IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Tanggung Jawab


__ADS_3

"Nenek, jadi Mommy sudah melahirkan? Apa boleh Lala melihatnya?" ucap Nayla berbinar.


Berbeda dengan Naren yang terlihat cemas dengan keadaan sangat ibunda.


"Apa Mommy baik-baik saja, Nek?" Tanya Naren lirih.


"Iya, Mommy baru saja melahirkan, mereka sehat dan adiknya laki-laki!" Ucap Ibu Alifa tersenyum.


Ia begitu gemas dengan bocil kembar yang sangat pintar ini.


"Apa Lala juga tidak boleh melihat dede bayinya?" Tanya Nayla sedih.


"Nanti kita tanya Oma dulu ya, sayang!" Ucap Ibu tersenyum dan menngecup pipi mereka bergantian.


"Hihi, Nenek kok masih cantik, seperti Oma!" Ucap Neren tersenyum.


"Wah, Abang manis banget, sih! terima kasih," Ucap Ibu sedikit merona mendengarkan pujian dari pria kecil nan tampan ini.


"Naren!" Panggil Nayla tidak suka.


Sementara yang dipanggil hanya tersenyum. "Lala memang seperti itu, Nek!" ucap Naren berbisik kepada Ibu dengan sedikit keras dan membuat Nayla semakin kesal.


"Naren, nakal ya. sudah membuat Lala kesal!" Ucap Nayla mendelik.


"Haha, Lala cantik, imut, baik hati dan adik paling mengemaskan!" Ucap Naren dengan memasang wajah berbinar. "Hmm, apa lagi ya?" Tanyanya sambil berpikir.


Sementara Nayla hanya merona senang mendengarkan itu. Walaupun ia tau ucapan Naren hanya dibuat-buat agar ia tidak marah, namun itu cukup membuatnya senang.


"Jangan gitu lagi! Untung Lala punya adik cowok, jadi Lala gak cepat tua karena Naren!" Ucap Nayla mengibaskan rambut panjangnya.


"Ah, iya. Tapi Naren yakin, kalau nanti dede yang ada di perut Nana perempuan dan akan mengalahkan kecantikan Nana yang paripurna itu!" Ucap Naren jahil.


Wajah Nayla kembali cemberut sambil menatap kearah Ivanna yang masih terlelap. Ia mendelik sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Ibu Alifa.


"Nenek, Lala cantik 'kan?" Tanya Nayla berbinar.


"Cantik dong, sayang!" Ucap Ibu tersenyum gemas.


"Naren dengar itu?" Ucap Nayla tersenyum penuh kemenangan.


"Iya!" Ucap Naren turun dari sofa dan naik ke atas ranjang untuk melihat keadaan Ivanna.


Ia menyelipkaan rambut Ivanna yang sedikit berantakan dan mengecup pipinya dengan lembut. Naren tersenyum, ia membangunkan Ivanna karena merasa begitu rindu.


"Bunda, bangun! Naren rindu!" Ucap Naren terdengar begitu manis.


Ia meletakkan kepalanya di ceruk leher Ivanna sambil mengusap kepala sangat aunty dengan lembut.


"Bunda? Naren rindu!" Ulangnya lagi.

__ADS_1


Ivanna mengerjab, ia merasakan hembusan nafas Naren membelai pipinya. Ia tersenyum dan mengelus kepala kecil milik


Naren dengan lembut.


"Apa, sayang?" Tanya Ivanna tersenyum.


"Hmm, Naren kangen sama, Bunda!" Ucap Naren manja dan menyelip antara Ivanna dan Carenza.


"Hati-hati perut, Bunda, sayang!" Ucap Ivanna sedikit memberi jarak agar Naren bisa tidur di dekatnya.


"Bunda tau kalau dedenya abang udah lahir?" Tanya Naren berbinar.


"Iyakah? Bunda belum tau, sayang. Laki-laki atau perempuan?" Tanya Ivanna antusias.


"Kata nenek laki-laki," Ucap Naren tersenyum. "Wah, sekarang adik abang sudah bertambah. Apa lagi, Bunda juga akan melahirkan seperti Mommy!" Ucapnya.


Nayla ikut merangkak dan berbaring di samping Carenza lalu memeluknya dan memejamkan mata.


"Berarti, sebagai anak tertua, abang harus bisa menjadi contoh yang baik, harus bisa menjaga adik-adik!" Ucap Ivanna lembut.


"Ah, Apa abang sanggup, Bunda?" Tanya Naren lirih.


"Apa abang mau melihat adik-adik berada dalam masalah atau dalam bahaya?" Tanya Ivanna tersenyum sambil mengelus kepala Naren.


"Gak mau! Naren sayang adik-adik!" Ucap Naren tegas.


"Kalau mau melindungi mereka, Abang harus belajar banyak hal dari kecil, sayang. Belajar di sekolah, bela diri, bisnis, hmm apa lagi ya?" ucap Ivanna.


