
Ditengah lamunannya, Ivanna terkejut ketika sebuah tangan kekar melingkar diperutnya. Ia tersentak, namun tetap membiarkan tangan itu karena ia mencium aroma maskulin yang begitu ia kenal.
Tidak ada yang memulai pembicaraan, baik Ivanna ataupun Carenza. Pria tampan itu langsung menggendong Ivanna menuju sofa dan memeluknya.
"Jangan merasa bersalah!" Ucap Carenza mengelus kepala Ivanna dengan lembut.
Gadis cantik itu tersentak tanpa berani mengangkat kepalanya "Apa kamu mendengarkan obrolanku dengan Bryan?" Tanya Ivanna lirih dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf, karena aku tidak sengaja mendengarnya!" Ucap Carenza.
Hening, mereka kembali terdiam sambil memeluk satu sama lain. Carenza berusaha memahami posisi Ivanna saat ini, walaupun tidak bisa dipungkiri jika ia merasa cemburu. Namun semuanya terbayar lunas, ketika Bryan menyatakan kekalahannya.
"Kamu sudah makan, sayang? Sebentar lagi, jam makan siang sudah habis!" Ucap Carenza dengan lembut.
"Ak belum makan, By!" Ucap Ivanna lirih.
Ia meregangkan pelukannya dan menatap wajah tampan Carenza. "Terima kasih, Baby!" Ucap Ivanna tersenyum.
"Jangan berterima kasih, sayang! Sekarang, kita makan ya!" Ucap Carenza merapikan rambut Ivanna yang sedikit berantakan.
"Iya!"
Ivanna membuka tote bag yang dibawa oleh Carenza. Mereka makan bersama siang itu. Menghabiskan hari terakhir sebelum resmi bertunangan.
Ivanna dengan telaten menyuapi Carenza yang terlihat manja hari ini. Ia mengernyit, namun membiarkan tingkah Carenza hari ini. Kapan lagi ia bisa memanjakan pria tampannya itu.
"Aku sudah kenyang, by! Kamu habiskan ya!" Ucap Ivanna.
"Iya, sayang! Eh, Felicia mana?" Tanya Carenza.
"Tadi pergi sama Bunda, By! Terus mau izin makan siang dulu, nanti balikan lagi sebelum jam dua!" Jelas Ivanna.
"Aku penasaran, perjodohan mereka sukses apa gak ya? Soalnya Malik gak ada ngasih tau aku, sayang!" Ucap Carenza.
Ivanna tersenyum. "Biarkan mereka beradaptasi, Baby! Ah, besok malam status kita sudah berubah! Kamu jangan kelayapan!" Ucap Ivanna mencuci tangannya di wastafel.
"Iya, sayang! Nanti malam, aku mau pulang ke rumah!" Ucap Carenza.
"Hati-hati bawa mobilnya! atau minta tolong, kak Malik untuk mengantar, atau pak Sakti saja, ya!" Ucap Ivanna khawatir.
"Gak papa, sayang! Aku nanti pulang sama Malik!" Ucap Carenza memeluk Ivanna dengan manja ketika gadis itu kembali duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa manja banget hari ini, Baby? Pasti ada maunya!" Tanya Ivanna tersenyum sambil mengelus kepala Carenza dengan lembut.
"Ah, kamu tau aja!" Ucap Carenza terkekeh dengan wajah yang merona.
"Kamu mau apa, By?" Tanya Ivanna gemas melihat Carenza.
"Ah, Cuma satu kok, gak banyak!" Ucap Carenza tersenyum manis.
"Apa sih? Aku jadi gemas melihat kamu!" Ucap Ivanna terkekeh dan mencubit pipi Carenza.
"Ah, sayang! Aku mencintaimu!" ucap Carenza tersenyum malu.
Astaga baby, jangan buat aku meleleh!. Batin Ivanna menjerit.
"Baby, kamu mau apa? Jangan sampai aku menggigitmu di sini!" Ucap Ivanna terkekeh.
__ADS_1
"Boleh ya, pernikahan kita di percepat?" Ucap Carenza dengan puppy eyesnya.
"Astaga, Baby! Aku pikir kenapa!" Ucap Ivanna tersenyum malu. "Pernikahan kita saja belum di tentukan waktunya, kamu malah minta di percepat!" Ucap Ivanna tertawa dengan wajah yang merona.
"Aku gak sanggup jika waktu menikah kita terlalu lama!" Ucap Carenza cemberut.
"Kenapa?" Tanya Ivanna polos.
"Ah, sayang. Aku ingin bebas berbuat apa saja bersamamu!" Ucap Carenza merebahkan kepalanya di paha Ivanna.
Deg!
Bayangan malam pertama yang pernah di ceritakan oleh Safira terbayang di dalam benaknya.
"Sakit, dek! ngilu!" Ucap Safira meringis.
Astaga, fikiran pacarku, huaa!. batin Ivanna menjerit dengan wajah yang merona.
"Aku mau mengajak kamu jalan-jalan tanpa pengawasan ketat dari abang! Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat yang begitu indah! Yang pastinya kita bisa memadu kasih dimanapun dan kapan, hmph!" Ucap Carenza berbinar.
Ivanna membekap mulut Carenza dengan tangannya karena sudah kemana-mana. Ia sangat malu saat ini, mendengar sangat kekasih yang mengatakan hal itu secara gamblang.
"Jangan ngomong macam-macam, By!" Ucap Ivanna melotot dengan wajah yang sangat merona.
