
Semua orang terdiam dengan mulut yang menganga melihat siapa yang ada di hadapan mereka. Ivanna masih tersenyum manis menatap keluarga Tono yang sangat terkejut melihat dirinya hadir dengan status sebagai kekasih putra mereka.
"Ayah, Ibu. Ini calon menantu keluarga kita! Namanya Ivanna Hanindya Dirgantara!" ucap Tono mengenalkan.
Cukup lama mereka terdiam untuk mengembalikan kesadaran masing-masing.
"Ca-calon menantu? I-ini benar, Nona Ivanna?" ucap Ibu tidak percaya.
"Iya, Bu! Bukankah Ivanna sangat cantik, Bu?" ucap Tono menatap wajah cantik Ivanna.
Blush....
Gadis cantik itu tersenyum manis dengan wajah yang merona.
"Jangan memujiku seperti itu!" ucap Ivanna lirih.
"Tapi kamu memang cantik, sayang!" ucap Tono tersenyum sambil mengusap tangan Ivanna dengan lembut.
"Hekm," deham Ibu yang jengah melihat kemesraan anak muda itu.
"Maaf, Bu!" ucap Ivanna sopan.
Suasana kembali hening, tangan Ivanna semakin terasa dingin karena grogi dan sedikit tidak nyaman melihat tatapan keluarga Tono.
"Hmm, Ibu. Ini ada kiriman dari, Bunda!" ucap Ivanna menyerahkan bingkisan yang ia bawa tadi. "Sisanya sedang di turunkan dari mobil!".
"I-iya terima kasih, Nona!" ucap Ibu lirih. "Ikut, Ibu sebentar, bang!" ucap Ibu melangkah menuju dapur.
Ivanna menatap Tono dengan rasa cemas yang menghampirinya secara perlahan.
"Sebentar, sayang! Gak lama kok!" ucap Tono tersenyum.
"By!" seru Ivanna lirih dengan wajah memelas.
"Sebentar, ya! Gak lama kok!" ucap Tono meninggalkan Ivanna sebentar.
Ia mengekor sang ibunda menuju dapur yang berada cukup jauh dari sana. Ibu menatap Tono dengan wajah garang dan tengah menahan tangis.
"Apa maksud kamu, bang? Apa kamu sedang mempermainkan keluarga kita?" tanya Ibu geram sambil berbisik kepada Tono.
"Astaga, Bu! Abang serius! ini buktinya!" ucap Tono memperlihatkan cincin yang ada di tangannya.
"Bagaimana bisa? Za, kita hanya orang biasa, kamu jangan main-main dengan mereka!" ucap Ibu serius.
"Eza serius, Bu! Bukankah Ibu melihat berita, jika Ivanna sudah mengakui hubungan kami!" ucap Tono menjelaskan.
"Bisa saja, itu orang lain! kamu jangan macam-macam, Za! Bercanda kamu gak lucu!" ucap Ibu menyanggah.
"Siapa yang bercanda, bu! Eza serius, bahkan keluarganya juga sudah menyetujui hubungan kami. Hanya menunggu waktu saja agar Eza bisa melamar, Ivanna!" ucap Tono serius.
Ibu memegang kepalanya yang terasa berat. Tubuhnya limbung dan hampir saja kehilangan kesadaran. Dengan sigap, Tono memapah tubuh sang ibunda agar tidak jatuh ke lantai.
"Astaga! Takdir macam apa ini, tuhan!" ucap Ibu lirih.
"Bu, Ibu gak papa Abang panggil Ayah dulu!" ucap Tono panik.
"Nak, Ibu gak papa!" ucap Ibu menatap Tono dengan lekat. "Jangan main-main dengan mereka, nak! Ibu tidak ingin kamu kenapa-napa!" sambung Ibu lirih.
"Bu, Abang gak main-main. Ivanna memang kekasihku, dia juga akan menjadi istriku nanti dan selamanya. Bu, Mereka memang orang hebat an berpengaruh, tetapi mereka tak sejahat yang dipikirkan oleh orang diluaran sana!" ucap Tono.
__ADS_1
"Huft, Kamu yakin ini buka. permainan kalian saja?" tanya Ibu menelisik.
"Bukan, Bu! Hubungan kami serius! jika tidak, Ivanna gak akan mau datang ke sini, dia tidak akan mau menggenggam tanganku, dia juga tidak akan mau menyapa Ibu dan dia tidak akan mau tersenyum manis seperti tadi, Bu!" jelas Tono.
"Huft, bimbing ibu kembali ke luar!" ucap Ibu ketika merasa sedikit lebih baik.
Sementara di ruang tamu, Mereka masih terdiam satu sama lain tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan. Ivanna masih belum berani menatap sang calon Ayah mertua dan mengajak beliau berbicara.
"I-ini beneran, No-nona Ivanna?" tanya Ayah gugup dan tidak percaya.
"Iya, Ayah! Senang bertemu dengan, anda!" ucap Ivanna kaku.
"Ka-kalian beneran berpacaran?" tanya Almira tidak percaya.
"Iya, kak!" ucap Ivanna tersenyum tipis.
"Apa anda buta? Eh, maksudnya apa anda khilaf ketika menerima ajakan Eza untuk menjalin hubungan?" tanya Ayah masih tidak percaya.
"Saya sadar dan sehat lahir batin, Ayah! Hmm, saya boleh memanggil anda Ayah 'kan?" ucap Ivanna canggung.
"Boleh-boleh!" ucap Ayah cepat.
Suasana kembali hening, Almira menatap Ivanna dengan lekat, kagum dan tidak percaya.
"No-nona? Ma-maaf, saya rasa anda harus putus dari Abang, sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, Nona. Di sangat tidak waras, percayalah!" ucap Almira melotot.
"Kenapa? Tadi, Ayah bilang aku yang harus periksa, sekarang kakak bilang, kalau kak Tono itu gak waras! Ada apa ini?" tanya Ivanna mengernyit bingung.
"Maaf, Nona. Anda memanggil siapa tadi?" tanya Ayah mengernyit.
"Hmm? kak Tono!" ucap Ivanna santai.
Deg....,
Kamu gila, By! Bagaimana bisa kamu memakai nama ayahmu!. Batin Ivanna menjerit.
"Ma-maaf, Ayah! Dari awal kami kenal, Kakak memang mengatakan jika namanya itu. Maaf, saya tidak tau!" ucap Ivanna merasa tidak enak dan malu.
Ia merasa ingin menangis dan tenggelam ke dasar bumi saat ini. Hilang sudah harga dirinya di hadapan orang tua Tono.
"Jangan sungkan, Nona! Panggilannya Eza, jika nona memanggil Tono, itu nama saya Hartono!" ucap menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"I-iya, Ayah!" ucap Ivanna lirih dengan wajah yang sangat merona.
Putus sudah urat malunya di hadapan keluarga Tono. Ia mengutuk laki-laki tampan itu dengan sumpah serapah yang begitu manis.
Baby, kamu memang gila! Aku sumpahi kamu cinta mati sama aku! Huaa maluuu!. Batin Ivanna menjerit.
"No-nona?" panggil Almira.
"I-iya, kak?".
"Apa boleh kita berfoto?" tanya Almira antusias.
"Boleh, tapi nanti ya!" ucap Ivanna tersenyum.
"Baiklah!" ucap Almira senang.
Suasana kembali hening hingga Tono dan ibunya kembali dari dapur.
__ADS_1
Lihat saja kamu setelah ini, By! Akan aku cabik-cabik kamu!. Batin Ivanna menatap Tono dengan tajam.
Mereka kembali duduk seperti semula. Ibu terdengar menghela nafasnya beberapa kali, merasa tidak sanggup jika harus berhadapan dengan gadis cantik yang kehebatannya sudah mulai di akui oleh dunia.
"Nona, maafkan saya! Apa anak bodoh ini memaksa anda untuk menjalin hubungan?" tanya Ibu lirih sambil menatap Ivanna.
Wajah tono berubah cemberut mendengarkan perkataan ibunya. Sementara Ivanna tersenyum, Bagaimana bisa ada satu keluarga yang saling menistakan seperti ini?. Jerit Ivanna.
"Tidak ada pemaksaan, Bu! Keseriusan kak Eza sudah kami lihat. Saya pun juga menaruh hati kepada putra kebanggaan Ibu, ini!" ucap Ivanna tersenyum.
"Kami? Maksud, Nona?" tanya Ibu mengernyit.
"Hmm, Bisakah Ibu, Ayah dan kakak jangan memanggil saya Nona? Saya kurang nyaman!" ucap Ivanna lirih. "Panggil Nana saja!
"Itu sangat tidak sopan, Nona!" sergah Ibu.
"Tidak apa, Bu. Saya memang tidak pernah nyaman dengan panggilan itu!" ucap Ivanna lirih.
Tono segera memberi kode kepada orang tuanya agar menuruti permintaan kekasihnya.
"Baiklah. Nana!" ucap Ibu tersenyum.
Ternyata dia bukan gadis sombong!. Batin Ibu yang cukup menyukai sikap Ivanna.
"Nak, coba kamu fikiran lagi untuk menjalin hubungan dengan anak ibu. Banyak hal yang akan terjadi di luar nalar kamu jika bersama dengan dia!" ucap Ivanna Ibu meracuni fikiran Ivanna.
"Bu, Ayolah! Bukannya di dukung malah di jelek-jelekin. Gak mudah ini Abang mendapatkan hati pacarku!" ucap Tono cemberut.
"Diam kamu!" ucap Ibu melotot. "Hehe, Nona. Anak Ibu ini rada gesrek, kalau Nana tidak kuat, bisa melambaikan tangan ke arah kamera nanti!" ucap Ibu Tono sedikit tertawa.
"Sebenarnya, Nana gak kuat, Bu! Tapi mau bagaimana lagi, kata orang kalau udah cinta semuanya terasa indah!" ucap Ivanna menahan tawanya.
Tono melotot melihat ke arah Ivanna yang masih berusaha untuk tidak tertawa.
Ya tuhan, sepertinya Ibu dan Ivanna akan bersatu untuk menistakan diriku yang tampan ini!. Batin Tono menjerit.
Wajah Ibu tiba-tiba saja berubah serius. Ivanna tersentak dan langsung menunduk melihat wajah garang itu.
Kenapa Ibu terlihat seperti bunda kalau sedang marah?. Jerit Ivanna sedikit takut.
"Sekarang jawab Ibu dengan baik, benar, tegas, dah jujur. Jika tidak, Ibu akan mengirim Eza ke luar negeri!" ucap Ibu tegas.
Mulai lagi!. Batin Ayah dan Almira yang baru merasakan suasana yang santai, kini kembali mencekam.
"Bu!" seru Tono.
"Diam, kamu!" ucap Ibu melotot. "Sekarang jawab dengan jujur, apa sebenarnya hubungan kalian?"
"Ka-kami berpacaran, Bu! Kakak juga sudah melamarku kepada Ayah, namun Ayah belum mengizinkan!" ucap Ivanna lirih dan terdengar jelas.
Deg....
Kamu benar-benar mencari mati, bang!. Batin Ibu geram.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Setuju gak sih, kalau setelah ini aku akan mengganti nama Tono menjadi Eza atau Carenza?
__ADS_1