"Pintar! abang boleh kok kalau mau manja-manja, tapi kalau ada yang menyakiti keluarga kita, Abang harus siap mengahadapi semua musuh!" Ucap Ivanna bersemangat.


"Huh, Jadi anak paling besar itu sulit ya, Bunda?" Tanya Naren.


"Gak sulit, Bang. Segala sesuatunya tentu butuh perjuangan, butuh pengorbanan. Lagian, abang belajar semua itu, untuk abang juga 'kan?" Tanya Ivanna yang.


"Iya, Bunda. Hanya saja abang belum siap!" Keluhnya.


Ivanna tersenyum dan mengecup pipi Naren dengan gemas.


"Abang harus bersiap dari sekarang. Dulu, Daddy dari kecil sudah belajar banyak hal, sayang. Mulai dari hal yang kecil hingga yang besar. Gak semuanya di dapat dengan instan. Sekarang, Naren bisa lihat bagaimana hebatnya Daddy?" Tanya Ivanna tersenyum.


Naren mengangguk. "Semua orang begitu segan dengan Daddy. Mereka bahkan rela bersujud untuk mendapatkan bantuan darinya. Apa Abang harus seperti itu, Bunda!" tanya Naren mengernyit.


"Tidak semua, sayang! Abang harus bisa menjadi orang yang di segani. Namun, Abang harus tetap rendah hati dan tidak boleh sombong!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, abang paham, Bunda!" Ucap Naren memeluk Ivanna dengan hati-hati. "Terima kasih, karena Bunda selalu mengingatkan abang!" Ucapnya tercekat.


"Sama-sama, sayang!" Ucap Ivanna tersenyum dan membalas pelukan Naren.


Ibu begitu terpesona melihat cara Ivanna mengajarkan apa itu tanggung jawab kepada anak kecil berusia 5 tahun dengan bagitu baik, sederhana, tegas, namun dipahami oleh pria kecil itu.

__ADS_1


Pantas saja mereka tidak pernah membeda-bedakan status orang lain. Pengajaran keluarga ini memang begitu bagus!. Batin Ibu tersenyum.


Ia masih asik menonton televisi dan melihat berita terbaru, yaitu pewaris Dirgantara grub selanjutnya yang sudah lahir. Sementara Ivanna dan Naren melanjutkan obrolan seputar kakak dan abang itu.


🌺🌺


Dirumah sakit, baby boy Fajri sudah berada di dalam box bayi yang ada di ruang khusus bayi. Ia terlihat begitu mengemaskan dengan hidung mancung, bibir mungil kulit putih bersih dan bibir yang merah merona.


"Baby boy lebih mirip Safira!" Ucap Fajira berbinar.


"Ia, cucu kita lebih mirip Safira waktu Bayi, aku tidak sabar untuk menggendongnya!" Ucap Hersy begitu senang.


"Keluarga Nyonya Safira!" Panggil perawat.


"Iya, kami orang tuanya!" Ucap Hersy tersenyum.


"Eh, maaf Nyonya saya tidak menyadari anda!" Ucapnya terkejut.


"Gak papa! Bagimana keadaan menantu saya?" Tanya Fajira tersenyum.


"Nyonya Safira sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap, Nyonya!" Ucap perawat itu ramah.


"Terima kasih!" Ucap Fajira tersenyum.


Safira segera dipindahkan menuju ruang rawat inap. Matanya berkaca-kaca ketika mengingat betapa sakitnya ketika hendak melahirkan. Apa lagi melihat Fajira dan Hersy, air matanya tidak bisa lagi tertahan.


"Mama?" sapa Safira.


"Hai, sayang. Selamat atas kelahiran baaby boy nya!" Ucap Mama Hersy yang tidak bisa menahan air matanya.


"Hiks, Mas Fajri masangin aku steril!" Ucap Safira lirih dan menangis.


"Gak Papa, sayang! Kamu udah punya anak tiga!" Ucap Fajira mengernyit.


"Hiks, aku mau satu lagi, Ma. Mumpung keturunanku bagus-bagus!" Ucap Safira lirih.


"Astaga, sayang. Jangan seperti itu!" Ucap Fajira tersenyum.


Walaupun di dalam hati ia begitu ingin tertawa mendengarkan ucapan sang menantu yang sudah memikirkan anak lagi, padahal ia baru saja melahirkan.


"Nanti kita bahas lagi, ya!" Ucap Mama Hersy tersenyum.


Mereka segera pergi menuju kamar VVIP dimana Fajri tertidur di sana karena masih merasa lemas.


Wajah berbinar mereka tidak bisa lagi disembunyikan ketika baby boy yang tampan dan tenang itu diletakkan di dalam box bayi.


"Kamu akan menjadi idola baru ketika besar nanti, Nak!" Ucap Fajira berbinar.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2