
"Wah, aku kedatangan pasangan Sultan!" Ucap Malik terkekeh menyambut Ivanna dan Carenza.
"Gak usah lebay! Gimana keadaan Lo? Lama kita tidak bertemu!" Ucap Carenza terkekeh.
"Baik! Lo sekarang makin sibuk ya. Apa lagi Nona Ivanna akan melahirkan dalam beberapa bulan lagi!" Ucap Malik.
"Iya, Sebentar lagi gua bakalan jadi Ayah! Lo kapan Lik?" Tanya Carenza sambil tertawa.
Wajah Malik berubah sendu, "Dia masih terlalu susah untuk digapai, Za. Ada dinding besar yang menghalangi!" Ucapnya menatap Ivanna.
"Itu kakak saja yang terlambat! Atau kakak memang tidak mampu untuk menaklukkannya!" Ucap Ivanna ketus karena merasa tersindir.
"Ah, mungkin alasan yang kedua itu sangat tepat!" ucap Malik yang sedikit takut melihat tatapan Ivanna.
"Dimana ruangannya?" Tanya Ivanna mendelik kesal.
"Ah, iya. Mari saya antar Nona!" Ucap Malik terkekeh.
Mereka berjalan menuju ruang VIP yang ada di lantai satu restoran itu. Ivanna memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti jika Jordan berbuat suatu hal bisa membahayakannya.
"Be, kamu harus was-was!" Ucap Ivanna tidak tenang.
"Iya, sayang!" Ucap Carenza tersenyum. "Lik, lo tolong pastiin kamera CCTV hidup!" Ucap Carenza tegas.
"Kenapa kalian tumben seperti ini? Apa ada sesuatu?" Tanya Malik curiga.
"Gak ada! Hanya saja yang satu ini mungkin rada berbahaya, mengingat Ivanna tengah berbadan dua!" Ucap Carenza.
Ia melihat beberapa orang berbadan tegap mulai memasuki restoran itu. Ia menatap kearah Ivanna, dan melihat sangat istri mengangguk dan langsung masuk kedalam ruangan.
"Hidangkan saja untuk dia nanti, Kak! Kami tidak usah!" Ucap Ivanna.
"Baiklah!" Ucap Malik sedikit takut.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan restoranku!. Batin Malik keluar dari ruangan itu
Ivanna bersandar di dada bidang Carenza sambil mengelus perut buncitnya yang mulai bergerak. Carenza begitu berbinar ketika merasakan tendangan sang anak. Walaupun sampai sekarang mereka belum mengetahui gender sang anak.
"Aku mencintaimu, Baby!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Aku lebih mencintaimu, sayang!" Ucap Carenza berbinar senang.
Tak lama Jordan masuk sambil membawa sebuah paper bag di tangannya. Ia tersentak ketika melihat keberadaan Carenza di dalam ruangan dan tengah memeluk Ivanna dengan mesra.
Wajahnya berubah masam melihat pemandangan itu. Namun sebisa mungkin, ia menyembunyikan perasaan yang tengah bergejolak di hatinya.
"Hai, Apa aku terlambat?" Tanya Jordan dalam bahasa Inggris sambil tersenyum.
"Tidak, Kami juga baru saja tiba!" Ucap Ivanna datar.
"Ah, iya! Sudah berapa bulan, Kandungan anda Nona?" Tanya Jordan.
"Sudah 7 bulan!" Ucap Carenza tersenyum bangga.
"Selamat ya, Semoga nanti bisa melahirkan dengan lancar!" Ucap Jordan manahan kesalnya.
"Aamiin. Ada apa anda repot-repot ingin bertemu dengan saya?" Tanya Ivanna datar.
"Ah, saya ingin menyerahkan ini untuk anda!" Ucap Jordan menyerahkan paper bag yang ia bawa tadi.
"Thanks!" ucap Ivanna menyimpan bingkisan itu di sampingnya.
__ADS_1
"Hmm, Saya juga mengucapkan terima kasih karena berkat bantuan anda, perusahaan saya bisa kembali bangkit dan berkat anda juga, banyak perusahaan yang kembali menjalin kerja sama dengan saya!" Ucap Jordan tersenyum.
