IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Menyusun Rencana


__ADS_3

Sesampainya di markas, Fajri langsung turun dari motor, bersamaan dengan datangnya sebuah truk yang membawa dua ekor singa dan dua ekor harimau kelaparan milik Fajri dan Ivanna yang sengaja belum di beri makan dari kemarin malam.


"Selamat datang, Tuan!" Sapa para anak buah Fajri.


"Siapa di dalam?" Tanya Fajri.


"Tuan Ray dan Panglima Joe, Tuan!" Ucap Mereka.


Brak!


Fajri membuka pintu dan membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.


"Apa sudah ada titik temu?" Tanya Fajri.


"Titik koordinat Nona Ivanna sudah di dapat, Tuan! Mereka menuju negara Prancis!" Ucap Joe.


"Prancis," ucap Fajri.


Ia meraih ponselnya dan menghubungi anggota mafia milik Aldebra untuk menuju ke sana.


"Sepertinya kita tidak bisa gegabah, Ji! Mereka sudah menyiapkan hal ini jauh-jauh hari!" Ucap Ray.


"Apa kita bisa membajak Pesawatnya?" Tanya Fajri.


"Tidak, kita tidak bisa menemukan signal dari mereka!" Ucap Ray.


"Siapkan semua pasukan, Kita akan berangkat secepatnya!" Ucap Fajri.


"Tidak, Om tidak setuju!" Ucap Ray mencegat Fajri. "Om Yakin mereka akan melakukan hal yang lain lagi. Mereka tidak akan membawa Ivanna ke sana!" Ucap Ray mengemukakan analisisnya.


"Maksud Om?" Tanya Fajri mengernyit.


"Ji, om tau kalau kamu khawatir, tetapi kita gak bisa gegabah. Mungkin ini sedikit beresiko, tetapi om yakin kita bisa menemukan Ivanna dan menangkap dalang dari kasus ini!" Ucap Ray.


Fajri terdiam, apa yang di katakan oleh Ray memang benar. Ia menghela nafasnya beberapa kali agar bisa berfikir jernih.


"Tarik semua anak buah Aldebra!" Ucap Ray.


"Kenapa Om?" Tanya Fajri mengernyit.


"Pasti akan ada yang memeriksa keadaan Ivanna di dalam pesawat, semua perhiasan pasti akan mereka ambil, mengingat kamu adalah pemilik perusahaan Software terbesar didunia! Itu bisa mereka gunakan untuk mengecoh kita!" Ucap Ray.


"Mungkin kita bisa mengirim beberapa orang untuk mengawasi pesawat itu nanti, untuk memastikan apakan Ivanna memang diturunkan di Paris atau tidak!" Ucap Fajri.


"Ide yang bagus!" Ucap Ray.


Tiba-tiba saja seorang pengawal datang dan menginterupsi percakapan Fajri "Permisi tuan, di luar ada temannya Nona Ivanna!" Ucapnya.


"Teman Ivanna? Siapa?" Tanya Fajri.


"Tuan Bryan!" Ucap Pengawal itu.


"Suruh dia masuk!" Perintah Fajri.


"Baik, tuan. Permisi!" Ucapnya berlalu.


"Ngapain dia ke sini? dan bagaimana dia bisa tau jika markas kita berada di sini?" Tanya Fajri.

__ADS_1


"Sudah, kita dengarkan dulu apa yang ini dia katakan!" Ucap Ray.


Tak lama Bryan masuk kedalam ruangan itu dengan kawalan yang cukup ketat.


"Bang?" Panggil Bryan.


"Ada apa?" Tanya Fajri mengernyit.


"Saya sudah mendengarkan berita penculikan Ivanna! Izinkan saya membantu untuk menemukannya!" Ucap Bryan tegas.


Fajri terdiam, ia menatap lekat wajah Bryan yang terlihat begitu serius.


