IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Curiga


__ADS_3

Hari berganti, bulan pun terlampaui, kandungan Ivanna sudah memasuki Usia tujuh bulan. Drama ngidam Carenza yang merepotkan semua orang itu sudah hilang, namun tidak dengan sifat manja, dan posesifnya.


Carenza sudah kembali bekerja seperti biasa dengan segudang peringatan dari sang istri. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, karena Ivanna masih belum diperbolehkan untuk keluar, bahkan untuk bepergian jauh.


Seperti pagi ini dan pagi sebelumnya, Ivanna selalu cemberut karena Carenza melarang untuk ikut kemanapun pria tampan itu pergi. Ia merajuk dan tidak mau membantu pria tampan itu untuk bersiap pergi bekerja.


"Sayang, jangan seperti ini! Bagaimana nanti kalau kamu kelelahan, pusing, dan yang lainnya?" tanya Carenza lembut.


Ivanna bungkam, ia menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


"Sayang? Oo sayangku!" Panggil Carenza mencolek-colek Ivanna. "Bunda, jangan marah lagi sama Ayah! Atau nanti makan siang deh, Bunda boleh ke resto!" Ucap Carenza lembut.


"Gak mau!" Ucap Ivanna ketus.


"Ayolah, sayang. Jangan seperti ini. Nanti aku terlambat lo!" Ucap Caranya berbaring di samping Ivanna dan memeluknya dari belakang.


"Tapi aku mau ikut, By! Setiap hari aku gak boleh kemana-mana, ini gak boleh, itu gak boleh! Sementara kandungan aku sudah masuk trimester ke tiga. Dokter menganjurkan kalau aku harus banyak gerak!" Ucap Ivanna panjang lebar.


"Sayang, kamu kan bisa olah raga di rumah, gak harus kemana-mana!" Ucap Carenza tersenyum.


"Aku bosan, By! setiap hari yang aku lihat cuma dinding, keluar lihat dinding, masuk lihat dinding, kebelakang pun lihat dinding! Kamu gak paham banget sih! aku butuh refresing!" Ucap Ivanna kesal.


"Baiklah, yuk kita bersiap!" Ucap Carenza.


Ivanna menyingkap selimut dan menyembulkan kepala. Ia menatap sang suami dengan lekat untuk mencari kebohongan di wajah tampan itu.


"Kamu gak bohong, kan?" Tanya Ivanna menyipitkan matanya.


"Gak, sayang. Kapan aku bohongin kamu?" Ucap Carenza mengecup bibir Ivanna dengan lembut dan melumaatnya.


"Jadi, aku boleh ikut?" Tanya Ivanna memastikan.


"Iya, sayang! Yuk, nanti kita terlambat!" Ucap Carenza membantu Ivanna untuk turun dari ranjang.


"Kalau dari tadi dan dari kemarin-kemarin kamu ngasih izin, aku gak akan buang-buang tenaga untuk merajuk, By!" Ucap Ivanna cemberut sambil mengelus perut buncitnya.


"Astaga Sayang, bukan cuma aku yang melarang, Semua orang juga!" Ucap Carenza memeluk Ivanna dari belakang sambil mengelus perut buncit sang istri.


"Setidaknya, kamu mendukungku, By!" ucap Ivanna kesal.


"Hehehe jangan marah. Yuk!" Ucap Carenza membimbing Ivanna menuju ruang ganti agar bisa bersiap untuk pergi ke restoran.


"By, kok aku ngerasa ada sesuatu yang kamu gak cerita sama aku!" Ucap Ivanna mengernyit ketika Carenza menyisir rambutnya.


Deg!


Astaga, Aku lupa kalau baru saja menjalin kerja sama dengan pemilik restoran Pinky Resto. Mampus lah aku!. Batin Carenza dengan wajah yang berangsur pias.


"Apa sayang? Aku selalu cerita kok! Hmm, Ada satu hal sih. Ini baru kemarin aku menjalin kerja sama dengan pemilik Pinky Resto!" Ucap Carenza sedikit takut.


Sring!


Mata Ivanna menatap Carenza dengan tajam. Firasatnya dari semalam ketika melihat tingkah Carenza memang beralasan.


"Kapan kalian akan bertemu lagi?" tanya Ivanna dingin.


"Si-siang ini, sayang!"Ucap Carenza takut.


"Baby, kamu tau kalau hormonku sedang tidak stabil!" Ucap Ivanna lirih.


