
Hari pernikahan semakin dekat. Besok adalah hari dimana putri bungsu keluarga Dirgantara akan melangsungkan pernikahan di stadion bola yang ada di kota itu.
Semua persiapan sudah selesai dengan sempurna walaupun sempat menghadapi beberapa permasalahan terkait Nafisa kemarin. Namun semuanya sudah di selesaikan dengan syarat Ivanna membayar sejumlah uang untuk biaya ganti rugi.
Selepas makan malam, Ivanna sedang berkumpul di ruang keluarga bersama yang lain. Ia mendengarkan wejangan yang cukup berguna setelah menikah nanti.
"Yang penting, dede gak boleh egois, sayang. Bukan hanya dede, Eza juga! Karena kalau mengedepankan ego, pasti akan berantem terus. Yang satu gak mau ngalah, yang satu juga harus menang, bagaimana gak perang terus!" Ucap Fajira.
"Iya, bunda!" Ucap Ivanna lirih.
Ia sadar, jika selama menjalin hubungan dengan Carenza, ia sedikit lebih egois dan juga possesif.
"Untung Ayah bucin sama bunda, dek! Kamu kan tau, kalau ayah orangnya keras dan tegas. Makanya kalau dirumah adem ayem aja!" Ucap Fajira terkekeh.
Ia menatap Irfan yang ada di sampingnya. Sementara pria tampan itu hanya tersenyum dan mengecup pipi Fajira.
"Iya, enak lo dek, punya suami bucin! Sepertinya Eza juga bucin itu sama kamu!" Ucap Safira juga ikut tertawa.
Irfan dan Fajri tengah memeluk istri masing-masing. Mereka ikut terkekeh, karena apa yang di katakan oleh Safira itu memang benar adanya.
"Yang paling penting, seperti apapun suami kamu, jangan sampai merendahkannya! Walaupun dede punya semua hal, tetapi ada hak dan kewajiban yang harus kalian penuhi masing-masingnya. Seperti, nafkah, Eza pasti ngasih kamu uang bulanan, jangan menolaknya, terima dan pakai itu untuk membeli keperluan dapur dan keperluan dede! Nah yang yang dede hasilkan, bisa di tabung untuk keperluan mendesak nanti!" Terang Fajira.
"Iya, bunda. Kak Eza bahkan sudah memberikannya sebelum menikah. Udah berapa kali dede menolak, tetapi karena kak Eza memaksa, dede terima," Ucap Ivanna.
"Nah, kalau belum sah, boleh di tolak, sayang!" Ucap Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Ivanna yang bersandar di kakinya dengan lembut.
"Kamu bisa lihat, bagaimana bunda melayani ayah mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi! Ambil hal positifnya dan buang hal negatifnya!" Ucap Fajira.
"Yang penting suami kamu anteng, Dek! Dahulukan dia dari apapun!" Ucap Safira.
"Iya, kak. Tapi, kak Eza gak nuntut banyak hal, yang penting dia ngantar aku kerja, terus pulang bareng, habis itu di rumah saja, kemana-mana harus bareng!" Ucap Ivanna.
"Itu karena dia paham kalau kamu punya tanggung jawab yang besar. Namun di dalam hatinya, ia hanya ingin selalu memiliki kesempatan untuk selalu dekat dengan kamu!" Ucap Fajri.
"Terkadang laki-laki itu tidak bisa menyampaikan keinginannya, karena ia takut akan mengganggu kenyamanan kamu! Nah di sini dede harus peka, sayang! Abang lihat, dia tipikal laki-laki yang memendam keinginannya, asal kamu nyaman dengan dia!" Sambungnya.
Ivanna terdiam, apa yang di katakan oleh Fajri memang benar. Terkadang ia merasakan sesuatu yaang tersirat dari mata Carenza. Namun ia tidak mampu untuk menyampaikannya.
