
Ivanna dan Eza terus di introgasi oleh ayah dan ibu tentang sejauh mana hubungan mereka. Orang tua Eza tidak memandang siapa dan apa jabatan Ivanna, karena gadis itu datang berstatus sebagai kekasih anaknya.
Ivanna cukup pandai membawa diri, dengan santai ia bisa mengobrol banyak hal bersama dengan calon mertuanya ini.
Benar kata Bunda, kalau mau akrab dengan mertua, fokus kepada mereka dan memberikan feedback agar ngobrolnya semakin seru. Meninggalkan sifat dingin dan kaku di rumah, tidak buruk juga sih. Batin Ivanna cukup senang dengan pertemuan pertama mereka.
"Nana. bisa masak, nak?" tanya Ibu.
"Kalau hanya masakan rumahan Nana bisa, Bu. yang sederhana saja!" ucap Ivanna tersenyum.
"Bagus-bagus. Ahh, Ibu masih tidak percaya jika kalian menjalin buhungan!" ucap Ibu menghela nafasnya.
"Na, aku ingin bertanya!" ucap Almira. "Apa alasan spesifik kamu mau menerima, Abang?".
"Gak ada alasan spesifik sih. Hanya saja, kakak bisa membuatku nyaman, tingkahnya yang konyol, ya lumayan untuk membuat mood aku bagus!" ucap Ivanna menatap Eza sambil tersenyum.
"Sepertinya otakmu sudah di cuci sama dia!" ucap Almira bergidik.
"Cih, iri bilang bos!" ucap Carenza mendelik.
"Ah sebentar lagi jam makan siang sudah masuk, Ibu mau masak dulu, ya!" pamit Ibu pergi ke belakang.
"Biar Eza aja yang masak, bu!" ucal Carenza's menawarkan diri.
Ivanna terkejut menatap pria tampan yang ada di sampingnya. Jika Eza pergi memasak, akan di pastikan ia tinggal bersama anggota keluarga yang lain.
"Ya sudah, Ibu juga gak tau bagaimana hidangan untuk Ivanna!" ucap Ibu tersenyum.
"Nana, bisa makan apa aja, Bu. Asal gak pake bumbu penyedap!" ucap Ivanna tersenyum.
"Oalah, sama toh. Ibu masak juga gak pake penyedap!" ucap Ibu tertawa. "Ya sudah, sana masak lagi!" sambungnya menatap Eza.
"Iya, Bu! Sayang, kamu ngobrol sama Ibu dulu ya!" ucap Tono berlalu menuju ke dapur.
Tinggallah Ivanna bersama keluarga Carenza. Ia tiba-tiba saja bingung dan gugup, karena tidak tau harus memulai pembicaraan seperti apa.
"Hmm, Nana?" panggil Ibu lembut.
"Iya, Bu?" jawab Ivanna tersenyum.
"Boleh Ibu menanyakan beberapa hal yang cukup serius?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Boleh, Bu! Jika Nana bisa menjawabnya, akan Nana jawab!" ucap Ivanna.
"Jujur, Ibu masih belum mendapatkan benang merah dari hubungan kalian, kenapa kamu bisa memilih Eza untuk menjadi pasangan mu? Bukankah banyak yang lebih dari pada Eza?" tanya Ibu.
Ivanna tersenyum, ia yakin siapa saja yang ia temui akan menanyakan hal yang sama, mengingat jika ia adalah A Queen of Dirgantara Kingdom.
"Ibu, orang pertama yang menanyakan hal ini. Memang, jika dilihat banyak laki-laki yang lebih dari pada kakak. Namun aku bukan orang yang menilai sesuatu dari harga, tapi dari segi kualitas. Aku melihat kakak itu laki-laki yang pekerja keras, dia penyayang, dan terlebih kakak adalah laki-laki yang begitu sopan kepada orang tuaku!" ucap Ivanna berbicara dengan nada yang lembut dan jelas.
"Bunda selalu bilang, 'Kamu bisa melihat kualitas laki-laki dari cara ia memperlakukan Ibu dan saudara perempuannya!' Memang ini pertemuan pertama kita, tetapi kakak sering menceritakan bagaimana keluarganya. Dari cara penyampaian, terlihat jika kakak sangat sayang kepada keluarga, dari sana aku bisa menilai jika kakak adalah laki-laki yang tepat untukku!" sambungnya tersenyum.
"Iya, dia memang pekerja keras. Jika tidak, mungkin kehidupan keluarga Ibu tidak akan seperti ini! Apa kamu tidak malu dengan status Eza yang hanya seorang peternak?" tanya Ibu lagi.
"Tentu tidak, Bu!. Kenapa aku harus malu, Aku tidak pernah memandang seseorang dari harta, karena itu semua hanya titipan!" ucap Ivanna tersenyum.
"Lalu, waktu itu Nana mengatakan jika kamu sudah menjalin hubungan dengan Eza, tetapi kamu tidak mengatakan nama Eza di hadapan publik, kenapa?" tanya Ibu.
