
"Dek?" Pekik Fajri.
Dua insan yang akan memadu kasih itu terkejut dan menatap Fajri jengah.
"Apa benar kamu hamil?" Tanya Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia berjongkok di hadapan Ivanna yang masih duduk di atas sofa. Ivanna tersenyum, ia melewatkan pria tampan yang satu ini.
"Iya, bang!" Ucap Ivanna tersenyum dan memeluk Fajri.
"Kenapa gak ada yang ngasih tau abang? Apa kamu sudah melupakan Abang?" Tanya Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan ngomong seperti itu, bang! Semuanya panik, karena dede tiba-tiba saja pingsan!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Hiks, abang khawatir!" Ucap Fajri tercekat dan memeluk Ivanna dengan erat. "Bagaimana kata dokter?" sambungnya.
"Dede hamil baru 4 minggu dan, dan sedikit lemah!" ucap Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Astaga, sayang! Besok gak usah masuk kerja lagi biar abang yang gantiin!" ucap Fajri memelas.
"Iya, Bang. Jangan khawatir ya!" Semoga dedenya kuat!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Maafin abang, ya!" Ucap Fajri penuh sesal.
"Kenapa, abang minta maaf?" Tanya Ivanna mengelus kepala Fajri.
"Abang gak ada di saat dede butuh, sayang! Abang gak guna banget!" Ucap Fajri lirih.
"Jangan seperti itu!" Ucap Ivanna tercekat. "Dede pasti selalu membutuhkan abang, bukankah abang dan Mas Eza sudah berbagi tugas? Jangan menyalahkan diri abang!" Ucap Ivanna tersenyum dengan air mata yang menetes.
"Hiks, Maafin abang, sayang! Sekarang kamu butuh apa? sini bilang sama abang!" Tanya Fajri menghapus air matanya.
"Dede belum mau apa-apa, bang. Cuma mau istirahat, saja!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Benar kamu gak mau apa-apa?" Tanya Fajri memastikan.
"Iya, Bang. Nanti kalau dede mau sesuatu pasti dede kasih tau sama Abang!" Ucap Ivanna mengusap kepala Fajri dengan lembut dan mengecup pipinya
"Ah, baiklah, sayang, Janji ya!. Hmm, Abang mau mengingatkan, kandungan kamu masih lemah, jadi belum boleh berhubungan. Beresiko keguguran!" Ucap Fajri serius.
Deg!
"Benarkah?" Tanya Ivanna terkejut. Sementara Carenza membulatkan mata mendengarkan hal itu.
Hampir saja mereka khilaf, dan membahayakan janin yang ada di dalam kandungannya.
"Iya, sayang. Bahkan jika kandungan kamu kuat, melakukannya juga harus hati-hati!" Ucap Fajri kembali memeluk Ivanna.
"Terima kasih, karena abang datang tepat waktu. Dede gak tau tentang ini!" Ucap Ivanna menangis.
"Sstt, Jangan nangis, sayang! Nanti dedenya ikutan nangis. Kamu harus senang terus, happy terus, ya!" Ucap Fajri mengusap air mata Ivanna.
"Iya, bang! Abang udah makan?" Tanya Ivanna.
"Tadi abang mau makan, tapi karena dengar cerita bunda tadi, abang langsung kesini!" Ucap Fajri tersenyum.
"Jangan khawatir lagi, ya! Dede gak papa!" Ucap Ivanna memegang kedua belah pipi Fajri.
__ADS_1
"Selama hamil, kamu gak akan baik-baik saja, sayang. Kecuali suami kamu yang mengidam, itu bisa mengurangi sedikit kesulitanmu!" Ucap Fajri tersenyum smirk kearah Carenza.
Sementara yang dilirik hanya mendelik sebal. Ia hanya diam sedari tadi pun, juga ikut di ganggu oleh Fajri.
Namun ia bersyukur, karena pria tampan ini lebih cepat masuk sebelum mereka khilaf dan membahayakan janin, calon anak mereka.
"Gua diam salah, ngomong pun salah!" Delik Carenza.
"Emang lo serba salah, dan akan semakin serba salah nanti! Selamat datang dalam dunia bapak-bapak!" Ucap Fajri terkekeh.
"Cih, Udah sana keluar, gangguin aja!" Ketus Carenza.
"Udah, jangan berantem. Kebiasaan banget ih!" Ucap Ivanna menengahi mereka.
"Ya sudah, abang turun dulu! Langsung istirahat, jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh!" Ucap Fajri tersenyum dan mengecup kening Ivanna.
"Iya, bang!" Ucap Ivanna dan Carenza.
"Abang mau pamit dulu sama ponakan, abang!" Ucap Fajri tersenyum.
Ia mengelus lembut perut Ivanna dengan mata yang berkaca-kaca. "Sehat-sehat ya nak! Nanti kita main ya, jangan mau teman sama ayah Eza!" Ucap Fajri tercekat namun ia tersenyum karena berhasil menistakan adik iparnya.
"Cih, Sudah sana pergi!" Delik Carenza begitu kesal.
Namun ia tau dan sudah hafal bagaimana cara Fajri untuk mendekatkan diri kepadanya.
"Istirahat, sayang! vitaminnya jangan lupa di minum!" Ucap Fajri mengecup kepala Ivanna dan berjalan keluar.
Namun Carenza masih menatapnya datar.
"Apa? Lo mau gua cium juga?" Ucap Fajri tertawa.
Ia mengunci pintu dan berjalan kembali ke arah Ivanna sambil cemberut.
