku datang!" Ucap Carenza tersenyum.
Ia segera turun ke bawah dan menunggu yang lain sambil memegang kotak berharga itu. Berjalan pelan sambil berpegangan pada benda yang ada di sekitarnya.
"Kemana, Za?" Tanya Fajira yang baru saja keluar dari kamar.
"Hmm, Mau ke markas, Bunda. Kan hari ini mau jemput Nana!" Ucap Carenza begitu bersemangat.
"Ya sudah. Sarapan dulu, baru pergi ke markas. Abang juga belum keluar!" Ucap Fajira tersenyum.
"Iya, Bunda!" Ucap Carenza tersenyum.
Mereka berjalan menuju ruang makan dan menunggu yang lain untuk bergabung. Carenza menatap kotak itu ketika duduk di kursi.
"Apa itu, Za?" Tanya Fajira mengernyit.
"Hmm, Nana memberikannya sebelum kejadian ini, Bunda. Katanya ini adalah GPS rahasia, tpi belum di setujui sama abang," Ucap Carenza.
"GPS? Maksudnya, Nana memiliki GPS rahasia di dalam tubuhnya?" Tanya Fajira mengernyit.
"GPS rahasia?" Tanya Fajri yang baru saja datang.
"Iya, bang. Semacam gigi palsu gitu!" Ucap Carenza.
Fajri melihat kotak itu dan mengernyit. Ia teringat dengan perkataan Ivanna ketika menyodorkan barang ini.
"Bang, dede punya ini GPS rahasia, gak akan ada orang yang bisa menebak letaknya. Ini bisa kita gunakan untuk waktu darurat. Ya walaupun harus mengorbankan satu graham untuk memasangnya!" Ucap Ivanna jauh sebelum menikah.
"Kita harus segera ke markas!" Ucap Fajri bergegas.
"Bunda bungkus bekalnya dulu!" Ucap Fajira.
"Iya, Bunda!" Ucap Fajri kembali ke kamar dan mengambil beberapa barangnya.
"Selamat Pagi, Tuan, Nyonya. Saya sudah siap untuk melakukan misi!" Ucap Atim.
"Bagus, kita akan langsung ke markas!" ucap Carenza serius.
Fajira segera membungkus bekal untuk mereka dan langsung di bawa oleh Atim. Carenza berjalan lebih dulu karena gerakannya yang masih kaku dan lambat.
Tak lama Fajri dan Atim menyusul, mereka segera pergi menuju markas, berharap hari ini bisa mendapatkan sebuah keterangan yang pasti di mana posisi Ivanna berada. Karena semua orang-orang yang di kirim oleh Fajri menghilang begitu saja tanpa ada kabar berita lagi.
"Semoga Ivanna memang memasang GPS itu, dan kita bisa menemukan dimana ia berada!" Ucap Carenza tersenyum senang.
"Saya yakin, nona sedang di asingkan di sebuah pulau terpencil yang jauh dari siapapun, tetapi rumah itu mewah dan megah!" Ucap Atim.
Fajri dan Carenza menatap Atim tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Asisten pribadi Ivanna itu.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" Tanya Fajri mengernyit.
"Saya hanya sering membaca novel Tuan!" Ucap Atim datar.
Krik, krik!
Suasana kembali hening, orang kaku membuat jokes di saat yang tidak tepat. Carenza mengernyit sambil menahan tawanya.
"Sepertinya kamu cocok dengan Bryan. Dia sebelas dua belas dengan kamu!" Ucap Carenza.
"Tuan, ini bukan saatnya kita membuat lelucon!" Ucap Atim dengan begitu datar.
"Baiklah! Tapi kamu bisa memikirkannya mulai dari sekarang!" Ucap Carenza serius.
"Nanti akan saya fikirkan!" Ucap Atim.
__ADS_1
Tak lama mobil Fajri tiba di markas. Terlihat Falicia sudah menunggu di sana dengan gelisah.
