
Fajri tersenyum lega ketika mendapatkan kabar dari Aldebra. Ia sudah memiliki rencana untuk menangkap bahkan membunuh mereka yang sudah berani bermain dengannya.
"Sebentar lagi, kita akan menjemput Ivanna!" Ucap Ray tersenyum.
"Iya, Om. Aji lega, mereka tidak akan menyakiti adik kecilku yang masih lemah. Tetapi, jika aku sampai mendapatkan sedikit luka saja, akan aku balas mereka berkali-kali lipat!" Ucap Fajri dengan tampang yang menyeramkan.
Hari sudah berganti, wajahnya begitu kusut karena belum menyentuh air semenjak kemarin. Bahkan ia juga belum makan karena mengingat sang adik yang entah berada dimana.
"Pulanglah terlebih dahulu, bersihkan dirimu dan pergi kerumah sakit!" Ucap Ray menepuk punggung Fajri.
"Apa itu tidak masalah, jika Aji meninggalkan Om sendiri?" Tanya Fajri.
"Tidak apa, pergilah!" Ucap Ray tersenyum.
Fajri memilih pulang ke rumah. Satu hal yang ia lupa, jika hari ini pemakaman Pak Sakti akan di langsungkan. Diantar oleh beberapa orang pengawal, Fajri hanya bisa menatap nanar kaca mobil dan melihat pemandangan yang membosankan, mungkin berbeda lagi jika ada Ivanna di sampingnya.
Tak lama mobil berhenti di halaman rumah. Ia melihat, jika jasad Pak Sakti akan disemayamkan di pemakaman keluarga Dirgantara.
"Tunggu! Apa saya masih boleh melihatnya untuk terakhir kali?" Tanya Fajri lirih.
"Tentu tuan! Silahkan!" Ucap Petugas yang hendak menutup peti mati.
Fajri mendekat, matanya berkaca-kaca mengingat semua kebaikan dan kasih sayang yang diberikan oleh Pak Sakti kepadanya dan Ivanna.
Bapak yang tenang di sana! Aji sayang bapak, seperti Aji menyayangi Ayah! Terima kasih untuk semua kasih sayang yang telah Bapak berikan. Maaf karena tangan orang yang tidak bertanggung jawab itu bapak menjadi korban!. Batin Fajri merasa begitu sedih
Tanpa terasa air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Tidak ada satupun keluarga Dirgantara yang mengantar kepergian pria paruh baya itu. Hanya ada beberapa art dan penjaga yang lainnya.
Hingga peti tertutup dengan erat, mereka segera berangkat menuju pemakaman keluarga yang berada tak jauh dari sana.
Tidak ada lagi senyum di wajah Fajri, Ia hanya terdia menatap peti mati itu dengaan nanar dan penuh dendam.
Persetan dengan semuanya! Aku harus mendapatkan Ivanna kembali secepatnya!. Batin Fajri.
Ia melihat anak-anak Pak Sakti menangis, terdengar sangat pilu dan menyayat hati bagi siapapun. Fajri berusaha untuk menahan tangisnya ketika bayangan kasih sayang Pak Sakti kembali terlintas di fikirannya.
"Tuan muda begitu cerdas, Bapak bangga bisa menemani Tuan selalu!" Ucap Pak Sakti dengan wajah bahagianya.
"Wah, Tuan Muda bapak mendukung keputusan Tuan. Tapi, jangan bilang-bilang kepada tuan Irfan!"
"Aduh, tuan muda! Kenapa anda begitu mengemaskan, bahkan ketika sudah memiliki anak dan istri!"
"Hiduplah dengan bahagia, Tuan! Baapak sudah tua, tidak mungkin menemani Tuan dan Nona pergi kemana-mana lagi. Tetapi, bapak akan tinggal di sini mungkin mengerjakan hal yang lain, agar bisa melihat Tuan dan Nona muda terus!" Ucapnya beberapa hari sebelum bencana ini terjadi.
