IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Side Story


__ADS_3

Ivanna dan Carenza terlihat sangat bahagia di hari pernikahan mereka. Tanpa ada yang menyadari, seorang laki-laki berdiri mengahadap ke arah mereka dengan hati yang begitu terluka, namun ia harus berusaha untuk iklas menerima kekalahannya.


Huft, untuk bernafas pun aku merasa tidak sanggup! Apa lagi mendengar kata-kata mu yang begitu manis. Kata-kata yang mustahil keluar dari mulut seorang Ivanna kalau bukan untuk suaminya! Semoga kalian bahagia! Aku hanya bisa mencoba untuk menerima semua ini. Na, Terima kasih karena pernah mengisi masa kecilku yang kelam. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Semoga di lain kesempatan, kita masih bisa bertemu tanpa ada kebencian antara kita satu sama lain. Batin Bryan dengan mata yang berkaca-kaca.


Ingin ia menghampiri Ivanna dann mengucapkan selamat, namun ia merasa sangat tidak siap. Sebentar, ia menyadari bahwa Ivanna tengah melihat kearahnya, mata mereka terkunci. Ivanna melambaikan tangan, dan meminta Bryan untuk mendekat.


Aku tidak punya keberanian, Na!. Batin Bryan sambil melambaikan tangannya.


Ia beranjak dari sana dengan membawa luka yang cukup mendalam. Karena rasa cinta itu sudah bersarang selama belasan tahun lamanya.


Berbagialah, sahabatku! Kelak jika kamu membutuhkan sesuatu, aku akan selalu ada untukmu!. Batin Bryan dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia melangkah keluar dari lapangan dan menaiki mobilnyp


opp. Hari ini ia bertekad akan menetap di Indonesia agar bisa melihat Ivanna selalu, walaupun harus terluka. Namun itu saja sudah cukup, karena ia begitu menyadari, jika Carenza adalah orang yang tepat untuk menjaga Ivanna.


Sementara di atas panggung, Ivanna sedikit kecewa karena Bryan lebih memilih pergi, dari pada menghampirinya. Carenza memperhatikan itu, sungguh ia merasa begitu iba melihat Bryan yang pasrah dengan kekalahannya.


"Semoga kelak dia mendapatkan perempuan yang terbaik dalam hidupnya, sayang!" Ucap Carenza berbesar hati.


"Semoga saja, By!" Ucap Ivanna tersenyum.


Acara terus berlangsung, beberapa teman Ivanna semasa kuliah juga ikut di undang. Sementara di salah satu meja makan yang tak jauh dari panggung. Safira tengah duduk sendiri sambil menikmati berbeda cemilan yang ia inginkan.


Sementara Fajri sedang menemani bocil kembar untuk mengambil makanan kesukaan mereka yang berada tak jauh dari sana.


"Hai?" Sapa seseorang kepada Safira.


Ibu hamil itu menoleh, ia terkejut karena kehadiran seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya.


"Sendiri?" Tanya laki-laki itu.


"Hmm, ya. Suami dan anakku lagi mengambil makanan!" Ucap Safira merasa tidak nyaman.


"Hmm, apa kabar? Kamu hamil lagi, ya?" ucapnya tidak percaya.


"Iya, aku baik! Kamu apa kabar, Lik?" tanya Safira.


"Hmm, aku juga baik. Ya setelah kamu tinggal menikah, sampai sekarang belum ada perempuan yang cocok untuk aku jadikan pendamping hidup!" Ucap Malik lirih.


"Kamu masih belum mencarinya dengan sungguh-sungguh!" Ucap Safira menunduk.


"Ah, ya tapi Eza sudah mengenalkanku kepada seorang perempuan. Semoga saja kami cocok! Hmm, Udah berapa bulan kandunganmu?" Tanya Malik.


"Udah 5 bulan!" Ucap Safira.


"Sehat terus, sampai melahirkan nanti!" Ucap Malik tersenyum kecut.


"Iya, terima kasih!" Ucap Safira.

__ADS_1


"Mommy!" Teriak Naren dan Nayla.


"Hai, sayang. Udah dapat makanannya?" Tanya Safira tersenyum sambil mengusap kepala mereka.


"Sudah, Mommy! Hmm, om itu siapa, Mi?" Tanya Nayla berbisik.


"Dia teman Mommy, sayang! Salim dulu!" Ucap Safira.


Naren dan Nayla mencium tangan Malik bergantian. Pria kecil itu menatap Malik dengan lekat, ada sedikit rasa tidak suka karena Malik duduk di samping sang ibu.


"Naren mau duduk di sini boleh, om?" Tanya Naren datar.


"Boleh, Nak!" Ucap Malik berpindah posisi.


Sementara Nayla duduk di sisi lain Safira. Mereka menatap Malik dengan penuh kecurigaan.


"Om ngapain duduk dekat, Mommy? Apa, Om gak takut kalau Daddy marah?" Tanya Nayla mengernyit.


"Eh, gak boleh ngomong gitu, sayang!" Ucap Safira mengelus kepala Nayla.