"Fel?" Panggil Carenza.
"Tuan, Apa sudah ada kabar dari Nona?" Tanya Felicia khawatir.
"Belum, Fel! Kamu ngapain ada di sini?" Tanya Carenza.
"Saya mau ikut mencari Nona, Tuan!" Ucap Felicia.
"Felicia, ini berbahaya! Lebih baik kamu pulang dan beristirahat!" Ucap Fajri tegas.
"Tapi, Tuan! Saya mohon!" Ucap Felicia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pulanglah, Felicia! Jangan tunggu saya marah!" Ucap Fajri.
Ia masuk kedalam dan meninggalkan yang lain. Carenza menatap gadis itu dengan lekat.
"Pulanglah, Fel! Jaga keluargamu dengan baik. Do'akan kami agar bisa membawa Ivanna secepatnya!" Ucap Carenza. "Pak, Tolong antar Nona Felicia pulang!" sambungnya.
"Baik, Tuan!" Ucap Supir pribadi Fajri.
"Tuan! Berjanjilah untuk membawa Nona pulang!" Ucap Felicia menangis.
"Iya! Berhentilah menangis, atau Ivanna akan marah melihat air matamu!" Ucap Carenza.
Mereka segera masuk kedalam markas, meninggalkan Felicia yang masih terdiam diluar.
Fajri dan yang lain berkumpul di sebuah ruangan untuk melakukan pelacakan lokasi Ivanna dengan menggunakan Software yang ada didalam kotak itu.
"Semoga ini memang berfungsi!" ucap Fajri.
Ia begitu fokus menatp beberapa layar monitor agar bisa menemukan titik koordinat dari Ivanna.
Ting!
"Ji, apa itu Ivanna?" Tanya Carenza berbinar.
"Belum pasti! Soalnya itu bukan daerah pribadi!" Ucap Fajri.
Carenza terdiam, namun ia begitu pasti jika titik merah itu adalah lokasi keberadaan Ivanna.
Daerah pedesaan Rusia, yang masih cukup jarang di tempati, ada banyak rumah kosong di sana karena ditinggal transmigrasi oleh penduduk di sana.
"Tuan, Jika dilihat pada google maps, tidak ada satupun rumah di sana. Tetapi jika bergerak sedikit ada tiga buah rumah mewah bergaya Eropa!" Ucap Atim.
Ddrttt, ddrrtt, drrtt.
Ponsel Fajri berbunyi, telefon dan nomor luar negeri. Ia mengernyit dan mengabaikan panggilan itu. Namun tak selamang berapa lama, ponselnya kembali berdering.
Dengan rasa penasaran, Fajri mengangkat panggilan itu dan terkejut ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Tuan, Ini saya Edo!" Ucap Edo terburu-buru.
"Edo, dimana kau? Kenapa kau tidak bisa di hubungi?" Pekik Fajri.
"Saya tertangkap, Tuan! kirimkan bantuan, saya berada 5 km dari gedung perusahaan!" Ucap Edo Lirih.
"Iya, Saya akan kirimkan orang! Atau kau bisa pergi ke apartemenku di sana! Bagaimana keadaan kau sekarang?" Tanya Fajri.
"Catat kode ini Tuan, Semoga gadis itu masih membawa kopernya!" Ucap Edo lirih.
"Sebutkan!" Ucap Fajri.
Edo menyebutkan 16 digit kode GPS yang tertancap pada koper Chelsea. Hingga nomor terakhir di sebutkan tidak terdengar lagi suara Edo dari balik panggilan itu.
__ADS_1
"Edo? Halo Edo? Apa kau masih di sana?" Panggil Fajri.
"Coba cocokkan, Ji!" Ucap Ray.
Fajri langsung memasukkan kode itu hingga mereka menemukan titik berwarna hijau berdempetan dengan titik milik Ivanna.
