
Huft,...
Helaan nafas yang terdengar membosankan keluar dari mulut Ivanna. Ia merasa hidupnya tidak berwarna lagi ketika bekerja di perusahaan.
Sementara Felicia hanya bisa mencuri-curi pandang kepada Ivanna dari samping. Ia merasa canggung dan tidak tau harus berbicara seperti apa.
Ah, kenapa Nona begitu dingin?. batin Felicia menjerit.
"Hmm, Nona?" panggil Felicia setelah cukup lama mereka termenung.
"Hmm?" Ivanna menoleh dengan wajah bosannya.
Mereka sudah berada di dalam mobil, menuju salah satu restoran bintang lima yang begitu mewah di kota ini. Bertemu dengan klien yang bisa di kategorikan sultan, membuat Ivanna jengah. Pasti akan ada drama perbuayaan yang akan menghiasi pertemuan kali ini.
"Maaf, Nona. Nanti saya harus apa, ya? Hmm, saya belum terlalu mengerti tentang perusahaan!" ucap Felicia lirih.
"Ah, iya. Kamu cukup memastikan jika rekan bisnis kita tidak berbuat kurang ajar kepada saya. Perhatikan gerak gerik yang mencurigakan! Selebihnya nanti kita akan belajar, saya harap kamu bisa memahami tentang perusahaan dengan baik!" ucap Ivanna tersenyum tipis.
"Baik, Nona. Huft, saya takut tidak bisa bekerja dengan baik di samping, nona," ucap Felicia lirih.
"Kamu sudah berjanji 'kan?" tanya Ivanna.
"Iya, Nona," ucap Felicia mengangguk.
"Jika kamu ingin dan melakukannya dengan baik, tidak ada yang sia-sia. Mengerahkan semua kemampuan dan terus belajar, itu adalah kuncinya!" ucap Ivanna menatap Felicia lekat.
"Baik, Nona. Saya akan melakukan yang terbaik!" ucap Felicia yakin.
"Kamu harus bersikap tegas, namun tidak boleh membentak orang lain! Kerja kamu tadi sudah bagus, namun tidak untuk bersikap ke kanak-kanakan!" ucap Ivanna tegas.
"Baik, Nona! Maafkan, saya" ucap Felicia.
"Iya!"
Mobil perlahan berhenti di area parkir restoran. Mereka segera turun dan bertemu dengan perwakilan dari perusahaan Angkasapura untuk membahas proyek mereka.
"Selamat datang, Nona Ivanna. Silahkan, tuan Azmi sudah menunggu di ruangan!" ucap pelayan restoran ketika melihat kedatangan Ivanna.
Gadis itu hanya terdiam dan mengikuti kemana ia akan di bawa. Felicia memasang siaga 1 untuk mengawasi atasannya, seperti apa yang mereka bicarakan tadi.
"Silahkan, Nona!" ucap pelayan itu.
Ivanna masuk ke dalam ruangan bersama dengan Felicia. Terlihat, seorang laki-laki berdiri untuk menyambut kedatangannya. Pria tampan yang memiliki tubuh tinggi dan otot yang mencetak jelas di lengannya. Paras tampan dan baby face, kulit putih bersih dan dua lesung pipi menghiasi wajahnya.
Glek,...
Tuhan, jangan sampai Tono tau. jika aku bertemu dengan laki-laki yang lebih tampan dari pada dirinya!. Batin Ivanna menjerit.
"Selamat datang, Nona Ivanna. Senang bertemu dengan, anda. Silahkan!" ucap Azmi tersenyum manis sambio menjabat tangan Ivanna dan Felicia.
__ADS_1
Felicia juga ikut terpana melihat ketampanan Azmi yang di luar nalar manusia. Ia segera sadar dan duduk di samping Ivanna sambil memperhatikan Azmi tanpa di curigai.
"Apa kabar anda, Nona Ivanna! Anda terlihat sangat cantik dari pada di foto!" ucap Azmi begitu terpesona melihat kecantikan Ivanna yang ada di hadapannya.
"Saya, baik. Anda sendiri?" ucap Ivanna datar.
"Saya baik, Nona. Saya merasa begitu tersanjung karena Nona menanyakan kabar saya! Selamat atas jabatan barunya, saya yakin Dirgantara CORP akan semakin maju di tangan anda!" ucap Azmi dengan telinga yang memerah.
Kenapa dia seperti salah tingkah seperti itu?. Batin Ivanna mengernyit.
Sepertinya, aku harus memasang siaga 2, Nona terlihat tidak nyaman dengan pria ini. Batin Felicia menatap Azmi dan Ivanna bergantian.
"Terima kasih. Ini asisten, saya! Felicia," ucap Ivanna mengenalkan Felicia.
"Asisten? bukannya anda sudah memiliki, pak Pandu?" tanya Azmi mengernyit.
"Apa saya tidak boleh memiliki banyak asisten?" tanya Ivanna dengan sorot mata yang tajam.
"Hmm?" Azmi menaikkan alasnya sebelah. "Tentu saja boleh, Nona. Saya,..."
"Apa bisa kita mulai sekarang?" tanya Ivanna yang mulai jengah dengan basa-basi.