"Apa Om punya nyawa sembilan untuk menghadapi, Daddy?" Tanya Naren.


"Malik, maafkan anak-anakku! Mereka sudah di design seperti itu oleh ayahnya!" Ucap Safira tidak enak.


"Tidak apa, Ra! Jangan risau, guys. Om hanya menyapa Mommy kalian saja! Sekarang, om mau nanya, kok tega sih kalian meninggalkan Mommy sendiri? Gimana kalau ada yang menculik? makanya om duduk di sini untuk menemani Mommy!" Ucap Malik.


Naren dan Nayla membola, mereka menatap Safira dengan rasa bersalah dan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Mommy gak papa, sayang!" Ucap Safira gelagapan.


Ia menatap Malik dengan tajam karena sudah membuat anak-anaknya bersedih. Sementara yang di tatap malah tersenyum manis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Daddy mana, sayang?" Tanya Safira.


"Ada di sana, Mommy!" Ucap Nayla menunjuk keberadaan Fajri.


Pria tampan itu sudah memasang wajah datarnya karena cemburu. Ia hanya berdiri di samping tanpa ingin menegur Malik, karena ia tau jika laki-laki ini, pernah menyuruh Carenza menantangnya untuk merebutkan Safira.


"Sayang, Ini makanannya!" Ucap Fajri lembut dan tersenyum manis menatap Safira.


"Terima kasih, Daddy!" ucap Safira mengelus rahang kokoh Fajri.


Malik mengeraskan rahangnya karena sisa rasa itu masih tersimpan di dalam hati.


"Kak?" Panggil Felicia.


"Hmm, ya?" jawab Malik gelagapan


"Yuk, kita berfoto dengan Nona!" Ajak Felicia. " Eh, selamat malam, tuan, Nyonya!" Sapanya kepada keluarga kecil Fajri.

__ADS_1


"Hai, kakak cantik! Oh, jadi om ini suaminya kakak cantik ya?" Ucap Nayla berbinar.


"Bu-bukan, Nona kecil! Di-dia,"


"Iya, Jadi jangan marah lagi sama om, ya! Nanti ajak uncle Eza aja untuk main ke restoran om. Ada menu coklat baru di sana!" Ucap Malik tersenyum.


"Ah, baiklah. Terima kasih, Om!" Ucap Nayla dan Naren berbinar


"Kami permisi dulu, Nyonya, Tuan!" Ucap Mereka pamit.


Selepas kepergian Malik dan Safira, Fajri menatap istrinya dengan penuh dendam sambil menyeringai.


"Habis kamu malam ini, sayang!" Bisik Fajri yang terdengar horor dan membuat ibu hamil itu bergidik ngeri.


Sementara Felicia dan Malik, mereka berjalan dengan suasana yang canggung. Mereka hanya mendengarkan bisikam-bisikan yang penuh dengan pujian dari para undangan.


"Hmm, maaf untuk yang tadi!" Ucap Malik mennggaruk tengkuknya.


"Gak papa, kak! Hanya saja anak yang kamu bohongi itu bukan anak biasa! Mereka juga genius seperti orang tuanya!" Ucap Felicia.


"Bagaimana kalau kita wujudkan saja?" Tanya Malik.


Deg!


"Ma-maaf, kak! Saya belum berminat untuk menikah muda!" Ucap Felicia gugup.


"Tidak apa! Mungkin aku harus berjuang lagi!" Ucap Malik tersenyum.


Mereka bersalaman dengan Ivanna dan mengucapkan selamat diiringi dengan berbagai untaian doa untuk pasangan baru itu.


Hingga, acara pelemparan bunga di adakan. Begitu banyak pasangan yang menanti untuk mendapatkan buket bunga pengantin yang di anggap membawa keberuntungan itu.


"Silahkan mengambil tempat masing-masing! Satu, dua, tiga!" Ucap MC antusias.


Ivanna dan Carenza tersenyum dan melempar buket itu dengan membelakangi para peserta.


Hap!


Malik yang iseng berdiri, malah tanpa sengaja menangkap bunga itu dengan mata yang berbinar. Ia segera berjalan ke arah Felicia dan berjongkok di hadapan gadis itu.


Semua orang terkejut dengan apa yang terjadi hari ini. Tanpa menunggu lama, Felicia langsung mengambil bunga itu agar tidak membuat mereka malu.


"Cieee, sepertinya kita akan mendapatkan undangan lagi gais, dari asisten Nona Ivanna!" Ucap MC itu antusias.


Banyak dari mereka yang mendesaah kecewa karena tidak berhasil mendapatkan buket itu. Namun mereka juga senang, karena perhelatan besar yang ke dua akan segera di langsungkan.


Acara telah selesai, meninggalkan kesan yang sangat berharga bagi mempelai dan semua tamu undangan yang hadir. Bahkan mereka rela duduk di sana selama berjam-jam hanya untuk menikmati semua hidangan yang ada. Mereka berangsur pergi ketika iringan mobil pengantin sudah meninggalkan stadion.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2