
Pagi menjelang, Ivanna sudah sangat tidak sabar untuk keluar dari rumah ini dan bertemu dengan keluarganya. Ia hanya berganti pakaian tanpa mandi, namun masih sempat untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Sudah tiga hari juga sang pelayan terbaring lemas di kamar mandi, begitu juga dengan Chelsea dan dua orang lainnya.
Ivanna sedikit iba melihat keadaan mereka, apa lagi pelayan pertama yang sudah terlihat pucat dan tidak berdaya.
"Apa kau ingin lepas? Asal kau tidak mengatakan hal yang macam-macam, kau akan aku lepaskan!" Ucap Ivanna.
Pelayan itu mengedipkan matanya. Ivanna segera mencari syaraf kecil agar ia bisa berbicara.
"Le-lepaskan saya, Nona! Saya mohon" Ucapnya lirih.
"Kalau dari kemarin-kemarin kau mengikutiku, mungkin kau tidak akan seperti ini!" Ucap Ivanna.
Ia kembali mengaktifkan sistem syaraf pelayan itu agar bisa bergerak kembali. Dengan tubuh yang lemas, gadis itu mencoba untuk bangkit dan duduk di dalam Bathtub itu sambil memandang Ivanna lekat. Ia tidak menyangka jika ibu muda ini begitu sadis, bahkan tega membuatnya kelaparan selama tiga hari.
Ivanna merasakan getaran pada giginya sebagai penanda jika Fajri sudah mulai bergerak. Ia tersenyum dan mulai untuk bersiap.
Ia berjalan kearah Chelsea menatap wajah cantik yang sudah lusuh. Ia menekan syaraf gadis itu agar bisa berbicara.
"Bagaimana? Apa kau ingin saya lepaskan?" Tanya Ivanna.
"Syialan kau!" Ucap Chelsea lirih.
"Hahaha!" Ivanna tergelak dan mencekik Chelsea hingga gadis itu tercekat. "Jangan pernah berani bermain denganku, atau kau akan saya bunuh, bahkan lebih kejam dari pada ini!" sambungnya dan melepaskan Chelsea.
Ivanna sudah menyimpan sebuah kunci yang ia dapat dari pelayan terakhir yang ia sekap, kini ia hanya menunggu signal selanjutnya dari Fajri. Ia juga sudah menyimpan pistol dan pisau di antara pinggangnya agar bisa berjaga-jaga ketika bahaya mulai menghampiri.
πΊπΊ
Semua pasukan Fajri Sudah berada di tempat dan posisi masing-masing. Mereka sudah bersiap dengan pakaian yang paling aman dari atas kepala hingga ujung kaki.
Rompi anti peluru, dan senjata khusus dengan jumlah yang cukup banyak, dipastikan kemenangan akan datang dengan mudah. Mereka saling terhubung melalui earphone untuk memberikan informasi satu sama lain.
"Ji, sepertinya jumlah mereka tidak kalah banyak dari kita!" Ucap Ray.
"Kita harus lebih hati-hati lagi! Tingkatkan kewaspadaan!" Ucap Fajri tegas.
"Baik, tuan!" Ucap Para pimpinan anggota.
"Tim A, jalan!" Ucap Fajri.
Mereka segera berpencar dan masuk kedalam pintu gerbang agar bisa membuka jalan untuk yang lain. Carenza sangat tidak sabar untuk menyelamatkan sang istri yang sudah menunggunya di sana.
Menatap tajam kamar yang berada di lantai tiga, sambil mengatur detak jantung yang semakin tidak stabil, ia berusaha untuk tetap tenang.
Dor!
Dor!
Tembakan pistol yang menggunakan peredam terdengar begitu halus dan langsung melumpuhkan beberapa penjaga yang ada di sana.
"Bagus! Segera buka gerbangnya!" Ucap Ray memberikan perintah.
Gerbang sedikit terbuka Fajri segera maju dengan beberapa orang tim lain untuk masuk dan membuka jalan agar Carenza dan Joe bisa masuk dengan mudah.
"Hei! Siapa kalian?" Pekik salah satu penjaga.