"Saya memang tidak mahir berkelahi, Bang. Tetapi saya bisa merakit senjata dan menggunakannya. Saya yakin abang sudah mencari tau latar belakang saya!" Ucap Bryan serius.


"Baiklah! Kau tetap harus mengikuti perintah Om Ray! Karena dia yang akan memimpin pencarian Ivanna kali ini!" Ucap Fajri menatap Ray lekat.


Ia yakin, Ray mampu dibandingkan dirinya. Karena saat ini, kestabilan emosi sangat dibutuhkan untuk berfikir dengan jernih. Sementara dirinya, masih belum belum bisa mengontrol itu semua karena kondisi Irfan dan Fajira yang tiba-tiba saja drop.


"Kamu bisa mempercayakan ini kepada, Om! Kita akan menemukan Ivanna secepatnya!" Ucap Ray yakin.


Mereka kembali mengawasi pergerakan Ivanna sambil berdiskusi langkah apa yang akan mereka ambil. Bryan memang terlihat sangat lihai dalam merakit besi-besi itu dan menghasilkan senjata yang sangat bagus hanya dalam waktu singkat.


Na, Aku sudah berjanji untuk selalu menjagamu, walaupun kamu bukan miliku! Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mu, Na!. Batin Bryan.


Ia merakit begitu banyak senjata bersama dengan beberapa temannya yang lain, di bantu oleh ahli senjata dari pengawal Fajri.


Mereka menyusun rencana dengan sangat baik. Merencanakan banyak cadangan rencana agar bisa menghadapi situasi yang berbeda-beda dalam area pertarungan nanti.


🌺🌺🌺


Sementara dirumah sakit, Ibu segera menemui dokter yang menangani Carenza tadi. Jantungnya berdegub kencang mendengarkan jika sang putra masih tidak sadarkan diri.


"Ah, syukurlah! Apa kami sudah boleh memindahkannya ke ruang rawat dokter?" Tanya Ayah Tono.


"Belum Tuan, kami harus menjalankan beberapa observasi lagi untuk memastikan tidak ada dampak lain yang timbul akibat kecelakaan ini!" Ucap Dokter.


"Tolong bantu anak kami, dokter!" Ucap Alifa.


"Pasti akan saya bantu, Nyonya. Nanti untuk kamar perawatan mungkin akan di gabungkan bersama tuan Irfan dan nyonya Fajira saja!" Ucap Dokter.


"Iya dokter. Tidak apa-apa!" Ucap Alifa


"Kalau begitu kami permisi terlebih dahulu, Terima kasih dokter!" Ucap Hartono.


Mereka segera keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan dimana Irfan dan Fajira berada. Menatap sepasang suami istri yang tengah terbaring lemah tidak berdaya, mereka saling menguatkan satu sama lain, karena tidak ada orang lain lagi yang bisa di percaya.


"Kita harus kuat, Bu! Ini juga demi dan untuk putra kita! Dari awal ini sudah menjadi bahan pertimbangan kita untuk menerima Ivanna dan sekarang sudah terjadi. Hanya kita yang bisa mereka andalkan!" Ucap Hartono.


"Iya, Yah! Semoga Ivanna bisa di temukan secepatnya. Kasihan cucu kita, Ibunya dimana ayahnya sedang koma. Malang sekali nasibnya!" Ucap Ibu terisak.


"Sudah, jangan menangis di sini! Kasihan mereka, lebih baik kita temui dokter agar bisa mengetahui bagaiman kondisi besan kita!" Ucap Hartono berbesar hati.


Padahal saat ini ia merasa begitu rapuh melihat sang putra kebanggaannya tengah terbaring lemah di atas brangkat dan belum bisa di jenguk oleh siapapun.


Mereka berjalan menuju ruangan dokter yang berada di depan ruang ICU itu.


"Permisi, dokter!" Ucap Alifa.

__ADS_1


"Iya, silahkan. Ada yang bisa saya bantu" Tanya dokter.


