
Pagi menjelang, Ivanna terbangun dan sudah berada di dalam pelukan Carenza. Ia mengerjab dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
Ia memeriksa pakaiannya dan mengernyit sambil bertanya-tanya. Apa semalam tidak terjadi apa-apa? begitu pikirnya.
Ia mengecup bibir Carenza dan bangkit untuk mencuci muka terlebih dahulu. Setelah itu ia berjalan menuju dapur dan membuat sarapan untuk sang suami tampannya.
Beruntung ia tidak kembali di gempur semalam, sehingga kondisinya lebih baik dari pada kemarin. Semua art terkejut ketika melihat Ivanna masuk kedalam dapur.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Atim terkejut.
"Ah, iya. Saya ingin membuat wafle dan toast, tolong di siapkan bahannya segera, mbak!" Ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" Ucap Atim bergegas.
Sambil menunggu semua bahan siap, Ivanna melihat ponselnya. Felicia tengah mengirimi pesan menggoda dengan berbagai emotikon air liur menetes.
Ia tersenyum nipis melihat kelakuan sang asisten. Di tambah dengan Almira yang juga ingin tau bagaimana perkembangan bulan madunya.
"Nona, semua bahan sudah siap!, Apa saya saja yang mengerjakannya, Nona?" Tanya Atim.
"Tidak perlu! silahkan kerjakan yang lain!" Ucap Ivanna memakai celemek dann memulai untuk memasak.
Ia ingin membuat sarapan simple untuk Carenza. Ia bingung karena pria tampan itu tidak memiliki makanan kesukaan selain olahan ayam.
Sehingga Ivanna memilih untuk membuat waffle dengan selai kacang dan sedikit madu. Ia juga membuat toast yang berisi ayam, sayuran dan keju di dalamnya. Tan lupa dua gelas susu putih hangat untuk sarapan mereka pagi ini.
Dengan telaten, Ivanna memasak semua hidangan itu. Bahkan art terkagum-kagum melihat kelincahan Ivanna dalam menggunakan semua alat dapur.
Hingga tiga puluh menit, Ivanna menyelesaikan semua hidangan pagi ini. Dua porsi waffle, dua potong toast dan dua gelas susu sudah terhidang di atas nampan.
"Mbak, nanti tolong bantu saya untuk membersihkan ini!" Ucap Ivanna berlalu dari sana.
"Baik, Nona!" Ucap Atim tersenyum.
Gadis cantik itu membawa nampan menuju kamar sambil tersenyum. Ia membuka pintu secara perlahan dan terlihat Carenza masih terlelap sambil memeluk bantal guling di sampingnya.
Ivanna terkekeh, Carenza terlihat begitu lucu dan mengemaskan ketika tidur. Dengan rambut yang berantakan dan baju yang sudah naik hingga ke dada membuat Ivanna tergoda untuk menyentuh tubuh nan liat itu.
"Baby? Baby, bangun, yuk!" Ucap Ivanna lembut sambil memegang roti sobek Carenza.
Pria tampan itu menggeliat, ia terlihat mengelus bantal guling yang ia kira sebagai Ivanna. Sehingga membuat wanita cantik itu berusaha untuk menahan tawanya.
"Baby, Bangun yuk!" Ucap Ivanna berbisik di telinga Carenza dan mengecup leher pria tampan itu hingha berbekas.
"Sshh, sayang?" Desis Carenza mulai membuka matanya.
Ia terpaku melihat Ivanna yang sudah kembali segar dengan senyum yang mengembang. Carenza meletakkan kepalanya dipangkuan Ivanna sambil menunggu arwahnya yang masih tercecer.
"Bangun, yuk. Aku sudah membuatkan sarapan!" Ucap Ivanna sambil membelai lembut kepala Ivanna.
__ADS_1
"Kamu bikin sarapan apa, sayang? Ah, aku lapar banget, Hmm, dari wangi masakanmu aku bisa menebaknya!" Ucap Carenza tersenyum.
"Apa?" Tanya Ivanna terkekeh.
"Kamu bikin waffle dan apa itu sandwich?" ucap Carenza menebak.
"Iya, By. Tetapi aku membuat toast. Yuk, cuci muka dulu, habis itu kita sarapan!" Ucap Ivanna.
Carenza segera bangun dan mencuci mukanya terlebih dahulu. Ia tidak berbohong, karena wangi masakan Ivanna serasa begitu menggoda di lidahnya.
Mereka segera menyantap sarapan itu hingga tandas. Carenza bahkan sangat tidak percaya jika Nona muda ini bisa memasak makanan yang begitu nikmat dan lezat.
"Sayang, kita berenang yuk, pagi ini!" Ajak Carenza.
"Boleh, By! Lama aku gak berenang di pantai!" Ucap Ivanna antusias.
"Baiklah, habis ini kita langsung bersiap. semua keperluan sudah Mamas sediakan di dalam koper!" Ucap Carenza tersenyum.
"Ah, baiklah, Mamas. Kamu memang terbaik!" ucap Ivanna terkekeh.