"Hehe, sayang. Apa kamu malu?" Tanya Carenza tersenyum.
Ia bangkit dari tidurnya dan menatap wajah merona Ivanna dengan begitu bahagia. Gadis itu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Baby, kenapa kamu membahas hal itu? Pake nanya lagi! Ya jelas aku malu!. Batin Ivanna menjerit.
"Siapa bilang?, Kamu ngomongnya udah kemana-mana! Ah, aku mau ke kamar mandi dulu!" Ucap Ivanna berjanjaak dari sofa menuju kamarnya dengan wajah yaang sangat merah.
Carenza tertawa melihat Ivanna yang salah tingkah. Ia juga tengah memikirkan bagaimana malam pertama mereka nanti.
"Ah, aku sudah sangat tidak sabar!" Ucap Carenza tersenyum sambil bersandar di sofa.
Sementara di dalam kamar, Ivanna menatap wajahnya pada pantulan cermin. Ia merasa pipinya begitu panas dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Astaga, ini wajah termerah selama hidupku!" Ucap Ivanna tidak percaya.
"Kenapa dia bisa berbicara seperti itu, dan lagi astaga aku seperti ketahuan tengah berfikiran mesuum! Padahal aku hanya memikirkan ucapan kakak!" Ucap Ivanna menjerit.
Ia membasuh dan mengipas wajahnya agar segera terlihat normal. Sungguh ia begitu malu saat ini di hadapan Carenza.
Sekitar lima belas menit Ivanna berada di dalam kamar, barulah ia memutuskan untuk keluar dan menemui Carenza. Pria tampan itu terlihat mulai mengantuk dengan mata sayunya.
"Ngantuk, by?" ucap Ivanna mengelus kepala Carenza.
"Iya, aku kurang tidur semalam!" ucap Carenza kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Ivanna.
"Tidur di dalam saja, yuk!" Ucap Ivanna.
"Iya, sayang!" Ucap Carenza berdiri dan menggandeng tangan Ivanna.
Ia berbarng di atas kasur itu setelah melepas sepatunya.
"Tunggu aku sampai tertidur, ya!" ucap Carenza tersenyum.
__ADS_1
"Iya!" Ucap Ivanna sambil mengelus kepala Carenza dengan lembut.
Tak berapa lama, pria tampan itu terlelap. Ivanna segera keluar dari kamar dan melanjutkan pekerjaan yang sudah menunggu. Bahkan ia meninggalkan Carenza yang masih terlelap di perusahaan, sementara ia pergi bertemu dengan klien disebuah restoran.
"Senang bisa menjalin kerja sama dengan anda, Nona!" Ucap rekan bisnis Ivanna.
"Sama-sama, tuan! Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" Ucap Ivanna buru-buru karena teringat dengan Carenza yang ia tinggal di perusahaan.
Ia segera keluar dan menaiki mobil bersama dengan Felicia.
"Kita ke perusahaan, Pak! Cepat ya, Pak! Kak Eza aku tinggalin ddi kamar tadi!" Ucap Ivanna.
Felicia melotot, menerka apa yang terjadi? Kenapa Carenza bisa ada di dalam kamar pribadi itu.
Apa nona dan tuan menyicil malaam pertama? Astaga, gak mungkin, gak mungkin, gak mungkin!. Batin Felicia termagu.
"Jangan berfikir macam-macam, Fel! Sepertinya, otakmu harus di cuci lagi biar bersih!" Ucap Ivanna menggeleng.
Sekitar dua puluh menit, mobil berhenti di perusahaan. Ivanna segera turun dan sedikit berlari menuju lift, menekan angka 7 dimana ruangannya berada. Bahkan ia tidak menghiraukan Felicia yang tertinggal di belakang.
BRAK!
Ivanna membuka pintu dengan keras. Benar saja, Carenza tengah duduk di atas sofa dengan wajah bantal dan rambut yang berantakan.
"Baby?" Panggil Ivanna sedikit takut.
"Dari mana?" Tanya Carenza horror.
Mampus aku!.
"A-aku ada rapat diluar, By! Maaf, ya!" Ucap Ivanna duduk di samping Carenza.
"Jangan pegang aku!" Ucap Carenza cemberut.
"Baby," Ucap Ivanna mengelus lengan Carenza. "Maaf, ya! aku mendadak pergi tadi, By! Aku gak tega bangunin kamu!" sambungnya lirih.
Carenza terdiam, dengan wajah yang masih cemberut. Ia membaringkan kepalanya di atas paha Ivanna dan kembali memejamkan mata.
Ivanna tersenyum dan membelai lembut kepala Carenza yang entah kenapa ia bersikap manja kepadanya hari ini.
"Jangan seperti ini lagi! Gimana kalau kamu hilang bukan karena pergi, tetapi diculik?" Ucap Carenza dengan mata yang masih terpejam.
"Maafin aku ya, Baby tampanku! Besok gak lagi!" Uca Ivanna tersenyum.
"Hmm!" Tak lama nafas Carenza terdengar tenang.
Ia kembali terlelap karena merasakan belaian tanggan lembut Ivanna, di tambah dengan rasa kantuk dan kelelahan yang tengah menderanya.
Sementara di depan pintu, Felicia terdiam menatap dua sejoli itu. Ia berdo'a didalam hati agar Fajri tidak mengganggunya untuk memisahkan Ivanna dan Carenza lagi.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Bonus malam ini!
Yuk kasih mereka kembang yuuk πππ
__ADS_1