"Itu tidak masalah, sudah seharusnya saya menolong anda, karena setiap orang memiliki kesempatan kedua!" Ucap Ivanna.
"Hmm, Ini saya membawa berkas pemberian saham. Sebelum kita bertemu, saya memang sudah berniat akan memberikan lima persen saham kepada siapa saja yang mau membantu kami. Namun Anda begitu berani membeli saham dan menyuntikkan dana yang cukup besar ke perusahaan, jadi ini saya berikan kepada Anda!" Ucap Jordan tersenyum.
Ivanna mengernyit, ia hanya memikirkan dua sisi yaitu negatif dan postif. Namun sejauh apapun ia berpikir, hanya ada jawaban negatif yang menjadi pokok utama.
"Terima kasih, tetapi tidak usah repot-repot untuk melakukan hal ini. Saya tidak bisa menerimanya! Munkin anda bisa membagi rata 5 persen saham itu kepada seluruh panti asuhan maupun panti sosial di sana!" Ucap Ivanna.
Jordan terdiam. Ternyata aku salah! Dia bukan wanita yang haus dengan harta!. Batinnya.
"Baiklah, jika itu keputusan anda! Namun jika Nona jngn merobahnya, anda bisa menghubungi saya langsung!" Ucap Jordan.
"Iya! Saya tidak ada akan merobahnya! Tetapi tolong saham itu atas nama saya!" ucap Ivanna.
"Ini sudah saya tuliskan di sini, silahkan Nona periksa dan ditanda tangani untuk berkas penyetujuannya!" Ucap Jordan tersenyum.
Ivanna mengambil berkas itu dan membacanya dengan seksama. Lima persen saham ini akan menambah kekuatannya di perusahaan itu, jika kolaps ini akan menjadi keuntungan yang sangat besar baginya untuk mengakuisisi perusahaan seperti itu.
Carenza mengernyit dan ikut membaca berkas yang tengah di padang oleh Ivanna, sedikit banyak ia paham dengan berkas-berkas perusahaan, karena belajar bersama sang istri. Matanya terbelalak ketika melihat jumlah uang dari 5 persen saham itu.
Ternyata tidak lebih besar dari pada perusahaan Dirgantara. Itu hanya separoh dari harga saham milikku!. Batin Carenza.
Ia terus mengamati pergerakan pria bule itu dengan seksama. Mata mereka beradu pandang, Carenza menaikkan alisnya sebelah dengan senyum smirk menatap Jordan. Sementara yang ditatap hanya menampilkan wajah dingin tanpa ekpresi, sangat berbeda ketika menatap Ivanna.
"Baiklah, ini saya tanda tangani! tolong setiap bulan, kirimkan rincian pengeluaran dengan sangat detail kepada saya!" Ucap Ivanna menyerah berkas itu setelah menandatanganinya.
"Baik, Nona! Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih banyak. Karena anda sudah menyelamatkan saya dan ribuan karyawan lainnya!" Ucap Jordan membungkuk hormat.
"Iya, Sama-sama!" Ucap Ivanna dengan wajah datarnya.
"Iya, semoga anda selamat sampai tujuan!" Ucap Ivanna.
"Iya, terima kasih, Nona! Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" Ucap Jordan berdiri.
"Iya, silahkan!" Ucap Ivanna menganggukkan kepalanya.
Jordan tersenyum dan berjalan keluar dari ruangan. Ivanna bernafas lega, karena bule itu tidak melakukan sesuatu yang bisa membahayakan mereka.
Sementara Carenza, ia hanya diam dengan wajah yang cemberut. Entah kenapa, ia selalu tidak suka melihat Ivanna berbicara dengan laki-laki lain, tanpa menghiraukan dirinya.
"Kita ke rumah sakit ya, Be! Perutku tegang sedari tadi!" Ucap Ivanna lirih sambil mengusap perutnya.
"Yuk, kita pergi, Sayang!" Ucap Carenza panik.
Mereka segera dari ruangan itu dan menuju rumah sakit. Ivanna mulai tenang karena situasinya tidak lagi mencekam seperti tadi.
"Sayang?" Panggil Carenza.
"Iya, Be?" ucap Ivanna menyahut.
"Apa ini bukan jebakan?" Tanya Carenza.