Air mata Fajri kembali menetes, Pak Sakti hanya sosok seorang supir yang begitu ia sayangi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Irfan yang pergi meninggalkannya.
Ya tuhan, Sehatkan ayah dan bunda, biar bisa menemaniku selalu! Selamat kan juga adikku!. Batin Fajri.
Pak Sakti telah di kuburkan dan semua orang sudah pergi dari sana, kembali ke rumah. Fajri berjongkok di depan makam itu dan mengusap nisan yang menjadi penanda disana.
"Yang tenang di sana, Pak! Terima kasih atas semua pengorbanan dan perjuangan bapak untuk kami. Aji mewakili keluarga, mohon maaf yang sebesar-besarnya! Aji pamit, Pak!" Ucap Fajri.
Ia berjalan perlahan meninggalkan area pemakaman itu dengan kawalan yang cukup ketat menuju rumah.
__ADS_1
Fajri begitu iba melihat anak dan cucu pak Sakti yang masih menangis di ruang tamu mengingat kepergian sang tulang punggung.
"Bik?" Panggil Fajri.
"Iya, Tuan?" Jawab Bibik.
"Apa mereka sudah makan?" Tanya Fajri.
"Belum, Tuan!"
"Masaklah, lebihkan juga untuk saya bawa ke rumah sakit dan ke markas nanti!" Ucap Fajri.
"Baik, Tuan!
" Saya ingin beristirahat sebentar, jangan biarkan mereka pergi sebelum saya bangun!" Ucap Fajri.
"Baik, tuan. Nanti akan saya sampaikan!" Ucap Bibik.
Fajri melangkah menuju kamarnya. Hanya ada keheningan yang menemani setiap langkahnya.
Ia meraih ponsel, menghubungi Safira dan anak-anaknya melalui panggilan Vidio. Lama dering ponsel berbunyi, hingga suara merdu nanti lembut membelai telinganya.
"Hai, sayang?" Sapa Safira dari balik ponsel sambil tersenyum.
"Hai, Bagaimana keadaan kalian di sana?" Tanya Fajri lirih.
"Kami baik dan aman! Bagaimana perkembangannya? Apa Ivanna sudah di temukan?" Tanya Safira lirih.
"Semoga secepatnya kita bisa berkumpul lagi! Ayah dan bunda bagaimana?" Tanya Safira lembut namun tidak bisa di bohongi, jika wajahnya sangat khawatir.
"Ayah dan bunda baik-baik saja. Ayah hanya butuh istirahat, sayang. Sementara Eza, dia belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman!" Ucap Fajri lirih.
"Jangan menyerah, Sayang. Kita pasti bisa melalui ini dengan baik. Hmm, Sayang, bagaimana kalau baby Boy Ivanna di bawa kesini? kasihan dia gak bisa minum susu formula! Kalau dia ada di sini, masih bisa minum asi dariku!" Ucap Safira.
"Huft, nanti aku atur sayang! Tapi kamu gak keberatan, kan?" Tanya Fajri.
"Sayang, kalau aku keberatan, mungkin aku gak akan mau untuk memopa asi untuk keponakanku yang tampan itu!" Ucap Safira menggeleng.
"Terima kasih, sayang! Aku merindukan kalian!" Ucap Fajri berkaca-kaca.
"Kami juga merindukan Daddy!" Ucap Safira juga ikut berkaca-kaca. "Aku gak akan bisa menjelaskan kepada bocil kembar jika tau tentang msalah ini!" sambungnya.
"Jangan di bahas, Sayang! Nanti aku hubungi lagi. Aku mau istirahat sebentar sebelum pergi ke rumah sakit!" Ucap Fajri tersenyum.
"Iya, Istirahatlah, Aku temani!" Ucap Safira tersenyum.
