
Kerja keras Ivanna semenjak menggantikan Irfan berbuah manis. Semua bisnis yang ia kembangkan cukup memberi dampak yang begitu signifikan dalam kemajuan usahanya.
Harga saham yang meningkat dengan pesat, bahkan perusahaan Angkasapura kini sudah mulai beroperasi kembali dengan mengandalkan karyawan kepercayaan dari Dirgantara grub sendiri.
Dalam beberapa bulan ini, nama Ivanna naik dari peringkat terbawah, menjadi peringkat 50 dunia, dimana sebentar lagi ia bisa menyusul Fajri yang sudah berada di angka 10 dalam bidang bisnis.
Mata Ivanna berkaca-kaca ketika melihat namanya bersinar dengan terang. Dan yang pasti, ia semakin menjadi bahan perbincangan hampir diseluruh dunia.
"Cie, yang sudah naik peringkat!" Ucap Fajri mengelus kepala Ivanna sambil tersenyum bangga.
Mereka tengah berada di ruang komputer untuk melihat rangking Ivanna.
"Ah, dede hanya meneruskan perusahaan dan perjuangan Ayah, bang!" Ucap Ivanna memeluk Fajri dari samping.
"Bukan, sayang!" Ucap Irfan yang datang dengan senyuman manis penuh kebanggaan. "Semua pencapaian Dirgantara grub hingga hari ini adalah hasil kerja keras dede, kerja keras kita!" sambungnya membuat air mata Ivanna menetes.
"Hiks, kalau bukan karena Ayah dan Abang, Dede gak akan bisa sampai di sini!" Uca Ivanna sesegukan.
"Sstt, udah jangan nangis, sayang! Hari ini, dunia mengakui kehebatanmu! Jangan pernah takut kepada siapapun, setinggi apapun jabatannya, se hebat apapun mereka, yang jelas Dede harus tetap menjadi diri sendiri dan memberikan hasil terbaik untuk kita semua!" Ucap Fajri menatap Ivanna dengan serius.
"Iya, abang benar! Dede sayang abang!" Ucap Ivanna tercekat.
"Abang lebih sayang kamu!" Ucap Fajri kembali memeluk Ivanna.
"Ah, ayah jadi lega. Melihat Abang dan Dede yang selalu akrab dan saling menyayangi seperti ini. Ayah merasa, tidak membutuhkan apapun lagi, selain melihat kalian hidup dengan baik!" Ucap Irfan memeluk ke dua anaknya.
Tring!
Ponsel Ivanna berdering. Ia tidak menghiraukan benda pipih itu karena masih merasakan kehangatan dan kenyamanan dari dua orang lelakinya.
"Ponsel Dede, tadi berbunyi, sayang!" Ucap Irfan meregangkan pelukannya.
Ivanna segera melihat ponselnya. Ia begitu terkejut membaca pesan dari Pandu sangat asisten.
π© From Pak Pandu.
"Selamat pagi, Nona! Maaf mengganggu waktu cuti anda! Saya hanya ingin menyampaikan kabar baik. Pihak panitia yang mengadakan Penghargaan Pebisnis Muda Asia Tenggara mengirimkan surat. Bahwasanya anda dan tuan Fajri masuk kedalam beberapa nominasi penghargaan untuk tahun ini. Saya ucapkan selamat, kepada Anda dan Tuan Fajri!" Tulis Pandu.
Ivanna melotot dan memukul sang abang sambil memperlihatkan pesan itu. Fajri dan Irfan tersenyum melihat ekspresi Ivanna yang masih sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
"Ciee! Kita bersaing nih, untuk mendapatkan penghargaan tertinggi itu! Ya walaupun dengan adik sendiri, abang gak mau mengalah untuk hal yang satu ini!" Ucap Fajri terkekeh.
"Hahaha, kita lihat saja nanti! Dede yakin, pasti dede akan membawa salah satu penghargaan itu pulang!" Ucap Ivanna tersenyum smirk.
"Secara sehat!" Ucap Fajri mengulurkan tangannya.
"Deal!" Ucap Ivanna membalas jabatan tangan Fajri.
Irfan hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya. Padahal seharusnya mereka bekerja di perusahaan masing-masing, namun adik kakak itu kompak untuk mengambil cuti dengan berbagai alasan.
Mereka melihat bagaimana perkembangan saham perusahaan dan apa yang tengah terjadi saat ini. Dengan serius menangani semua hal menyangkut Dirgantara grub, mulai dari harga saham, hacker yang mencoba untuk memblokade sistem keamanan ataupun penghianat-penghianat yang bersarang diperusahaan mereka.
"Ayah, Angkasapura ini mau kita jadikan seperti apa?" Tanya Ivanna melihat beberapa berkas dan laporan usaha dari Angkasapura.
__ADS_1
"Apa saja usaha mereka, sayang?" Tanya Irfan.
"Ada beberapa produk makanan instan, minuman beralkohol, soda, properti, sama rokok," Ucap Ivanna, sebentar matanya membola melihat usaha yang sangat beresiko untuk di kembangkan. "Ayah akan kaget melihat ini!" pekiknya.
Irfan dan Fajri segera melihat komputer milik Ivanna. Mata mereka membola, jika Angkasapura memiliki pabrik pengolahan ganja dan senapan api ilegal.
"Pabrik ganja? Astaga, pantas saja mereka bisa naik dengan begitu pesat!" Ucap Fajri tidak percaya.
"Kita tidak melaporkan hal ini kemarin 'kan, bang?" Tanya Ivanna.
"Tidak sayang, kemarin tidak ada yang mengendus barang haram ini, hanya senjata api saja!" Ucap Fajri.
"Kita harus memberhentikan proses produksinya! Laporkan hal ini dengan cepat agar kita tidak terkena imbas dari pekerjaan mereka!" Ucap Irfan tegas.