"Baiklah!" ucap Azmi.
Mereka mulai membahas satu persatu bagaimana perkembangan proyek pembangunan yang tengah di kerjakan. Ivanna menjelaskan dengan profesional, sesuai dengan apa yang terjadi dilapangan.
Felicia dan Azmi Semakin kagum melihat kepandaian Ivanna. Padahal ia baru saja di angkat menjadi CEO, namun progresnya sudah terlihat dengan sangat baik.
"Saya tidak menyangka jika Nona begitu profesional, padahal baru saja di angkat! Saya yakin, tuan Irfan dan Tuan Fajri sudah mempersiapkan anda, sebelum mengemban jabatan ini!" puji Azmi.
"Apa masih ada yang ingin di bicarakan?" tanya Ivanna tanpa menanggapi ucapan Azmi tadi.
"Permisi!" ucap beberapa pelayan restoran masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa makanan yang di pesan oleh Azmi.
"Mungkin kita bisa makan terlebih dahulu!" ucap Azmi tersenyum.
"Maaf, Saya tidak bisa makan sembarangan!" ucap Ivanna menolak.
Felicia terbelalak, padahal perutnya begitu lapar, karena tadi siang hanya makan sedikit bersama Ivanna.
"Mulai hari ini, kamu harus makan apa yang aku makan!" ucap Ivanna.
Hilang sudah kesempatan makan enak hari ini!. batin Felicia pasrah.
"Apa kamu memiliki alergi atau semacamnya?" tanya Azmi.
"Tidak! Saya hanya tidak bisa makan sembarangan!" ucap Ivanna.
"Apa perlu saya pesankan lagi, menu yang kamu mau?" tanya Azmi.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Apa anda tidak paham dengan perkataan saya? Saya hanya bisa makan di rumah! Tolong jangan memaksa!" ucap Ivanna jengah.
Ingin ia membentak laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, namun ia juga harus profesional dalam bekerja.
"Ah, bagaimana dengan Nona Felicia? silahkan!" ucap Azmi menawarkan.
"Terima kasih, tuan. Saya sudah makan bersama Nona Ivanna tadi!" ucap Felicia sopan.
"Ah, baiklah!" ucap Azmi berhenti makan.
Hening, tidak ada yang berani memulai pembicaraan itu terlebih dahulu. Ivanna hanya sibuk melihat ponselnya, yang selalu berbunyi.
"Hmm, Nona. Apa anda sudah memiliki pacar atau calon suami?" tanya Azmi membuat Ivanna melihatnya dengan tajam dan sinis.
"Kenapa anda bertanya seperti itu, Tuan Azmi?" tanya Ivanna mengernyit.
"Hmm, apa saya memiliki kesempatan untuk memiliki anda? Jujur saya sudah lama menyukai anda, Nona. Tetapi pasti ada saja halangan untuk itu!" ucap Azmi tersenyum manis.
"Maaf, saya akan segera menikah!" ucap Ivanna.
Jika Ayah sudah menerima lamaran, Tono. Hiks,.... Batin Ivanna meringis.
"Berarti saya masih ada kesempatan untuk mendapatkan anda!" ucap Azmi percaya diri.
Ivanna semakin jengah mendengarkan ucapan laki-laki yang ada di hadapannya. Sementara Felicia, ia bingung berbuat apa, karena laki-laki ini tidak melalakukan kontak fisik kepada Ivanna.
"Saya rasa anda mempunyai seribu nyawa untuk berhadapan dengan Abang dan Ayah saya!" ucap Ivanna.
"Itu hal yang cukup sulit, tapi juga bisa menjadi mudah jika saya berusaha! Menjadi suami anda adalah impian hampir semua laki-laki yang ada di negri ini. Semoga kita berjodoh ya!" ucap Azmi tersenyum manis mengeluarkan aura ketampanan yang mampu menarik hati semua gadis.
"Apa anda sudah siap? sepertinya tidak ada hal penting lagi yang harus kita bahas! kami permisi!" ucap Ivanna beranjak dari sana.
"Nona, tunggu!" ucap Azmi hendak meraih tangan Ivanna.
Namun Felicia mencium gerak-gerik itu dan menyenggol sedikit tangan Ivanna, sehingga Azmi menggenggam malah tangannya saat ini. Mata mereka beradu, ada desiran aneh yang terjadi di antara keduanya.
Ivanna melotot dan juga kagum melihat kepekaan Felicia. ia segera menarik gadis itu keluar dari ruangan ketika azmi melepaskan pegangan tangannya.
"Permisi!" ucap Ivanna tersenyum tipis melihat keterdiaman Azmi di dalam ruangan itu.
"Kerja yang bagus!" ucap Ivanna tersenyum tipis kepada Felicia.
Mereka segera kembali ke perusahaan untuk mengambil motor. Felicia hanya terdiam sambil memegang bekas tangan Azmi tadi.
Ah, apa ini? kenapa jantungku berdetak lebih cepat?. Batin Felicia.
Ah, tuhan. Jangan sampai laki-laki itu nekat untuk datang ke rumah seperti Tono dan Bryan. Aku sudah lelah menghadapi mereka!. Batin Ivanna menjerit.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE