
Di kedai es krim, Ivanna dan Carenza memilih untuk duduk di rooftop dengan posisi paling pojok yang jarang untuk di duduki oleh pengunjung.
"Tunggu di sini, ya!" Ucap Carenza tersenyum dan memesan es krim untuk mereka.
"Jangan lama-lama, by!" ucap Ivanna tersenyum.
Sambil menunggu sang pacar, Ivanna melihat ponselnya. Setiap hari selalu ada media yang memberitakan apapun tentang kesehariannya, mulai dari bisnis sampai dengan fashion.
"Pemirsa, Hakim Jaksa memutuskan untuk memberi hukuman 15 tahun penjara kepada pemilik perusahaan Angkasapura, bahkan hakim menyetujui untuk menyerahkan seluruh aset perusahaan itu kepada perusahaan Dirgantara Corp sebagai bentuk dari ganti rugi, simak berita terkini dari kami!" Ucap Pembawa acara di televisi yang ada di sana.
Dimana-mana, aku lagi, aku terus! Kapan ini selesainya?. Batin Ivanna menjerit.
"Hebat ya, keluarga Dirgantara. Bisa mengungkap kasus sebesar itu!" Ucap salah satu pengunjung membuat Ivanna memasang telinganya.
"Iya. Gua yakin, kalau Angkasapura bisa berdiri lagi, pasti mereka bisa semakin kaya! Apa lagi kabarnya, nona muda itu berhasil menjalin kerja sama dengan beberapa negara dan juga membeli saham-saham perusahaan besar!" Ucap yang lain.
"Kok, lo tau sih? Perasaan gak ada di beritakan oleh media deh!"
"Duh, lo kan tau kalau bokap gua itu pebisnis, ya dia tau lah! Setiap hari itu saja yang diceritakan. Bosan gua dengarnya!" Keluh gadis itu.
"Haha, kasihan banget lo! Eh, btw gua jadi penasaran, siapa laki-laki beruntung yang berhasil mendapatkan hati nona muda itu!".
"Iya, gua juga penasaran! Pastinya dia pejuang cinta banget, gua yakin dia berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mendapatkan hatinya!".
"Iya, gua penasaran, pangeran kerajaan mana, atau Sultan minyak mana yang beruntung itu!".
Ivanna yang mendengarkan mereka bergunjing hanya bisa menghela nafas, agar emosinya tidak meluap.
"Ini, sayang!" Uca Carenza menghentikan lamunan Ivanna.
Ia membawa satu cup es krim berukuran jumbo dengan tiga rasa dan berbagai macam toping yang melengkapinya.
"Kenapa, sayang?" Tanya Carenza yang melihat jika Ivanna tidak baik-baik saja.
"Aku lelah, by!" Ucap Ivanna lirih.
"Lelah? Apa kita pulang saja?" tanya Carenza merapikan rambut Ivanna.
Ivanna menggeleng. "Aku lelah jika harus di beritakan terus!" Ucapnya pelan.
Carenza tersenyum dan mengusap kepala Ivanna dengan lembut dan mengecupnya sebentar.
"Udah resiko, sayang! Aku yakin, pasti pemberitaan kamu akan semakin banyak lagi, setelah ini!" Ucap Carenza tersenyum. "Yuk kita makan es krimnya, nanti meleleh, gak enak lagi!" sambungnya.
"Suapin tapi, ya!" Ucap Ivanna tersenyum di balik masker.
"Siap, tuan Putri!" Ucap Carenza tersenyum.
Sementara beberapa pengunjung di sana menatap mereka sembari menahan gemas melihat perlakuan Carenza kepada Ivanna.
Pria tampan itu tengah menyuapi Ivanna dengan saling berbagi sendok. Bahkan para pengunjung tidak menyadari jika pasangan yang tengah menjadi pusat perhatian itu, baru saja mereka bicarakan.
"Cowoknya sweet banget sih!" Jerit mereka tertahan.
__ADS_1
"Iya! Mas, aku mau dong jadi yang ke dua!".
"Gila, lihat kulitnya mulus! Apa lagi ceweknya! Njir, perawatan berapa ratus juta itu!"
"Astaga, aku bisa gila kalau ada di sini lama-lama!"
Begitulah bisik-bisik tetangga yang masih terdengar di telinga Ivanna, sehingga membuat gadis cantik itu sangat berusaha untuk menahan emosi, ketika mendengar ada orang lain yang memuji kekasihnya.
Ah, jika bukan karena nama baik, akan aku remaas mulut mereka! berani-beraninya memuji suamiku!. Batin Ivanna kesal.
"Kenapa, sayang?" Tanya Carenza dengan begitu lembut sambil mengusap pipi Ivanna.
"Hua! Manis banget cowoknya!" Jerit mereka kembali.
BRAK!
Ivanna sudah tidak tahan lagi, ia memukul meja dengan keras sehingga membuat pengujung yang memperhatikan mereka menjadi terkejut.
"Ada apa, sayang? Jadi sakit tangannya 'kan?" Tanya Carenza melihat tangan Ivanna yang memerah.
Ia meniup tangan mulus itu berharap bisa mengurangi sedikit rasa sakit di tangan Ivanna.
"Aku kaget, gila! Cemburuan banget sih! Lagian sebelum janur kuning melengkung, Mas ganteng itu masih milik bersama!" Celetuknya sedikit keras.
Ivanna menoleh dengan mata tajamnya. Ia masih memakai masker sehingga mereka yang melihat menjadi ragu siapa gadis cantik itu.
