
Bulan terlihat begitu indah, dihiasi oleh bagitu banyak bintang, sehingga menambah suasana romantis malam ini. Privat Garden Party adalah tema yang di pilih oleh kedua pasangan bucin itu.
Dekorasi yang simple namun terlihat elegan, menghiasi taman belakang kediaman Dirgantara. Malam yang cukup berat bagi seorang ayah dan abang ketika mereka harus berbagi cinta sang anak perempuan kepada laki-laki lain.
Ivanna terlihat begitu cantik dengan kebaya berwarna biru laut dipadukan dengan rok batik yang senada. Rambut panjangnya tersangul indah dihiasi beberapa berlian yang tersemat di sana. Tak lupa, kalung indah pemberian Fajri beberapa tahun silam, menambah kesan elegan sosok putri kerajaan yang begitu sempurna.
Di temani oleh Felicia, Almira dan Atim, Ivanna terlihat gugup dengan tangan yang gemetaran menunggu panggilan MC dan memintanya untuk keluar.
Ya Tuhan, lancarkan pertunanganku malam ini!. Batin IIvanna cemas.
Tidak ada undangan, hanya di hadiri oleh beberapa anggota keluarga dari ke dua belah pihak, dan beberapa orang dari perwakilan dari kantor.
Ivanna dan Carenza sepakat untuk menyembunyikan pertunangan mereka sesuai dengan keinginan Pria tampan itu. Ia masih belum percaya diri untuk di ekspose oleh media.
Semua anggota keluarga sudah duduk di atas kursi yang telah di sediakan. Pepatah petitih sudah di ucapkan sebagai pengantar acara malam ini, tiba saatnya Bapak Hartono meminta izin untuk melamar Ivanna kepada Irfan.
"Yang terhormat Bapak Irfan, Ibu Fajira, nak Fajri dan nak Safira, selaku orang tua dan saudara dari Ivanna Hanindya Dirgantara. Yang terhormat, para tamu undangan yang telah menyempatkan hadir pada malam yang berbahagia ini yaitu Pertunangan Putra dan Putri kami!" Ucap Hartono memulai kata.
"Malam ini izinkan saya sedikit menceritakan alasan kenapa anak kami begitu ingin pernikahan ini di langsungkan dengan segera. Carenza, hanya seorang anak biasa yang begitu beruntung bisa bertemu dengan Nona Ivanna. Menjadikan Putri bapak sembagai penyemangat, agar dia bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi!" Ucap Hartono tercekat.
"Setiap hari, Eza selalu bercerita 'Ayah, aku ingin menikahi seorang gadis yang sudah mengajarkanku banyak hal! Aku ingin terlihat pantas bersanding dengannya. Agar nanti ketika kami bersama, tidak ada orang yang akan meremehkan aku dan tidak akan ada orang yang menjatuhkan, karena status keluarga kita yang biasa saja'," Ucap Hartono
"Hingga saat ini, dengan semua pencapaiannya, Saya bertanya-tanya, siapa perempuan yang membuat anak saya seperti ini?, Bahkan dengan apa yang ia miliki, dua pertiga gadis di negri ini bisa di pilih dengan mudah. Namun, Putra saya dengan lancang dan tidak tau diri telah menyukai Putri Mahkota anda, begitu menginginkannya menjadi pendamping hidup hingga maut memisahakan dan kembali bertemu di syurganya Tuhan!" Ucap Hartono semakin tercekat.
"Kami begitu terkejut ketika Eza membawa putri anda ke gubuk tua kami dengan rasa bangga. Bahkan sampai saat ini, kami masih belum percaya jika kini saya melamar putri anda yang kehebatannya diakui oleh dunia!"