Dor!
Tim Fajri langsung menembaki lima orang penjaga yang ada di bagian depan, namun sayang karena teriakan itu berhasil mengalihkan semua perhatian penjaga yang lain dan baku tembak pun tidak bisa di hindarkan.
Anak-anak, maafkan jika Daddy menjadi seorang pembunuh hari ini!. Batin Fajri.
Senjata yang sudah ia tahan sedari tadi, mulai di pompa dan Fajri membidik salah satu targetnya.
__ADS_1
Dor!
Headshot!
Fajri membola ketika tembakannya tepat bersarang di kepala penjaga itu dan membuatnya tewas seketika.
Ia berusaha untuk mengontrol emosi dan menghilangkan rasa ibanya sesaat dan menghabisi semua penjaga yang ada.
Setelah menghabisi semua penghalang, Fajri masuk kedalam rumah dengan mendobrak pintu
Brak!
Fajri, Ray dan yang lainnya langsung memburu setiap penjaga yang ada di sana. Sahutan bunyi tembakan terdengar bergemuruh di dalam ruangan itu. Semua barang-barang sudah hancur berantakan.
Tim Fajri lebih unggul karena berhasil melumpuhkan begitu banyak musuh di lantai satu. Tanpa di sangka, jumlah pasukan Jordan lebih banyak dari pada pasukan Fajri.
Mereka keluar dari beberapa bilik dengan senjatanya masing-masing. Dan membuat Tim Fajri banyak tertembak dan berkurang dengan signifikan.
"Mereka begitu banyak! kita tidak mungkin bisa melawan atau akan banyak nyawa yang melayang!" Ucap Ray bersembunyi.
Fajri bimbang, namun ia harus membawa Ivanna kembali pulang. "Bersembunyi, lakukan rencana B!" Titahnya.
Greb!
Tim yang tersisa sudah menghafal semua letak dan posisi rumah, mereka terlihat berlari keluar, namun sebenarnya mereka hanya bersembunyi dan menembaki lawan dari belakang.
Fajri mencoba untuk berjalan dengan perlahan, Namun ketika ia keluar, langsung bertemu dengan dua orang pengawal. Ia terkejut dan langsung menembak kepala mereka dengan cepat.
Astaga, hampir saja!. Batin Fajri.
Suara tembakan menggarah ke padanya, beruntung posisi Fajri cukup aman untuk menghindari semua serangan yang datang.
Tepat ketika mereka sibuk mencari keberadaan Fajri, tim yang bersembunyi tadi segera keluar dan menembak mereka dari belakang dengan segera.
Dor!
Dor!
Bugh!
"Carenza dan Joe, bersiap!" Ucap Ray.
"Siap!" Ucap Mereka.
"Jalan!" Ucap Ray.
Carenza dan Joe masuk kedalam rumah melalui pintu samping yang langsung berhadapan dengan tangga. Bersama sepuluh orang tim, mereka bergerak dengan lihai dan hati-hati.
"Hei, mau kemana kalian!" Ucap Penjaga yang menyadari pergerakan mereka.
"Sial! Kita ketahuan!" Ucap Carenza.
"Bersiaplah!" Ucap Joe mengambil ancang-ancang untuk melindungi Carenza.
Baku hantam terjadi di mana-mana. Bahkan dari sisi lain rumah, Bryan dan Atim juga sedang menghadapi begitu banyak musuh.
Tidak terhitung lagi berapa nyawa yang melayang. Lautan mayat terbentang di lantai dengan kondisi rumah sudah berantakan. Bahkan tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Dor!
"Akh!" Pekik Fajri ketika salah satu peluru menggores lengannya.
Semua orang terkejut. "Lanjutkan! Jangan sampai lengah!" Pekik Fajri sambil meringis.
Ia melihat luka itu cukup dalam dengan darah yang mulai mengalir. Namun Fajri tertegun ketika melihat sepasang kaki tengah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Pria berotot itu tersenyum senang sambil mengacungkan pistol kearah Fajri. "Akhirnya saya memiliki kesempatan untuk membunuh anda, Tuan Fajri! Suatu kebanggaan bagi saya bisa bertemu dan melangkahi mayat anda secara langsung. PERGILAH KE NERAKA, SIALAAAN!" Pekiknya.
