IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Lagi dan Lagi


__ADS_3

Pagi menjelang, Carenza lebih dulu terbangun dan merasakan kebas di tangannya karena menjadi bantal untuk Ivanna semalaman.


Ia tersenyum bahagia melihat Ivanna kini tertidur dengan tenang di sampingnya. Tangan kekar Carenza terulur untung membelai kepala Ivanna dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Engh, Ayah peluk!" rengek Ivanna manja dan mengeratkan pelukannya.


Carenza tersenyum, dan memeluk Ivanna dengan erat sambil tersenyum.


Apa kamu masih tidur sama ayah dan bunda, sayang? Ah, anak ayah banget! Aku jadi penasaran bagaimana terkejutnya kamu ketika bangun tidur nanti!. Batin Carenza tersenyum.


Ia tak hentinya mengecup wajah cantik Ivanna hingga gadis itu terbangun. Sambil mengerjabkan mata menyesuaikan cahaya remang yang ada di kamar itu. .


"Ayah, dede masih ngantuk! Lima menit lagi ya!" Ucap Ivanna kembali memeluk Irfan.


Ia menggesekkan hidung di dada Carenza seperti kebiasaannya ketika bersama Irfan "Kok ayah gak pake baju?" Ucap Ivanna mendongak dan menatap wajah yang tidak asing.


"Morning, sayang!" Sapa Carenza tersenyum, lebih tepatnya ia tengah menahan tawa dan gemas.


Deg!


Ivanna melotot, air matanya langsung menggenang dan ia menangis.


"Hiks, kamu ngapain di sini? Ka-kamu gak pake baju, By! Hiks apa kita sudah melakukannya?" Tanya Ivanna menangis.


Carenza mengernyit, namun ia tersenyum jahil dan berniat untuk mengerjai Ivanna.


"Maaf, sayang! Kita sudah melakukannya. Tapi kamu tenang saja, aku akan bertanggung jawab! Tapi semalam kamu yang menggodaku, bahkan kamu begitu agresif!" Ucap Carenza penuh sesal.


"Hiks, hua! Apa yang harus aku jelaskan kepada keluargaku?" Ucap Ivanna semakin histeris. "Dan kamu gak akan lolos dari...," Ia terdiam dan menatap Carenza tajam ketika menyadari sesuatu.


Carenza gelagapan melihat tatapan Ivanna yang terasa begitu menusuk.


"Sa-sayang!" Panggil Carenza sedikit takut.


Wajah dingin Ivanna berangsur merona karena mengingat malam panas mereka. Carenza tersenyum jahil melihat wajah cantik istrinya begitu merah, ia tak tahan untuk menggoda Ivanna.


"Apa kamu sudah mengingatnya?" Tanya Carenza tersenyum smirk.


"Ja-jangan dibahas, By!" Ucap Ivanna begitu malu.


Ia berbalik memunggungi Carenza, namun ia terpekik ketika merasakkan perih pada bagian bawahnya.


"Sshh, sakit, By!" Ringis Ivanna.


Carenza segera menyibak selimut yang menutup tubuh istrinya. Ia melihat pangkal paha Ivanna masih terlihat memerah akibat perbuatannya semalam.


"Apa perlu aku panggilkan dokter, sayang?" tanya Carenza meringis.


"Sshh, Jangan, By! Coba tanya bunda saja!" Ucap Ivanna masih meringis.


Carenza segera mengambil ponselnya dan hendak menghubungi sang mertua. Namun pintu lebih dulu diketuk, ia berjalan sambil menggunakan bathrobenya dan membuka pintu.


"Morning, pengantin baru!" Sapa Fajira dan Safira berdiri di depan pintu.


"Eh, morning juga Bunda, kakak?" Ucap Carenza sedikit malu.

__ADS_1


"Gimana, berhasil gak?" Tanya Fajira usil.


"Hmm, berhasil, Bunda!" Ucao Carenza dengan wajah yang merona sambil menggaruk tengkuknya.


"Pasti kamu nyari salep atau sesuatu 'kan?" Tanya Safira menahan senyumnya.


"Iya, kak!" Ucap Carenza malu.


"Pasti punya Ivanna lecet atau kemerahan?" Tanya Safira lagi sambil terkekeh.


"Iya, Apa kakak punya obatnya?" Tanya Carenza yang sudah kehilangan urat malu.


"Hahaha, Gak ada obatnya, Za. Kamu cuma perlu melakukannya sesering mungkin, biar sakitnya cepat hilang!" ucap Safira yang ikut merona.


"Hus!" Serah Fajira yang juga ikut terkekeh. "Ini koper kalian, nanti sarapan bunda antar ke sini saja. Kalau pertama kali memang sakit, nanti sembuh sendiri!" Ucap Fajira tersenyum.


"Jadi, gak ada obatnya, bunda?" Tanyaa Carenza khawatir.


"Istrimu gak pendarahan 'kan?" Tanya Fajira.


"Gak, Bunda!" Ucap Carenza.


"Gak papa itu, istirahat saja dulu. Bantu Nana ya, Za!" Ucap Fajira tersenyum.


"Iya, Bunda. Terima kasih!" Ucap Carenza tersenyum.


"Hihi, kamu gak ganas kan, Za? Apa Nana menjerit?" Tanya Safira tertawa.


"Cih, hampir saja gak jadi, karena cerita kamu yang merasa seperti digigit harimau!" Ucap Carenza mendelik.


"Hus, udah. Gak boleh cerita seperti itu di sini! Istirahatlah, Bunda dan kakak mau ke bawah dulu! Ayah gak tenang semalaman karna mikirin anak gadisnya bakalan di perawani!" Ucap Fajira terkekeh.