"Bukannya itu nona muda Ivanna? Tapi gak mungkin dia ada di kedai kecil seperti ini!" bisik pengunjung yang lain.
"Sayang?" Panggil Carenza lembut sambil memutar kepala Ivanna agar bisa menghadap ke arahnya. "Apa kamu tidak nyaman?, kita pindah saja, ya!" Sambungnya yang mengerti dengan keadaan.
Semua pengujung kesal mendengarkan ucapan Ivanna. Namun apa boleh buat, karena apa yang di katakannya adalah suatu kebenaran.
"ya sudah. Yuk, kita pergi!" ucap Carenza memakai maskernya dan tersenyum melihat kecemburuan Ivanna.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, dan berhasil membuat semua orang semakin kesal karna cemburu.
Sebelum menuruni tangga, Ivanna berhenti sebentar dan membuka maskernya.
"Siapa yang Ingin merebut calon suami saya silahkan! Itu pun jika kalian mampu!" Ucap Ivanna ketus.
Semua orang terkejut dengan mata yang terbelalak ketika melihat Ivanna berdiri di hadapan mereka bersama dengan laki-laki yang masih di cari identitasnya hingga saat ini.
Ivanna segera turun dengan cepat dan sedikit berlari untuk menghindari kerumunan. Sementara ada beberapa orang yang juga ikut turun untuk mengejar Ivanna dan siap dengan kamera ponselnya.
"By, cepat! Kita dalam bahaya! Ucap Ivanna berjalan dengan cepat.
"Bahaya gimana, sayang?" Tanya Carenza mengernyit, namun ia tetap mengikuti langkah kaki Ivanna.
"Nona muda, tunggu!" Teriak beberapa orang yang mengikuti Ivanna.
"Cepat, by!" Ucap Ivanna deg-degan, jika indentitas Carenza akan segera terkuak karena kecerobohannya.
Pria tampan itu baru sadar dan segera menggendong Ivanna sambil berlari menuju mobilnya.
__ADS_1
"Sayang cepat buka pintunya!" Pekik Carenza.
Ivanna segera membuka pintu dan mereka langsung masuk ke dalam mobil melalui satu sisi mobil saja dan langsung menguncinya.
Sementara beberapa pengunjung yang cukup tertarik, juga ikut mengejar mereka dengan kamera dan ponsel yang sudah merekam kejadian langka ini.
Jantung Ivanna dan Carenza berdetak kencang, karena mereka hampir saja tertangkap. Sebab tidak terlihat satu orang pun pengawal yang ada di dekatnya.
"Nona, buka pintunya dong! Kami ingin melihat calon suami anda yang sangat tampan itu!" Teriak mereka sambil mencari celah untk melihat keadaan di dalam mobil.
Beruntung, Carenza sudah mewanti-wanti terlebih dahulu dengan memasang stiker kaca satu sisi, agar Ivanna bisa lebih aman dan nyaman berada di dalamnya mobilnya.
"Hampir saja kita tertangkap, By!" Ucap Ivanna memegang jantungnya sambil menatap beberapa orang yang menggedor-gedor kaca mobil.
"Iya! Aku pikir ada apa, lagian kenapa kamu bisa berfikiran seperti tadi, sayang? Itu bahaya loh!" Ucap Carenza menggeleng.
"Habisnya aku kesal! Ngapain mereka muji-muji kamu seperti itu? Aku gak suka!" Ucap Ivanna cemberut.
"Hahaha, sepertinya aku tau dari mana sifat cemburunya, Lala!" Ucap Carenza terkekeh.
"Siapa yang cemburu?" tanya Ivanna mengelak dengan wajah yang merona.
"Gak mau ngaku ya? Beneran gak mau ngaku nih?" tanya Carenza tersenyum jahil.
"Ka-kamu mau ngapain, by?" Tanya Ivanna sedikit takut melihat Carenza yang semakin dekat dengannya.
Hug!
"Aku tau, kalau kamu begitu mencintaiku! Aku juga mencintaimu, sayang. Kamu tenang saja, aku gak akan berpaling dari siapaun! Jadi, tolong percaya sama aku!" Ucap Carenza menatap Ivanna dengan lembut.
Tatapan mereka semakin dalam. Ivanna terhanyut melihat mata Carenza yang memancarkan cinta dengan penuh ketulusan.
Wajah Carenza semakin dekat dan lebih dekat. Ivanna membola, namun badannya seolah kaku dan sulit untuk di gerakan. Ia memilih untuk menutup mata, pasrah jika ciuman pertamanya akan diambil oleh sang pemilik hati.
Cup!
Carenza mengecup Ivanna dengan lembut. Pipi kenyal sebelah kanan menjadi sasaranya kali ini. Ivanna tersentak dan membuka matanya.
Ia menatap Carenza dengan malu dan wajah yang merona. Sementara pria tampan itu malah tersenyum manis dan kembali membuat Ivanna terpesona.
"Aku mencintaimu!" Ucap Carenza mengecup kening Ivanna lama.
Setelah di rasa cukup, Carenza segera menjalankan mobilnya menuju ke restoran mewah milik Malik, sahabatnya.
Sementara Ivanna masih terlihat malu dan enggan untuk berbicara. Ia hanya menatap ke arah jalanan tanpa menoleh ke arah Carenza sedikitpun.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Hayo, siapa yang senyum-senyum sendiri?
Haha hampir ya gais!
__ADS_1
πππ