__ADS_1
"Seharmonis apapun hubungan suami istri, pasti nanti ada saja masalahnya. Bicarakan baik-baik, jangan sampai berantem atau berniat untuk berpisah. Jika gak sanggup untuk menyelesaikannya berdua, minta bantuan keluarga, tetapi selagi masih bisa dibicarakan dengan baik, gak ada salahnya kan?" Ucap Fajira.
"Iya, bunda. Dede paham!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Banyak hal baik yang bisa dede pelajari dari cara bunda dan kakak ketika menjadi seorang istri dan wanita karir! Jadilah istri yang berbakti kepada suami, dahulukan dia dari pada keluargamu!" Ucap Irfan tersenyum.
"Dahulukan kak Eza dari pada keluarga?" Tanya Ivanna.
"Iya, sayang! Karena saat mengucap janji pernikahan itu, ayah dan Eza melakukan serah terima, dan ayah telah melimpahkan tanggung jawab kepada Eza!" Ucap Irfan. "Tetapi, Ayah dan abang gak sepenuhnya menyerahkan itu. Dimanapun dede berada jauh dari Eza, di sana ayah dan abang akan selalu mengawasimu!".
"Dede paham, yah!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Seburuk apapun Eza nanti, simpan aib rumah tangga kalian rapat-rapat. Hargai dia sebagai suami, bagaimana pun tinggi jabatan dede, dia tetap satu ranting di atasmu. Izin kepadanya jika kamu ingin pergi keluar dari rumah, mengambil keputusan dan hal lainnya. Jangan tutupi apapun, jika dirasa Eza memang harus tau!" Ucap Fajira tersenyum.
"Iya, bunda! Malam ini dede tidur di kamar ya!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Aih, boleh deh! Kapan lagi dede bisa tidur sama bunda!" Ucao Fajira tersenyum.
Mereka terus mengobrol hingga malam semakin larut. Tidak ada acara bridal shower atau acara lajang lainnya. Karena itu akan sangat melelahkan, mengingat ada sepuluh ribu undangan yang akan datang esok.
🌺🌺
"Perempuan itu ibarat kaca, bang. Dia sangat sensitif, jika tidak dijaga dengan baik dia mudah pecah, jika terlalu digenggam terlalu kuat dia juga akan retak dan pecah. Jadi, kamu harus bisa menjaga Ivanna nanti setelah menikah! Dia bahkan lebih berharga dari apapun di dunia ini!" Ucap Ayah.
"Iya, yah! Eza hanya punya cinta Ivanna. Justru semakin mendekati hari pernikahan, Eza semakin takut jika dia direbut oleh orang lain!" Ucap Carenza lirih sambil mengeluarkan isi hatinya.
"Berserah diri saja! Kamu harus percaya dengan cinta yang kalian miliki, seperti ayah dan ibu. Walaupun hidup kita pernah sangat susah, tetapi ayah percaya jika ibu begitu mencintai ayah, dan itu yang menjadi semangat ayah untuk bekerja, sampai kamu turun tangan untuk mengurus peternakan kita!" Ucap ayah.
"Iya, yah! Eza paham!" ucap Carenza.
"Kamu itu beruntung bisa mendapatkan seorang putri. Kelak, pasti kamu akan menghadapi situasi, dimana Ivanna begitu sibuk dengan pekerjaannya. Jangan memendam apa yang abang rasa, katakan dengan cara yang begitu bijaksana dan lembut! Ibu yakin kamu akan mendapati situasi seperti ini, tapi semoga saja tidak!" Ucap Ibu membelai kepala Carenza.
"Eza akan ingat, bu! Terima kasih karena ayah dan ibu sudah mendidik Eza dengan baik, menjadi laki-laki yang tumbuh dengan rasa percaya diri dan optimis yang begitu kuat!" Ucap Carenza tercekat.