"Ternyata Ivanna memang sudah mengaktifkan GPS nya!" Ucap Fajri terkejut.
"Lebih baik kamu segera menghubungi pemerintah Rusia untuk membantu penangkapan ini, Ji!" Titah Ray.
"Itu tidak mungkin, Om. Pasti akan terjadi pertumpahan darah di sana! Aku tidak akan bisa menahan diri untuk melepaskan mereka!" Ucap Fajri dengan begitu bengis.
"Tapi kita juga tidak bisa gegabah, Ji! Mereka bisa di hukum mati karena bermain di negara orang!" Ucap Ray.
"Apa yang di katakan oleh Tuan Ray benar, Tuan. Saya rasa memang kita harus meminta bantuan dari mereka agar tidak terlalu membuat kekacauan!" Ucap Joe.
"Iya, Aku setuju. Melihat kondisi Rusia yang tengah menghadapi konflik dengan negara sebelah, kita pasti akan menambah beban nanti. Kecuali, Lo meminta izin untuk melakukan sesuatu di sana!" Ucap Carenza.
Fajri terdiam, ia mengikuti saran dari semua orang untuk meminta izin melakukan sesuatu dengan menjelaskan semua masalah yang tengah di hadapi.
"Lakukanlah, asal jangan melibatkan warga sipil dan kami akan membantu untuk mendapatkan Adik anda kembali!" Ucap Juru Bicara kepresidenan.
"Baik, terima kasih, Tuan! Mungkin akan ada korban yang berjatuhan!" Ucap Fajri.
"Silahkan! Kami akan mengirim aparat keamanan untuk membantu!" Ucapnya lagi.
"Terima kasih!" Ucap Fajri.
Semua orang berbinar senang. Mereka segera mengatur strategi yang akan di gunakan untuk menjemput Ivanna pulang.
Fajri mengarahkan semua pasukan Aldebra untuk melakukan pengintaian dan persiapan untuk mengeksekusi dalang penculikan.
"Kenapa aku merasakan ini sangat mudah?" Tanya Carenza.
"Karena mereka bodoh!" Ucap Ray.
"Mereka tidak tau siapa lawan yang tengah dihadapi!" Ucap Joe tersenyum smirk.
"Tapi kita tidak bisa meremehkan mereka, mengingat semua cara penculikan Ivanna terjadi dengan begitu mulus!" Ucap Bryan.
"Iya, Kamu benar! Kita harus tetap waspada!" Ucap Fajri. "Lebih baik kita mulai mengatur semuanya sari sekarang. Lusa kita akan berangkat!" Sambungnya.
"Kenapa tidak sekarang?" Tanya Carenza tidak setuju.
"Za! Kau harus tenang. Jika kita pergi sekarang, badjingan itu tidak bisa kita tangkap dengan mudah!" Ucap Fajri.
"Lebih baik, Kamu ikuti saja rencana yang sudah kita buat! Lagian kamu juga butuh tenaga yang banyak jika memang ingin ikut!" Ucap Ray menepuk bahu Carenza.
"Baiklah!" Ucap Carenza pasrah.
Mereka membagi semua anggota yang akan ikut menjadi beberapa tim dengan fungsi masing-masing.
Carenza berjalan bersama dengan Joe, Atim bersama Bryan, Ray bersama tim yang lain, Dan Fajri juga berjalan bersama yang lain.
"Eza dan Uncle Joe, pergi mencari Ivanna, biar gua masuk dari depan! Om Ray habisin bagian kanan, Bryan dan Atim bagian kiri!" Ucap Fajri.
"Paham!" Ucap Mereka bersamaan.
Fajri selalu mengawasi pergerakan dua titik itu dengan seksama, agar tidak kehilangan barang sedetikpun.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Eh, aku ada rekomendasi bacaan lagi nih, mana tau teman-teman syuka π
__ADS_1
Yuk kunjungi ππ