
Fajri sudah berada di kantor polisi, ia berhadapan dengan ayah Chelsea yang baru saja datang dari Jerman beserta beberapa anak buahnya yang lain.
Mata mereka saling bertatapan dengan tajam tanpa berkedip sedikitpun. Sehingga membuat suhu ruangan itu terasa lebih dingin, bahkan para polisi pun takut untuk memulai pembicaraan.
"Selemat Siang!" Terdengar suara yang begitu lantang dan tegas baru saja masuk kedalam ruangan itu.
Charles, Ayah dari Chelsea menoleh dan terkejut ketika melihat kehadiran Aldebra ada di sana. Ia langsung berdiri dan menyambut kedatangan pria paruh bahaya itu.
"Selamat datang, Tuan. Ada apa gerangan anda datang kema...," Ucap Charles terdiam ketika Aldebra melangkah menuju Fajri.
"Dasar lemah! Kenapa bisa sampai kau tertembak?" Bentak Aldebra kepada Fajri.
"Namanya juga manusia!" Ucap Fajri enteng.
Aldebra kesal dan memukul luka Fajri yang masih basah.
"Arghh! Syalan kau Pak Tua!" Ucap Fajri meringis sambil memegang lengannya.
"Apa sakit?" Tanya Aldebra dingin.
"Tidak! Rasanya begitu nikmat dan menenangkan, hingga aku merasa ingin membunuhmu!" Ucap Fajri tersenyum menyeramkan.
Semua orang merinding melihat kedatangan Aldebra. Ditambah dengan interaksinya bersama Fajri, membuat mereka berasumsi jika ada hubungan baik di antara Fajri dan Aldebra.
"Tu-tuan? A-anda mengenal dia?" Tanya Charles terbata.
"Dia anakku, syalan!" Bentak Aldebra.
Deg!
Charles melotot mendengarkan ucapan Aldebra. Pantas saja mereka bisa menang, pria tua ini yang sudah mendukungnya!. Batin Charles kesal.
"Bu-bukankah anda tidak memiliki anak?" Tanya Charles.
Sring!
Aldebra menatap Pria itu dengan tajam, seolah tengah menikam pria itu hingga tembus kepunggungnya.
"Kau berani denganku?" Ucap Aldebra berjalan mendekat ke arah Charles.
"Sudahlah Pak, tua! Jangan menambah masalah!" Ucap Fajri malas.
"Kau dasar anak tidak tau di untung!" Ucap Aldebra sangat kesal dengan Fajri.
Ia memilih duduk dan menatap pria tampan itu dengan lekat. "Apa lagi sekarang?" tanya Aldebra.
"Ck, dia tidak terima jika anaknya aku jebloskan ke dalam penjara!" Ucap Fajri kesal.
"Benarkah?" Tanya Aldebra kembali menatap Charles dengan tajam.
"Benar, Tuan. Dia tidak akan bisa menjebloskan anak saya ke penjara!" Ucap Charles tegas.
"Kenapa tidak? Apa karena bukan di negaramu?" Tanya Aldebra mengernyit. "Bukankah negara ini memiliki aturan tentang itu?" Tanya Aldebra menatap polisi yang ada di sana.
"Sudah tuan! Hukuman berlaku sesuai dengan laporan dan tuntutan nantinya! Sebab semua berkas-berkas dari tersangka sudah kami kumpulkan beserta barang bukti dan beberapa rekaman!" Ucap polisi itu.
"Tegakkan kedilan jika kalian tidak ingin di periksa oleh juru bicara kenegaraan!" Ucap Fajri tegas.
Charles dan beberapa orang polisi terdiam. Mereka menjadi mati kutu karena melihat kekuasaan Fajri dan Aldebra saat ini.
"Jika pun tidak melibatkan pihak kenegaraan, status bapak-bapak semua bisa di pertaruhkan karena dunia sudah mengetahui hal ini!" Sambung Fajri tersenyum penuh kemenangan.
"Saya akan mengeluarkan putri saya dari sini dan menuntut adik anda atas kekerasan yang telah dia lakukan kepadanya!" Ucap Charles yang tidak bisa menahan emosinya.
"Silahkan, dan saya pastikan hukuman putri anda akan semakin berat dan lebih berat lagi!" Ucap Fajri tegas.
