
Melalui video call, Ivanna menceritakan apa yang ia alami hari ini, mulai penemuan barang bukti dan kedatangan Azmi beserta dayang-dayangnya.
"Kamu hajar saja, dek!" ucap Irfan tegas.
"Tapi, apa kita tidak keterlaluan, Ayah?" tanya Ivanna lirih.
"Tidak ada yang keterlaluan di dalam dunia bisnis, Sayang! Ayah sudah memberikan mereka peringatan kemarin! Ini saatnya Dede membuktikan, jika Dede adalah orang yang pantas untuk memimpin perusahaan kita!" ucap Irfan tegas.
"Dede takut, ayah!" ucap Ivanna lirih.
"Apa ini Ivanna yang akan mengalahkan seorang Fajri?" ucap Fajri menatap Ivanna.
"Abang, Ini terlalu berat! Dede mau peluk, bunda aja!" ucap Ivanna berkaca-kaca.
"Bentar lagi, Bunda ke sana ya, sayang!" ucap Fajira tersenyum.
"Hiks, Dede gak kuat!" ucap Ivanna terisak.
"Eh, masa CEO nangis sih! Sekarang Ibu CEO cukup memberi perintah saja! Suruh orang-orang kita untuk mengerjakannya. Abang yakin, kamu bisa, adik cantik Abang ini sudah kuat dan pintar sedari kecil! Masa menghadapi masalah seperti ini saja gak bisa!" ucap Fajri tersenyum.
"Kalau di rumah, Dede bukan CEO lagi kan? jadi boleh nangis?" tanya Ivanna menghapus air matanya.
"Boleh, kalau dirumah Dede boleh nangis sepuasnya! Itu pun kalau gak malu juga sama anak-anak!" ucap Fajri terkekeh.
"Ihh, Bunda. Abang jahat!" ucap Ivanna mengadu.
"Sudah, cepat selesaikan masalahnya, biar semua ini bisa stabil lagi. Dede bisa tenang dan membucin lagi sama, Tono!" ucap Fajira yang ikut terkekeh.
"Ihh, iya. Habis ini Dede boleh liburan ya?" tanya Ivanna.
"Kemana? sama siapa?" tanya Fajri cepat.
"Mau lihat beruang kutub melahirkan!" ucap Ivanna mendelik.
"Ck, udah sana kerja! Berita, bukannya diredam, malah di bikin jadi tranding!" ucap Fajri mendelik.
"Aduh, kalian kalau gak berantem sehari aja, gak tenang gitu hidupnya?" ucap Fajira menengahi.
"Maaf, bunda!" ucap Ivanna dan Fajri bersamaan.
"Ya sudah, Cepat selesaikan masalahnya, Ayah, Abang dan bunda juga bantuin dede dari sini. Hati-hati pulang nanti, sayang!" ucap Irfan tersenyum.
"Iya, ayah! jangan sakit lagi, ya!" ucap Ivanna.
"Iya, sayang!. Semangat!" ucap Irfan mengepalkan tangannya.
"Iya, ayah!"
Ivanna tersenyum dan mematikan panggilannya. Entah kenapa ketika berhadapan dengan keluarga, ia menjadi kucing yang begitu manis dan manja. Namun ketika berada diluar, ia menjadi singa betina yang siap menerkam mangsa dimana saja dan kapan saja.
"Felicia, tolong panggil Pak Pandu ke sini dan bawa semua bukti yang sudah ditemukan!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" ucap Felicia mengangguk.
Selepas kepergian Felicia, Fitry masuk ke dalam ruangan Ivanna sambil membawa tote bag dari Tono tadi.
"Nona, ini ada kiriman dari Tuan Baby Carenza!" ucap Fitry menggoda.
"Siapa yang mengantarnya, Mbak?" tanya Ivanna senang
"Tuan Carenza sendiri, Nona! Namun beliau sudah pergi!" ucap Fitry.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak. Jangan menerima tamu dulu, ya! Saya ingin menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona! Kalau begitu saya permisi!" ucap Fitry pamit.