"Setiap orang tua, pasti menginginkan yang terbaik untuk keluarganya. Bagitupun dengan saya. Ketika Eza mengatakan, 'Ayah, keluarga Ivanna mengundang untuk makan malam! Ayah tolong Eza untuk membujuk Ayah Irfan agar mau mempercepat pernikahan kami, Eza takut tidak bisa menahan diri lagi, Yah! Bantu Eza!'. Saat itu yang saya takut kan hanya Putri anda. Jangan sampai anak saya merusak semuanya, merusak harga diri, masa depan dan merusak nama baik keluarga!" Ucap Hartono kembali mengingat perkataan Carenza
"Ketika Eza mengatakan jika ia sudah mendapatkan restu dari keluarga Ivanna, dari sana saya memiliki sedikit keberanian, meminta kepada anda untuk mempercepat pernikahan mereka. Maaf jika saya lancang, sungguh saya hanya memikirkan Ivanna dan keluarga anda!" Ucap Hartono sedikit terbata dengan air mata yaang menggenang.
"Hari ini izinkan saya mewakili putra kebanggaan kami, , Carenza William Hartono untuk melamar putri anda yang begitu berharga untuk menjadi pendamping hidup Carenza yang masih jauh dari kata sempurna!" Ucap Hartono dengan air mata yang mengalir.
Semangat orang ikut terhanyut mendengarkan cerita bagaimana perjuangan Carenza hingga ia bisa berada di titik ini. Mereka merasa terharu, dengan apa yang disampaikan oleh Hartono.
__ADS_1
Irfan tersenyum, ia mengambil mic dan mulai berbicara.
"Bapak Hartono, ibu, Nak Eza dan semua hadirin. Sebelum saya menjawab lamaran anda, saya juga ingin bercerita sedikit. Carenza, saya bingung kenapa nama sebagus itu bisa di panggil Tono, tapi tidak masalah! Pertama kali saya bertemu dengan Nak Eza, waktu makan malam beberapa tahun silam. Sikapnya yang begitu bijak, dengan sifat yang santun dan begitu menghargai seorang wanita, membuat saya merasa bisa menitipkan Ivanna kepadanya nanti, jika saya telah tiada. Terserah, mau itu sebagai sahabat ataupun lebih!" Ucap Irfan tersenyum.
"Saya mengawasi siapa saja laki-laki yang dekat dengan Ivanna, namun hanya Carenza yang saya percayakan untuk itu. Beberapa bulan sebelum mereka jadian, Ivanna bercerita jika ia menyukai seorang laki-laki, dia bukan anak orang kaya, tetapi dia laki-laki yang pekerja keras, bertanggung jawab dan penyayang. Saat itu saya hanya mengatakan kepada Ivanna, Jika dia memang pilihan kamu, ayah setuju! Tetapi lebih baik kamu meminta kepada Tuhan, jangan sampai menyesal dikemudian hari!." ucap Irfan terlihat serius.
"Saya tidak kaget lagi, ketika mendengar kabar bahwa mereka telah menjalin hubungan, namun hal yang membuat saya begitu kaget dan cukup menghargai keberanian Carenza, karena anak muda ini dengan tegas dan berani meminta izin untuk menjalin hubungan dengan Ivanna, melamarnya secara langsung!" Ucap Irfan menatap Carenza sambil tersenyum.
"Dari hari itu saya yakin jika Carenza adalah laki-laki yang tepat untuk putri saya. Tidak ada kecacatan yang bisa saya jadikan boomerang untuk memisahkan mereka!" Ucap Irfan mulai tercekat.
"Berserah diri saya kepada Tuhan, dengan hati yang ikhlas, saya menerima lamaran Putra anda! Semoga anak-anak kita memang berjodoh hingga maut memisahkan!" Ucap Irfan tegas.
Semua orang menitikan air mata haru bercampur bahagia. Carenza sudah menangis sambil menunduk di samping sang ibu. Sementara Ivanna juga sudah menangis dengan sesegukan, namun sebisa mungkin ia tahan agar make up nya tidak berantakan.
"Kepada Nona muda Ivanna, dipersilahkan untuk keluar dari persembunyiannya! kepada semua hadirin dipersilahkan untuk berdiri" Ucap MC.
Ivanna berjalan keluar dengan perlahan. Di dampingi oleh Almira dan Felicia, ia berjalan dengan wajah bahagia yang tidak dapat di sembunyikan lagi. Menatap semua anggota keluarga dengan rasa haru dan mata yang berkaca-kaca.
Fajri segera mengambil alih untuk menggandeng Ivanna menuju pentas kecil tempat pertukaran cincin akan di laksanakan.