Charles tidak menjawab, ia memilih untuk melihat Chelsea yang masih berada di dalam ruang perawatan yang ada di dalam kantor polisi.
__ADS_1
"Saya ingin membuat laporan!" Ucap Fajri.
"Silahkan, Tuan!" Ucap Sipir itu mulai mengetik laporan Fajri.
"Pertama, Dia seorang lesbian dan mengganggu kenyamanan keluarga saya. Perencaan pembunuhan terhadap adik ipar saya dan juga menewaskan supir pribadi saya. Penculikan dan penyekapan, memisahkan ibu dan anak, tindakan kekerasan, bla bla bla bla," Ucap Fajri menyebutkan semua kesalahan Chelsea, baik dari yang kecil dan remeh temeh hingga hal yang besar.
Aldebra dan para Sipir hanya bisa menggeleng melihat tingkah Fajri yang ingin menuntut Chelsea dan Jordan dengan begitu berat.
Hingga akhirnya Aldebra menutup mulut pria tampan itu karena terlalu banyak berbicara.
"Kau ingin membuat laporan atau mengadu kepada ibumu?" Tanya Aldebra kesal.
"Dua-duanya! Sudahlah Pak Tua. Kau juga pernah merasakan kehilangan!" Ucap Fajri lirih dan membuat Aldebra bungkam.
Hingga Sipir itu menerima 100 laporan dari Fajri. Ia hanya menggeleng namun tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua itu memiliki aturannya masing-masing.
"Apa masih ada lagi, Tuan?" Tanya Sipir itu.
"Sudah, tolong di proses dengan cepat. Untuk kondisi korban, adik saya mengalami trauma, bahkan sampai sekarang belum sadarkan diri! Sementara adik ipar saya, menendangnya hingga mengalami patah pada tulang punggungnya bla, bla, bla," Ucap Fajri kembali menjabarkan seluruh kekesalannya di sana.
Hingga ia puas, Aldebra segera menarik Fajri untuk keluar dari kantor polisi itu dengan perasaan kesal.
"Kenapa kau tidak bisa menjaga image sedikit pun?" Tanya Aldebra.
"Untuk apa? Itu semuanya memang benar, Dad. Aku sengaja menyebutkannya, Karena mereka memiliki aturan dan hukuman masing-masing prilaku!" Ucap Fajri polos.
"Tapi kau bisa meminta tolong kepada pengacara!" Ucap Aldebra.
"Itu pasti, Dad. Kau jangan risau!" Ucap Fajri tersenyum.
"Dasar anak nakal!" Ucap Aldebra memukul kepala berharga miliki Fajri.
Mereka membicarakan tentang kasus ini agar Chelsea dan Jordan bisa di hukum mati. Fajri juga menyinggung tentang perusahaan Jordan yang tengah berada di ujung tanduk karena beberapa pemegang saham sudah menarik kembali dana mereka.
"Jika kau ingin, akuisisi saja! Itu perusahaan yang bagus, percayalah!" Ucap Aldebra.
"Cih, kau anak nakal! Selalu saja merepotkanku!" Ucap Aldebra ketus.
"Ayolah, Dad! Kau memang paling tampan dan begitu baik! Bantulah anakmu ini!" Ucap Fajri memelas.
"Biasanya kau melakukan apa pun sendiri! Kenapa kali ini kau meminta bantuanku?" Tanya Aldebra.
"Aku harus menyelesaikan banyak hal, Dad. Apa lagi perusahaanku sudah terbengkalai karena kasus ini!" Ucap Fajri.
"Iya, Iya! Tapi ada syarat!" Ucap Aldebra.
"Apa?" Tanya Fajri malas.
"Bawa anak dan istrimu ke rumahku!" Ucap Aldebra.
"Deal!" Ucap Fajri tersenyum.
Aldebra hanya memutar matanya malas. Mereka terus berbincang hingga sampai di Apartemen Fajri.
πΊπΊ
Ivanna dan Carenza sudah berada di kediaman Dirgantara. Begitu juga dengan Safira, Alifa dan yang lainnya. Mereka begitu sedih ketika melihat kondisi pasangan bucin itu terbaring lemah diatas ranjang.
"Dek, bangun yuk, sayang. Baby boy belum diberi nama, dia juga merindukanmu!" Ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bunda?" Panggil Nayla begitu merasa sedih.