"Iya, terima kasih!" ucap Ivanna.
Cemilan yang di bawa pak Sakti tadi sudah menipis karena ia terus mengunyah ketika berfikir. Beruntung Tono mengirim makanan agar otaknya bisa terus berfikir dengan lancar untuk menentukan langkah selanjutnya dari permasalahan ini.
Ada secarik kertas yang membuat senyum Ivanna semakin mengembang.
"Sayang, Are You okey? Aku yakin kamu wanita yang kuat dan pasti bisa mengatasi semua permasalahan ini dengan baik. Jika kamu butuh sesuatu, sekiranya aku bisa membantu, Jangan ragu untuk meminta bantuan! I Love You, sayang. Jangan lupa makan, ya!" tulis Tono.
Ivanna segera meraih ponselnya dan menghubungi Tono. Tepat pada dering pertama, pria tampan itu langsung mengangkat panggilannya.
"Halo, sayang?" ucap Tono.
"Halo, By. Terima kasih makanannya!" ucap Ivanna tersenyum.
"Sama-sama, sayang. Jangan lupa makan! Aku gak bisa bantu kamu banyak hal," ucap Tono penuh sesal.
"Gak papa, By! Justru aku butuh banyak makanan saat ini. Maaf ya, kita belum bisa bertemu dalam beberapa hari ini. Aku harus menyelesaikan masalah perusahaan dengan segera!" ucap Ivanna lirih.
"Gak papa, sayang. Jangan sampai sakit, ya! Apa aku kirimkan lagi makanan untukmu?" tanya Tono.
"Nanti saja aku kabari, By. Sebentar lagi, bunda juga sudah datang!" ucap Ivanna.
Ia mengalihkan panggilnya pada panggilan video. Ia menatap wajah tampan Tono dan tersenyum manis. Begitu juga dengan tono, ia menatap Ivanna dengan lekat.
"Jadi pengen ketemu!" ucap Ivanna lirih.
"Iya, aku juga, sayang! Nanti aku jemput ya!" ucap Tono lembut.
"Hmm, boleh juga! Tapi kamu harus hati-hati, soalnya banyak wartawan yang menungguku di sini!" ucap Ivanna.
"Hmm, sepertinya iya, By!" ucap Ivanna lesu.
"Semangat ya, sayang. Nanti sore mau aku bikinkan apa?" tanya Tono.
"Apa aja, By. Asal coklat dan strauberi!" ucap Ivanna.
"Ya sudah, aku bikinkan dulu! Atau mau VC terus?" tanya Tono.
"Nanti saja kita telfonan, ya! aku harus fokus, By!" ucap Ivanna tersenyum.
"Baiklah, sayang! Apapun untukmu!" ucap Tono.
"Dah," ucap Ivanna sambil melambaikan tangannya.
Panggilan berakhir dengan manis, dan itu bisa mengobati sedikit kerinduannya kepada sang kekasih hati.
Ia menatap Pandu dan Felicia sudah duduk di atas sofa dengan beberapa berkas yang sudah tersusun rapi di atas meja.
"Bagaimana, Pak?" tanya Ivanna sambil berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nona memang hebat! Maaf karena sudah meragukan kemampuan, Nona!" ucap Pandu menunduk.
"Tidak masalah, Pak! Apa berkasnya sudah cukup?" tanya Ivanna tersenyum.
"Sedikit lagi, Nona. Sepertinya mereka melakukan hal ini dengan sangat tidak rapi dan sangat terlihat jelas jika mereka sangat tidak profesional!" ucap Pandu tersenyum.
"Apa bukti sudah mengarah kepada mereka?" tanya Ivanna.
