IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Carenza Lebay


__ADS_3

"Halo, baby?" sapa Ivanna tersenyum.


"Hiks, kamu kemana saja? Kamu tau kalau aku gak tidur semalaman? Aku merindukanmu, sayang!" rengek Carenza.


Ivanna tersenyum melihat ekspresi dari kekasihnya. Hal itu semakin membuat Carenza meraung tidak jelas.


"I love you, by!" Ucap Ivanna sambil tersenyum manis.


"Huaa, I love you to, sayang!" ucap Carenza gemas.


Ia berhenti meraung dan memasang wajah cemberutnya.


"Maaf ya, kemarin pulang kerja aku ketiduran!" ucap Ivanna penuh sesal.


"Jangan terlalu di paksa, sayang. Nanti kamu sakit, malah tambah lama di sana!" ucap Carenza lembut.


"Iya, by. Aku hanya ingin semuanya cepat selesai! Aku gak sanggup kalau berjauhan terus dengan kalian" ucap Ivanna lirih.


"Sayang, Bukankah kamu sering bilang, kalau masa depan itu harus di perjuangkan, bekerja keras dan semangat?" tanya Carenza.


"Iya, by. Itu makanya aku ingin menyelesaikan semua ini, agar aku bisa melakukan hal yang lain!" ucap Ivanna menghela nafasnya.


"Nona, sarapan sudah selesai, Kita akan berangkat pukul 8 pagi ini!" Ucap Felicia masuk kedalam kamar Ivanna.


Gadis itu mengangguk dan langsung berjalan keluar tanpa mematikan panggilannya.


"Mau sarapan, sayang?" Tanya Carenza.


"Iya, by. Di sini kan berbeda waktunya!" Ucap Ivanna.


Ia memakan sarapa itu dengan lahap. Carenza menatap gadis cantik itu dengan tatapan penuh dengan kerinduan.


"Aku merindukanmu, sayang!" Ucap Carenza.


"Aku juga, sabar ya! Tinggal 57 hari lagi!" Ucap Ivanna tersenyum.


Carenza kembali terlihat cemberut sehingga membuat Ivanna gemas dan ingin mencubit pipi pria tampannya ini.


Mereka berbincang tanpa kenal rasa bosan. Bahkan Carenza tidak mengizinkan Ivanna untuk mematikan panggilan itu, walaupun harus ditinggal beraktivitas oleh kekasihnya.


"By, Aku mau kerja dulu! Nanti telfon lagi, ya!" ucap Ivanna yang baru saja turun dari mobil di salah satu perusahaan besar yang ada di Inggris.


"Jangan matikan!" Rengek Carenza. "Biar aku bisa mendengar suaramu, sayang. Aku gak ganggu kok! Janji!" sambungnya dengan wajah memelas.


"By, Nanti aku gak fokus!" Ucap Ivanna.


"Aku mute saja. Tapi jangan di matikan, sayang, plis!" ucap Carenza memohon.


"Baiklah, tapi kalau terdengar suara sedikit saja, langsung aku matikan, ya!" ucap Ivanna tegas.


"Baiklah! Semagat kerja, sayangkuh! muach." Ucap Carenza dan mendengar tombol mute agar suaranya tidak mengganggu perkerjaan sang kekasih.


Ivanna tersenyum sambil melangkah menuju ruang pimpinan di sana. Felicia terlihat sudah sangat professional dengan bahasa inggrisnya yang sangat bagus. Sehingga ia masih bisa di andalkan walaupun sedang berada di luar negeri.


"Nona?" Panggil Felicia di dalam Lift.


"Ada apa, fel?" tanya Ivanna menoleh.

__ADS_1


"Katanya, CEO perusahaan di sini ganteng banget, Nona!" Ucap Felicia terkekeh.


Tanpa ia tau, jika seseorang di balik telefon tengah mendengarkan perbincangan mereka dengan seksama.


"Oh ya? Apa kamu ingin mendekatinya?" Tanya Ivanna tersenyum tipis.


"Ah, Nona. Mana mungkin bisa! Saya tidak terlalu percaya diri untuk itu, hehe!" Ucap Felicia terkekeh.


Ting!


"Ada-ada saja kamu! Yuk kita keluar!" ucap Ivanna melangkah keluar dari lift.


"Selamat Pagi, selamat datang di perusahaan kami. Silahkan, Nona. Tuan Jordan sudah menunggu di dalam!" Ucap sekretaris perusahaan.


"Terima kasih!" Ucap Felicia mewakili Ivanna.


Sementara gadis itu hanya memasang wajah datar tanpa ekpresi dan membuat wajah sekretaris itu berubah masam.


Ceklek!


Pintu terbuka, mereka segera masuk dan terlihat seorang laki-laki gagah dengan tubuh tegap dan tinggi. Paras menawan dengan jambang tipis yang menghiasi wajah tampannya.


"Ah, maaf. Silahkan duduk, Nona! Selamat datang di perusahaan kami!" Ucap Jordan dalam bahasa Inggris.


Ia menyambut Ivanna sambil merentangkan tangannya. Namun Ivanna memilih untuk mundur selangkah dan mengulurkan tangan.


"Terima kasih, Apa kita bisa memulai rapatnya?" Tanya Ivanna dingin.


"Tentu! Silahkan duduk, Nona!" ucap Jordan ramah.


Mereka segera duduk di atas sofa dan saling bersebrangan.


"Anda juga! Apa bisa kita mulai?" tanya Ivanna datar.