"Baik, Ayah!" Ucap Fajri dan Ivanna sigap.
Mereka mengerahkan beberapa orang untuk melihat dan mengumpulkan bukti untuk melaporkan Azmi kembali, agar mereka tidak menjadi tersangka dan mendapatkan masalah baru.
πΊπΊ
"Hai, sayang!" sapa Carenza yang melihat Ivanna turun dari mobil.
"Hai, Baby!" Ucap Ivanna tersenyum.
Carenza begitu sibuk hari ini, sehingga Ivanna memilih untuk mengunjungi pria tampan itu ke restoran setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa kamu masih sibuk, By?" Ucap Ivanna memeluk Carenza dengan manja.
"Kamu mau buka cabang, By? Kok gak cerita?" Tanya Ivanna mengernyit.
"Kita masuk dulu yuk! Nanti aku ceritakan semuanya!" Ucap Carenza tersenyum.
"Iya, aku juga mau cerita sama kamu!" Ucap Ivanna tersenyum.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, dan masuk ke dalam ruangan Carenza.
"Bukannya kamu lagi mengadakan training, by? Apa aku tidak mengganggumu?" Tanya Ivanna.
"Tidak, sayang. Ada asisten koki yang mengawasi mereka. Lagian hari ini tidak ada pengunjung, sayang!" Ucap Carenza mengecup kening Ivanna dengan lembut.
Ceklek!
Carenza membuka pintu ruangannya. "Silahkan masuk tuan putri!" Uca Carenza tersenyum.
"Ah, Terima kasih pangeran!" Ucap Ivanna terkekeh.
Mereka duduk di atas sofa yang ada di dalam ruangan itu. Ivanna menatap Carenza karena begitu penasaran dengan rencana kekasihnya ini.
"Hehe, sabar, sayang!" ucap Carenza terkekeh melihat Ivanna yang sangat tidak sabar.
Ia berdiri dan mengambil beberapa berkas yang bisa diperlihatkan kepada Ivanna. Gadis itu mengernyit ketika menerima semua tumpukan kertas itu.
"Maaf, sayang. Aku gak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Aku ingin membuat kejutan untukmu, ya walaupun hanya hal yang kecil!" Ucap Carenza tersenyum.
__ADS_1
"68 cabang resto yang akan dibuka serentak se Indonesia?" Tanya Ivanna tercengang.
"Iya, sayang! Dan setelah itu, jika kamu ingin mengenalkanku pada dunia, aku sudah siap!" Ucap Carenza tersenyum.
Begitu keras perjuangannya untuk merasa pantas berada disampingku!. Batin Ivanna berkaca-kaca.
"Baby," Ucap Ivanna lirih.
"Beberapa di antaranya sudah milik kamu, sayang. Untuk ibu, dan Almira juga!" Ucap Carenza mengelus kepala Ivanna.
Hug!
Tanpa berkata apapun, Ivanna memeluk Carenza dengan erat.
"Terima kasih, karena kamu berjuang begitu keras!" Ucap Ivanna tercekat.
"Ah, jangan berterima kasih, sayang! Aku melakukannya, karena aku ingin!" Ucap Carenza tersenyum dan membalas pelukan Ivanna. "Jangan menangis, sayang!" Ucapnya lirih ketika merasakan kemejanya sedikit basah.
"Aku gak tau, jika kamu berjuang hingga seperti ini! Terima kasih, baby! Aku mencintaimu!" Ucap Ivanna tercekat menatap wajah tampan calon suaminya.
"Aku juga mencintaimu, sayang!" Ucap Carenza menatap Ivanna dengan lembut sambil mengusap air mata itu.
Blush!
"Jangan tatap aku seperti itu!" Ucap Ivanna lirih dan menunduk.
Wajahnya merona, ketika mata indah Carenza menatap dengan begitu dalam.
"Hehe, kenapa kamu selalu merona, sayang? Bagaimana besok setelah menikah? setiap bangun tidur dan sebelum tidur, aku akan selalu menatapmu dengan penuh cinta!" Ucap Carenza terkekeh.
"Ih, itu beda lagi. Aku masih tidak menyangka, jika kamu bisa membuka cabang sebanyak itu secara serentak! Apa pelatihan ini untuk semua koki yang bekerja dengan kamu, by?" Tanya Ivanna bersandar di bahu Carenza.
"Iya, sayang! Aku sudah menyeleksi begitu banyakan koki yang memang bisa untuk diterima. Ya, sambil menghalau rasa sepi waktu kamu keliling dunia kemarin!" Ucap Carenza tersenyum.
Ivanna juga menceritakan, apa yang ia dapatkan hari ini. Termasuk ladang ganja yang tengah di periksa oleh pihak berwajib setelah Fajri membuat laporan.
"Untung kamu bisa mengetahuinya dengan cepat, sayang!" Ucap Carenza terlihat cemas.
"Iya, by! Beruntung aku mengambil cuti hari ini dan memeriksa semuanya!" Ucap Ivanna bernafas lega. "Hmm, Baby?" Panggil Ivanna.
"Iya, sayang? kamu butuh sesuatu, atau kamu mau sesuatu?" Tanya Carenza tersenyum.
"Iya, By. Hmm, apa kamu mau pergi untuk menemaniku ketika acara itu?" Tanya Ivanna.
"Boleh, sayang! Aku akan bangga bisa mendampingimu nanti!" Ucap Carenza tersenyum.
"Ah, Iya. Aku lupa, jika kamu sudah mengalahkan semua laki-laki di dunia ini!" Ucap Ivanna terkekeh.
Mereka kembali mengobrol untuk membahas konsep pernikahan yang akan dlaksanakan secara besar-besaran nantinya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1