__ADS_1
"Sudah, Nona. Ahli komputer didikan Tuan Fajri sangat lihai, mereka bahkan bisa mendapatkan rekaman suara yang sangat jelas ketika laki-laki itu memberikan perintah!" ucap Pandu.
"Ah, dia tidak melihat dan memikirkan siapa yang tengah ia hadapi! Ayah bilang, mereka memang busuk dari dulu!" ucap Ivanna.
"Iya, Nona. Jika lengkap, sore ini kita bisa memasukkan laporan!" ucap Pandu.
"Bagus! Bubarkan semua wartawan, ketika laporan di acc. kita akan mengadakan konferensi pers! Saya sudah muak untuk menyelesaikan masalah ini! hanya bisa membuang waktu saja!" ucap Ivanna kesal.
"Baik, Nona. Hmm, saham kita semakin turun melebih 40 persen, Nona! Bahkan perusahaan makanan PT. Sangat Enak ingin menjual sahamnya dengan harga normal kepada kita! Para investor juga mendesak, Nona!" ucap Pandu.
"Berapa persen sahamnya? 5 persen bukan?" tanya Ivanna.
"Ia, Nona!" ucap Pandu.
"Sebentar!" ucap Ivanna mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Tono.
"Halo, By?" ucap Ivanna ketika panggilan tersambung.
"Iya, sayang? kamu butuh sesuatu?" tanya Tono dengan jantung yang berdetak.
"Apa kamu punya tabungan?" tanya Ivanna.
"Ada, sayang. Kamu butuh berapa?" tanya Tono cepat.
"Hmm, aku butuh sekitar 800 Miliar, apa cukup?" tanya Ivanna.
"Sa-sayang. Aku gak punya uang sebanyak itu!" ucap Tono lirih.
"Hehehe, baby. Aku bukan ingin meminjam uang. Ada yang menjual sahamnya di perusahaanku sebesar 5 persen. Apa kamu mau membelinya?" tanya Ivanna.
"Sa-sayang, Aku gak punya uang sebanyak itu!" ucap Tono menghela nafasnya.
"Hmm, apa kamu mau memakai uangku dulu, dalam beberapa bulan kamu sudah bisa mengembalikannya! Dengan saham itu, kamu tidak akan diremehkan oleh orang lain, By!" ucap Ivanna menerangkan.
"Sayang! Aku gak berani meminjam uang sebanyak itu!" ucap Tono lirih.
"Baby, Begini saja. Aku akan beli sahamnya atas nama kamu, sebagai gantinya aku yang menerima uang hingga semuanya lunas, setelah itu kamu bisa memilikinya sampai kapanpun!" ucap Ivanna.
"Baiklah! Terima Kasih, sayang!" ucap Tono berkaca-kaca.
"Jangan berterima kasih, cukup dengan kamu selalu ada dan selalu mencintaiku!" ucap Ivanna tersenyum.
"Baiklah, sayang. Aku serasa ingin memelukmu sekarang!" ucap Tono yang sudah menangis.
"Nanti kita bisa peluk-peluk, By. Ya sudah, nanti aku telefon lagi ya!" ucap Ivanna tersenyum.
"Iya, sayang!" ucap Tono.
Ivanna tersenyum, ia begitu bangga melihat kerja keras Tono menjadi lebih baik, agar tidak ada orang yang merendahkannya ketika mereka bersanding.
Aku hanya bisa membantu kamu seperti ini, Baby! Sungguh aku tidak menginginkan harta atau kamu menjadi orang kaya! Tetapi, dengan alasanmu yang begitu logis, aku akan membantu apapun itu!. Batin Ivanna tersenyum.
"Beli sahamnya atas nama Carenza William Hartono, tolong urus semuanya, Pak!" ucap Ivanna tersenyum.
"Baik, Nona!" ucap Pandu yang merasa begitu bangga kepada Ivanna.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Tampol author pake gift dong. ππ
__ADS_1
Semoga sesuai ekspetasi ya, gais. Aku takut mengecewakan. π