"Okey! Ini proposal kerja sama kita!" Ucap Jordan menyerahkan proposal yang sudah ia buat.


Ivanna melihat dan membacanya dengan teliti. Ia juga menanyakan beberapa hal yang terkait dengan proposal itu.


"Apa anda menawarkan saya untuk membeli saham di perusahaan ini?" Tanya Ivanna mengernyit.


"Iya, Nona. Semoga anda berkenan untuk membeli beberapa persen saham kami! Jujur, saat ini perusahaan saya sedang dalam masa krisis. Dengan anda membantu saya dengan membeli saham itu, saya berjanji akan mengembalikan kondisi perusahaan sebaik mungkin. Karena tidak ada satupun perusahaan yang ingin bekerja sama lagi dengan saya!" Ucap Jordan sendu.


Jadi ini yang dibicarakan abang sebelum pergi. Apa benar, ini kesempatan yang bagus untukku? Secara perusahaannya sedang mengalami krisis!. Batin Ivanna.


"Kalau kamu di tawarkan, ambil sayang. Perusahaan itu bagus, masalah itu karena pimpinannya terkena skandal saja. Nanti kalau beneran kolaps, kita bisa akuisisi perusahaan mereka dan menjadikan cabang Dirgantara yang baru!" Ucap Fajri terngiang di kepala Ivanna.


"Berapa?" Tanya Ivanna.


"Jika anda berkenan membeli 10 persen saja, itu senilai 700 miliar kurang lebih, Nona!" Ucap Jordan bersemangat.


"Jika saya memberikan anda 1 triliun, beberapa persen yang bisa saya dapatkan?" Tanya Ivanna.


Jordan terkejut, ia sangat berharap Nona muda ini bisa membantunya sedikit saja, maka perusahaan itu bisa selamat.


"Jika anda membeli saham saya seharga 1 Triliun, saya akan memberikan 15 persen untuk anda!" Ucap Jordan tersenyum senang.


"Baiklah!" Ucap Ivanna meminta cek kepada Felicia.

__ADS_1


Jordan terkejut melihat Ivanna tengah menulis uang sebanyak 1 Triliun di dalam selembar cek sebagai pembayaran yang mereka pilih.


"Siapkan berkasnya sekarang! Karena saya tidak memiliki waktu yang banyak!" ucap Ivanna.


"Ba-baik, Nona! Sebentar, saya buatkan terlebih dahulu!" Ucap Jordan bergegas menuju meja kerjanya dan membuat berkas pembelian saham itu.


"Buat dua rangkap! Saya juga membutuhkannya sebagai bukti!" Ucap Ivanna.


"Baik, Nona!"


Jordan bergegas, ia sudah menyiapkan berkasnya dan tinggal mengubah sedikit saja. Setelah selesai, mereka menandatangani perjanjian itu dan mendapatkan salinannya masing-masing.


"Saya tidak menyangka jika anda bagitu baik hati! Terima kasih, saya tidak akan membuat anda menyesal karena membeli saham di sini!" Ucap Jordan.


"Hmm, Kalau begitu kami permisi!" Ucap Ivanna melenggang pergi.


Jordan tersenyum tipis menatap kepergian Ivanna. Menarik! Begitu batinnya. Karena baru kali ini ada perempuan yang tidak tertarik pada paras tampannya.


Ivanna segera menaiki mobil dan pergi meninggalkan perusahaan besar itu menuju Salah satu restoran mewah yang ada di sana untuk bertemu dengan klien selanjutnya.


"Sayang!" Panggil Carenza membuat Ivanna terlonjak kaget.


"Astaga, By. Kamu bikin aku kaget!" Ucap Ivanna kesal sambil memegang jantungnya.


"Maafin aku!" Ucap Carenza penuh sesal.


Bahkan aku sampai lupa jika panggilan kami masih terhubung!. batin Ivanna meringis.


Ia menggunakan airpods, sehingga ia tidak menyadari jika itu masih terpasang di telinganya.


"Sudah selesai?" Tanya Carenza cemberut.


"Sudah, by. Bentar ya, aku mau ngasih kabar dulu ke rumah!" Ucap Ivanna mengirimkan pesan kepada grub keluarga nya.


"Sayang, Aku cemburu!" Ucap Carenza sendu.


"Cemburu kenapa, by? Aku gak bgapa-ngapain loh!" ucap Ivanna menggeleng.


"Pasti bule tadi tampan! Hua, aku gak mau kamu di rebut, sayang! Aku bisa gila kalau itu terjadi!" rengek Carenza frustrasi.


"Kamu lebay, ih! Gak boleh over thinking seperti itu, Aku jaga mata dan hati di sini!" Ucap Ivanna. "Tapi dia cukup tampan sih!" sambungnya dan berhasil membuat Carenza melotot.


"Sayang! Aku kesana ya, sekarang!" Ucap Carenza merengek.


"Ih, janganlah. Lusa aku akan berangkat ke Italy, Baby!" Ucap Ivanna terkekeh.


"Sayang!" Panggil Carenza memelas.


"Aduh, Babyku yang Tampan ini, selalu membuat aku gemas! Nikah, yuk!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Yuk, Pulang dari sini kita nikah ya!" ucap Carenza bersemangat.


"Iya, tanya ayah dulu, sana!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Ah, kalau udah menghadap ayah aku menyerah!" ucap Carenza lesu.


Mereka terus mengobrol bahkan tanpa sadar durasi paanggilan sudah berada di angka 05.30.24 jam. Sepertinya mereka akan memecahkan rekor MURI panggilan terlama sepanjang masa.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2