"Maaf, sayang! Aku gak maksud apa-apa!" Ucap Carenza berjongkok dan menatap Ivanna dengan lekat.


"Sayang, Aku tau kalau kamu sedang tidak stabil. Percayalah Sayang, aku gak akan macam-macam diluar sana!" sambungnya lembut sambil mengusap perut Ivanna.


"Aku percaya, By. Tapi, aku takut. Apa lagi badanku tidak seperti dulu lagi!" Ucap Ivanna lirih.


"Aku gak perduli badan kamu mau seperti apa, asal cintamu tidak berkurang!" ucap Carenza tersenyum. "Ya sudah, sekarang kita berangkat. Istriku sudah sangat cantik!".

__ADS_1


"Jangan menggombal!" Ucap Ivanna merona sambil mengecup pipi Carenza.


Ivanna sedikit merapikan kemeja yang di gunakan oleh sang suami sambil tersenyum.


Berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan, membuat semua asisten rumah tangga yang berpapasan menjadi malu sendiri melihat kemesraan mereka.


"Hati-hati, sayang!" ucap Carenza membimbing Ivanna untuk masuk ke dalam lift.


Ivanna memang dijaga dengan sangat hati-hati, mengingat riwayat kandungannya yang cukup riskan. Sehingga ia merasa begitu terkekang, namun sikap lembut Carenza membuatnya merasa cukup atas apa pun.


"Pagi semua!" Ucap Ivanna dan Carenza menyapa semua orang yang ada di meja makan.


"Wah, Bunda sudah cantik! Mau pergi kemana?" Tanya Nayla berbinar.


"Bunda mau ikut ayah, sayang!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Apa itu tidak berbahaya, Bunda?" Tanya Naren khawatir.


Ia turun dan kursi dan berpindah duduk disamping Ivanna. Ia mengelus perut buncit itu dan mengecupnya dengan lembut. Ivanna tersenyum, Naren sangat persis dengan Fajri yang


begitu penyayang dan posesif.


"Bunda gak istirahat di rumah saja? Nanti bunda kelelahan, kecapean, terus nanti kenapa-napa, bagaimana?" Ucap Naren membujuk Ivanna untuk tetap tinggal di rumah.


"Ada ayah nanti yang menemani, Bunda sayang! Jangan risau, Ya!" ucap Ivanna lembut sambil mengusap kepala Naren dengan lembut.


Pria kecil itu memeluk perut Ivanna, ia terlihat khawatir jika adiknya berada dalam bahaya. Namun ia masih kecil, belum mampu berbuat seperti sang Daddy, yang bisa berbicara dengan tegas.


"Abang makan dulu, ya!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Iya, Bunda!" Ucap Naren pasrah.


Semua orang menjadi gemas melihat tingkah Naren yang begitu manis. Mereka sarapan dengan tenang dan segera berangkat menuju ke sekolah dan tempat kerja masing-masing.


Di dalam mobil, Carenza menggenggam tangan Ivanna dengan lembut dan membawa mobil dengan begitu pelan, hanya 20 Km/Jam.


"Baby, Bukankah kamu bilang kita sudah terlambat?" Tanya Ivanna kesal.


"Iya, tapi keselamatan kamu dan anak kita paling utama, sayang!" Ucap Carenza tersenyum.


"Kalau kamu bawa mobil seperti ini, kita akan sampai dua jam lagi, By! Dan pinggang aku gak akan kuat!" Ucap Ivanna semakin kesal.


"Tapi sayang...," Ucap Carenza.


"By!" Seru Ivanna yang tidak ingin berdebat.


Carenza mengalah, ia menambah kecepatan laju mobil hingga 40 Km/jam. Ivanna tersenyum tipis, sambil memandangi jalanan luas yang sudah sangat jarang ia lihat.


Tak berapa lama, mobil berhenti di parkiran khusus mobil Carenza. Mereka segera turun dan berjalan sambil bergandeng tangan.


"Sayang, aku mau masak, kamu tunggu di sini saja, Ya!" Ucap Carenza mengganti baju di ruangannya.


"Hmm, Aku mau nunggu di resepsionis aja, By. Bolehkan?" Tanya Ivanna dengan maksud tertentu.


"Apa kamu nyaman?" Tanya Carenza mengusap perut Ivanan dengan lembut.