Carenza segera menutup pintu ketika melihat dua wanita cantik itu memasuki lift. Ia tersenyum menatap Ivanna yang kembali terlelap dengan wajah yang masih terlihat pucat.


"Kasihan istriku!" ucap Carenza kembali menyelimuti Ivanna dan mengecup bibir cerynya yang terasa begitu manis dan selalu memanggil untuk dikecup.


Namun ia kebablasan, ketika hasrat itu kembali menguasai dirinya. Carenza kembali menyibak selimut yang menutupi tubuh Ivanna dan menindih istri cantiknya itu.


"Sayang, bangun!" Ucap Carenza dengan suara yang berat.


ia mengecup leher jenjang Ivanna dan mulai memainkan gundukan kenyal yang begitu nikmat untuk dimainkan.


Hingga Ivanna menggeliat ketika merasakan sesuatu yang mengusik tidurnya. Ia menatap Carenza sedang memaikan bukit kembarnya dengan begitu bergairaah.


"Engh, By!" Ucap Ivanna dengan mata yang terpejam meraskaan sensasi nikmat yang di berikan oleh Carenza.


"Maaf, sayang. Apa kamu terganggu?" Ucap Carenza menatap Ivanna dengan mata sayunya.


Astaga, by! kamu masih bertanya aku terganggu? Sangat malah, tapi ini begitu nikmat! Bagaimana kalau kamu memasuki aku lagi? Ini masih terasa sakit dan perih!. Batin Ivanna meringis.


"Sayang?" Panggil Carenza ketika mendapati Ivanna hanya terdiam.


"Punyaku masih terasa sakit, By!" Ucap Ivanna lirih.


"Kata kakak harus sering-sering biar gak sakit lagi, sayang!" Ucap Carenza modus.

__ADS_1


Ia sudah tidak tahan, karena adiknya sudah berdiri tegak menjulang di bawah sana. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ivanna.


Sementara wanita cantik itu merasakan nafas Carenza yang menderu dan sesuatu yang mengeras pangkal pahanya. Ia mengelus kepala Carenza dengan lembut. "Lakukanlah, By! Aku milikmu, tapi pelan-pelan, ya!" Ucap Ivanna lirih.


"Tapi, kamu masih kesakitan, sayang!" Ucap Carenza semakin lirih.


"Coba saja dulu!" Ucap Ivanna.


Carenza mengangkat kepalanya dan menatap Ivanna lekat. Pandangan mata mereka terkunci seolah saling mengungkapkan cinta masing-masing melalui tatapan.


Carenza kembali memulai permainannya dengan menggunakan gaya baru yang membuat Ivanna semakin memekik penuh kenikmatan. Mereka memejamkan mata merasakan semua sensasi dan kenikmatan yang mengalir begitu saja di setiap sentuhan.


Ivanna semakin dibuat gila oleh permainan Carenza. Apa lagi ketika tangannya meraba tubuh liat dan kekar itu.


Tak ingin merasa kalah, Ivanna juga memberikan kecupan dan tanda kepemilikannya di tubuh Carenza dan membuat pria tampan itu semakin dimabuk kepayang.


"Engh, akhh! Sayang, kamu nakal, ya!" Lenguuh Carenza sambil tersenyum.


"Hmm, By. Aku sudah gak tahan!" ucap Ivanna sambil mendesaah pelan.


Carenza segera mengambil alih permainan, ia bermain di atas tubuh Ivanna dengan lembut dan mengutamakan kenyamanan Ivanna, walaupun ia ingin memacu lebih cepat lagi.


Cukup lama merek bermain, hingga mereka mencapai puncak kenikmatan bersamaan. Carenza melenguuh kuat dan tergeletak di atas tubuh Ivanna dengan nafas yang tidak beraturan.


"Sayang?" Panggil Carenza.


"Hmm, cabut, By. Nanti, adikmu bangun lagi. Aku belum kuat!" Ucap Ivanna lirih dengan tubuh yang gemeteran.


"Iya, sayang!" Ucap Carenza mencabut adiknya yang sudah tergolek lemas.


"Lansung mandi, ya! Habis ini kita sarapan, sayang!" Ucap Carenza.


"Iya, By!" Ucap Ivanna lirih.


Carenza segera menggendong Ivanna menuju kamar mandi, hanya mandi saja. Namun Carenza tidak habis akal untuk mengerjai Ivanna dengan berbagai macam hal.


Bahkan tanpa malu, Carenza meminta Ivanna untuk membelai adiknya yang masih tertidur.


"Kok kecil, By? Tadi rasanya besar banget!" tanya Ivanna dengan wajah yang sangat merah.


"Karena dia lagi tidur, sayang. Nanti kalau bangun lagi, kamu boleh lihat kok!" Ucap Carenza terkekeh.


"Ah, jangan bangun dulu! Aku mau sarapan dan istirahat, By! Boleh ya!" Ucap Ivanna memelas.


"Boleh, sayang!" Ucap Carenza tersenyum bahagia.


Carenza segera menyelesaikan ritual mandi mereka dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Namun ia cukup meringis ketika melihat Ivanna yang masih meringis kesakitan.


Ia menggendong Ivanna keluar dari kamar mandi dan mendudukannya dengan lembut di atas tempat tidur. Ia mengambil pakaian ganti dan memakaikannya dengan telaten.


Ivanna merasa begitu tersanjung dengan perlakuan manis Carenza. walaupun ia merasa begitu malu, namun tidak ada salahnya, karena mereka sudah sah menjadi suami istri.


Mereka sarapan pada pukul 10 pagi dan kembali beristirahat dengan saling berpelukan dan tersenyum bahagia.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


Udah gais 🀣🀣


__ADS_2