IVANNA, Putri Sultan Milik CEO

IVANNA, Putri Sultan Milik CEO
Selidiki Dia!


__ADS_3

Malam menjelang, Carenza masih berada di ruang kerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk beberapa hari ini. Ia berbagi ruangan bersama dengan yang lain, dan memiliki meja masing-masing.


Sementara Ivanna masih duduk termenung di dalam kamar sambil memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Jordan yang tiba-tiba saja datang dan Chelsea, gadis aneh yang begitu ingin mendekatinya.


Huft! Apa ini hanya rasa takutku saja yang berlebihan? Tapi semuanya terasa ada yang janggal. Tidak mungkin ada perempuan seperti itu berani mendekatiku, jika ia bukan orang sembarangan. Pasti ada motif lain dari semua tingkahnya!. Batin Ivanna merasa begitu takut.


"Yang sehat ya, De! Semoga kita bisa cepat bertemu, tumbuhlah menjadi anak yang cerdas dan hebat seperti bunda, tetapi kamu harus baik hati, lembut dan penyayang seperti ayah!" Ucap Ivanna tersenyum sambil mengusap perutnya.


Apa aku harus menyelidiki gadis itu? Jika dia memang seorang gadis biasa, pasti hanya akan membuang waktu. Tapi tidak ada salahnya juga, jika aku mencari tahu apa motifnya!. Batin Ivanna.


Ia mengambil ponsel yang sudah terasa dingin karena belum tersentuh sedari tadi. Membuka kunci layar dan mencari nomor seseorang yang ia butuhkan.


Ceklek!


Carenza masuk sambil membawa segelas susu ibu hamil untuknya. Ia segera mematikan ponsel dan menyambut kedatangan pria tampan itu sambil tersenyum manis.


"Minum dulu, Sayang!" Ucap Carenza tersenyum dan mengecup kening Ivanna dengan lembut.


"Terima kasih, Be!" Ucap Ivanna menegak habis susu itu.


"Sama-sama! Lagi mikirin apa, sayang? Kenapa kamu terlihat khawatir?" Tanya Carenza dengan lembut sambil mengecup pipi Ivanna.


"Hmm, Biasalah, Be. Aku hanya begitu khawatir dengan kehadiran orang-orang yang bisa saja mengancam nyawaku dan anak kita!" Ucap Ivanna lirih


"Berserah diri saja, sayang. Aku akan selalu menjagamu dengan begitu ketat. Semoga kita selalu mendapatkan keselamatan dimanapun dan kapanpun!" Ucap Carenza.


"Aamiin!" Ucap Ivanna mulai tersenyum Ega mendengar ucapan Carenza yang sudah membuat hatinya merasa tenang.


"Yuk kita istirahat!" Ucap Carenza tersenyum penuh arti.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Tanya Ivanna menangkap gelagat aneh dari sang suami.


"Hmm, Boleh ya, sebentar saja!" Ucap Carenza dengan wajah berbinar penuh harap.


"Hehe, manis banget sih, kalau ada maunya!" Ucap Ivanna tergelak sambil mencubit pipi Carenza dengan gemas.


"Heheh, Boleh, Sayang?" Tanya Carenza tersenyum.


"Boleh, Be!" Ucap Ivanna terkekeh.


Carenza begitu berbinar, ia segera mematikan lampu dan membantu Ivanna untuk berbaring.


"Bunda semakin cantik dan terlihat begitu mengemaskan kalau sedang hamil. Apa lagi kalau Bunda mengeluarkan suara-suara yang begitu merdu dibawah kukungan Ayah!" Ucap Carenza begitu genit.


Ia menarik satu persatu tali tipis dari gaun malam Ivanna dengan pelan dan menatap dalam mata sang istri.


Ivanna tersenyum dengan wajah yang merona. Ia juga ikut membantu Carenza untuk membuka satu persatu kancing kemeja yang masih melekat di tubuh indah suaminya.


