
"Carenza!" Bentak Hartono.
Semua orang terdiam. Carenza yang begitu keras kepala memaksakan diri untuk mencari Ivanna dalam kondisi seperti itu. Punggung yang belum stabil dengan beberapa luka, membuat semua orang murka melihat betapa keras kepalanya seorang Carenza yang tidak pernah terlihat selama ini.
"Tapi ini sudah tiga hari, Yah! Ivanna belum juga ditemukan! Kalian bisa melarangku karena tidak pernah berada di posisi ini! Jika kalian tidak ingin membantu, terserah! Aku akan mencarinya sendiri!" Teriak Carenza.
Ia melangkah keluar namun Fajri lebih dulu menarik kerah baju pria tampan itu.
"Kau fikir ini kejadian pertama dalam keluarga saya, hah? Kau bisa apa? Kau bisa apa?" Teriak Fajri yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Sudah, Bang!" pekik Fajira.
"Dia harus di kasih paham, Bunda! Mafia yang kau hadapi Za, bukan jambret. Paham kau! Belum sampai kau menyelamatkan Ivanna, kau sudah mati duluan!" Bentak Fajri menghempaskan Tubuh Carenza.
Suasana semakin panas di rumah itu. Mereka sudah berada di rumah, karena kemarin dokter telah memberi izin setelah Carenza memaksa untuk pulang.
"Kau juga, mana pergerakan kau? Ini sudah hari ke empat Ivanna diculik. Apa kau akan menunggu sampai berbulan-bulan? Jawab!" Bentak Carenza sambil mendorong bahu Fajri.
Uhuk, uhuk!
Karena berbicara terlalu keras Carenza terbatuk hingga mengeluarkan darah. Semua orang terkejut melihat itu.
"Seperti itu kau akan menyelamatkan Ivanna?" Tanya Fajri sinis.
"Sudah!" Teriak Atim yang sudah tidak tahan mendengarkan pertengkaran ini.
"Maaf saya lancang! Jika tuan selalu bertengkar, masalah ini tidak akan selesai, dan Nona Ivanna tidak akan bisa di temukan! Lebih baik, kita fikirkan bagaimana cara dan strategi untuk menyelamatkan Nona!" Ucap Atim tegas.
Semua orang terdiam, baik Carenza maupun Fajri membenarkan perkataan Atim. Mereka hanya bungkam satu sama lain tanpa ada yang ingin memulai untuk berbicara.
"Ini sudah larut, lebih baik kita beristirahat. Besok Aku akan ke markas untuk menyusun rencana!" Ucap Fajri.
"Aku ikut! Jangan melarang ku!" Ucap Carenza tegas.
"Saya juga ikut!" Ucap Atim.
"Tidak!" Cegat semua orang.
"Nyonya, Tuan! Tolong jangan larang saya! Sudah saatnya semua bekal yang diberikan oleh Nona, saya pergunakan! Saya yakin, Gadis jeruk yang tidak tau diri itu adalah salah satu dalang dari kejadian ini!" Ucap Atim memelas.
"Atim, Bukan saya...," Cegah Fajri.
"Saya mohon, tuan! Ini juga bentuk balas budi saya kepada Nona! Jika suatu hari, Nona melepaskan saya, Saya sudah siap tanpa beban lagi! " Ucap Atim memohon.
Fajri terdiam. Kemampuan bela diri dan menggunakan senjata Atim cukup bagus. Ia bisa melindungi diri dari beberapa serangan nantinya. "Baiklah! Persiapkan dirimu!" Ucap Fajri.
"Berhati-hatilah! Mereka bukan orang sembarangan!" Ucap Fajira lirih.
"Do'a kan kami, Bunda!" Ucap Fajri menatap Fajira lekat.
"Selalu, selalu bunda do'akan. Sekarang mari kita beristirahat!" Ucap Fajira.
Mereka bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Carenza berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya.
Baby junior sudah lebih dulu di antarkan menuju Desa kecil dimana Safira tengah di asingkan bersama anak-anak dan juga Ibu Alifa.
Carenza menatap nanar foto pernikahannya bersama Ivanna. Kamar yang biasa penuh dengan suara manja Ivanna, kini terasa hampa, kosong dan tidak berwarna.
__ADS_1
"Dimana kamu, Sayang?" Tanya Carenza dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengusap foto Ivanna yang tengah tersenyum manis.
Tiba-tiba ia teringat dengan pesan Ivanna sebelum penculikan ini terjadi. Seolah sang istri sudah memiliki firasat tentang kejadian ini dari jauh-jauh hari.
"Baby, kalau ada sesuatu yang terjadi nanti, kita bisa saling melacak satu sama lain. Ini aku buat khusus untuk semua keluarga, tetapi abang belum setuju. Ya, makanya aku simpan saja di sini. Nanti kalau ada waktu, kamu bisa memasangnya. GPS tersembunyi yang tidak akan bisa di cari oleh siapa saja!" Ucap Ivanna.
Carenza melihat kotak yang di simpan oleh Ivanna di antara tumpukan baju, dan melihat isi di dalamnya.
Ada beberapa alat dan kertas yang berisikan kode untuk mendapatkan signal dari GPS yang dipasang oleh Ivanna.
"Besok aku akan menjemputmu, Sayang!" Ucap Carenza berbinar.
Ia berusaha untuk merebahkan badan dan memejamkan mata. Mengumpulkan sedikit tenaga untuk hari esok, walaupun dalam keadaan seperti ini.
Tak lama Carenza terlelap sambil mendekap kotak yang akan menjadi petunjuk untuk menemukan Ivanna nanti.
πΊπΊ
Ivanna baru saja terbangun, ia mengerjab ketika kamar itu sudah terang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Cukup lama aku tertidur! Apa ada yang masuk? Bukankah aku mematikan lampu sebelum tidur?. Batin Ivanna bertanya-tanya.
Ia duduk dengan wajah datar menyembunyikan rasa rindu kepada keluarga terutama baby boynya. Menatap seseorang yang sudah duduk di atas sofa dang tengah membaca sebuah majalah.
"Apa tidur anda nyenyak, Tuan Putri?" Tanya Chelsea.
Ivanna tidak menjawab pertanyaan Chelsea, Ia turun dari ranjang dan berjalan pelan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Chelsea yang melihat reaksi Ivanna menjadi kesal dan ingin membalas perbuatan ibu muda itu
Dua puluh menit Ivanna di dalam kamar mandi, ia keluar dengan tubuh segar dan rambut yang basah. Ia duduk di depan cermin sambil mengering rambutnya menggunakan handuk.
Ivanna tidak menganggapnya ada di sana. Berusaha untuk menahan emosi yang bisa meledak kapan saja, bahkan bisa membunuh Chelsea dalam beberapa pukulan, namun ia tidak sekejam itu. Sehingga Ivanna hanya bisa menahan semuanya sendiri.
"Kau!" Ucap Chelsea geram.
Namun Ivanna kembali mengacuhkannya. Ia kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengeluarkan asi yang masih terisa, berharap masih bisa mengalir hingga ia pulang nanti.
Brak!
Chelsea mendobrak pintu dan terbelalak kaget ketika melihat Ivanna tengah melakukan sesuatu.
"Kenapa? Kau mau?" Tanya Ivanna polos.
Glek!
Mu-mulus banget!. Batin Chelsea kesulitan untuk menelan ludahnya.
Ivanna kembali memompa asinya dengan cara sederhana. Sementara Chelsea segera menutup pintu dengan jantung yang berdebar kencang.
Tak lama Ivanna keluar dengan wajah datarnya, dan tidak menghiraukan Chelsea yang masih duduk di atas sofa dengan wajahnya yang memerah.
Aku lapar, banget! Apa aku makan saja? Sebentar lagi pasti lemas dan gak akan punya tenaga untuk kabur!. Batin Ivanna.
Ia mengambil makanan itu dan duduk di meja rias. Menatap nanar makanan kesukaannya yang sering di masak oleh Carenza.