Dor!
Akh!
Bugh!
Ia langsung tergeletak mengenaskan di lantai dengan sebuah peluru yang bersarang menembus rahang mulut dan bersarang di otaknya.
Darah bercucuran dari sana, ia memekik kesakitan hingga tembakan terakhir menghilangkan nyawanya.
Fajri begitu kesulitan untuk menelan ludah, ketika ia hampir saja di bunuh. Beruntung ia bisa menggunakan kesempatan untuk mengambil senjata dan langsung menembak laki-laki itu.
"Enyah kau badjingan!" pekik Fajri dengan nafas yang memburu.
Ia mengambil senjata pengawal itu beserta berlengkapan yang lain dan maju untuk membabi buta semua orang yang tinggal.
Begitu banyak penjaga yang mulai turun dari lantai dua dan membuat Fajri semakin berani mengadang mereka semua. "Hahaha, kesini kalian! Akan ku kirim kalian ke neraka!" Teriak Fajri sambil tertawa.
Semua tim juga mengikuti pergerakan Fajri dan ikut membabi buta hingga pasukan Jordan dipaksa untuk mudur.
Carenza mengambil kesempatan untuk berlari menuju lantai atas bersama dengan Joe dan tim yang lain. Baku hantam pun tak bisa lagi untuk di hindarkan.
Ada sekitar dua puluh orang pengawal Jordan yang tersisa berdiri di sana untuk menghadang. Carenza melayangkan tembakan dengan brutal bersama yang lain dan menghabisi mereka dalam waktu singkat.
"Jalan!" Ucap Carenza dengan berani.
Entah kekuatan dari mana, ia tidak mengelus sakit pada punggunggnya barang sebentar saja. Ia seperti orang sehat yang bergerak dengan begitu lincah untuk melawan semua orang.
Bryan dan Atim datang dari sisi yang sama dan bertemu dengan Carenza. "Mereka terlalu banyak dan tidak sebanding dengan jumlah kita yang semakin menipis!" Ucap Bryan.
"Mereka masih memiliki banyak pengawal yang akan keluar! Kami baru saja melihatnya!" Ucap Atim.
Nafas mereka terengah dengan darah yang sudah memenuhi baju dan wajah masing-masing.
"Kita harus bergerak cepat untuk menjemput Ivanna keluar, saya dan Fajri tidak akan kuat untuk menghadang mereka sebanyak ini!" Ucap Ray.
"Sebaiknya kita berpencar untuk mencari celah agar bisa menjemput Ivanna ke kamarnya!" ucap Carenza.
"Ide yang bagus, tetapi kalia harus tetap berhati-hati! Saya yakin mereka sudah menyiapkan semuanya dengan baik!" Ucap Fajri. "Joe, jangan jauh dari Eza!" sambungnya.
"Baik tuan!" Ucap Joe.
"Siap laksanakan!" Ucap Mereka.
Ada dua tangga menuju lantai tiga, mereka masuk dan menghabisi semua pengawal dengan baik dan hati-hati. Bryan berusaha untuk menjaga Atim agar dia tidak terkena tembakan atau hal lainnya.
Mereka juga melindungi Carenza yang tengah berusaha untuk menyelamatkan Ivanna.
"Tuan, Itu pintu kamar nona Ivanna!" Ucap Joe.
"Kalian maju dan periksa keadaan sekitar!" Titah Carenza.
Semua tim bergerak dan menghabisi semua penjaga yang ada hingga tidak ada lagi orang di lantai atas.
"Semua aman!" Ucap ketua tim.
"Pasang alat penyadap, dan dengar apa yang tengah mereka kerjakan!" Ucap Carenza.
"Baik tuan!"
Mereka segera memasang alat penyadap untuk mendengarkan suara yang ada di dalam. Laki-laki itu langsung mengernyit dan terkejut ketika mendengar suara yang ada di dalam itu
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE
Boleh dong setangkai bunga atau vote nya π€