Ivanna terdiam, ia sedikit ragu dengan hal ini. Ia segera mengusir pikiran buruk agar tidak menambah beban yang akan berdampak pada kandungannya.
"Semoga saja tidak, Be!" ucap Ivanna tersenyum.
Tak lama, mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Carenza segera membantu Ivanna untuk turun dari mobil dan menggandeng tangannya dengan mesra sambil berjalan masuk kedalam gedung dan menuju ke ruangan obgyn.
Ivanna memilih untuk mengambil nomor antrian dan duduk di samping seorang ibu hamil dengan perut yang begitu besar.
__ADS_1
Glek!
"Be, itu berapa bulan?" Tanya Ivanna berbisik kepada Carenza.
"Hmm, Gak tau sayang! Mungkin sudah sembilan bulan!" Ucap Carenza setelah memperhatikan ibu itu.
"Aku mau tanya-tanya, boleh gak ya?" Tanya Ivanna kembali berbisik.
"Boleh! Emang kamu mau nanya apa, sayang?" Tanya Carenza tersenyum.
"Ya tentang kehamilan aja, Be! Sepertinya itu bukan kehamilan pertama, mungkin Ibu itu lebih berpengalaman!" Ucap Ivanna berbisik malu.
Carenza tersenyum gemas menatap Ivanna yang mengalami perubahan drastis semenjak kehamilannya.
"Permisi, Bu?" Panggil Carenza.
"Eh, iya nak? Ada yang bisa di bantu?" Tanya Ibu itu tidak mengenali pasangan bucin yang ada di sampingnya ini karena tertutupi masker.
"Istri saya ingin mengobrol, tetapi dia malu!" Ucap Carenza tersenyum.
"Be!" Seru Ivanna mencubit pinggang Carenza.
"Ngobrol? Boleh! Giliran saya juga masih lama!" Ucap Ibu itu tersenyum.
"Sudah berapa bulan, Bu?" Tanya Carenza.
"Ah, ini sudah sembilan bulan. Perkiraannya dua minggu lagi, bisa jadi lebih cepat!" Ucap Ibu itu tersenyum.
"Apa sering mengalami kontraksi gitu bu?" Tanya Ivanna lirih.
"Kontraksi itu rata di alami sama semua Ibu hamil. Apalagi dalam kondisi beban yang berat!" Ucap Ibu itu tersenyum. "Ini sudah berapa bulan Nak?".
"Sudah 7 bulan, Bu!" Ucap Carenza tersenyum dengan wajah yang berbinar.
"Wah, gak lama lagi itu!" Ucap Ibu tersenyum. "Apa boleh saya elus perutnya?" Tanya Ibu itu dengan hati-hati.
"Bo-boleh, bu!" Ucap Ivanna lirih.
Mereka tersenyum, ia mengelus perut Ivanna dengan lembut dan mengucapkan do'a-do'a untuk keselamatan Ibu dan anaknya. Ivanna pun melakukan hal yang sama. Tanpa disadari jika ada beberapa pasang mata yang mengenalnya tengah menatap kearah mereka dengan begitu iri.
Hingga giliran Ivanna terpanggil, semua orang terkejut sambil menatap pasangan bucin itu. Termasuk Ibu tadi yang masih berada di depan pintu.
Ivanna dan Carenza segera masuk kedalam ruang pemeriksaan. Dengan begitu cemas, Ivanna bertanya tentang keluhan yang ia rasakan belakangan ini.
"Tidak papa, itu hal lumrah terjadi. Mengingat kandungan Nona begitu rentan. Walaupun bosan, tetapi saya menganjurkan untuk beristirahat di rumah saja!" Ucap Dokter itu tersenyum.
"Baiklah dokter!" Ucap Ivanna pasrah.
Setelah menanyakan beberapa hal, mereka pulang ke rumah untuk beristirahat. Wajah Ivanna begitu lesu, mengingat dirinya kembali berada di rumah. Apa lagi Nizam sering di bawa pergi oleh Safira. Sehingga ia merasa begitu bosan karena tidak bisa melakukan apapun.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE.
Ada yang suka persahabatan antara Nathan dan Ivanna? Yuk kunjungi novel dari Emak Femes
Kunjungi gais π₯°π₯°π₯°
__ADS_1