IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Terapi


__ADS_3

Di dalam mobil, Ivanna dan Carenza terkekeh mendengar cerita Noah yang begitu lucu.


"Hahaha, astaga sayang. Aku gak tau Putra kita bakalan jadi apa nanti kalau sudah besar!" Ucap Carenza terkekeh.


"Biarkan Noah memilih apa pun yang dia inginkan, Be! Kita hanya perlu mengawasi dan membimbingnya!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, dia sudah besar sayang. Tanpa terasa nanti akan dewasa dan membangun keluarga sendiri!" Ucap Carenza dengan mata yang berembun.


"Ya, tidak secepat itu juga, Be!" Ucap Ivanna menggeleng.


"Ah, aku tidak sabar untuk menunggu wajah bahagia Noah ketika mendapatkan adik perempuan!" Ucap Carenza tersenyum genit.


"Iya, yang penting kamu sembuh dulu, semoga kali ini kamu sudah bisa berjalan!" Ucap Ivanna bersandar dengan manja di dada sang suami.


"Ah, semoga saja, Sayang!" Ucap Carenza penuh harap.


Perlahan mobil berhenti di rumah sakit Dirgantara. Mereka segera pergi menuju dokter syaraf untuk memeriksa keadaan Carenza.


"Semuanya sudah bagus, hanya perlu pembiasan saja lagi. Namun ada beberapa syaraf yang akan sulit untuk disembuhkan!" Ucap Dokter syaraf itu.


"Syukurlah! Tidak apa dokter, yang penting saya sudah bisa berjalan kembali," Ucap Carenza tersenyum senang.


"Bagaimana dengan terapinya Dokter?" Tanya Ivanna.


"Nanti bicarakan saja dengan terapis, Nona! Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" Ucap Dokter.


"Terima kasih!" Ucap Ivanna dan Carenza.


Dokter itu berlalu setelah menjawab ucapan mereka. Seulas senyum terukir indah di antara pasangan bucin itu.


Carenza meraih wajah cantik Ivanna dan mengecup bibirnya dengan lembut. Semenjak ada Noah, mereka sedikit membatasi diri untuk bermesraan dihadapan sang anak. Mumpung lagi sepi, tidak ada salahnya untuk saling meraup manisnya madu.


Ivanna melepaskan pagutan itu dengan perlahan, wajahnya merona karena mendapatkan serangan mendadak dari Carenza.


"Ini di rumah sakit, Be. Bagaimana kalau ada yang melihat?" Ucap Ivanna lirih.


"Maaf sayang. Aku gak bisa menahannya!" Ucap Carenza tersenyum nakal dan terlihat begitu tampan.


"Jangan memasang wajah seperti itu! Nanti aku khilaf," Ucap Ivanna mengusap wajah Carenza dengan kasar.


Carenza hanya terkekeh dan mengusap rambut Ivanna dengan lembut. Sambil bercerita tentang masa depan anak-anak nanti, mereka berpelukan dan saling menggombal satu sama lain.


Hingga ahli terapi datang dan segera memeriksa keadaan Carenza, agar bisa menjalankan terapi yang kesekian kalinya.


"Apa sudah siap, Tuan?" Tanya Bapak Roni.


"Sudah, Pak!" Ucap Carenza tersenyum.


Roni membantu Carenza untuk berdiri dari kursi roda sambil memapah punggung Hot Daddy itu.


"Sshh," Ringis Carenza ketika merasakan ngilu pada kaki dan menjalar kepunggungnya.


"Area you okey, Baby?" Tanya Ivanna khawatir.


"Okey, sayang!" Jawab Carenza berusaha untuk berdiri dengan stabil tanpa berpegangan.


"Jangan di paksa!" Ucap Ivanna meringis.

__ADS_1


"Aku bisa sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


Ivanna membentangkan tangan, berjaga-jaga jika Carenza jatuh sewaktu-waktu.


"Stabilkan dulu Tuan!" Ucap Roni.


Dengan peluh yang mulai bercucuran Carenza mencoba untuk berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya.


"Coba melangkah secara perlahan, Tuan!" Ucap Roni.


"Sepertinya, saya harus berpegangan!" Ucap Carenza yang masih belum berani untuk berjalan sendiri.


"Sini, pegang tanganku!" Ucap Ivanna tersenyum dan menggenggam tangan Carenza dengan erat.


Perlahan, pria tampan itu menggerakkan kakinya dan mulai melangkah. Ini sudah sering ia lakukan, namun hanya bertahan dua sampai tiga langka saja.


Aku harus bisa, demi adik untuk Noah!. Batin Carenza bersemangat.


Satu langkah, dua langkah sampai lima langkah. Carenza meminta untuk melepaskan pegangan tangannya dengan perlahan.


"Hati-hati, Be! Jangan di paksa!" Ucap Ivanna khawatir.


"Aku bisa sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


Tak, tak, tak!


Beberapa langkah bisa diayunkan olehnya dan membuat terapis itu tersenyum melihat kemajuan Carenza.


"Coba berbalik, tuan!" Ucap Roni tersenyum.


"Be, istirahat dulu ya! Nanti di coba lagi!" Ucap Ivanna semakin khawatir melihat peluh Carenza yang menetes begitu banyak.


"Sebentar lagi sayang, Aku bisa!" Ucap Carenza.


