
Air mata Carenza menetes ketika ia hanya mampu berdiri di hadapan dua orang satpam itu sambil melihat Ivanna yang mulai menaiki tangga pesawat itu.
Maafin aku, sayang! Hati-hati nanti di sana!. Batin Carenza menyesal.
Namun matanya membola, ketika melihat Fajri berlari masuk kedalam ruangan itu lagi.
"Biarkan dia masuk!" teriak Fajri tergesa.
Carenza segera berlari dengan kencang setelah di perbolehkan untuk masuk, tanpa menghiraukan Fajri yang hanya menggeleng melihatnya.
"Sayang?" panggil Carenza dengan keras dan membuat Ivanna menoleh.
Hug!.
Mereka langsung berpelukan dengan air mata yang menetes, tanpa menghiraukan anggota keluarga lainnya.
"Maafin, aku! Maafin aku, sayang!" ucap Carenza memeluk Ivanna dengan erat.
"Aku pikir kamu gak akan datang!" ucap Ivanna terisak.
"Aku pasti datang, sayang! Maaf sudah membuatmu cemas! Hati-hati di sana nanti!" ucap Carenza menatap manik mata Ivanna.
"Kamu juga hati-hati, By! Beri aku kabar terus!" ucap Ivanna menatap Carenza lekat.
"Iya, kamu juga harus memberi aku kabar, sayang!" ucap Carenza tersenyum sambil menahan tangisnya.
"Permisi, Nona! Pesawat akan berangkat sebentar lagi!" ucap pramugari itu sedikit takut.
"Aku pergi dulu!" ucap Ivanna berpamitan.
"Iya, hati-hati, sayang! Aku mencintamu!" ucap Carenza melepas kepergian Ivanna dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Aku juga mencintaimu!" ucap Ivanna mengelus pipi Carenza dengan lembut.
Gadis cantik itu menapaki satu persatu anak tangga hingga ia berada di dalam pesawat. Melambaikan tangan sambil tersenyum dengan air mata yang menetes, membuat perpisahan itu serasa mereka akan berpisah selamanya.
Perlahan pintu pesawat itu tertutup, semua anggota keluarga segera menyingkir dari sana agar tidak menghalangi laju burung besi itu.
Mereka melambaikan tangan mengantar kepergian Ivanna, gadis kecil yang akan memulai kariernya di dunia bisnis. Hingga pesawat lepas landas dan hilang dari pandangan, baru lah mereka memasuki ruangan itu kembali.
"Hiks, uncle?" panggil Nayla sambil menjangkau tubuh Carenza meminta untuk di gendong.
"Sini, sayang!" ucap Carenza menggendong dan menenangkan keponakan kekasihnya itu.
"Hiks, Nana pergi Uncle!" ucap Nayla menangis dan memeluk leher Carenza dengan erat.
"Nana gak lama perginya, sayang! Jangan nangis lagi, ya!" Ucap Carenza mengelus kepala Nayla dengan lembut, hingga gadis kecil itu terlelap.
"Kau harus berterima kasih kepada Nayla! Jika dia tidak menyadari keberadaanmu, kau tidak akan bisa bertemu dengan Nana sebelum dia berangkat!" ucap Fajri.
"Terima kasih!" Ucap Carenza tersenyum.
"Hmm," Fajri berdeham sambil mengangguk.
Mereka segera bubar dari ruangan itu dan memilih untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Bang, numpang ya! mobilku tadi kejebak macet, jadi aku meminta karyawan untuk mengambilnya!" ucap Carenza menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Cih, Dasar! Kenapa tidak datang lebih pagi? Sudah di tawari untuk tidur di rumah malah menolak!" ucap Fajri ketus.
Deg!
Carenza molotot, karena melupakan sesuatu yang sudah ia persiapkan dari semalam.
Ah sial! aku melupakannya!. Batin Carenza mengerutuki kebodohannya.
"Kenapa?" tanya Fajri mengernyit.
"Aku melupakan sesuatu!" ucap Carenza lirih.
"Untuk Ivanna?" tanya Fajri.
"Iya!" ucap Carenza.
"Cih, kalian seperti akan berpisah selama bertahun-tahun!" ucap Fajri menaiki mobilnya, diikuti oleh yang lain.
Mobil terus melaju meninggalkan bandara menuju pulang ke rumah Dirgantara.
Perlahan rasa sepi mulai menghinggapi hati Carenza. Ia tidak bisa menelfon Ivanna dalam waktu yang cukup lama.
16 jam lebih, itu waktu yang sangat lama bagiku, serasa menunggu selama 1600 tahun!. Aku akan frustrasi menunggu kabar darinya! Batin Carenza.
Ia memilih ikut pulang bersama Fajri, untuk mengucapkan terima kasih kepada gadis kecil yang tengah ia pangku saat ini. Ia begitu berhutang budi kepadanya.
Perlahan mobil berhenti di halaman rumah. Mereka segera turun dan menuju kamar masing-masing. Kecuali Carenza, ia membaringkan Nayla di atas kasur khusus di ruang keluarga.
Naren pun juga meminta untuk di gendong oleh pria tampan itu karena matanya sudah sangat berat.