"Kami besan dari Fajira. Nak Fajri sudah menitipkan mereka kepada kami. Jadi bagaimana kondisi Fajira dan suaminya, Dokter?" Tanya Alifa.


"Kondisi Nyonya Fajira Sudah stabil. Hanya butuh istirahat saja!" Ucap Dokter itu tersenyum.


Ia melihat berkas riwayat pemeriksaan milik Irfan. "Tuan Irfan hanya syok, kondisi jantungnya sudah stabil. Tetapi masih ada seperti gejala serangan jantung yang akan tiba kapan saja, jadi beliau harus kami rawat intensif di ruang ICU terlebih dahulu!" Jelas dokter itu.


"Ah, syukurlah. Mohon bantuannya dokter! Tolong perketat juga pengawasan kepada mereka! Sungguh, Jangan sampai ada penculikan yang kedua kalinya!" Ucap Alifa berkaca-kaca.


"Kami akan melakukan apapun untuk kesembuhan tuan Irfan dan Nyonya Fajira!" Ucap Dokter.


"Terima kasih, Dokter!" Ucap Alifa.


Mereka segera keluar dari ruangan itu dan pergi untuk melihat sang cucu pertama, putra mahkota ketiga keluarga Dirgantara.


"Tuan, Nyonya!" Panggil Atim.


"Atim, bagaimana kondisi cucu saya?" Tanya Alifa.


"Tuan kecil baik-baik saja, Nyonya. Hanya saja dari tadi menangis dan tidak berhenti, saya sudah menghubungi Nyonya Safira untuk meminta asi, dan masih dalam perjalanan. Tadi perawat sudah memberikan susu formula, tetapi tuan kecil menolaknya, Nyonya!" Ucap Atim.


"Cucuku yang malang!" Ucap Alifa berkaca-kaca. "Apa kami boleh melihatnya?" tanya wanita paruh baya itu berbinar.


"Untuk sementara belum, Nyonya. Saya pun tidak di perbolehkan untuk masuk. perawat yang ada di sana pun tidak saya perbolehkan untuk keluar!" Ucap Atim.


"Apa boleh kita melihatnya dari luar?" Tanya Hartono.


"Boleh, Tuan. Biar saya katakan kepada perawatnya terlebih dahulu!" Ucap Atim.


Ia berjalan dan memberitahukan kepada perawat untuk membuka sedikit tirai agar bisa melihat Tuan kecil itu.


Srek!


Sedikit tirai terbuka, Terlihatlah wajah tampan yang masih memerah karena menangis, mata sembab dan mulut yang menganga membuat siapa saja iba melihatnya.


"Yah, Lihatlah, bukannya cucu kita sangan mirip dengan Eza?" Ucap Ibu yang sudah menangis karena tidak kuasa menahan air matanya.


"Iya, Bu. Hidungnya begitu mancung dengan kulit putih bersih! Kulit Ivanna begitu melekat kepadanya. Sangat tampan!" Ucap Hartono yang juga ikut berkaca-kaca.


"Sebentar lagi, sudah bisa di pindahkan, Nyonya! Lebih baik langsung kita bawa kedalam ruang VVIP!" Ucap Atim.


"Iya, Kamu jangan sampai lengah, Mbak! Hanya kita yang tersisa!" Ucap Alifa.


"Baik, Nyonya!!" Ucap Atim.


Ia menceritakan kronologi penculikan Ivanna yang ia ketahui. Alifa hanya bisa menahan air matanya karena merasa sangat kehilangan.


Ya Tuhan, kembaalikan Ivanna kepada kami, jangan sampai menantuku kenapa-napa! Kasihan Cucu kecilku tanpa ada ayah dan ibu yang mendampingi!. Batin Alifa menahan tangisnya.


Tak berapa lama, Baby boy sudah bisa di pindahkan bersama Fajira. Sementara Irfan dan Carenza masih harus menjalani beberapa observasi untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Boleh dong, bagi setangkai mawar untuk mereka 🌹

__ADS_1


#gak maksa 😌


__ADS_2