Fajri meletakkan ponselnya dengan baik agar Safira bisa menatap wajah tampannya dari jauh. Tak butuh waktu lama, Ia terlelap dengan dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.
Safira tetap menunggu hingga Fajri kembali terbangun setelah hampir setengah jam ia tertidur.
πΊπΊ
Fajri menatap wajah pucat Carenza yang terdapat bekas luka karena serpihan kaca. Ia hanya bisa menghela nafasnya yang terasa begitu berat.
__ADS_1
"Za, Lo gak mau bangun? Bantu gua untuk jemput Ivanna, Za! Kenapa lo tiba-tiba lemah seperti ini? Apa lo ingin gua mencarikan Ivanna suami baru? Bangunlah, Za! Ivanna di culik, apa lo tidak ingin menyelamatkannya?" ucap Fajri tegas.
Carenza hanya terdiam tanpa ada pergerakan. Fajri memutar otaknya, ia kembali mengingat pesan dokter untuk terus merangsang Carenza agar ia bisa segera sadar dari tidur panjangnya.
"Lo tau, Ivanna diculik, Za. Dan Bryan sedang berusaha untuk menolongnya. Jika lo tidak segera bangun, jangan salahkan kalau gua menyetujui mereka untuk menikah!" Ucap Fajri.
Mata Carenza perlahan terbuka dan langsung menatap Fajri dengan tajam. Mengangkat tangannya dengan perlahan dan mengacungkan jari tengahnya kepada Fajri.
"Gu-a, gak akan membiarkan itu!" Ucap Carenza lirih dan terbata.
Fajri berbinar ketika melihat pergerakan Carenza. Ia langsung mengecup kening sang adik ipar dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Carenza.
"Ah, syukurlah lo bangun!" Ucap Fajri bernafas lega.
"Najis, Lo!" Ucap Carenza mengumpat.
"Apa? Lo mau apa? Ivanna diculik, lo masalah enak-enakan tidur, laki macam apa lo?" Ucap Fajri mengejek.
Deg!
Carenza melotot menatap Fajri dengan rasa yang tidak percaya. "Jangan bercanda, lo!" Ucap Carenza.
"Lo pikir gua bercanda? Kemarin, dia diculik setelah melahirkan!" Pekik Fajri.
Duar!
"Me-melahirkan?" Tanya Carenza dengan air mata yang menggenang.
"Iya! Bangunlah, gua akan mencari Ivanna besok. Lo cukup di sini dan sembuh!" Ucap Fajri lirih.
"Gua ikut!" Ucap Carenza berusaha untuk bangkit. "Akh!" Ringisnya ketika merasakan sakit pasca operasi.
"Tenanglah! Lo habis operasi. Besok gua akan pergi, jangan nakal selama di sini atau Ivanna bakalan gua nikahkan dengan Bryan!" Ucap Fajri tegas.
"Gak, bisa! Pokoknya gua ikut!" Ucap Carenza tak kalah tegas.
Fajri mengalah, ia melihat seorang dokter dan dua orang perawat tengah berdiri di dekat pintu tanpa bisa menginterupsi dua pria tampan ini.
"Silahkan periksa dokter. Tolong beri obat agar dia bisa tertidur sampai besok!" Ucap Fajri tersenyum tipis.
"Jangan! Jangan anda lakukan itu atau saya akan tutup rumah sakit ini!" Ucap Carenza berusaha untuk bangkit.
"Sudah, diam lo!" Ucap Fajri.
Sementara dokter dan dua orang perawat itu hanya menggelehg melihat tingkat mereka. Setelah diperiksa, Carenza bisa langsung di pindahkan keruangan VVIP dan bergabung bersama yang lain.
Wajah dua pria tampan itu sangat tidak tenang mengingat Ivanna yang berada jauh dari mereka.
Tunggu aku sayang. Aku sudah sadar, dan akan menjemput kamu!. Batin Carenza tanpa menghiraukan sakit yang ia rasakan.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1