"Kamu jangan gombalin aku terus, Be. Atau aku gak bisa menahan diri untuk mengalahkanmu!" Ucap Ivanna tersenyum dan mengerlingkan matanya.

__ADS_1


"Ah, Dalam kondisi belum hamil saja kamu selalu tumbang, Sayang. Apa lagi dengan kondisi seperti ini!" Ucap Carenza mulai mengecup bibir Ivanna.


"Let's See!" Ucap Ibu hamil itu tanpa takut.


Bibir mereka saling bertautan satu sama lain. Karena hormon kehamilannya, hasrat Ivanna dengan begitu mudah untuk bangkit bahkan hanya dengan berciuman saja.


Apa lagi Carenza yang tidak bisa diam dan selalu agresif membuatnya lebih sering merasa frustrasi karena dorongan hormon yang begitu besar.


Tubuh Ivanna semakin bergetar ketika Carenza mulai memaikan puncak bukitnya menggunakan lidah. Terasa basah, geli dan nikmat secara bersamaan.


"Akhh! Be, Ka-mu, be-lumhh On fire?" Tanya Ivanna dengan nafas yang memburu.


"Sudah sayang, Sabar ya!" Ucap Carenza tersenyum nakal.


Ia mulai mengambil posisi dan mengelus perut Ivanna dengan lembut.


"Sayang, geser sedikit ya, Nak! Nanti kepala Ade kejedot sama senjata Ayah!" Ucap Carenza tersenyum.


Ia segera memasukkan pisang laras panjangnya kedalam gua suci lembah kenikmatan milik Ivanna yang bisa membuat mereka melayang hingga langit ke tujuh.


"Akhh, Be!" Lenguh Ivanna sambil memejamkan mata, merasakan hentakan Carenza yang membuat gairahnya semakin terbakar.


Carenza mencoba beberapa gaya yang aman dilakukan kepada ibu hamil. Desaahan merdu mereka tak hentinya menggema di dalam ruangan itu. Hingga setengah jam berlalu, Carenza memuntahkan mayonaisenya agar bisa memupuk sang anak yang sebentar lagi akan keluar.


"Akkhhh!" Lenguh Carenza ketika melepaskan benih-benih premiumnya. "Hah, hah, hah. Terima kasih, sayang! Aku mencintaimu!" Sambungnya dengaan nafas terengah.


"Aku juga, Be!" Ucap Ivanna dengan mata yang sayu karena lelah dan mengantuk.


Ia segera mengambil handuk dan membasahkannya dengan air hangat, lalu membersihkan milik Ivanna dengan begitu lembut sambil tersenyum geli. Setelah selesai, ia menyelimuti Ivanna dan langsung membersihkan diri.


Tak lama ia membersihkan diri, Carenza keluar dengan balutan handuk di pinggangnya. Aroma segar menyeruak keluar dari ruangan kecil itu. Ia mengambil boxer dan juga daster untuk Ivanna.


Sambil tersenyum, Carenza menatap Ivanna sambil mengenakan baju kepada sang istri. Ia menghitung, begitu banyak tanda kepemilikan yang telah ia ciptakan.


"Begitu beruntung aku memilikimu, Sayang! Perempuan yang tidak memandangku rendah sedikitpun, walaupun statusku tidak ada apa-apanya di bandingkan dirimu. Tetapi kamu tetap merendah di hadapanku. Terima kasih sayang!" Ucap Carenza dengan mata yang berkaca-kaca.


"Engh, Sama-sama, Baby! Aku juga mencintaimu!" Ucap Ivanna mengigau.


Carenza terkekeh, ia segera berbaring dan memeluk Ivanna dari belakang dann ikut memejamkan matanya.


🌺🌺


Hari berganti, lagi-lagi Ivanna dibuat kesal karena ulah Chelsea yang kembali meresahkan. Ia mengirim begitu banyak bunga, makanan, baju dan perlengkapan hamil lainnya untuk Ivanna.


Sambil berlutut di hadapannya, Chelsea memohon agar Ivanna mau menerimanya sebagai seorang teman.