"Jangan berterima kasih, nak! Kamu dan dede itu harta ibu yang paling berharga! Jaga keluargaa kecilmu nanti seperti ayah dan ibu menjagamu, ambil sisi positifnya!" ucap Ibu juga ikut tercekat. "Jangan kamu ajak pula anakmu berdebat setiap hari!" sambungnya sambil mendelik.
"Hahaha, tapi seru, Bu! Hubungan kita semakin dekat sama seperti waktu kecil dulu!" Ucap Carenza.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, asal tidak memberikan dampak yang buruk untuk anakmu nanti!" Ucap Ibu menggeleng.
"Nanti kamu mau tinggal di mana, bang?" Tanya Ayah.
"Aku ikut Ivanna aja, Yah. Dimana dia nyaman saja!" Ucap Carenza.
"Jangan seperti itu, walaupun kamu mementingkan kenyamanan Ivanna, tetapi kamu kepala keluarga. Dia yang harus ikut kamu, bukan kamu yang ikut dia! Hati-hati, bang. Ivanna adalah seorang pemimpin perusahaan besar, jangan sampai nanti perannya diluar juga terbawa ke dalam rumah karena kamu membebaskan dia untuk memilih!" Ucap Ayah.
"Maksud ayah?" Tanya Carenza mengernyit.
"Kalau kamu menyerahkan keputusan apapun kepada Ivanna, kamu gak akan bisa menjadi kepala keluarga yang bijaksana. Setiap keputusan itu kamu yang memutuskannya. Beri kan dia pilihan untuk membantu kamu agar bisa memutuskan sesuatu. Seperti, Kalian mau tinggal dimana? Rumah mertua atau hidup mandiri, bagaimana positif dan negatifnya, kamu dengarkan pendapat Ivanna bagaimana. Nah dari sana kamu bisa mengambil keputusan yang bijaksana!" Ucap Ayah.
"Eza paham, Ayah! Pantas aja, tidak ayah dan Ibu tidak pernah berbeda pendapat jika Menyangkut keputusan!" Ucap Carenza tersenyum
"Nah itu, karena ayah paham bagaimana Ibu, begitu juga sebaliknya! Kamu beruntung bisa mendapatkan Ivanna yang begitu cerdas dan bisa mengambil keputusan dengan baik walaupun beresiko. Setinggi apapun jabatannya di perusahaan, tetapi jika sudah di rumah, dia tetap seorang istri yang patuh kepada suami. Tetapi, jangan kamu rendahkan dia, Ivanna seorang putri loh bang, harga diri kamu bisa di lihat oleh semua orang!" Ucap Ayah.
"Eza paham, yah!" Ucap Carenza tersenyum.
Ayah dan ibu memberikan bebrapa wejangan lagi untuk Carenza. Karena, bagaimanapun juga putranya akan menjadi seorang pemimpin dalam keluarga, bertanggung jawab terhadap kehidupan seorang putri dari keluarga terpandang.
Hingga malam semakin menjelang, mereka segera beristirahat karena besok pagi, akan menjadi hari yang begitu bersejarah untuk kehidupan baru Carenza dan Ivanna kedepannya.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
"Hai gais, saya Ivanna, secara pribadi mengundang para warga noveltoon untuk menghadiri acara pernikahan saya besok! Siapkan kembang atau kopi untuk author yaa! Ini perintah dari saya! Do'a kan juga semoga besok bisa berjalan dengan lancar!" Ucap Ivanna datar.
"Jangan kepo sama malam pertama saya!" Ucapnya tegas.
"Galak bener, Bu!" Ucap author mendelik.
Wkwkwk, canda ya gais ðŸ¤.
Semoga besok acara pernikahan Ivanna bisa lebih mengharukan di banding pertunangan kemarin ya. Semoga isi hati Ivanna besok akan membuat semua orang tau, betapa ia mencintai Carenza sang suami.
Ah aku harus menyiapkan hati dan tenaga nihðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
See yon soon 😉