IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Tidak Terduga


__ADS_3

Dua porsi telur dadar komplit sudah terhidang di atas meja belajar di ruang keluarga. Carenza merasa tidak kuat untuk kembali ke ruang makan karena menghirup aroma aneh dari sana.


Glek!


Air liur Carenza menetes dengan hanya melihat telur dadar itu. Sementara Ivanna sedikit meringis karena perutnya semakin teras ngilu. Peluh dingin mulai membasahinya.


"Kanapa, nak?" Tanya Ibu melihat wajah Ivanna.


"Perutku sakit, Bu!" Ucap Ivanna memegang perutnya yaang semakin terasa sakit.


"Za, bawa istrimu ke rumah sakit!" Ucap Ibu khawatir.


Carenza yang hendak menyuap makanannya menoleh kearah Ivanna dan terkejut melihat wajah pucat sangat istri.


"Ayo sayang, kita kerumah sakit!" Ucap Carenza menggendong Ivanna.


"Sstt, sakit, By!" Ringis Ivanna.


"Cepat, Za!" Pekik Ibu ketika melihat darah yang menembus celana yang di pakai oleh Ivanna.


Semua orang terkejut mendengar teriakan Ibu. Mereka segera menyusul dan melihat Carenza tengah berlari menggendong Ivanna keluar.


Sontak, Fajri segera menyusul mereka dan menaiki mobil yang sama.


"Ayah ikut, bunda!" Cegat Irfan ketika melihat Fajira hendak pergi.


"Mas," Fajira memelas.


Ia bingung, bagaimana dengan Safira jika ia dan Irfan pergi ke rumah sakit.


"Atim, Kamu ambil beberapa baju tebal, dan selimut untuk Ivanna. Antarkan kerumah sakit!" Titah Fajira.


"Baik, Nyonya!" Atim berlari menuju kamar Ivanna dan segera mengambil apa yang di minta oleh Fajira.


"Ayo sayang, kita pergi!" Ucap Irfan khawatir.


"Aku gak bisa pergi, Mas! Safira sama siapa nanti!" Ucap Fajira.


Irfan termagu, karena panik, ia melupakan Safira yang masih berada di ruang makan bersama dengan bocil kembar.


"Ayo kita lanjutkan makan! Jangan sampai Safira khawatir dan tiba-tiba saja melahirkan!" Ucap Fajira lembut.


Irfan menghela nafasnya dan mengangguk. Mereka kembali ke ruang makan sambil memikirkan jawaban jika Safira tengah bertanya.


"Bunda?" Panggil Safira dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia mendengar semua teriakan dari Ibu dan Carenza. Namun ia tidak boleh panik karena bocil ini akan ikut panik juga.


"Kita berdo'a saja, kak!" Ucap Fajira yang ikut berkaca-kaca.


Rasanya nasi tidak lagi tertelan mengingat keadaan Ivanna yang sedang di larikan kerumah sakit. Sementara Nayla dan Naren hanya mengernyit mengamati apa yang terjadi.


Di dalam mobil, Ivanna semakin meringis di dalam pelukan Carenza dan membuat semua orang semakin khawatir.


"Cepat, Pak!" Pekik Carenza yang sangat tidak sabar.


"Sakit, By! Aku takut, By. Anak kita!" Ringis Ivanna sambil menangis.


Carenza sudah tidak tau apa yang akan dilakukan. Ia hanya memeluk Ivanna sambil memegang perut sangat istri dan mengucapkan berbagai macam do'a untuk keselamatan anak dan istrinya.

__ADS_1


Hingga mobil berhenti di loby IGD, Fajri turun lebih dulu dan segera menggendong Ivanna untuk masuk kedalam.


Heboh, tentu saja. Dokter keluarga Dirgantara keberuntungan tengah piket harian di sana. Ia langsung berlari untuk memeriksa keadaan Ivanna yang masih meringis diatas brankar.


"Panggil dokter obgyn cepat!" Pekik perawat.


Mereka segera memeriksa keadaan Ivanna dengan hati-hati. Tak lama dokter Kandungan sudah datang sambil membawa beberapa peralatannya.


Semua orang panik menunggu informasi dari dokter yang menangani Ivanna. Apa lagi Carenza yang tidak hentinya memanjatkan do'a untuk anak dan istrinya yang ada di dalam sana.


Begitu juga dengan Fajri. Ia menghubungi orang dirumah untuk memberitahukan kabar terbaru mengenai Ivanna.


Srek!


Setelah hampir setengah jam Dokter keluar dengan perasaan lega.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Tanya Carenza tidak sabar.


"Ah, saya mohon maaf, Tuan! Saya sudah berpesan kemarin agar Nona beristirahat. Beruntung janinnya masih bisa di selamatkan. Namun kali ini, saya memang benwr-benar menekankan untuk menjaga Nona. Karena kandungannya semakin lemah! Setelah ini kamipun tidak bisa menyelamatkan anak anda!" Ucap Dokter itu tegas tanpa takut dengan siapa ia berbicara.


"Tapi merek baik-baik saja kan dokter?" Tanya Carenza.


"Iya, anak dan istri anda baik-baik saja. Tetapi Nona harus dirawat, agar kami bisa memastikann Nona baik-baik saja, dan janin yang aada di dalam kandungan Nona bisa lebih kuat!" Ucap Dokter.


"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk anak dan istri saya dokter!" Ucap Carenza.


"Itu sudah menjadi tugas kami! kami akan menyiapkan kamar rawat inap untuk Nona, Saya permisi dulu, Tuan!!" Ucap dokter itu pergi.


Carenza segera masuk dan melihat Ivanna yang sudah terlelap dengan seorang infus dan oksigen yang terpasang di tubuhnya.