Aku merindukan kalian!. Batin Ivanna sebelum menyuap makanannya.
"Tumben makan! yang tadi siang saja kau lewatkan!" Ucap Chelsea mendekat.
__ADS_1
Lagi-lagi Ivanna tidak menghiraukannya. Ia mengawasi gerak-gerik Chelsea melalui kaca. Gadis itu hanya berdiri sambil bersedekap di belakangnya.
"Apa anda ingat dengan keluarga anda, Nona?" Ucap Chelsea memancing.
Ivanna terdiam sebentar dan melanjutkan makanannya, sehingga membuat Chelsea semakin kesal.
Ia hendak mengambil rambut Ivanna. Namun, ibu muda itu lebih dulu menghindar dan memberikan sendok garpu yang sudah berlumuran cabe ke tangan Chelsea.
"Akh, apa yang kau lakukan?" Pekiknya.
Lagi dan lagi, Ivanna tidak menghiraukan Chelsea dan memilih untuk kembali masuk kedalam kamar mandi lalu mengunci pintu.
Ada 6 kamera dan dua alat sadap di sini, sepertinya aku harus mematikan kamera itu secara bersamaan. Mencari kabel utama yang menjadi penghubung dari semua kamera ini. Batin Ivanna.
Dor, dor, dor!
"Buka pintunya, Nona!" Pekik Chelsea dari luar sambil menggedor pintu dengan begitu keras.
Sementara Ivanna hanya duduk di atas closet sambil berfikir dengan fokus. Ia tersentak ketika mengingat GPS rahasia yang ia pasang di dalam giginya.
Aku harus memastikan jika di dalam kamar mandi tidak ada kamera yang tersembunyi. Batin Ivanna.
Ia menelisik satu persatu bagian ruangan itu, mulai dari kaca hingga mematikan saklar lampu dan melihat sekeliling.
Ah, Syukurlah tidak ada kamera! Hanya ada satu alat sadap di kamar ini. Apa yang harus aku lakukan agar tidak membuat mereka curiga?. Batin Ivanna.
Ia berfikir keras dan membuat tenaganya cukup terkuras. Tiba-tiba ia merasa begitu lemas dengan nyeri di bagian perut.
Harus kuat, Na! Harus kuat! Tunggu Bunda pulang, Sayang!. Batin Ivanna berusaha untuk tetap kuat.
Ia berusaha untuk mencopot salah satu gigi palsunya dan menghidupkan sebuah tombol kecil yang ada di dalamnya.
Lampu merah kecil menyala bahkan hampir tidak terlihat. Berkedip-kedip beberapa saat hingga kembali mati pertanda signal sudah dikirimkan. Ia bkembali memasang gigi itu dengan erat agar tidak copot dan tertelan atau bahkan ketahuan.
Baby, semoga kamu masih mengingat kotak itu! Aku benar-benar lelah kali ini!. batin Ivanna.
Ingin ia bersuara, namun sangat tidak mungkin mengingat ada alat yang akan mendengar semua percakapannya kapanpun.
Ia berjalan pelan keluar dari kamar mandi, sementara Chelsea masih menunggunya di luar pintu dengan raut wajah emosi, namun ia terkejut ketika melihat wajah pucat Ivanna.
Ibu muda itu langsung terbaring tidak sadarkan diri, setelah sempat berbaring di sana. Chelsea langsung memeriksa keadaan Ivanna.
"Hei, bangun!" Ucap Chelsea.
Gadis itu mengira Ivanna sudah terlelap dan memilih untuk menyelimutinya.
Ah, jika bukan karena aku memang begitu menyayangimu, aku gak akan memberi ampun karena sudah berani mengerjai ku!. Batin Chelsea mematikan lampu dan keluar dari kamar itu dan kembali menguncinya.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Sabar ya gais, bentar lagi mereka bakalan bertemu.
Maaci banyak-banyak untuk readers yang masih setia menunggu update Ivanna setiap hari.
Kalau merasa alurnya berbelit, aku gak maksa baca, beneran ikhlas aku π.
__ADS_1