"Jangan di masukkan ke dalam hati, kamu tau bagaimana sifat abang!" Ucap Ivanna mengelus kepala Carenza dengan lembut.
"Iya, sayang! Aku gak marah kok, justru aku bersyukur karena abang datang di waktu yang tepat. Kalau kita kebablasan, aku gak bisa membayangkan bagaimana keadaan kamu dan anak kita!" Ucap Carenza dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, By. Lebih baik kita beristirahat!" Ucap Ivanna mengelus pipi Carenza.
Pria tampan itu langsung menggendong Ivanna menuju ranjang. Mereka memutuskan untuk tidak memakai baju haram agar tidak membangkitkan hasraat yang mulai bergelora.
Mereka terlelap dengan saling memeluk satu sama lain. Beruntung, Kepala Ivanna tidak terlalu sakit seperti tadi sore, sehingga ia bisa beristirahat dengan tenang.
πΊπΊ
Hoek, hoek, hoek!
Tedengar suara gaduh dari dari kamar mandi, Ivanna meraba kasur dan tidak menemui sang suami disampingnya. Ia mengernyit dan berusaha untuk sadar dengan kepala yang kembali berdenyut.
"Sayang?" panggil Carenza lirih dari kamar mandi.
Ivanna tersentak, ia mencoba untuk bangkit dengan perlahan agar tidak membahayakan janinnya. Ia terkejut ketika melihat Carenza tengah terduduk lemas di lantai kamar mandi.
"Baby kamu kenapa?" Tanya Ivanna panik.
"Gak tau, Sayang. Aku lemas! Dari tadi aku muntah terus!" Ucap Carenza lirih.
__ADS_1
"Bisa berdiri, By? Aku gak kuat untuk memapah kamu!" Ucap Ivanna mengelus kepala Carenza.
"Bisa sayang!" ucap Carenza.
Ivanna menyiram kaki Carenza terlebih dahulu, agar pria tampan itu bisa keluar dengan keadaan yang bersih.
"Hati-hati, Baby!" Ucap Ivanna meringis melihat keadaan Carenza yang begitu lemah.
"Peluk, sayang!" Ucap Carenza lirih setelah naik ke atas ranjang.
Ivanna bergegas untuk memeluk Carenza. Ia melihat waktu baru menunjukkan pukul 04.35 dini hari. Tanggung jika ia harus tidur kembali, namun matanya terlalu berat sehingga ia menyusul Carenza ke alam mimpi.
Hingga pagi menjelang, semua orang masih menunggu kedatangan Carenza dan Ivanna untuk sarapan bersama. Sementara yang di tunggu masih terlelap dan saling berpelukan.
"Apa terjadi sesuatu dengan mereka, sayang?" Tanya Irfan mengernyit.
"Hmm, atau masih tidur?" tanya Fajira. "Biarlah bunda cek dulu ke kamar!" Ucap Fajira bangkit dari duduknya.
"Mommy, apa Nana baik-baik saja?" tanya Nayla khawatir, pun begitu juga dengan Naren.
"Iya, Nana baik-baik saja, sayang! Yuk, kita makanan!" Ucap Safira tersenyum dan mengelus lembut kepala anak-anaknya.
Sementara itu Fajira mengetuk pintu kamar Ivanna berulang kali, namun empunya tidak kunjung keluar atau menunjukkan tanda-tanda untuk membuka pintu.
"Dek, sayang?" Panggil Fajira lagi.
"Iya, bunda?" Ucap Carenza membuka pintu. Wajahnya terlihat pucat dan kusut.
"Kenapa kamu pucat, Za?" Tanya Fajira terkejut.
"Tadi Eza muntah, Bunda! Sekarang lemas!" Ucap Carenza lirih dengan mata yang berat.
"Apa kamu ngidam?" Tanya Fajira terkejut dan tersenyum.
Aih, ternyata laki-laki di rumah ini semuanya bucin. Fajri, dua kali Safira hamil, dua kali juga ia merasakan ngidam, Mas Irfan begitu juga. Ditambah dengan ini! Batin Fajira terkekeh.
"Gak tau, Bunda! Pusing banget!" Ucap Carenza lirih.
Mungkin jika dengan Ibu, ia akan begitu manja dan meminta yang aneh-aneh. Namun ini ibu mertua, sangat tidak mungkin jika ia memeluk Fajirba-tiba.
"Apa mau bunda buatkan sesuatu, nak?" Tanya Fajira tersenyum.
"Gak, bunda! Kami sarapan di kamar saja, apa boleh, Bunda?" tanya Carenza lirih.
"Boleh, Istirahatlah. Nanti bunda antarkan makanan ke kamar!" Ucap Fajira tersenyum dan mengusap tangan Carenza.
"Terima kasih, Bunda!" Ucap Carenza tersenyum.
"Sama-sama, sudah sana istirahat!" Ucap Fajira berlalu dari sana.
Ivanna masih terlelap di atas ranjang. Ia kembali merebahkan tubuh lemahnya di samping Ivanna dan meminta untuk di peluk.
Ah, apa benar aku ngidam seperti yang di katakan oleh, bunda? Syukurlah kalau memang ia. Setidaknya Nana tidak terlalu susah untuk menanggung kehamilan ini sendiri!. Batin Carenza.
Ia kembali terlelap dan berusaha untuk menahan gejolak mual di dalam dirinya agar tidak kembali muntah.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE
Maaf gengs, aku ketiduran semalam, jadi gak sempat update ππ