"Iya, aku nyaman. Tapi aku mau cemilan, By!" Ucap Ivanna tersenyum.


"Baiklah!" Ucap Carenza mengalah.


Mereka kembali ke luar, menuju meja resepsionis sesuai degan keinginan ibu hamil itu.


"Sukma, Titip istri Saya! Jangan sampai Ibu melakukn apa pun, selain duduk!" Ucap Carenza tegas.


Glek!


"Ba-baik, Pak!" Ucap Sukma gelagapan.

__ADS_1


Begitu juga dengan karyawan yang lain. Mereka begitu terkejut dengan kehadiran Ivanna yang sudah jarang terekspos di media.


"Saya mau duduk di sini boleh kan, Mbak?" Tanya Ivanna tersenyum tipis.


"Bo-boleh, Nona! Si-silahkan!" Ucapnya begitu gugup.


Carenza sudah menyediakan kursi khusus untuk ibu hamil dan meletakkannya di belakang meja berdampingan dengan Resepsionis.


"Ingat! Jangan ngapa-ngapain! Kalau Kamu sesuatu, bisa langsung telfon aku, atau minta tolong sana yang lain!" Ucap Carenza lembut.


"Iya, By. Sudah sana kerja!" Ucap Ivanna mengusir Carenza.


Pria tampan itu berlalu menuju dapur untuk memasak dan melihat keadaan di sana. Sementara Ivanna mengamati situasi dan keadaan resto yang mulai ramai, padahal waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi.


"Mbak?" Panggil Ivanna membuat Sukma terkejut.


"I-Iya, Nona?" Ucap Sukma takut.


"Ah, santai saja!" Ucap Ivanna tersenyum. "Saya ingin menanyakan sesuatu kepadamu!" sambungnya.


"Silahkan, Nona!" Ucap Sukma berusaha untuk tenang.


Ya tuhan, semoga Nona tidak bertanya hal yang aneh-aneh dan aku tidak salah menjawab!. Batin Sukma menjerit.


"Hmm, Suamiku belakangan ini sering datang ke sini, kan!" Tanya Ivanna.


"Iya, Nona," Jawab Sukma.


"Hmm, Apa Suami saya mengadakan pertemuan di sini dengan beberapa klien?" Tanya Ivanna.


"Iya, Nona. Hmm, Dengan Pak Malik, Pak Bryan, Pak Bramantyo, dan Nona Chelsea. Seingat saya hanya itu, Nona!" Ucap Sukma.


"Kamu paham maksud saya, kan?" Tanya Ivanna.


"Paham, Nona! Maaf sebentar!" Ucap Sukma menyambut para pelanggan yang datang.


Mereka tidak mengenali Ivanna yang tengah menggunakan masker. Setelah Sukma menyambut para pelanggan, ia segera duduk mengahadap Ivanna.


"Hmm, Saya paham maksud, Nona. Maaf, bukan saya ingin ikut campur, tetapi Saya memang merasakan sesuatu yang aneh dari gadis itu!" Ucap Sukma serius dengan jiwa gosipnya yang mulai bergejolak.


"Benarkah? Kapan pertemuan mereka di adakan kembali?" Tanya Ivanna.


"Jam 11 nanti Nona, di ruang C2!" Ucap Sukma setelah melihat jadwal pertemuan Carenza.


"Jam 11, Ya? Kamu awasi mereka terus, Saya tidak ingin suami saya menjadi korban mal praktek!" Ucap Ivanna tegas.


"Baik, Nona!" Jawab Sukma tak kalah tegas. "Boleh minta fotonya, Nona?" Tanya Sukma tersenyum.


"Boleh, tapi kamu harus menjalankan yang saya ucapkan tadi!" Ucap Ivanna.


"Siap, Ibu Bos!" Ucap Sukma.


Mereka berfoto dan mengobrol dengan santai sambil melayani pengunjung hingga sosok tinggi semampai menghampiri mereka dengan gaya sombong dan angkuhnya.


"Permisi, Bapak Carenza nya, Ada?" Tanya seorang gadis.


Sukma memberi kode kepada Ivanna, dan langsung menanggapi perkataan gadis itu seperti biasa.


Asa saja kalau kau berani dengan suamiku!. Batin Ivanna.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Sudah 2 hari ya Ivanna bg ak update, Aku lagi bersemedi gais.


Yuk dukungn author terus 😍😍

__ADS_1


__ADS_2