"Mau sama uncle aja, Daddy!" rengek Naren di dalam gendongan Carenza.
"Istirahat lah, bang. Biar aku yang menjaga mereka, Kakak ipar lebih membutuhkanmu!" ucap Carenza tersenyum.
"Maaf merepotkan!" ucap Fajri tersenyum tipis.
"Sama-sama!"
Fajri segera pergi menuju kamar untuk melihat kondisi Safira yang kembali mual dan ngidam. Sementara Carenza menggendong Naren sambil mengelus kepala pria kacil itu dengan lembut.
Hingga ia terlelap, Carenza membaringkan Naren di samping Nayla. Sebentar, ia melihat ponselnya dan mengarahkan beberapa karyawan untuk menggantikannya melakukan beberapa pekerjaan hari ini.
Setelah selesai, ia juga berbaring di samping bocil kembar dan ikut terlelap.
πΊπΊ
Di atas pesawat, Ivanna tersenyum tipis karena ia sempat bertemu dengan Carenza, walau hanya sebentar saja.
Terima kasih karena kamu sudah menyempatkan untuk datang, by. Setidaknya aku tidak jadi kecewa kepadamu!. Batin Ivanna.
"apa Nona membutuhkan sesuatu?" tanya Felicia yang melihat wajaah Ivanna masih sendu.
"Tolong ambilkan saya air putih, Fel!" ucap Ivanna.
Degan sigap, Felicia segera mengambilkan Ivanna air putih. Ia terlihat biasa saja karena ia sering jauh dari keluarga untuk mengadu nasib di kota besar.
Nona terlihat begitu mengemaskan karena menangis. Apa ini perjalanan pertama nona keluar negri? sepertinya bukan! Karena dari fotonya, ia sudah singgah di berbagai negara. Mungkin bagi sebagian orang, Nona terlihat lebay, tetapi untuk aku yang mengetahui bagaimana pribadi nona, itu terlihat sangat manis!. Batin Felicia tersenyum.
__ADS_1
"Atur semua jadwal dengan baik Fel! Aku ingin pulang lebih cepat!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" Ucap Felicia tersenyum.
Mereka terdiam, Ivanna memeriksa beberapa pekerjaan yang ada di dalam tabletnya. Semua berkas yang belum sempat ia periksa dan harus dan selesaikan hari ini juga.
"Beristirahat lah, perjalanan kita masih jauh!" ucap Ivanna.
"Baik, nona!" ucap Felicia dan Atim sang asisten rumah tangga khusus untuk Ivanna.
Perjalanan di tempuh terasa begitu membosankan. Ivanna hanya tertidur sambil sesekali melihat ponselnya. Iseng-iseng, gadis cantik itu mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di sana, ala-ala anak jaman sekarang.
"I Love you, 36.000 ft, Baby. C!"
Cekrek!
Ivanna tersenyum dan memegang pipinya yang terasa panas. Ia malu dengan kelakuannya saat ini.
Astaga, kenapa aku terlalu lebay? Aku jadi bucin tingkat akut kepada dia!. Batin Ivanna malu.
Sementara Felicia hanya bisa tersenyum geli melihat kelakuan Ivanna.
Aku bisa gila, jika melihat nona seperti ini terus. Astaga Tuhan, Nonaku yang dingin menjadi bucin!. Batin Felicia gemas.
"Kamu kenapa, Felicia? Apa kamu sedang menertawaiku?" tanya Ivanna dingin dengaan wajah yang merona.
"Maaf, Nona. Anda terlihat sangat mengemaskan!" ucap Felicia.
Deg!
Seketika mata bulat itu melotot menyadari ucapannya sendiri. Ia melihat ekspresi dingin Ivanna dengan rona merah muda yang menghiasi di sebagian wajahnya.
"Ma-maaf, nona!" ucap Felicia takut sambil menggaruk tengkuknya.
"Kamu semakin berani, Ya! Bonus bulan ini saya potong!" ucap Ivanna.
"Hua, jangan, Nona! Saya mohon!" rengek Felicia memohon kepada Ivanna.
"Gak ada! Bonus kamu tetap saya potong! Huh, padahal itu lumayan untuk membeli sebuah rumah!" ucap Ivanna mengedikkan bahunya.
Duaar!
Tubuh Felicia mendadak lemas, ia tidak berani lagi untuk memprotes ucapan Ivanna. Ia kembali duduk di kursinya sembari meratapi nasibnya setelah ini.
Astaga, kenapa Nonaku begitu kejam? Habis sudah harapanku untuk berbelanja!. Batin Felicia.
Apa ancamanku terlalu kejam? lihatlah wajahnya yang pucat pasi itu! Astaga, aku begitu malu!. Batin Ivanna menjerit.
Hingga pesawat mendarat di bandara Heatrhow London. Ia sudah di tunggu oleh Joe dan beberapa orang lainnya di sana.
"Kita langsung ke apartemen!" ucap Ivanna.
Waktu makasih menunjukkan pukul 10 pagi di London. Mereka segera melaju menuju apartemen mewah milik Fajri yang berada dekat dengan cabang perusahaan PT. FHD Indonesia, untuk beristirahat sejenak.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
__ADS_1