"Sayang?" Panggil Carenza dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia mengecup kening Ivanna dan perut rata sangat istri dengan perasaan yang begitu khawatir.


"Aku gak bisa membayangkan jika Ivanna juga harus mengalami ngidam!" Ucap Carenza dengan air mata yang menetes.


"Bersyukurlah! Setidaknya kamu bisa merasakan bagaimana susahnya mengandung, sehingga kamu bisa berfikir berulang kali untuk menyakiti wanita!" Ucap Fajri bijak.


"Iya, Ji. Thanks!" Ucap Carenza menatap Fajri.


Tak berapa lama, Ivanna segera di pindahkan menuju ruang VVIP khusus untuk keluarga Dirgantara. Di sana sudah tersedia perlengkapan yang di perlukan selama mereka mengunakan di sana.


"Kamu sudah menghubungi bundamu, Za?" Tanya Ibu sambil mengelus kepala Ivanna lembut.


"Sudah saya kabari, bu!" Ucap Fajri.


"Syukurlah! hampir saja kita kehilangan!" Ucap Ibu berkaca-kaca.


"Iya, bu. Setelah ini, jangan harap Nana bisa keluar dari kamar!" Ucap Carenza tegas.


"Jangan terlalu mengekangnya!" Nanti aku kasih tau bagaimana cara menangani Ivanna!" Ucap Fajri menepuk baju Carenza.


Taak berapa lama, Atim datang membawa beberapa perlengkapan untuk Ivanna. Carenza segera membantu Ibu untuk mengganti pakaian Ivanna yang sudah terkena darah.


Hati Carenza terasa tercubit. Hari ini ia akan selalu ingat untuk memperketat penjagaan kepada Ivanna agar kejadian ini tidak terjadi lagi.


Ia berbaring di samping Ivanna, memeluk tubuh lemah sang istri dan mengecup keningnya berulang kali.


"Ibu pulang saja dulu bersama Atim. Biar Aji dan Eza yang menunggu Ivanna," Ucap Fajri mengelus pundak Ibu yang masih terlihat khawatir.

__ADS_1


"Gak papa, Nak! Ibu di sini saja. Kamu saja yang pulang, pasti Safira membutuhkanmu!" Ucap Ibu tersenyum.


"Baiklah, Bu! Kalau begitu Aji pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja kami langsung, bu!" ucap Fajri.


"Iya, nak! Hati-hati pulangnya!" ucap Ibu.


"Iya, bu!" Fajri mengecup tangan wanita paruh baya itu. "Kamu di sini saja, temani Ibu!" Ucap Fajri kepada Atim.


"Baik, tuan!" Ucap Atim patuh.


Mereka menunggu Ivanna hingga terbangun. Ibu hamil itu masih setia terlelap di dalam pelukan Carenza yang begitu nyaman. Sementara pria tampan itu tak hentinya meneteskan air mata mengingat apa yang baru saja ia alami di tambah dengan hormon kehamilan yang ia derita.


"Udah, nak. Jangan menangis lagi, nanti istrimu malah kepikiran!" ucap Ibu mengelus kepala Carenza dengan lembut.


"Iya, Bu!" Ucap Carenza tercekat.


"Istirahatlah, Nak!" Ucap Ibu juga ikut tercekat.


Carenza segera memejamkan matanya sambil memeluk Ivanna dan menggenggam tangannya.


Sementara itu semua orang di rumah masih menunggu kabar selanjutnya dari Fajri. Beruntung bocil kembar sudah tertidur di kamar mereka. tinggalah Safira, Irfan dan Fajira di ruang keluarga.


Tak lama Fajri datang dengan wajah kusutnya yang masih terlihat khawatir.


"Bagaimana keadaan, Nana, Bang?" Tanya Irfan tidak sabar.


"Beruntung, mereka masih selamat, Ayah. Dokter bilang, dede harus di rawat intensif sampai janinnya benar-benar kuat!" Ucap Fajri lirih.


"Syukurlah! Kamu mau balik lagi ke sana, Bang?" Tanya Fajira.


"Abang belum tau, Bunda. Mungkin kita kirim makanan saja, kalau baju dan peralatan yang lain mungkin bisa di antara besok pagi!" Ucap Fajri.


"Ah, baiklah, Bunda siapkan dulu. Ajak Safira untuk istirahat, nak!" Ucap Fajira tersenyum.


"Iya, bunda. Kami naik dulu ke atas!" Ucap Fajri.


Setelah berpamitan, mereka segera pergi menuju kamar dan beristirahat. Bukan, Fajri hanya menemani Safira hingga tertidur, setelah itu ia akan mengamati Ivanna dan pergerakannya melalui kamera CCTV yang ada di dalam ruangan itu.


Sementara di bawah, Fajira memeluk Irfan sambil menahan isaknya.


"Sudah, sayang! Anak dan cucu kita baik-baik saja!" Ucap Irfan menenangkan sang istri.


"Hiks, Aku khawatir, Mas!" Ucap Fajira masih terisak.


"Ya sudah lebih baik kita bungkus makanan untuk mereka, dan meminta pak Sakti untuk mengantarkannya!" ucap Irfan mengusap air mata Fajira.


Semuanya disiapkan oleh bidadari cantik itu, termasuk susu hamil untuk Ivanna dan juga obat Carenza. Setelah selesai, ia meminta pak Sakti untuk kembali ke rumah sakit untuk mengantarkan bekal itu.


"Besok kita ke sana, ya! Sekarang kita tidur lagi!" Ajak Irfan.


Ia melakukan hal yang sama dengan Fajri. Menunggu Fajira terlelap dan membuka laptopnya, lalu mengawasi keadaan Ivanna melalui CCTV.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


vote mana vote?


kembang mana kembang?

__ADS_1


like mana like?


🀭🀭


__ADS_2