Carenza susah berdiri di sana dengan tatapan yang begitu terpesona melihat kecantikan Ivanna yang seolah mengalahkan indahnya bulan dan membuat seluruh bintang merasa tidak berguna, karena saking cantiknya gadis itu.
Fajri menatap Ivanna dan Carenza bergantian. Ia menyatukan kedua tangan mereka dan tersenyum.
"Gua harap, lo menepati semua janji yalang sudah lo ucapkan!" Uca Fajri menepuk bahu Carenza.
"Itu Pasti! Terima kasih!" Ucap Carenza tersenyum.
Pertunangan ini serasa menjadi sebuah pernikahan yang begitu khidmat dan begitu hangat.
"Silahkan, kepada Tuan Carenza ada yang ingin di sampaikan?" Tanya MC.
Carenza tersenyum sambil menatap Ivanna dengan lembut.
__ADS_1
"Selama malam semuanya! Malam ini, merupakan langkah awal saya untuk memulai kehidupan yang lebih serius karena sudah melamar Nona Muda Ivanna, putri Mahkota keluarga Dirgantara. Terima kasih kepada ayah Tono dan ayah Irfan karena membuat suasana malam ini begitu mengharukan! Saya merasa jika ini bukan sebuah pertunangan, melainkan sebuah pernikahan, hehehe!" Ucap Carenza tersenyum.
"Sayangku, Nanaku. Hari ini, malam ini, aku membuktikan keseriusanku kepadamu, kepada cinta kita. Kamu selalu bilang, jika kamu menerima aku dengan apapun yang aku miliki, Terima kasih, karena sudah menerima aku, memilih aku sebagai pendamping hidupmu! Aku tidak menjanjikan banyak hal, tetapi aku akan memastikan jika kita akan hidup bahagia bersama keluarga kecil kita nanti! Aku mencintaimu Ivanna, calon istriku!" Ucap Carenza dengan air mata yang menggenang.
Ia memasangkan cincin ke jari manis Ivanna. Carenza mengecup lembut tangan mulus Ivanna di hadapan semua orang.
"Yap, silahkan kepada Nona Ivanna, apa ada yang ingin di sampai kan sebelum pemasangan cincin? Jika ada dipersilahkan!" Tanya Mc.
Ivanna tersenyum manis, harta tersimpan yang ia sembunyikan di balik sifat dinginnya membuat semua orang yang ada di sana terpaku melihat berapa cantiknya Ivanna malam ini.
"Jangan terpesona melihat senyumku!" Ucap Ivanna tersenyum dan membuat semua orang tersadar dari lamunannya.
"Ak gugup!" Ucap Ivanna polos dan berhasil membuat orang semakin tidak percaya dengan sifat Ivanna.
"Ayah, bunda, abang, kakak, semuanya. Terima kasih, karena sudah mendukung pilihan, dede! Terima kasih sudah menerima Kak Eza untuk masuk dalam keluarga kita!" Ucap Ivanna tersenyum memandang keluarga nya.
"Kak? Aku gak akan berbicara banyak hal. Aku memilihmu, karena aku percaya, kamu laki-laki yang sangat bijaksana dalam bersikap, selalu berusaha untuk menahan diri agar bisa menjagaku hingga kita menikah nanti! Aku juga mencintaimu calon suamiku!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Mungkin kata-kata romantisnya akan aku rangkai dulu untuk hari pernikahan kita!" Ucap Ivanna terkekeh di ikuti oleh semua orang.
Ia memasangkan cincin di jari manis Carenza. Ia mengecup tangan kekar itu dengan lembut.
Malam ini terasa begitu haru dan membahagiakan. Mereka resmi bertunangan, dan pernikahan akan di langsungkan berjarak waktu satu bulan setelah hari ini.
Sepertinya baik Ivanna ataupun Carenza sudah sama-sama keras ingin segera halal agar bisa lebih leluasa untuk mengekspresikan perasaan masing-masing.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE.
Hiks, aku bikin ini sambil nangis ππ
Kalau gak di like, aku bakalan semakin sedih! πππ
__ADS_1