Ia berusaha untuk memutar badannya dengan perlahan.


Greb!


Carenza berhasil dan membuat air mata Ivanna tidak lagi bisa utuk ditahan. "Be?" Ucapnya Lirih.


"Aku bisa sayang. Tunggu aku di sana!" Ucap Carenza mulai melangkah.


Satu, dua, hingga delapan langkah, berhasil dilaluinya. Carenza bisa memeluk Ivanna dengan mata yang terasa panas karena merasakan sesuatu yang menyeruak keluar.


"Aku bisa sayang, aku bisa!" Ucap Carenza memeluk Ivanna dengan erat sambil terisak.


Begitu juga dengan Ivanna, ia sudah menangis melihat perjuangan Carenza yang begitu gigih untuk sembuh.


"Hiks, Jangan di paksa, Be! Aku gak bisa melihat kamu kesakitan seperti itu?" Ucap Ivanna tersedu.


"Gak sakit sayang, Aku gak papa!" Ucap Carenza berdiri di hadapan Ivanna dan menghapus air mata sang istri dengan lembut.


"Hiks, duduk dulu!" Ucap Ivanna masih tersedu.


Sementara Roni terdiam melihat pemandangan langka itu. Apa benar nona muda menangis di depan saya? Apa ini benar-benar terjadi? Astaga, saya begitu beruntung!. Batinnya terdiam.


Ivanna membantu Carenza untuk kembali duduk diatas kursi roda. Mereka tersenyum satu sama lain

__ADS_1


"Jadi bagaimana Pak?" Tanya Carenza tersenyum.


"Coba juga berjalan dengan perlahan menggunakan tongkat, Tuan! Kondisi Anda sudah lebih baik dari sebelumnya. Saya yakin, sebentar lagi anda akan bisa berjalan normal. Dengan catatan, belum boleh berlari dan berjalan cepat!" Ucap Roni tersenyum.


"Terima kasih, Pak! Saya akan mengingat semua pesan anda!" Ucap Carenza tersenyum.


Mereka berbincang sedikit sebelum pulang. Ivanna meminta sepasang tongkat untuk dibawa ke rumah, agar Carenza bisa melatih diri untuk berjalan ketika berada di rumah nanti.


"Sayang, Aku ingin memberikan kejutan kepada Noah!" Ucap Carenza berbinar senang.


"Baiklah, tapi belum boleh menggendongnya!" Ucap Ivanna tegas.


"Iya sayang," Ucap Carenza tersenyum.


Ivanna segera menelfon orang rumah dan meminta Noah untuk berdiri di depan pintu menyambut kedatangan mereka nanti.


"Aku tidak terlalu berekspetasi dengan respon putra kita!" Ucap Carenza.


"Haha, Maaf ya, sifatku begitu menurun kepada Noah!" Ucap Ivanna terkekeh.


Carenza hanya bisa tertawa melihat tingkah anak dan istrinya yang begitu unik. Mobil terus melaju membelah jalanan siang hari yang terasa begitu panas.


Namun berbeda dengan pasangan bucin itu. Mereka sudah sangat tidak sabar untuk segera sampai kerumah.


Ciit!


Tak lama, mobil berhenti di halaman dengan selamat. Ivanna dan Carenza segera turun dari mobil dan berhenti di depan pintu.


Pria tampan itu mencoba untuk berdiri dengan tegap dan tersenyum, sementara Ivanna membuka pintu dengan perlahan.


Ceklek!


Pintu terbuka, pandangan Carenza langsung bertemu dengan sang Putra. Noah berdiri dan terkejut ketika melihat Carenza sudah berdiri dengan gagah di depan matanya.


"Ayah?" Ucap Noah berkaca-kaca dan langsung berlari mengejar Carenza.


Ia berhenti dihadapan sang ayah dan memperhatikan kaki panjang itu dengan seksama. Perlahan air matanya menetes tanpa bisa di cegah.


"Hiks, apa ini Ayah? Ayahku?" Tanya Noah menangis.


"Iya sayang, Ini Ayah," Ucap Carenza tersenyum. "Tapi ayah belum bisa menggendong Aa'," ucap Carenza lirih.


"Hiks, ayah bisa jalan! Ayah sudah bisa jalan lagi!" Ucap Noah memeluk kaki Carenza dengan begitu erat dan membuat pria tampan itu sedikit terhuyung.


Beruntung Ivanna langsung memegang tangan Carenza, sehingga ia masih bisa berdiri dan menahan pelukan dari Noah.


"Sayang, Ayah belum kuat berdiri lama-lama! Biar Ayah duduk dulu, ya!" Ucap Ivanna menggendong Noah.


"Hiks, iya Bunda!" Ucap Noah masih tersedu menatap sang Ayah.


Carenza kembali duduk diatas kursi roda dan memangku Noah. "Jangan nangis lagi, Ayah hanya butuh latihan biar bisa kuat menggendong Aa'. Kita akan pergi kemana-mana dengan bebas dan tidak terhalang kursi roda lagi!" Ucap Carenza tersenyum.


"Hiks, iya ayah!" Ucap Noah memeluk Carenza dengan begitu erat.


Semua orang terharu melihat kesembuhan Carenza yang sebentar lagi akan kembali berjalan dengan normal. Siang itu penuh dengan haru dan kebahagiaan, menghangatkan rumah mewah yang selalu ramai itu.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2