"Aku berjanji tidak akan macam-macam, Nona! Hiks, anda bisa membunuh saya langsung, kalau saya berbuat macam-macam kepada anda!" Ucap Chelsea dengan wajah penuh harap.


Ivanna terdiam, ia memandang gadis jeruk yang tengah berlutut itu. Sepertinya ini bisa menjadi salah satu caraku untuk melihat apa motif dia mendekatiku!. Batin Ivanna.

__ADS_1


"Berapa yang kau butuhkan?" Tanya Ivanna.


Chelsea mendongak, ia menatap Ivanna dengan terkejut. "Hiks, saya tidak ingin uang, Nona! Saya rasa semua barang ini bisa menghidupi saya beberapa bulan lagi!" Ucapnya.


"Lalu apa yang kau inginkan?" Bentak Ivanna.


"Saya hanya ingin berteman dengan Nona, bisa melihat dan mendengar suara anda setiap hari. Itu saja, Nona!" Ucap Chelsea masih memohon.


"Baiklah! Tapi ada beberapa aturan yang harus kau patuhi. Atau saya akan melemparkan kau ke kandang singa!" Ucap Ivanna serius.


"Ba-baik, Nona. Apa saja aturannya akan saya patuhi!" Ucap Chelsea berbinar.


"Pertama, jangan datang ke sini sebelum kau membuat jnji dengaan Asistenku. Kedua, Jangan sentuh apapun di rumah ini, batas kau hanya ruang tamu dan meja makan kalau kau beruntung bisa makan dengan kami. Ya ke tiga, jangan bertingkah agresif dan membuatku tidak nyaman! Yang ke empat, bla, bla, bla!" Ucap Ivanna mengatakan semua larangannya.


Glek.


Nona ini menyetujui untuk berteman denganku, tetapi memberikan seribu aturan untuk dipatuhi! Hiks, jika bukan karena aku mencintainya, mana mau aku melakukan semua itu!. Batin Chelsea meringis kesal.


"Baik, nona! Tapi, jangan marah-marah lagi kepada saya!" Ucap Chelsea memohon.


"Asal kau tidak membuatku kesal! Bangunlah!" Ucap Ivanna berjalan kembali ke kamarnya.


"Baik, Nona. Terima kasih banyak!" Ucap Chelsea berbinar.


Namun ia kecewa ketika melihat Ivanna pergi begitu saja. Ia berniat hendak mengejar ibu hamil itu, namun Atim lebih dulu mencegatnya.


"Ini catatan semua larangan yang tidak boleh dilanggar dan anda kerjakan!" Ucap Atim menyerahkan kertas yang selalu ia bawa untuk mencatat semua perintah dari Ivanna.


"Ish, kau ini. Aku ingat semua larangan Nona!" Ucap Chelsea kesal.


"Sudah! Ambil saja kertas itu. Saya yakin jika anda membutuhkannya suatu saat nanti!!" Ucap Atim datar.


"Cih, jika ada suatu masa dimana membunuh halal di negara ini, kau orang pertama yang akan saya bunuh! Ingat itu!" Ucap Chelsea kesal.


Ia berjalan keluar sambil mendengus sebal meninggalkan kediaman Dirgantara, dengan membawa sebuah keberhasilan dan kebanggaan karena bisa dekat dengn Ivanna.


Sementara ibu hamil itu berdiri di balkon kamar sambil menelfon seseorang. "Awasi pergerakan dia! Jangan sampai kehadirannya membuat saya berada dalam bahaya!" Ucapnya tegas.


"Baik, Nona!" Sahut seseorang dari balik telepon.


Kita lihat, siapa kau sebenarnya! Jika sampai saya tau jika kau ada seorang mata-mata, habis kau ditanganku!. Batin Ivanna sambil menggertakkan giginya.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Gak ada bosan-bosannya aku untuk memberikan teman-teman semua bacaan baru yang cukup menarik pastinya.


__ADS_1


Yuk kunjungi, mana tau syukaa πŸ₯°


__ADS_2