Ia tidak tau tentang apa yang tengah terjadi saat ini. Berharap, ketika pulang ia mendapatkan pelukan hangat, namun kejutan besar yang ia dapat ketika melihat Ivanna dan Carenza tengah terbaring.
"Bunda bangun!" Ucap Naren menangis sambil memegang tangan Ivanna.
"Kenapa Ayah dan Bunda bisa seperti ini?" Tanya Nayla juga ikut menangis.
__ADS_1
"Sudah, sayang. Jangan menangis lagi!" Ucap Fajira yang ikut berkaca-kaca.
"Hiks, kenapa Lala gak dikasih tau kalau Ayah dan Bunda sedang sakit, Oma?" Tanya Nayla memeluk Carenza.
"Hiks, Bunda bangun!" Ucap Naren mengelus kepada Ivanna dengan lembut.
Ooaak, ooaak, ooaak!
Tangis baby boy mengejutkan semua orang yang ada di sana, termasuk Carenza yang masih tertidur. Ia begitu mengenal suara tangisan itu, walaupun hanya beberapa kali mendengarnya.
"Baby boy?" Ucap Carenza dengan suara seraknya.
"Ayah sudah bangun?" Tanya Nayla menangis bahagia.
"Lala, Ayah rindu, nak! Sini peluk ayah dulu!" Ucap Carenza tersenyum dan menghapus air mata Nayla.
"Hiks, kenapa Ayah tidak bilang, kalau ayah dan Bunda sakit?" Tanya Nayla memeluk Carenza dengan begitu erat.
"Ayah dan bunda gak papa, sayang! Jangan nangis lagi ya!" Ucap Carenza sambil mengelus kepala Nayla dengan lembut.
Mereka terenyuh melihat pemandangan itu. Tanpa disadari jika Ivanna telah membuka matanya dan membuat Naren terpaku.
"Hiks, Bunda sudah bangun!" Ucap Naren menangis dan memeluk Ivanna dengan begitu erat.
Sementara baby boy masih menangis kencang dan tidak mau berhenti karena masih belum merasakan dekapan sangat Bunda.
"Abang?" Panggil Ivanna lirih.
"Hiks, abang di sini, Bunda. Apa bunda haus? Bunda butuh sesuatu?" Tanya Naren menghapus air matanya dan menatap Ivanna dengan penuh cinta.
"Iya, nak. Bunda haus!" Ucap Ivanna lirih.
Naren langsung turun dari kasur dan mengambilkan Ivanna air minum.
"Bantu Aku duduk, Kak!" Ucap Ivanna lirih.
"Apa sudah kuat, Dek?" Tanya Safira cemas.
"Sudah! Kasihan anakku nangis terus!" Ucap Ivanna berkaca-kaca.
Ia sudah begitu rindu dengan sang anak dan sudah tidak sabar untuk memeluk putra kecilnya itu.
Safira segera membantu Ivanna untuk duduk dan bersandar pada headbord ranjang. Fajira segera menyerahkan Baby boy kepada Ivanna.
Dengan sisa tenaga, Ivanna berusaha untuk menggendong sang putra yang sudah begitu ia rindukan. Air matanya menetes dan tidak lagi bisa ia cegah. Sambil menangis tersedu, ia berusaha untuk menenangkan Baby boy dan mencoba untuk memberikan asinya.
"Masih mengalir nak?" Tanya Fajira tekejut.
"Hiks, masih, Bunda. Dede selalu mengeluarkannya setiap hari!" Ucap Ivanna masih menangis.
"Syukurlah, Nak!" Ucap Fajira.
Mereka tidak lagi bisa menahan air mata bahagia melihat pemandangan itu. Sementara ayah Hartono dan Andika harus pasrah ketika di gusur keluar dari kamar.
"Bunda, Ini airnya!" Ucap Naren menyerahkan segelas air putih.
"Terima kasih, sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.
Safira membantu Ivanna untuk minum sambil menapah keponakan tampannya.
Siang itu begitu membahagiakan karena satu persatu masalah sudah selesai. Ivanna sudah bangun, hanya tinggal beristirahat saja. Begitu juga dengan Carenza yang hanya menunggu waktu untuk pulih dan sembuh.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Udah ada bau-bau tamat nih π€π€
__ADS_1