πΊπΊ
Carenza sudah siap dengan pakaian renangnya, pagi ini ia akan mengajak Ivanna untuk melakukan sanorkling dengan lokasi yang berada tak jauh dari sana.
Ia masih menunggu sang istri untuk berganti pakaian. Tak selang berapa lama, Ivanna keluar dengan baju khusus yang mencetak ditubuh sintalnya. Carenza begitu terpesona melihat proporsi tubuh Ivanna yang begitu seimbang.
Huft, resiko punya suami cemburuan dan posesif!. Batin Ivanna mendelik.
Ia hanya patuh mengikuti keinginan Carenza agar tidak terjadi perang dunia selanjutnya. Setelah di rasa pantas, Carenza membawa Ivanna menuju kapal untuk berlayar sedikit menjauh dari pulau.
Ia ingin melihat keindahan bawah laut yang ada di sana. Menggunakan kaca mata khusus dan kaki katak, mereka mulai menceburkan diri ke laut bersama beberapa kru fotografer untuk mengabadikan moment- moment indah kebersamaan mereka.
Ivanna terlihat begitu senang karena sudah lama sekali ia tidak menjelajahi pantai seperti ini. Hal yang membuatnya semakin bahagia adalah kini ia pergi bersama sang suami yang selalu menemaninya mulai saat ini.
Setengah jam berlalu, Ivanna mulai merasa lelah dan memilih untuk naik ke atas kapal di susul oleh Carenza.
"Apa kamu suka, sayang?" Tanyaa Carenza sambil mengibaskan rambutnya.
Bukannya menjawab, Ivanna malah terpesona melihat tubuh Carenza yang basah karena air laut dan terlihat sangat menggoda.
Astaga, kenapa aku mesum banget sehabis nikah ini, Huaa!. Batin Ivanna menjerit.
Ia menunduk dengan wajah yang merona dan itu membuat jiwa jahil Carenza keluar. Ia berjongkok di hadapan Ivanna sambil tersenyum.
Ia mengangkat tangan wanita cantik itu agar bisa menyentuh tubuhnya. Ivanna tersentak sambil menatap Carenza tanpa berkedip.
"Jangan malu untuk menyentuhnya. Aku milikmu, sayang!" Ucap Carenza tersenyum smirk.
"Ih!" Ivanna mendelik. Namun ia tidak memindahkan tangannya dari sana.
__ADS_1
"Apa kamu lelah, sayang?" Tanya Carenza.
"Hmm, Apa masih ada permainan lagi?" Tanya Ivanna begitu bersemangat.
"Ada, sayang. Sini aku bisikkan!" Ucap Carenza tersenyum.
Ivanna mendekatkan telinganya ke arah Carenza. Ia mendengarkan perkataan pria tampan itu dengan seksama.
"Habis ini kita akan bermain kuda-kudaan di atas ranjang!" Ucap Carenza terdengar begitu menggoda di telinga Ivanna.
"Ah, aku sangat lelah, By! Kita kembali saja. Aku ingin beristirahat!" Ucap Ivanna berpura-pura.
Carenza tertawa, namun ia menuruti keinginan Ivanna, walaupun ia masih ingin bermain di sana untuk melihat kehidupan di laut lebih lama lagi.
Kapal segera menepi, mereka segera turun dari kapal dan melihat beberapa orang tengah berdiri di dekat rumah dengan dua buah helikopter mendarat tak jauh dari sana.
"By, aku curiga keluarga kita juga ikut berlibur ke sini!" Ucap Ivanna mengernyit.
"Sepertinya itu memang mereka, sayang! Mungkin waktu kita di dalam air tadi mereka sampai di sana, jadi tidak kedengaran," Ucap Carenza.
"Bisa jadi, By! Ayo kita ke sana!" Ucap Ivanna bergegas untuk pergi ke dalam rumah.
Ceklek.
Mereka sama-sama terkejut. Dengan ekspresi mengernyit mereka saling tunjuk dengan rasa tidak percaya.
"Loh, kalian di sini juga?" Tanya Fajira tidak percaya.
"Iya, Bunda. Kan dede sudah bilang sebelumnya!" Ucap Ivanna.
"Bukannya dede pergi ke Maluku?" tanya Fajira.
"Bukan, Bunda!" Ucap Ivanna.
"Lah?" Ucap mereka bersama.
"Ya sudah, kita liburan bersama saja. Masih ada waktu sampai besok untuk berada di sini!" Ucal Carenza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aih, Beneran gak papa, nak? Bagaimana kalau kami mengganggu waktu bulan madu kalian?" Tanya Ibu mengernyit.
"Ya, asal jangan mengetik pintu tengah malam aja udah, Bu!" Ucap Carenza terkekeh.
Aku yakin, ini kerajaannya abang!. Batin Ivanna menatap tajam kearah Fajri, sementara yang di tatap, hanya memalingkan Wajahnya menghindari tatapan Ivanna.
Tidak ada cerita honey moon berdua. Yang tersisa hanya liburan keluarga yang terasa lebih menyenangkan karena bisa tertawa bersama-sama, menikmati keindahan sekitar laut yang masih asri.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1