"Bu, Nana sekarang seorang pebisnis, dan dunia bisnis itu sangat kejam. Terlebih begitu banyak laki-laki yang datang, Nana tidak ingin mereka menyakiti kakak menggunakan cara curang. Dengan mengatakan status Nana saat ini, akan banyak yang mundur, tetapi juga akan ada yang terus maju. Ini kesepakatan kami untuk tidak memberitahukan identitas kakak ke pada media. Ia harus memiliki sesuatu yang bisa membuat mereka semua mundur, tidak perlu harta yang berlimpah, yang penting kakak memiliki kekuatan untuk melawan mereka jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan!" terang Ivanna.
Ibu dan Ayah terdiam mendengarkan penjelasan Ivanna. Saking nyamanya mereka mengobrol sampai melupakan status Ivanna yang merupakan seorang CEO perusahaan besar.
"Apa, apa yang akan terjadi nanti seandainya identitas abang diketahui oleh media?" tanya Almira mengernyit.
"Kecurangan! Dunia bisnis memang kejam, kak. Makanya aku sedikit membantu kak Eza agar dia bisa lebih kuat dalam mengembangkan bisnisnya! Jika itu terjadi, kami juga tidak tinggal diam!"
Ibu dan Ayah semakin diam memikirkan nasib anaknya jika bersanding dengan Ivanna nanti.
Sepertinya, aku salah bicara! Wajah Ibu dan Ayah langsung berubah. Ah, tuhan jangan sampai restu mereka terhalang karena omonganku. batin Ivanna takut.
"Hmm, Jadi Nana, gadis yang selama ini di ceritakan oleh Eza?" ucap Ayah memecah keheningan.
"Maksud, Ayah?" tanya Ivanna mengernyit.
"Ya, sudah beberapa tahun ini, semenjak Eza memulai bisnis, setiap ada hal baru yang ia peroleh, Eza selalu bilang, 'selain untuk keluarga, dia juga ingin terlihat pantas untuk bersanding dengan calon istrinya nanti'. Ayah hanya berfikir, apa yang ia dapat hari ini sudah lebih dari cukup untuk memilih dua per tiga gadis di negeri ini. Ternyata, Putri raja yang ia incar!" ucap Ayah sedikit tergelak.
Ivanna tersenyum dengan wajah yang merona mendengarkan ucapan Ayah.
Benarkah. kamu sudah lama mencintaiku, by? Ternyata kita sama!. Batin Ivanna tersenyum.
Mereka melanjutkan obrolan itu dengan santai, membahas hal random yang cukup menambah keakraban calon mertua dan menantu itu.
Hingga Tono datang dan memanggil semua orang untuk makan siang. Mereka segera pergi ke ruang makan yang berdesign gaya klasik kitchen yang terlihat begitu bersih dan terasa nyaman.
__ADS_1
Ivanna terlihat anggun ketika makan, membuat Almira dan Ibu terkesima melihat cara gadis itu makan dengan baik. Sementara Carenza, membatu gadis itu untuk memisahkan tulang ikan dengan dagingnya.
"Apa, Nana gak bisa makan ikan, nak?" tanya Ibu.
"Bisanya disuapi sama Bunda, Bu. Dari kecil Nana emang susah untuk makan ikan!" ucap Ivanna merasa tidak enak.
"Za, kenapa gak masak ayam saja tadi?" tanya Ibu.
Ihh, Ibu kenapa gak paham sih! ini kan kesempatan yang bagus untukku!. batin Carenza mendengus.
"Di kulkas, hanya ada ini, Bu!" ucap Carenza memberi kode kepada ibunya.
Dasar tukang modus, sama saja seperti Hartono!. Umpat Ibu di dalam hati.
Makan siang itu berjalan dengan baik, sementara Almira merengut kesal karena melihat keromantisan antara Carenza dan Ivanna yang membuat dirinya ngenes san juga ingin seperti itu.
πΊπΊ
"Bagaimana pembangunannya?" tanya Ivanna berkunjung ke lokasi pembangunan kandang ternak modern milik Carenza.
"Semuanya berjalan dengan baik, Nona! Saya perkirakan ini bisa selesai sebelum waktunya!" ucap Mandor.
"Hmm, jangan terburu-buru. Saya tidak ingin ada kesalahan dalam proyek kali ini!" ucap Ivanna tegas.
"Baik, Nona!" ucap Mandor yang merasa tubuhnya meremang ketika mendengarkan suara tegas Ivanna.
"Jika mereka ingin merobah Design, rubah saja dan arahkan seperti apa bangunan yang bagus! jika dananya kurang, ajukan proposal dan laporannya!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona!" ucap mandor itu patuh.
"Sayang?" panggil Carenza.
"Iya, By?" jawab Ivanna.
"Susah selesai?" tanya Carenza terlihat khawatir.
"Ada apa, by? kenapa kamu terlihat cemas seperti itu?" tanya Ivanna mengernyit.
Carenza tiba-tiba saja datang dengan raut wajah takut dan tegesa-gesa.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE